
Wah, sayang sekali. Padahal aku sudah ingin sekali bertemu dengan orang tuamu." Tiana kini menunjukkan wajah kecewa. "Kalau begitu, cepat beri kabar, ya, kalau orang tuamu sudah pulang."
Alesha hanya mengulum senyumnya sambil mengangguk kecil. "Baik, Ma."
Rafael seketika menoleh pada Alesha dan sibuk beragumen sendiri di dalam hati.
'Perjalanan bisnis? Apakah wanita ini mengatakan yang sebenarnya? Kalau dipikir, untuk apa ia bekerja sebagai sugar baby dan memintaku memberikan uang seratus juta kalau orang tuanya masih bekerja untuknya?'
Namun, pertanyaan seperti ini belum ia siapkan untuk dijawab seperti apa. Benar, hal seperti ini tidak sempat terpikirkan olehnya.
Siapa orang tuanya, di mana orang tuanya, dari mana ia berasal, Rafael sama sekali tidak tahu apa-apa tentang wanita ini. Entah wanita itu berkata jujur atau bohong.
"Ma, sudah semakin malam. Sepertinya aku harus segera mengantar Alesha pulang." Rafael kini menginterupsi. Ia mencoba sebaik mungkin untuk menghentikan pembicaraan ini.
"Kenapa harus pulang? Bukannya orang tuamu sedang perjalanan bisnis? Kamu pasti sendirian di rumah. Lebih baik kamu menginap di sini saja, ya?" Tiana mencegah Alesha yang ragu-ragu ingin bangun dari tempat duduknya.
Alesha kini menjadi salah tingkah sendiri. "Mohon maaf, Ma …." ucapnya ragu dengan suara pelan.
"Aku tidak bisa menginap di sini.
Ada yang harus ia urus di rumahnya. Bahkan ia juga besok harus berangkat pagi.
"Ma, tolonglah jangan mempersulit Alesha." Rafael kini bersuara lagi, intonasinya lebih tegas dan menekan.
Tiana yang mendengarnya menjadi tak punya pilihan lain. Ia akhirnya ikutan berdiri. "Baiklah." Ia menghela napasnya kecewa. "Sayang sekali. Padahal Mama ingin kamu di sini lebih lama lagi."
Alesha yang pelan-pelan berdiri hanya bisa tersenyum kikuk. "Tidak apa-apa, Ma. Lain kali kita pasti masih bisa bertemu lagi."
Wanita itu kemudian mengembangkan senyum lebarnya, memberikan Tiana sedikit ketenangan.
Mereka bertiga kemudian beranjak menuju pintu depan dengan Tiana yang mengantar kepergian Rafael dan Alesha.
"Sampai jumpa, Ma." Alesha berpamitan. E
Sementara Tiana kemudian memberi salam pipi layaknya wanita-wanita pada umumnya ketika saling sapa.
Rafael dan Alesha lantas bergegas meninggalkan Tiana yang berdiri memandangi kepergian mereka dengan hati berbunga-bunga. Seolah saat-saat penantiannya selama ratusan tahun terbayar dengan memuaskan.
Sedangkan di sisi lain, keduanya kini sudah berada di dalam mobil. Alesha mengembuskan napasnya dengan kasar, seakan membuang segala bentuk sandiwara yang baru saja dilakukannya bersamaan dengan karbondioksida yang keluar melalui mulutnya.
Pikirannya tidak karuan begitu memikirkan tentang pernikahan konyol itu.
Mengingat ibunya yang sekarang masih kritis, Alesha benar-benar tidak bisa membayangkan dirinya menggelar pernikahan di saat-saat yang membahayakan itu. Keadaan sekarang membuatnya benar-benar merasa marah, kesal, dan linglung.
"Kamu tidak bilang kalau rencana pernikahan itu akan secepat ini." Alesha kini memulai percakapan, dengan intonasinya yang ketus.
Rafael kini menoleh dengan pandangan tak terima. "Kamu pikir aku tahu kalau mamaku akan bersikap seperti itu?"
Lelaki itu kemudian menyalakan mesin mobilnya. Mobil itu lantas melaju perlahan, memutari pelataran untuk mengambil arah, lantas meninggalkan pekarangan rumah dengan kecepatan pelan.
"Dia itu mamamu. Tentu saja seharusnya kamu bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Kekhawatiranku di awal benar, kan."
"Ini adalah akhirnya karena kita tidak mempersiapkannya dengan matang dari awal."
Alesha masih kesal bagaimana Rafael tiba-tiba saja membawanya ke rumah pria itu tanpa membicarakannya dulu dengannya.
Tanpa rencana, tanpa rancangan skenario yang matang, dan tanpa strategi. Alesha benar-benar benci berperang tanpa senjata.
__ADS_1
Rafael kini menghela napasnya. "Ya. Berpikirlah semaumu, tetapi bukannya aku sudah bilang padamu kalau jangan sampai membuat mamaku terlalu suka."
"Ketika ibuku sudah sampai mengambil keputusan seperti ini, aku tahu itu artinya dia sangat menyukaimu. Mana aku tahu kalau mama ternyata akan bertindak sejauh itu."
"Ah, ini benar-benar membuatku gila. Sudah jelas kalau kamu yang bodoh, sekarang malah menyalahkan aku." Alesha berbisik pelan, entah pria itu mendengarnya atau tidak.
"Nona, kamu ingat sudah menandatangani surat kontrak itu, bukan? Kamu bahkan membacanya dengan sangat teliti tanpa melewatkan satu kata pun, tetapi mengapa sekarang kamu yang frustasi sendiri?"
"Kamu sebenarnya hanya perlu mengikuti apapun yang akan terjadi."
Rafael kini bertanya-tanya, sedikit heran dengan sikap Alesha sekarang. Padahal tadi siang, wanita itu terlihat sangat yakin, tetapi sekarang malah terlihat ingin melarikan diri sekencang-kencangnya.
Alesha kini menghela napasnya dengan kasar. "Kamu tidak mengerti. Kenapa aku marah karena kamu tiba-tiba membawaku menemui mamaku. Kenapa aku sefrustasi ini ketika mamamu menyuruh kita cepat menikah."
Wanita itu kini menatap Rafael geram.
"Itu karena aku tidak bisa melakukan apapun dengan baik dalam situasi yang tiba-tiba dan mendadak." Ia kemudian membuang mukanya.
Alesha tiba-tiba saja teringat peristiwa satu tahun lalu. Kejadian yang tiba-tiba saja mengubah tatanan hidupnya.
Keadaan yang tiba-tiba saja menuntutnya untuk berubah mengikuti lajur liku kehidupan yang begitu curam, sangat curam. Sebegitu curamnya, sampai-sampai Alesha terjatuh dan terjebak di dalam jurang.
Bahkan Alesha masih merasa kalau ia tidak melakukannya dengan baik sampai sekarang.
Alesha sangat membenci kejutan dalam hidupnya. Ia benci sesuatu yang terjadi tanpa persiapan, yang pada akhirnya memaksanya untuk untuk tergesa, berlari hingga kewalahan sendiri di ujung tanduk.
Wanita itu kini menggertakkan geliginya. Tangannya tergerak meremas rok demi menyalurkan emosinya yang bisa saja meluap tanpa kendali.
Sedangkan di sisi lain, Rafael yang tak mengerti, kini mengerutkan dahinya. Ia kesal dengan sikap Alesha.
Alesha selalu saja berhasil menembus dinding kesabarannya. Ia tak mengerti dengan tempramen wanita yang satu ini. Terkadang, wanita itu terlihat sangat tenang, terkadang sangat sopan, tetapi sekarang ia malah bersikap seenaknya.
"Hanya gara-gara itu kamu marah padaku habis-habisan?" Rafael kini bertanya dengan nada penuh penekanan, mempertanyakan alasan Alesha yang menurutnya sangat egois dan kekanakan.
"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan? Membatalkan kontrak itu? Apa kamu bisa mengembalikan uangnya setelah itu?"
Alesha melengos. Sial. Lagi-lagi Rafael menggunakan senjata itu. Ia semakin bingung. Di depan Alesha, sekarang semuanya terjadi seperti roller coaster.
Awalnya, ia dibawa naik ke puncak dengan tenang setelah mendapat jalan keluar. Kemudian seolah dibawa terjun bebas dengan segala ketakutan yang mengusiknya. Ketakutan akan ia yang tidak bisa menjaga ibunya dengan baik.
Sementara sekarang, ketakutan itu seakan semakin mengancamnya ke sudut paling ujung. Begitu mendesak dan membuatnya sesak.
"Aku tidak tahu. Aku benar-benar bingung." Wanita itu berkata pelan. "Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang."
Rafael mendengarnya, akhirnya hanya bisa menghela napasnya dengan pelan. "Pikirkanlah dengan baik."
Perdebatan itu berakhir dengan hening yang mengunci mulut masing-masing. Alesha mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Sementara Rafael fokus pada kemudi dan jalanan di depan matanya.
Perjalanan masih panjang. Namun, setiap detik seolah berjalan dengan sangat lambat bagi Alesha sekarang. Setiap detik adalah siksaan yang seakan sedang menghukumnya dan Alesha selalu menantikan kapan waktu akan berakhir.
Ia selalu bertanya-tanya, apakah waktu adalah sebuah keabadian yang mengikat setiap orang dan tidak bisa ia lepas? Selalu berjalan beriringan, tanpa mengizinkannya lepas atau bahkan melompat dari jalurnya.
Alesha terkadang ingin sekali melompati waktu. Ia ingin membuka mata di saat semuanya berjalan dengan baik.
Waktu di mana tidak ada ketakutan yang perlu ia takuti.
__ADS_1
Wanita itu kini menyenderkan kepalanya, memejamkan mata sesaat dengan harapan ia bisa melompati waktu ketika dirinya membuka mata.
Namun, sebuah getar dari dalam tas selempang di pangkuannya itu kini tiba-tiba saja menyentuh permukaan kulit tangannya.
Alesha tersentak dari lamunannya, lantas mengambil ponselnya.
Ia membuka ponselnya, lantas membulatkan mata melihat sebuah notifikasi pesan singkat yang bertandang di sana.
Selamat malam, Nona.
Kami dari pihak rumah sakit memberitahukan kabar bahwa ibu Anda sudah sadar. Dimohon kehadirannya untuk mengetahui kondisi pasien lebih lanjut.
Jantung Alesha tiba-tiba saja berpacu hebat. Desiran yang membuat tubuhnya tiba-tiba mendingin. Entah kabar ini baik atau sebaliknya, Alesha tetap merasa sangat gugup.
Wanita itu kemudian melihat jalanan di depan. Melihat sebuah halte yang tidak jauh di depan, seketika menarik napasnya.
"Berhenti!"
"Ada apa?" Rafael yang mendengar Alesha tiba-tiba menyuruhnya berhenti kini kebingungan sendiri.
"Aku bilang berhenti!" Alesha menegaskan.
Melihat wajahnya yang terlihat serius, Rafael tidak punya pilihan lain selain menghentikan mobilnya ke tepian jalan. "Kutanya, ada apa?"
Alesha tak menjawab. Ia malah membuka seat belt-nya, kemudian berusaha membuka pintu mobil itu.
"Buka pintu mobilnya!" perintah Alesha.
"Mau apa kamu? Ini sudah malam. Tidak aman jika seorang wanita turun sendirian. Biar aku antar kamu pulang." Rafael menolak, kini bersiap untuk kembali menjalankan mobilnya.
"Tuan Rafael!" Bentakan Alesha kali ini menghentikan langkah Rafael.
Membuat lelaki itu menoleh sambil menghela napasnya.
"Aku ingatkan sekali lagi. Aku bukan wanita selemah itu. Setiap hari aku pulang sendirian di malam hari. Anda tidak perlu berlebihan."
"Aku sarankan Anda untuk tidak terlalu baik padaku dan mengingat kalau kita hanya rekan dalam perjanjian di atas kertas putih. Aku tidak suka bersimpati pada orang lain." Alesha kini menatapnya sengit.
Rafael lagi-lagi tidak punya pilihan. Pada akhirnya ia memutuskan untuk membuka kunci pintu mobilnya.
Wanita itu pun tanpa basa-basi lagi langsung keluar, berjalan menuju halte yang berada di depan.
Setelah beberapa saat menunggu, wanita itu berjalan meninggalkan mobilnya.
Rafael lantas memutarbalikkan mobil itu menuju jalur jalan sebelah kanan.
Beberapa saat kemudian, ia tergeming tak bersuara, berpikir mengapa wanita itu tidak mau Rafael mengantarnya ke rumahnya. Mengapa ia begitu marah ketika lelaki itu benar-benar ingin membantunya?
Rafael semakin merasa bahwa wanita itu tiba-tiba saja menjadi sosok yang begitu misterius. Namun, ia mengingat sesuatu.
Sebelum memintanya turun, perempuan itu membuka ponselnya setelah mendapatkan notifikasi.
Apa yang telah terjadi hingga membuatnya seburu-buru itu? Mengapa ia tidak menyuruh Rafael untuk cepat-cepat mengantarnya saja, alih-alih menyuruhnya berhenti dan mencari kendaraan umum dan pergi sendiri?
Semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benaknya. Haruskah ia menemukan jawabannya? Rafael kali ini begitu penasaran dengan apa yang dilakukan Alesha hingga terburu-buru seperti itu.
To be continued...
__ADS_1