
'Kenapa semakin hari, suamiku terlihat sangat tampan dan membuatku tergila-gila? Aku bahkan kini semakin mencintainya,' lirih Aeleasha yang refleks langsung membekap mulutnya begitu melihat suara bariton dari pria yang berbicara tanpa membuka kelopak mata terpejam tersebut.
"Apakah kamu baru menyadari bahwa aku sangat tampan, Sayang? Hingga kamu dari tadi tidak berkedip saat menatapku," ujar Arsenio yang kini perlahan membuka kelopak mata dan langsung ber-sitatap dengan manik kecoklatan Aeleasha.
Ia bahkan kini terlihat tersenyum smirk saat melihat raut wajah merona yang menjelaskan bahwa wanita yang masih berada di pelukannya tersebut benar-benar merasa malu padanya.
Sebenarnya, Arsenio bangun dari pagi karena sudah merupakan kebiasaan ia dari dulu. Apalagi ia selalu rajin gym, kecuali hari ini karena merasa sangat malas melepaskan pelukan dari tubuh seksi sang istri.
Ia tidak berniat untuk beranjak dari ranjang karena sibuk mengamati setiap sudut wajah cantik sang istri. Tentu saja tadi tidak berhenti tersenyum saat melihat Aeleasha yang terlihat sangat nyenyak di pelukannya.
Bahkan ia rela merasa sangat pegal tangannya saat menjadi bantalan kepala sosok wanita yang masih tertidur pulas tersebut. Sesekali sudut bibir Arsenio melengkung ke atas, menandakan bahwa hatinya sedang bahagia.
Begitu melihat pergerakan Aeleasha, tentu saja ia langsung berakting masih tertidur pulas dan tahu bahwa sang istri tengah menatapnya.
"Siapa yang memandangmu? Dasar sok tahu," seru Aeleasha yang saat ini mencoba untuk menghilangkan rasa malunya. Apalagi pria dengan iris tajam itu masih mengunci tatapannya.
Tidak ingin semakin merasa malu, ia memalingkan wajah, agar tidak ber-sitatap dengan Arsenio. Namun, baru menoleh sedikit saja, wajahnya sudah ditahan oleh jemari dengan buku-buku kuat tersebut. Seolah menegaskan larangan keras agar tidak menghindar dari pandangan.
Jemari Arsenio kini masih berada di dagu Aeleasha. Ia tidak berniat untuk melepaskan sang istri karena belum puas untuk memandang wajah cantik wanita yang baru bangun tidur tersebut.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk memalingkan wajah? Tanpa seizinku, kamu tidak boleh menatap ke arah lain saat ada aku di sini. Masih saja kau mengelak saat jelas-jelas telah melakukannya."
"Dasar pria arogan dan pemaksa!" ucap Aeleasha dengan wajah masam karena pagi-pagi sudah dibuat kesal oleh pria yang suka menghukum tersebut. "Aku tidak memandangmu tadi. Jadi, jangan mengada! Lagipula, kamu tadi sedang tertidur, dari mana tahu kalau aku sedang menatap wajahmu?"
Baru saja menutup mulut, kini bola matanya membulat sempurna begitu bibir tebal Arsenio yang tadi sempat diperhatikannya, sudah mengecup bibirnya. Refleks ia mengerjapkan mata karena merasa sangat terkejut saat tiba-tiba dicium oleh sang suami.
__ADS_1
Sosok pria tampan yang merupakan suaminya tersebut memang selalu memberikan morning kiss dan sama sekali tidak ada *******, tetap saja membuatnya tidak percaya diri meskipun sudah dua tahun menikah dengan Arsenio. Refleks ia mendorong dada bidang itu dan langsung menarik diri.
"Sayang, ini sudah siang. Ayo bangun."
Arsenio yang tidak ingin jauh-jauh dari Aeleasha, kini kembali bergeser mendekat dan mengungkung tubuh seksi di hadapannya tersebut.
"Kenapa kamu menghindariku? Tidak tahu apa, kalau aku dari tadi sudah bangun dan menunggu sang ratu terbangun dari tidur panjangnya."
"Aku selalu melihatmu tertidur pulas dan seolah enggan untuk bangun saat ada di pelukanku. Mana mungkin tidak tahu kamu menatapku jika sebenarnya aku sudah bangun dari tadi. Apa dulu saat belum menikah, kamu setiap hari selalu bangun kesiangan seperti ini?"
Merasa seperti seorang wanita yang tidak tahu malu karena mengelak saat jelas-jelas tengah mengagumi pahatan sempurna sang suami, Aeleasha hanya bisa menelan kasar saliva.
Mencoba untuk menghilangkan rasa malu, berpura-pura sangat terkejut. Meskipun sebenarnya ia sama sekali tidak pernah menyangka jika tadi Arsenio ternyata bangun lebih dulu darinya.
"Astaga! Jadi kamu sudah bangun dari tadi? Kenapa tidak membangunkan aku?" seru Aeleasha dengan nada protes penuh kekesalan sambil melanjutkan umpatan di dalam hati.
Belum selesai berbicara sendiri di dalam hati, lagi dan lagi ia melihat Arsenio kembali menggodanya dengan kalimat vulgar.
"Bagaimana mungkin aku tega membangunkanmu saat melihatmu tertidur pulas seperti itu, Sayang. Aku bahkan rela menahan lapar karena menunggumu terbangun sendiri."
Aeleasha hanya terkekeh geli mendengar nada protes sang suami dan dengan santai menjawab, "Memangnya jam berapa ini? Aneh sekali rasanya kau sudah lapar sepagi ini."
Arsenio kini melepaskan pelukan dan menaikkan kedua alis. "Sepagi ini? Bagaimana mungkin jam sembilan kamu bilang sepagi ini?"
Aeleasha refleks mengerjapkan kedua mata dan refleks langsung membuka selimut dan seketika bangkit duduk untuk meraih ponsel yang ada di atas nakas.
__ADS_1
"Mana mungkin ini jam sembilan. Ini masih pagi dan ...."
Ia tidak melanjutkan perkataannya begitu melihat waktu di ponsel yang sudah berada dalam genggaman.
"Astaga! Sudah jam sembilan. Kamu sudah terlambat ke kantor! Cepat bersiap sana! Aku akan membuatkan kopi untukmu dan memeriksa para pelayan memasak apa."
Tanpa menunggu jawaban dari Arsenio, Aeleasha kini sudah berjalan menuju ke arah pintu keluar dan menuruni anak tangga menuju ke arah ruang makan.
Namun, ia mengerutkan kening ketika merasa rumah besar lantai tiga itu sangat sepi. Seolah tidak ada hawa manusia lain selain dirinya di lantai satu itu.
"Kenapa sangat sepi sekali? Ke mana perginya semua pelayan?"
Aeleasha melihat ke arah meja dan sama sekali tidak ada makanan. "Aneh sekali. Sudah jam sembilan, tapi belum ada makanan. Sebenarnya ke mana para pelayan pergi?"
Merasa ada yang tidak beres di rumah, saat ini memilih untuk segera memberitahu pada sang suami. Buru-buru ia menaiki anak tangga dan menuju ke ruangan pribadinya.
Awalnya, ia berpikir jika sang suami sedang mandi, tapi saat sama sekali tidak mendengar suara gemericik air, membuatnya ingin memastikan. Ia kini mengerjapkan kedua mata beberapa kali saat di sana tidak ada sang suami.
"Sayang!"
Aeleasha berteriak cukup kencang, berharap pria yang tiba-tiba menghilang itu segera datang. Namun, sudah beberapa kali ia berteriak, membuatnya merasa sangat khawatir sekaligus ketakutan.
"Sayang! Kau di mana? Astaga, ini tidak lucu. Apa kamu mau menakutiku?"
Masih dengan perasaan berkecamuk, kini ia masih tidak bisa menghilangkan ketakutan karena sendirian di ruangan itu.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua orang tiba-tiba menghilang? Aku benar-benar sangat takut," ucap Aeleasha yang kini kembali berjalan ke arah pintu keluar dan mencari keberadaan sang suami dengan cara berteriak dan membuka satu-persatu ruangan kamar.
To be continued...