
Rafael mengerjapkan mata beberapa kali saat tubuhnya hampir terhuyung ke belakang ketika Aeleasha menghambur memeluknya secara tiba-tiba.
Tentu saja ia merasa sangat terkejut dengan perbuatan dari wanita yang selama ini tidak bisa dilupakan. Ia bahkan menahan beban berat tubuh dengan cara berpegangan pada lantai menggunakan beberapa jari ketika berjongkok.
Selama beberapa detik, ia seperti tersihir dengan momen langka itu. Apalagi ia berpikir jika apa yang dilakukan oleh mantan istri dikarenakan sedang terbawa emosi dan tidak sadar.
'Ya Tuhan, kuatkan hatiku saat menghadapi wanita berbahaya ini. Tanpa ia melakukan hal seperti ini, selalu membuat aku lemah. Apalagi jika berada pada posisi seperti ini, rasanya seperti jantungku mau lepas dari tempatnya.'
Jika awalnya Rafael sama sekali tidak menanggapi pelukan dari wanita yang kembali menangis sesenggukan dengan suara lirih di dadanya, akhirnya ia mengangkat tangan kanan dan mengusap lembut punggung Aeleasha untuk sekedar memberikan sebuah ketenangan.
Berharap perasaan wanita itu menjadi lebih baik setelah ia melakukan itu. Hingga suara dari Aeleasha membuatnya merasa seperti ditusuk tombak yang sangat tajam tepat di jantung.
"Brother, aku sangat berharap kamu menjadi saudara laki-laki yang bisa kuandalkan. Aku juga ingin kau bahagia bersama dengan wanita itu setelah menikah nanti. Aku akan menganggapnya seperti saudara perempuan. Jadi, aku ingin berteman dengan wanita bernama yang serupa denganku itu."
"Kamu tidak keberatan, bukan? Apalagi beberapa hari lagi kalian akan menikah. Aku tidak akan mengganggu rumah tangga kalian. Jadi, hiduplah bahagia bersama istrimu. Meskipun pernikahan kalian diawali dengan sebuah perjanjian. Cinta akan datang seiring berjalannya waktu dan itu akan terjadi pada kalian berdua."
Refleks tangan Rafael yang awalnya berada pada punggung Aeleasha, seketika jatuh terhempas lemas begitu mendengar kalimat menyakitkan itu.
Seharusnya kalimat itu menjadi support untuk kehidupannya memulai hidup yang baru. Namun, ternyata tidak demikian yang dirasakan hatinya karena selalu saja mengalami hal yang sama, yaitu terluka, tapi tak berdarah.
Ia tahu jika wanita yang berada dalam pelukannya tersebut tidak pernah mencintainya, tetapi salahkah jika berharap perasaan wanita itu berubah seperti yang dikatakan.
Bahwa cinta akan datang seiring berjalannya waktu karena terbiasa bersama. Rafael yang sudah tidak tahan dengan keadaannya, akhirnya meraih kedua sisi lengan Aeleasha dan menatap dengan tatapan intens.
"Jika kamu bisa mengatakan itu padaku, kenapa tidak terjadi padamu? Kenapa kamu tidak pernah mencintaiku setelah bertahun-tahun kita bersama? Bukankah cinta datang karena seiring berjalannya waktu dan terbiasa ketika bersama seperti katamu?"
__ADS_1
"Lalu, kenapa kamu tidak bisa mencintaiku, Aeleasha? Apa yang kurang dariku? Apa yang tidak kumiliki dan dimiliki oleh pria bajingan yang selalu menyakitimu itu? Katakan padaku! Agar aku bisa menjadi seperti yang kamu inginkan!"
Aeleasha seketika menelan kasar saliva dan mendadak suara terdekat di tenggorokan begitu merasa seperti menelan racun yang dituangkan sendiri.
'Dasar bodoh! Padahal aku berniat agar brother tidak salah paham padaku ketika memeluknya seperti ini. Namun, aku sekarang seperti pepatah 'senjata makan tuan' karena dia membalikkan kata-kataku.'
Aeleasha yang merasa sangat bingung, kini mau tidak mau harus menjawab pertanyaan dari Rafael. Namun, ia pun juga merasa bingung harus memulai dari mana dan mengawali perkataannya seperti biasa.
"Maafkan aku, Brother. Aku tidak bermaksud menyakitimu dengan mengatakan hal itu. Aku hanya tidak ingin kau salah paham dengan apa yang kulakukan. Aku tadi refleks memeluk karena butuh sandaran. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama pada ibu dan juga ayahku."
"Namun, keadaan yang memaksaku untuk tidak melakukannya saat ini karena hanya akan menambah rumit masalah yang kuhadapi."
Tubuh Aeleasha seketika berjenggit kaget ketika pria yang ada di hadapannya tersebut mengumpat dengan sangat tegas.
"Aku akan membuktikan perkataanmu barusan dan menunjukkan siapa di antara kita yang menang, Aeleasha. Jika perkataanmu tadi benar, semoga cinta datang karena terbiasa pada kita berdua. Jika kamu bercerai dengan Arsenio, aku akan tetap menerimamu dengan tangan terbuka."
"Kutunggu jandamu." Rafael saat ini memilih untuk berjalan mendekati ranjang, lalu langsung menggendong balita tersebut yang masih bermain ponsel miliknya.
Kemudian berjalan menuju ke arah pintu keluar. Di mana di sana ada wanita yang masih duduk tanpa alas di lantai mengkilat berwarna putih tersebut.
"Ayo, kita liburan sebagai keluarga bahagia dan lupakan sejenak masalah beban berat yang menimpa pikiranmu. Aku ingin kita berenang bersama di bawah."
Aeleasha sebenarnya masih merasa shock dengan perkataan Rafael mengenai poin 'kutunggu jandamu'.
Ia merasa jika pria itu sangat konyol karena sebenarnya bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik dan pastinya baik dibandingkan dengannya, tetapi menyadari bahwa memang terkadang manusia bisa berubah menjadi sangat bodoh hanya karena cinta.
__ADS_1
Cinta buta yang membuatnya menjadi wanita bodoh karena masih mencintai sang suami yang telah menghianati pernikahan dengan berselingkuh.
Hal itulah yang membuatnya bisa mengerti bagaimana perasaan dari sosok pria di hadapannya tersebut. Ia akhirnya tidak ingin berdebat untuk mencari pembenaran pada pemikiran masing-masing.
Karena tidak akan pernah menemukan titik temu jika sama-sama tidak mau mengalah. Akhirnya, memilih untuk bangkit berdiri dan membersihkan sisa air mata di wajah menggunakan tisu.
"Tunggu sebentar karena aku tidak ingin terlihat berantakan dan membuat semua orang menatap ke arahku. Sepertinya mencuci muka akan membuatku jauh lebih segar dan tidak terlihat sembab."
Aeleasha saat ini langsung berjalan menuju ke arah kamar mandi tanpa menunggu persetujuan dari Rafael yang menggendong putranya.
Sementara Rafael saat ini hanya diam dan menoleh untuk melihat siluet dari sosok wanita yang baru saja menghilang di balik pintu kamar mandi.
'Aku pikir kamu akan kembali memperdebatkan hal yang menurutmu benar. Ternyata aku salah karena sepertinya kau sudah menyadari kesalahanmu. Bahwa semua yang kamu katakan itu hanyalah omong kosong belaka.'
"Aku akan mengikuti takdir ini. Ke mana takdir akan membawa kita, lebih baik jalani saja." Rafael meraih ponsel lain miliknya untuk menghubungi seseorang agar menyiapkan pakaian renang untuk mereka bertiga.
Memang ia tidak memiliki persiapan karena itu muncul tiba-tiba, sehingga butuh bantuan seseorang untuk menyiapkan segala keperluan liburan.
Hingga ia mematikan sambungan telpon begitu mendengar jawaban dari seberang yang mengatakan akan tiba sebentar lagi di hotel setelah membeli perlengkapan yang diperlukan untuk berenang.
Beberapa saat kemudian, Aeleasha yang baru selesai mencuci muka dan sudah terlihat segar, kini berjalan menghampiri putranya yang digendong oleh pria dengan setelan kerja tersebut.
Ia yang menatap penampilan dari Rafael mulai dari ujung kaki hingga kepala, kini mengerutkan kening. "Apa kamu ingin liburan dengan pakaian kerja seperti itu?"
To be continued...
__ADS_1