I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Rencana jahat


__ADS_3

Pernyataan Arsenio sama sekali tidak pernah diduga Aeleasha. Padahal ia hanya merasa tidak berguna saat bosan menjadi ibu rumah tangga terus-menerus seperti ini dan ingin memperbaiki hubungan mereka yang sangat dingin.


Namun, niat baiknya malah menjadi sebuah kesalahpahaman dan membuat Aeleasha semakin tersakiti.


Bahkan saat ini tidak berkutik dan akhirnya memilih untuk diam karena Arsenio sepertinya menentang keras permohonannya untuk meminta bekerja di perusahaan.


'Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi pada suamiku? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa sikapnya berubah sangat dingin padaku? Apa aku melakukan kesalahan tanpa menyadarinya?'


Aeleasha memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan karena berpikir akan bertengkar jika menanggapi sang suami. Akhirnya memilih untuk bangkit berdiri dari sofa dan memilih untuk kembali ke dalam kamar untuk tidur. Meski hati sangat dongkol, tapi berusaha untuk tidur.


***


Perusahaan Arsenio makin melemah. Memikirkan apa yang telah dihadapi olehnya dan apa yang telah ia bangun selama ini dengan penuh perjuangan akan hancur begitu saja, tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.


Apalagi menyadari tidak ada yang perduli terhadapnya, apa yang telah dirasakan dan dialami.


Berbagai kenyataan sulit sudah dihadapi dan Arsenio hanya bisa berpikir jika mungkin memang ini semua takdir untuknya bertahan.


Perusahaannya tidak ada perkembangan dan benar-benar menempati posisi terburuk. Untuk bangkit, mungkin membutuhkan banyak usaha dan kedengarannya itu adalah hal yang sangat sia-sia dan mustahil karena mengingat banyaknya isu dan juga pengaruh buruk dari dalam maupun luar perusahaan.


Mungkin semua akan berjalan begitu saja dan Arsenio sudah menerimanya.


“Laporan keuangan perusahaan diletakkan di mana kira-kira, Bos? Ini baru saja saya cek dan hasilnya sama.”


Membutuhkan sekitar beberapa waktu untuk Arsenio merespons kata-kata wanita muda itu, wanita yang bekerja sebagai orang kepercayaan.


“Tuan Arsenio?”


Arsenio langsung terkejut dan ia menatap kosong ke arah depan. Tepat di sana, ia melihat ada seorang wanita yang berdiri dengan senyuman tipis. Tentu saja semua ini membuat ia bingung dan belum bisa mengartikan apa yang terjadi.


“Ada apa? Aku tidak mendengarnya. Mungkin kau bisa mengatakan ulang?”


Sang sekretaris pun tersenyum. Sudah hal yang pantas untuk dimaklumi karena beberapa hari ini bosnya sering lembur malam untuk begadang. Bisa saja ini efek yang diterima karena terlalu kelelahan.


“Mungkin Anda terlalu lelah, Tuan. Saya paham dengan ini."


Untung saja ada hal yang dimaklumi, membuat Arsenio bisa menarik napas lega dan tersenyum kecil.


Kemudian seorang sekretaris memberikan sebuah map berisi data perusahaan.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Arsenio yang saat ini sudah tinggal di ruangan kerja karena tidak pulang satu minggu setelah mendiamkan Aeleasha.


Arsenio yang tidak bisa menghadapi Aeleasha tanpa menanggapi saat berbicara, membuatnya memilih untuk menenangkan diri dengan tinggal di kantor. Meskipun ada banyak pekerjaan yang harus dihadapi. Namun, hari ini sang istri banyak mengirimkan pesan dan menyuruhnya pulang


Aeleasha mengatakan bahwa Arza ingin bertemu daddy-nya dan tidak mungkin ia bisa menolak jika itu berhubungan dengan darah dagingnya.


Usai kepergian sekretaris, Arsenio mulai meraba berkas-berkas yang diterima. Kini, ia melihat jika laporan keuangan ada si depan mata.


Namun, tiba-tiba ia menyadari jika tidak ada semangat untuk membaca isi dari dalam berkas laporan itu.


Tentu saja ia menyadari jika selama ini omset perusahaan sangat turun drastis. Apalagi ketika saham-saham telah mereka ambil balik. Tidak ada lagi yang bisa dijadikan harapan oleh Arsenio karena semua usaha dan kerja keras selama ini telah dicurangi dalang dan orang jahat.


“Kenapa aku tidak memiliki semangat untuk membuka laporan keuangan? Apa karena ini semua berdasarkan dari kenyataan yang aku terima? Bahwa tidak ada bukti dan juga tidak ada hasil yang bisa aku miliki?”


Hingga pada akhirnya, ia pun berhasil membaca satu persatu data yang tercantum di sana. Walaupun hatinya sedikit sesak, Arsenio mencoba untuk kuat. Banyak hal yang akan dihadapi, bukan perihal ini saja.


Satu jam ke depan, Arsenio memutuskan pulang. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.


Banyak pembicaraan yang terjadi di kantor, membuatnya merasa terganggu. Isinya adalah tentang kinerjanya yang tidak berkompeten. Semua pemegang saham mengungkapkan ketidakpuasan atas kinerja terhadap perannya di perusahaan ini sebagai pemimpin.


“Seharusnya CEO kita bisa membuat kebijakan. Apa tidak ingin melihat perusahaannya sendiri berkembang dengan pesat?”


Banyak yang mengetahui kasus itu dan mereka memiliki pendapat masing-masing untuk menanggapinya. Namun, banyak dari mereka yang menyalahkan, membuat Arsenio benar-benar bingung dan merasa disudutkan.


Waktu berlalu begitu cepat dan saat ini keberadaan Arsenio sudah tiba di rumah lebih cepat. Lantaran perjalanan dari perusahaan ke rumah seharusnya membutuhkan waktu sekitar cukup lama.


Lantaran tidak ingin berhenti di mana-mana, akhirnya Arsenio langsung menuju ke rumah. Kini, ia tiba di teras rumah dan berdiri sebentar untuk mengamati mobil yang baru saja ditumpanginya.


“Mungkin setelah ini, kau akan dijual. Tidak ada yang bisa dihindari ketika semua sudah terjadi.”


Percaya atau tidak, intinya saat ini Arsenio benar-benar bimbang dan takut apa yang telah dibayangkan, menjadi kenyataan. Rasanya tidak siap jika terus-menerus memikirkan soal masalah ini.


Hanya karena seseorang yang menusuk dari belakang, akhirnya berpengaruh terhadap hidupnya dan keluarganya juga.


“Sudah pulang? Sejak kapan ada di sini? Kenapa aku tidak sadar dengan kepulanganmu?


Sebagai seorang istri, sudah sepantasnya Aeleasha berbasa basi. Ia hanya ingin memancing perhatian Arsenio yang selama ini kurang padanya.


“Baru saja. Aku sangat lelah.” Arsenio bersikap seperti biasa—sangat dingin.

__ADS_1


“Segera mandi, pasti akan lebih segar. Aku ambilkan handuk dulu.” Sambil berjalan ke arah kamar, Aeleasha melirik ke belakang. Ia mengamati pergerakan yang tidak menunjukkan kecurigaan apapun.


Tidak lama kemudian, kembali dengan membawa handuk putih yang diberikan kepada suami.


Sementara Arsenio langsung bangkit dari sofa ruang tamu dan berjalan ke kamar mandi. Pembicaraan mereka selesai sampai di sana untuk kali ini.


***


Di satu sisi, kabar hancurnya perusahaan Arsenio sampai di telinga keponakan Giovanni Adelardo.


Laki-laki yang memiliki nama lengkap Nick Adelardo adalah seorang penjahat. Bisa dikatakan ia orang pengaruh yang membuat rencana untuk memanfaatkan keterpurukan Arsenio saat ini.


Berbagai cara telah ia pikirkan untuk bisa membuat siasat agar secepatnya Arsenio jatuh. Bahkan tidak ada harapan untuk kembali bangkit.


“Kenapa suasananya bisa kebetulan seperti ini? Aku bahagia sekali melihat kehancuran yang dialami di berengsek tidak tahu diri itu.”


Kata-kata itu terus terucap dari sudut bibir Nick. Ia semacam tidak lagi ingin peduli terhadap semua permasalahan yang dihadapi oleh Arsenio.


Bahkan ia sangat menikmati kehancuran pria itu dan berpikir bisa menggunakan kesempatan dalam kesempitan, untuk memanfaatkan keadaan ini semua.


“Mungkin cara pertama yang harus aku lakukan adalah menghancurkan rumah tangga Arsenio. Dengan begitu, ia bisa mengalami kegagalan dalam hidup dan juga perusahaan yang dipercayakan oleh paman.”


Rencana Nick memang sudah disiapkan. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memulai semua dan membuat sebuah kehancuran dari awal, untuk seseorang yang dimaksud.


Nick benar-benar merasa puas dengan itu semua dan ingin secepatnya melihat Arsenio hancur.


Apalagi ketika melihat hal buruk perusahaan, pasti ada hubungannya juga dengan konflik lain. Otomatis Giovanni Adelardo akan ikut kecewa, jika Arsenio tidak berhasil memimpin perusahaan.


“Banyak dampak yang sudah aku pikirkan sebelum melakukan ini semua. Tentunya, membuat banyak pihak ikut turun tangan dalam masalah ini.”


Ucapan yang dikatakannya diiringi dengan senyum licik. Sejauh ini, hanya itu yang bisa direncanakan, karena selebihnya, bukti dan hasil yang berbicara.


Ia berencana untuk membuat rumah tangga Arsenio hancur dan juga dipecat dari perusahaan karena telah membuat bangkrut. Semua itu ia lakukan karena merasa sangat membenci Arsenio saat merebut hak yang seharusnya menjadi miliknya.


Berpikir bahwa Arsenio sama sekali tidak ada hubungan darah dengan pamannya dan tidak berhak mendapatkan harta sepeserpun karena ia yang harusnya menerima karena masih memiliki darah yang sama.


Nick berpikir bahwa Giovanni adalah saudara laki-laki dari sang ayah dan ia berhak memiliki semua harta dari pria yang tidak mempunyai keturunan tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2