
Rafael yang kini bisa melihat arti dari tatapan Alesha, seolah tengah meminta bantuan untuk membuatnya menjelaskan.
Refleks Rafael terkekeh geli mendengar pernyataan dari pamannya. "Apa maksud paman? Istriku sangat bahagia karena semalam sampai kurang dan terus minta lagi."
Akhirnya hanya jawaban itu saja yang terpikirkan di otak Rafael untuk menghilangkan kecemburuan dari sang paman. Bahkan kini bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Alesha.
"Sepertinya aku harus menunjukkan secara langsung mengenai keintiman kami."
Alesha yang tadinya menyerahkan semuanya pada Rafael karena jujur saja saat ini otaknya benar-benar sangat tumpul karena tidak bisa berpikir.
Apalagi kejadian hari ini sangat melelahkan dan ia ingin sekali bisa segera meluruskan tubuhnya di atas ranjang empuk. Tentu saja ia tahu jika semua itu akan dialami karena sering melihat jika para orang kaya selalu memiliki ranjang empuk yang nyaman.
Begitu melihat Rafael mendekat setelah berbicara bernada vulgar, Alesha seketika membulatkan mata karena tiba-tiba Rafael membungkuk dan langsung menggendong ala bridal style.
"Apa yang kamu lakukan?" lirih Alesha agar tidak sampai didengar semua orang.
"Kita tinggalkan saudara sebentar untuk memenuhi keinginan mereka agar segera hadir anggota baru di keluarga ini." Rafael yang kini sudah memindahkan tubuh wanita Alesha ke atas lengannya, kini menatap ke arah semua orang.
"Kami pergi dulu untuk bulan madu. Lanjutkan saja mengobrolnya karena aku ingin berduaan dengan istriku." Kemudian Rafael berbalik badan setelah suara-suara semua orang bersorak kegirangan.
Bahkan kalimat-kalimat bernada vulgar didengar saat berjalan menjauh meninggalkan mereka.
"Selamat berbulan madu."
"Semoga segera dikarunia momongan."
"Semoga sakinah mawadah warahmah."
Berbagai macam ucapan dari saudara seperti sebuah semangat dan doa yang ditujukan pada pasangan suami istri yang baru menikah itu.
__ADS_1
Sementara di sisi lain, sosok wanita yang ada dalam gendongan pria dengan tangan kekar, sibuk menenangkan perasaan kala kulitnya menempel dengan seorang pria yang sudah terekam jelas semua perbuatan semalam.
Berada dalam gendongan Rafael membuat perasaan Alesha tak menentu. Bahkan degup jantung tidak beraturan saat ini. Semenjak kejadian malam liar itu, setiap bersentuhan atau berdekatan dengan Rafael seperti menimbulkan sebuah getaran aneh.
'Ada apa denganku sebenarnya? Aku benar-benar tidak tahu kenapa jantungku berdebar-debar saat Rafael menggendongku?' gumam Alesha yang saat ini tidak bisa lagi menahan perasaan yang membuncah.
"Turunkan aku!" lirih Alesha yang berniat untuk kabur dari kuasa seorang Rafael.
Pria yang semalam dilihatnya memiliki tubuh sixpack dan tidak berhenti mendesah ketika menyatu dengan peluh dengan penuh gairah.
"Aku ingin menyapa ibuku." Alesha mencoba untuk beralasan agar Rafael segera menurunkannya.
Namun, yang terjadi tidaklah seperti yang diharapkan karena saat ini Rafael terus berjalan dan ini adalah pertama kali ia melihat lantai dua.
Sementara itu, Rafael yang dari tadi menahan rasa bosan di depan para sanak saudara karena selalu membahas masalah keturunan, sehingga merasa terbebas begitu pergi.
Alesha yang masih gugup, mau tidak mau membuka pintu berwarna hitam dan melihat suasana ruangan kamar dengan Interior mewah dan terkesan maskulin.
Belum sempat selesai memanjakan mata dengan ruangan super luas dan sangat jauh berbeda dari ruangan kamarnya, merasakan pergerakan Rafael dan ternyata sedikit membungkuk untuk menurunkannya.
"Berat juga kamu ini!" sarkas Rafael yang merasa sangat lega begitu menurunkan sang istri.
Ya, istri selama satu bulan dan akan berpisah setelah itu dengan menjalani hidup masing-masing.
"Salah sendiri menggendongku saat aku bisa jalan sendiri!" Alesha kini kembali mengamati setiap sudut ruangan.
Bahkan ia tidak berkedip menatap semua furniture dan barang-barang yang diketahui memiliki harga yang tidak murah menghiasi dan mempercantik tempat pribadi pria yang terlihat tengah meluruskan tangan.
Rafael yang merasa seperti pegal-pegal, langsung membanting tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya. "Aku ingin segera kabur dari semua saudara karena sangat bosan mendengar mereka membahas masalah keturunan."
__ADS_1
"Aku sangat lelah dan ingin tidur. Aku ingin tidur satu jam. Nanti bangunkan aku setelah satu jam karena waktunya makan siang. Rasanya aku sangat lelah dan pinggangku serasa mau patah. Sepertinya aku kelelahan karena acara pernikahan."
Ingin sekali Alesha membantah itu. Bahwa semua rasa pegal yang dirasakan oleh pria itu karena semalam sibuk bergerak di atas tubuhnya.
Bahkan ia tahu jika kekuatan Rafael sebagai seorang pria tidak bisa diremehkan. Karena ia sendiri juga merasakan badannya remuk redam.
'Dasar pria bodoh!' umpat Alesha di dalam hati dan tanpa menjawab, langsung berbalik badan karena ingin keluar dari kamar.
Niatnya adalah ingin menemui sang ibu karena ingin sekali memeluk wanita yang sangat disayanginya tersebut. Ia butuh dukungan dan semangat melalui sebuah pelukan.
Tentu saja saat ini perasaan berkecamuk dirasakan ketika perasaan untuk Rafael dan Alex sama. Ia tadinya tidak mau mengakui jika jantungnya berdebar saat berada di dekat Rafael, sama seperti yang dirasakan pada Alex.
Jadi, setiap berdekatan dan bersentuhan dengan Alex, pikirannya seolah mengacu pada semua ingatan yang membuat bulu kuduknya meremang.
Alesha ingin segera kabur dari ruangan itu, tapi saat membuka kenop pintu, kembali mendengar suara bariton dari pria yang terbaring di atas ranjang.
"Mau ke mana kamu?"
"Menemui ibu."
"Tetaplah di kamar!"
"Apa maksudmu?" tanya Alesha yang seketika berbalik badan setelah menurunkan pegangan.
Sementara itu, Rafael yang merasa kesal saat perintahnya tidak dijawab, sehingga langsung kembali membuka mata. "Apa kurang jelas apa yang kukatakan? Tetaplah di kamar bersamaku!"
Sementara itu, Alesha merasa sangat terkejut dengan perasaan berkecamuk atas apa yang baru saja dikatakan oleh Rafael. "Tetap di kamar bersamamu?"
To be continued...
__ADS_1