
Rafael sebelumnya membuka selimut yang melindungi tubuh Alesha, baru kemudian masuk dan memeluk erat wanita yang saat ini menggigil kedinginan.
Sebuah hal yang biasa dirasakan oleh seseorang mengalami demam tinggi adalah tubuh sangat panas, tapi menggigil kedinginan.
Jadi, ia seketika berinisiatif untuk melakukan pertolongan pertama dengan cara memeluk erat tubuh kurus Alesha.
Meskipun sebenarnya merasa sangat tidak nyaman karena bisa merasakan tubuh Alesha sangat panas, tetap saja ia melakukan itu karena tidak tega melihat wanita yang menggigil seperti berada di freezer.
"Apakah dengan begini membuatmu sedikit hangat?"
Alesha yang tadinya memejamkan mata karena tubuhnya sudah tidak karuan, seketika merasa sangat terkejut begitu merasakan pria yang memeluknya dengan erat dari belakang.
Ia awalnya terdiam karena merasa sangat shock atas perbuatan dari pria yang berhasil mengembang-ambingkan perasaan yang.
Namun, tidak ingin terbuai dengan harapan palsu dan semakin mencintai pria itu, Alesha berniat untuk melepaskan tangan dengan buku-buku kuat tersebut dari perutnya.
"Apa yang kau lakukan? Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan! Pergilah! Aku ingin beristirahat sejenak karena kepalaku saat ini sangat pusing."
Bahkan Alesha berbicara dengan suara sangat serak dan masih menggigil kedinginan. Sejujurnya ia merasa sangat nyaman ketika pria itu memeluknya dari belakang dan sedikit menghangatkan tubuhnya.
Namun, Alesha tidak ingin terluka setelah menyadari bahwa Rafael selalu saja memberikan rasa sakit padanya. Jadi, berusaha untuk melepaskan kuasa pria yang seolah semakin mengeratkan pelukan dan tidak memperdulikan penolakannya.
Hingga ia seketika terdiam tak berkutik begitu mendengar suara bariton bernada penuh penekanan.
"Diamlah! Atau aku akan melucuti pakaianmu dan memperkosamu!" sarkas Rafael yang merasa sangat kesal sekaligus marah, memilih untuk mengancam dengan berbicara vulgar.
Jika yang dihadapi adalah seorang pria, mungkin ia sudah meninjunya, tapi tidak mungkin melakukannya pada seorang wanita karena itu hanyalah seorang pengecut.
Hal itulah yang membuat Rafael ingin membuat Alesha takut padanya. Ia tahu bahwa wanita yang saat ini dipeluknya erat-erat itu sama sekali tidak takut padanya karena selalu saja melawannya.
Namun, ia mengetahui kelemahan Alesha semenjak pertama kali membuat surat perjanjian pernikahan. Jadi, kini memakainya untuk membuat wanita yang menggigil kedinginan tersebut diam dan tidak melawan.
'Padahal aku tidak akan memperkosanya. Ia seolah sangat takut aku melakukannya. Atau mungkin merasa jijik padaku?' gumam Rafael yang saat ini dipenuhi berbagai macam pikiran buruk.
Karena merasa sangat penasaran dengan sesuatu yang mengganggu di otaknya, seketika mengungkapkan dengan bertanya pada wanita yang sudah tidak berusaha untuk melawannya tersebut.
"Apa kamu jijik padaku, sehingga menolakku memeluknya untuk mencoba menolong?"
__ADS_1
Alesha yang tadinya hanya diam tanpa berkata apa-apa, dengan posisi mata masih terpejam, merasa sangat kebingungan untuk menjawab karena akan menyinggung perasaan pria di belakangnya yang seolah tidak berniat untuk melepaskan kuasa.
Jika biasanya ia selalu melawan dengan mengumpat kasar pria itu, tapi kali ini merasa berbeda dan tidak bisa melakukannya. Apalagi kali ini kepalanya terasa sangat berat dan matanya terus berair, tapi tubuhnya menggigil kedinginan, seolah tenaganya terkuras habis.
Bahkan untuk sekedar berbicara saja, membutuhkan tenaga ekstra. Alesha saat ini telah memikirkan jawaban yang paling tepat dan tidak akan menyinggung perasaan Rafael. Hingga ia kembali mendengar nada protes.
"Apa sangat susah untuk menjawabnya? Tinggal bilang iya atau tidak, mudah bukan?" Rafael yang dari tadi tidak sabar ingin mendengar suara Alesha, merasa sangat kecewa karena tidak langsung dijawab.
Hingga ia yang hendak mengungkapkan nada protes untuk kesekian kalinya, tidak jadi melakukannya begitu merasakan pergerakan wanita yang tiba-tiba berbalik badan dan menghambur memeluknya.
Rafael benar-benar sangat terkejut ketika Alesha menyembunyikan wajah di dadanya sambil melingkarkan tangan pada pinggangnya. Mendapatkan sebuah kejutan tersebut, seketika Rafael menelan saliva dengan kasar dan beberapa kali mengerjapkan mata.
Tentu ia merasa sangat gugup karena ini adalah pertama kalinya tidur berhadapan dengan saling memeluk peran seperti ini karena setiap hari hanya tidur di atas sofa.
'Astaga! Apa yang dilakukannya? Apa ia ini lari dari pertanyaanku dengan melakukan hal seperti ini?' Rafael merasa sangat gugup berada pada posisi sangat intim dengan wanita yang semakin mengeratkan pelukan pada pinggangnya.
'Padahal baru beberapa menit yang lalu aku mengancamnya agar tidak menolakku, tapi sekarang malah kembali keadaan dan membuatku tidak bisa menolak.'
Rafael akhirnya hanya diam dan membiarkan wanita di hadapannya tersebut berbuat sesuka hati untuk mencari sebuah kenyamanan. Hingga ia mendengar suara serak Alesha yang sangat menyayat hati.
"Dingin sekali. Biarkan aku memelukmu seperti ini. Aku ingin tidur karena kepalaku rasanya seperti mau pecah." Alesha tadinya berpikir untuk mencari jawaban atas pertanyaan Rafael, tapi sebelum menemukan jawabannya, tubuhnya semakin kedinginan.
Bahkan ia saat ini bisa mencium aroma khas maskulin pria yang dipeluknya sangat erat dengan mencari sebuah kehangatan.
'Aku istrimu dan tidak salah kita melakukan ini,' gumam Alesha yang saat ini ingin bisa segera tidur nyenyak, agar tidak merasakan kedinginan lagi.
Ia tiba-tiba mengingat perkataan dari mertuanya dan membuatnya merasa bisa memiliki sang suami. "Bukankah kamu tidak pernah melakukan seperti ini dengan mantan istrimu?"
"Tadi mama bercerita bahwa kamu tidur di kamar terpisah saat menjadi suami Aealeasha dulu. Apakah kamu masih berniat untuk bisa kembali pada wanita yang bahkan tidak bisa kamu peluk seperti ini?"
Begitu ia mengungkapkan keluh kesah yang dirasakan, Alesha sama sekali tidak berniat untuk membuka mata karena lelehan kristal mengalir membasahi pipinya.
Sementara di sisi lain, Rafael kini hanya diam saja karena merasa tertampar dengan perkataan bernada ejekan dari Alesha. Ia tidak pernah menyangka jika sang ibu akan menceritakan hal bersifat privasi itu.
'Meski aku dulu mengatakan pada Alesha saat menciumnya di rumah sakit bahwa itu adalah ciuman pertamaku dan ditertawakan olehnya, tapi kali ini jauh lebih buruk karena wanita itu mendengar dari mamaku.'
'Kenapa mama kasih tahu Alesha, sih! Sekarang aku jadi bahan olok-olok wanita ini,' gumam Rafael yang kini memilih untuk mengingatkan Alesha.
__ADS_1
"Cepat tidur! Bukankah kamu tadi mengatakan ingin segera tidur?" Rafael tadinya berpikir bahwa Alesha akan kesal padanya karena tidak menjawab pertanyaan, tapi merasa sangat lega begitu mendengar suara napas teratur.
"Ia sudah tidur," ucap Rafael yang kini bisa merasakan embusan napas Alesha di dadanya.
Merasa itu jauh lebih baik agar Alesha segera sehat, Rafael kini semakin mengeratkan pelukannya untuk menyalurkan kehangatan.
Rafael berpikir bahwa Alesha hari ini berubah sangat berani karena efek sakit dan membuatnya merasa kebingungan untuk menjawab. Bahkan ia seperti dikuliti hidup-hidup karena menjadi seorang pria bodoh yang tidak bisa berpikir rasional hanya karena cinta mati dengan Aealeasha.
Bahkan ia menyadari semua itu, tetapi tidak bisa berhenti untuk peduli pada nasib malang Aealeasha yang selalu hamil sendirian.
Rafael kini merapikan anak rambut Alesha yang berantakan agar bisa melihat dengan jelas wajah pucat wanita yang baru saja mengejeknya habis-habisan.
Bahkan saat melakukan itu, masih bisa merasakan jika demam Alesha belum kunjung turun. "Paling tidak, kamu sudah tidak menggigil seperti tadi."
Rafael tidak berkedip menatap intens pahatan sempurna di hadapannya. Entah mengapa ia kali ini seperti tersihir dengan pesona seorang wanita yang selama ini selalu berhasil menguji kesabarannya, tapi tidak pernah bisa menahan diri.
Pandangan Rafael kini seolah menelusuri setiap sudut wajah Alesha. Mulai dari mata yang masih terpejam dengan bulu mata lentik itu dan dihiasi dengan alis tipis berwarna hitam.
Lalu turun pada hidung mancung dan terakhir di bagian bibir sensual yang membuatnya pernah merasakan manisnya menyesap dan ******* bagian sensitif milik wanita yang masih memeluk erat pinggangnya.
Ada perasaan aneh yang membuatnya sulit menjelaskan dengan kata-kata. Hingga degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal saat menatap wajah cantik Alesha sedekat itu.
'Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa jantungku berdegup kencang saat menatap wajah Alesha dari dekat seperti ini?' gumam Rafael yang tidak berkedip menatap ke arah sosok wanita dengan mata tertutup rapat dan mengeluarkan lelehan kristal air mata yang terjun bebas di pipi.
Refleks ia langsung menghapus dengan ibu jari dan merasa sangat tiba karena pertama kali melihat wanita yang selalu keras kepala dan melawannya tersebut kini terlihat sangat lemah karena sakit.
"Pasti kamu sangat pusing, hingga sampai mengeluarkan air mata seperti ini." Namun, Rafael merasa sangat lega karena Alesha bisa tertidur pulas di pelukannya dan membuat sudut bibirnya melengkung ke atas.
Ia merasa sangat senang karena berpikir bahwa wanita di pelukannya tersebut sangat nyaman, sehingga bisa tidur dengan pulas meski sedang sakit.
Saat ini, Rafael mengusap lembut punggung belakang Alesha untuk menyalurkan ketenangan sekaligus kenyamanan. Namun, saat melakukan itu, mendengar suara ketukan pintu dan membuatnya merasa sangat frustasi karena kesal ada yang mengganggu momen yang dianggap paling berharga.
'Astaga! Siapa yang mengganggu seperti ini?' umpat Rafael yang saat ini menampilkan wajah masam dan tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Pasti dokter sudah tiba. Aku menyesal telah menghubunginya karena mengganggu kenyamananku saat ini." Rafael sebenarnya tidak ingin bangkit dari ranjang dan melepaskan tangan dengan jemari lentik itu dari pinggangnya.
Namun, ia khawatir pada keadaan Alesha, sehingga bergerak sangat berhati-hati untuk turun dari ranjang dan membuka pintu sambil asyik mengumpat di dalam hati karena menyesali perbuatannya.
__ADS_1
To be continued...