I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Masih belum bisa melupakan


__ADS_3

Perusahaan yang kini berada di tangan Rafael akan segera dilakukan penandatanganan peralihan kekuasaan. Hal ini membuat Arsenio dan Aeleasha harus kembali ke Indonesia.


Sebelumnya, Rafael belum menyetujui peralihan ini. Bahkan Arsenio dan Aeleasha tidak berhasil membujuk pria itu. Bahwa semua dilakukan untuk rasa terima kasih mereka karena Rafael sudah menjaga Aeleasha dan melakukan pengorbanan yang sepadan.


Namun, Rafael berubah pikiran karena ia ingin menjadi kuat saat berhadapan dengan orang-orang yang mungkin akan meremehkannya di masa depan.


Seperti contohnya adalah Alex. Rafael benar-benar seperti mengalami Dejavu saat mengingat pria yang menjadi masa lalu Alesha. Ia bahkan seperti sudah bisa melihat hasil akhir dari pernikahan yang berdasarkan surat perjanjian itu.


Namun, ia ingin sesuatu yang bisa digunakan sebagai sebuah senjata untuk melawan orang-orang yang mungkin akan merendahkannya, seperti Alex Clarkson.


Hari ini, Rafael masih sibuk dengan perusahaan. Beberapa pertemuan dengan klien, membuatnya tidak fokus pada ponselnya. Bahkan, meski beberapa pesan penting masuk, Rafael mengabaikan semuanya hingga pekerjaan selesai.


Baru saja ia bisa duduk santai di ruang kantornya. Rafael kini berkutat dengan ponsel dan melihat semua pesan masuk mulai dari yang paling bawah.


Gerakan tangannya terhenti saat melihat ada pesan masuk dari sang mantan istri–Aeleasha. Kedua matanya membulat saat melihat kalimat bahwa pasangan suami istri itu akan segera tiba di Jakarta dalam beberapa jam lagi.


“Kenapa secepat ini?” lirih Rafael dengan mengacak rambutnya frustasi.


Pria itu tampak bingung dan belum siap jika harus bertemu kembali dengan mantan istrinya. Rafael masih memiliki perasaan pada Aeleasha meski ia sadar tidak akan bisa kembali bersama.


Aku segera tiba di Indonesia. Tidak sabar melihatmu menjadi pemilik tunggal perusahaan Arsenio. Selamat untuk kesuksesanmu.


Di sisi lain, Rafael melihat ada pesan masuk dari Alesh. Pesan itu hanyalah pesan biasa seperti hari-hari sebelumnya.


Alesha hanya memberitahu mengenai kegiatannya di kampus dan juga kunjungannya ke rumah sakit.


Setelah membaca pesan masuk, Rafael menghubungi asistennya untuk menyiapkan penyambutan Arsenio dan Aeleasha selaku pemilik perusahaan itu.


Rafael tidak ingin dianggap tidak tahu diri saat mengetahui kedatangan mereka. Akan tetapi, ingin memberikan sambutan yang pantas. Ia pun menyiapkan banyak persiapan sebelum keduanya datang ke perusahaan tersebut.


“Berkas-berkas yang dibutuhkan segera disiapkan dan diletakkan di atas meja kerja. Jangan lupa untuk laporan beberapa minggu ini! Semua harus rapi dan jangan ada yang kacau!” Pesan Rafael pada asistennya.


Rafael masih merasa kebingungan untuk menetapkan hati. Pikiran-pikiran untuk bisa kembali bersama Aeleasha terus bermunculan, tetapi ia berusaha untuk tidak berpikir negatif.


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, ia pun bersiap untuk kembali ke rumah. Namun, Rafael berpikir untuk menemui Alesha terlebih dahulu dan memastikan keadaannya.


Dalam perjalanan, ia melakukan panggilan pada Alesha. Sayang, panggilan itu tidak satu pun yang diangkat dan membuatnya khawatir.


Sampai di rumah sakit, Rafael berjalan menuju kamar, tempat ibu Alesha dirawat. Saat pintu terbuka, ia melihat ternyata wanita itu tengah terlelap di kursi yang ada di sudut kamar itu.


“Alesha sudah tidur sejak tadi. Kamu bisa bangunkan dia jika ada yang penting,” ujar ibu Alesha yang kebetulan terbangun dan melihat Rafael.


"Iya, Ibu. Dia pasti sangat lelah karena kurang beristirahat." Rafael berbicara dengan ibu dari Alesha yang saat ini sudah jauh lebih baik setelah dilakukan operasi.

__ADS_1


Namun, masih harus memulihkan keadaan dan belum diperbolehkan pulang, sehingga membuat Alesha harus bolak-balik antara rumah, kampus dan rumah sakit.


Rafael hanya tersenyum, lalu mendekati wanita dengan kelopak mata tertutup itu. Wanita itu tampak lelah dan wajahnya juga terlihat sedikit pucat.


“Alesha." Rafael mencoba membangunkan Alesha dengan perlahan.


“Jam berapa sekarang?” tanya Alesha sembari menggerakkan posisinya yang kaku karena tertidur di kursi. Ia bangkit dari posisinya dan merasa seperti sudah biasa dilihat oleh Rafael, saat ia sudah sangat berantakan.


“Sudah petang. Kamu tidur dari jam berapa?”


“Aku pulang dari kampus jam tiga. Ada beberapa tugas yang perlu dikerjakan secara berkelompok,” jelas Alesha beralasan.


Tentu saja hanya tidak ingin Rafael tahu, bahwa dirinya kembali dekat dengan Alex.


“Sudah makan?” tanya Rafael dengan tatapan intens.


“Belum.”


“Kita makan di luar, biar ibu kamu dijaga sama perawat.”


“Iya, sebentar.” Alesha berjalan mendekati ibunya dan berpamitan untuk membeli makanan di luar. Ia juga berjanji akan segera kembali setelah selesai dengan kegiatan makan malamnya.


Keduanya berjalan bersama menuju area kantin rumah sakit. Rafael menjelaskan pada Alesha tentang peralihan perusahaan dan kedatangan mantan istri serta suami wanita itu yang merupakan pemilik perusahaan.


Kemungkinan Rafael akan sangat sibuk dalam beberapa hari ke depan dan Alesha yang mendengarkan itu hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan pria itu.


“Tidak tahu, tapi jika ingin bertemu, aku harap kamu akan datang tanpa ada alasan.”


“Baiklah, aku mengerti.”


Pesanan makanan mereka datang. Keduanya menikmati apa yang sudah dipesan di sana.


Sesekali Alesha menceritakan kegiatannya selama di kampus. Ia juga mengatakan bahwa di sana tidak banyak yang mau menjadi temannya.


“Dunia kampus memang seperti itu. Siapa yang bisa mengikuti gaya, pasti akan mendapatkan sekelompok teman, tapi saranku jangan terlalu masuk ke dunia mereka."


"Kamu hanya perlu fokus pada kuliah dan tugas yang diberikan dosen. Anggap saja ini seperti sekolah SMA, hanya penyebutan pengajarnya saja yang berbeda.”


Alesha hanya mengangguk saja saat Rafael menjelaskan tentang dunia perkuliahan.


Setelah akhirnya mereka selesai, keduanya kembali ke kamar pasien.


Kini, Rafael duduk sejenak untuk menemani Alesha.

__ADS_1


“Ibu kamu sudah tidur. Kamu mau pulang atau tidur di sini?” tanya Rafael untuk memastikan dan melirik sekilas mesin waktu di pergelangan tangan kiri.


“Aku tidur di sini saja. Besok tidak ada jadwal kuliah pagi. Baru pukul sebelas siang kuliah dimulai. Jadi, aku masih memiliki waktu jika tidur di sini.”


“Baiklah, aku harus kembali.”


“Ya, hati-hati di jalan.”


Rafael tersenyum, lalu berpamitan pada Alesha. Hal itu membuat Rafael tersenyum simpul begitu pergi dari sana. Ia kini menuju pintu keluar tanpa diantarkan oleh Alesha.


Kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah. Rafael tampak bingung dengan keadaannya saat ini. Pikiran tentang mantan istri yang akan datang bersama suami, membuatnya semakin tidak bisa melupakan masa lalu.


“Kenapa dalam waktu dekat ini? Kenapa mereka tidak bisa menunggu beberapa bulan lagi?” gerutu Rafael yang merutuki kebodohannya sendiri atas perkataan konyolnya.


Sampai di rumah, ia langsung menuju kamar dan membersihkan diri. Ia belum bertemu dengan ibunya saat memasuki rumah. Mungkin sang ibu sedang sibuk di kamar atau sedang di luar.


Benar saja, saat selesai dengan rutinitasnya di kamar mandi. Rafael mengenakan pakaian, lalu berjalan ke dapur. Di sana, ia bertemu ibunya yang sedang merapikan belanjaan.


“Belanja banyak sekali untuk apa, Ma?” tanya Rafael ingin tahu.


“Bukannya Aeleasha mau datang? Aku mau menyiapkan sambutan untuknya. Jangan lupa juga kamu ajak calon istrimu ke sini untuk makan bersama.”


"Jadi Mama sudah tahu?”


“Aeleasha menghubungi Mama. Ia bilang mau berkunjung kemari kalau sudah sampai di Jakarta.”


“Ternyata ibu masih sering berhubungan juga dengan


Aeleasha?”


“Iya. Bagaimanapun, Aeleasha itu pernah menjadi menantu. Walaupun sekarang sudah tidak lagi, harus memiliki hubungan yang baik dengannya”


“Begitu.” Rafael tidak ingin memperpanjang obrolan itu dan memilih segera kembali ke kamar. Kali ini, ia berkutat dengan laptop dan berkas yang sengaja dibawa pulang.


Di meja kerja yang ada di kamar, Rafael kembali melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Ia berkutat hingga tengah malam.


Sembari mengerjakan laporan dan juga memeriksa kontrak kerjasama, ia juga sedang mengirim pesan pada Alesha. Bertanya tentang beberapa hal dan memberitahu mengenai undangan makan bersama di rumahnya.


Jadi, mamamu mau aku bertemu dengan mantan istrimu?


Ya. Jika kamu keberatan, tidak masalah. Tidak perlu datang.


Akan kupikirkan.

__ADS_1


Rafael meletakkan ponselnya, beberapa kali ia sudah menguap dan tidak bisa lagi menahan rasa lelah juga kantuk. Setelah menyimpan berkas dalam laptop, Rafael beranjak dari sana dan naik ke ranjangnya. Meskipun malam ini tidak akan bisa tidur karena memikirkan kedatangan mantan istri yang masih belum bisa dilupakan.


To be continued


__ADS_2