
Beberapa saat yang lalu, Alex Clarkson yang merasa sangat kesal begitu melihat pemandangan saat Rafael mencium Alesha dan wanita itu hanya diam saja, membuat ia langsung pergi dari tempat yang serasa membakar tubuhnya.
Sambil beberapa kali mengumpat di dalam lift. Hingga ia yang kembali ke ruangan perawatan sang ibu, kini menaikkan kedua alis begitu melihat wanita yang melahirkannya sudah duduk di kursi roda dan seperti bersiap-siap.
"Mama mau ke mana?" tanya Alex yang beralih menatap ke pelayan di sebelah sang ibu.
"Pulang. Memangnya ke mana lagi!" ucap wanita paruh baya dengan kaki yang sudah dibalut dengan Dekker.
Alex Clarkson kini sangat terkejut dan berjalan menuju ke arah sosok sang ibu untuk menghentikan sikap sesuka hati dan keras kepala.
"Astaga! Apa dokter mengizinkan?"
Refleks wanita paruh baya yang dari tadi merasa sangat bosan berada di ruangan perawatan rumah sakit biasa tersebut, sudah menganggukkan kepala. Saat tadi Alex tidak kunjung kembali, ia bertanya pada dokter yang memeriksa.
Bahwa ia ingin segera pulang setelah ditangani. Ia merasa sangat tidak nyaman saat berada di rumah sakit bukan terbaik itu, sehingga ingin segera pulang. Tentu saja ia merasa tidak parah kakinya dan berpikir bisa beristirahat di rumah, sehingga terjadi beberapa perdebatan kecil tadi.
Pastinya dimenangkan oleh wanita itu karena mengatakan pada dokter bahwa ia akan menerima segala konsekuensi. Ia berpikir jika nanti terjadi apa-apa, akan pergi ke rumah sakit terbaik dan pastinya akan mendapatkan perawatan medis yang lebih baik.
"Tadi dokter menyuruh Mama untuk menandatangani surat pernyataan tidak mau dirawat di rumah sakit. Jadi, sudah beres. Ayo, kita pulang!"
Jika dari tadi pelayan hanya diam, kini mendapat kemurkaan dari sang majikan dan hanya bisa menunduk menatap ke arah jari kaki.
"Seharusnya tadi menelponku saat Mama berdebat dengan dokter. Jadi, aku bisa langsung menghentikan ulah Mama." Alex Clarkson mengangkat kantung plastik berisi makanan pesanan sang ibu.
__ADS_1
"Ini pasti rencana Mama, bukan? Menyuruhku ke kantin untuk membelikan makanan, agar bisa berbicara dengan dokter sendiri dan langsung memaksa pulang!"
Masih menatap kesal pada sang ibu, kini Alexander memilih untuk menyerahkan makanan yang dibawa kepada pelayan dan memilih untuk mendorong kursi roda itu keluar ruangan perawatan.
Hingga ia yang awalnya berpikir jika sang ibu akan dirawat di rumah sakit, kini tidak bisa berbuat apapun untuk menghentikan sikap keras kepala wanita yang sangat disayangi tersebut.
Sementara Ana hanya terkekeh geli mendengar perkataan Alex yang memang benar adanya. Hanya saja, ia merasa heran karena putranya sangat lama pergi ke kantin dan kini memilih untuk meredam rasa ingin tahu.
"Kamu tadi kenapa lama sekali di kantin? Bahkan Mama sudah siap dari tadi, tapi kamu tidak kunjung datang juga. Apa kamu makan dulu di kantin tadi?"
Masih berjalan dengan mendorong kursi roda sang ibu menuju ke arah lift, Alex kini mengingat kejadian tentang Alesha tadi dicium oleh Rafael dan kembali membuat ia sangat kesal.
'Sial! Aku jadi selalu mengingat tentang bajingan itu yang mencium Alesha tadi. Rasanya tadi aku ingin meninju wajah pria itu, tapi respon dari Alesha yang sama sekali tidak menolak, membuatku semakin merasa tidak punya hak untuk marah atau menghabisi pria sialan tidak tahu malu itu.'
Hingga ia mendengar suara sang ibu yang terdengar sangat aneh, seolah sangat kesal melihat Rafael dan Alesha.
"Astaga! Sial!" umpat Ana yang membulatkan mata saat melihat sosok wanita yang dulu menghina dengan menolak tawaran menggiurkan ketika merobek cek dengan nominal angka yang fantastis.
Tentu saja ia merasa sangat kesal saat melihat wanita yang dianggapnya tak lebih dari seorang pelacur murahan.
'Sialan wanita ini. Sepertinya dia masih berusaha untuk mendekati putraku. Apa tujuannya datang ke rumah sakit jika bukan karena ingin menggoda Alex. Namun, siapa pria itu?'
'Tadi aku mendengar dia membahas tentang menjadi istri CEO. Memangnya siapa yang akan menjadi istri seorang pria hebat? Tidak mungkin wanita murahan itu. Nasib baik putraku masih mengalami amnesia disosiatif. Jadi, tidak akan mengingat wanita ini.'
__ADS_1
Alesha yang merasa sangat terkejut karena untuk kedua kali bisa bertemu dengan wanita yang memasang wajah masam dan tidak bersahabat tersebut, kini memilih untuk segera keluar dari lift.
Tidak hanya itu saja, ia yang tadi ingin membungkuk hormat pada Alex, tidak jadi melakukannya karena berpikir itu akan banyak menimbulkan berbagai macam pertanyaan dari wanita di kursi roda tersebut.
'Jangan sampai ibu Alex tahu jika aku jadi mahasiswi putranya di kampus. Jika dia tahu, mungkin aku akan berakhir dipermalukan di depan semua orang. Apalagi jika dia membuka rahasia bahwa aku adalah seorang sugar baby, pasti akan mendapatkan hinaan dari semua orang.'
Saat Alesha menarik pergelangan tangan kiri Rafael agar segera menjauh dari hadapan wanita yang dulu pernah menghina dengan selembar cek, melambatkan langkah kaki saat mendengar suara bariton dari Alex yang bertanya pada sang ibu.
"Ada apa, Ma? Apa Mama mengenal mereka? Atau salah satu? Kenapa Mama seolah kesal, hingga mengumpat tadi," tanya Alex yang merasa sangat aneh dengan sikap sang ibu barusan seperti sedang mengungkapkan kekecewaan begitu melihat orang di dalam lift.
Satu-satunya hal yang dipikirkan dari kemungkinan itu adalah sang ibu sepertinya mengenal wanita bernama Alesha dan menebak jika dulu ada hubungan dengan wanita itu.
Wanita yang membuat ia memiliki sebuah ketertarikan di hari pertama bertemu di kantin dan membuat Alex sibuk menebak berbagi macam kemungkinan.
'Apakah aku dan Alesha dulu pernah bertemu? Ataukah ibuku dulu mempunyai momen buruk dengan wanita ini?' gumam Alex di dalam hati dan membuat ia kali ini merasa yakin bahwa ada sesuatu antara ia dan Alesha di masa lalu.
Jika Alex sangat mengharapkan jika sang ibu segera mengatakan tentang kenyataan sebenarnya mengenai sikap seperti tidak suka tersebut, berbeda dengan yang saat ini tengah dipikirkan Alesha.
'Jangan mengumpat karena membenciku karena itu akan membuat Alex adalah sugar daddy-ku dulu,' gumam Alesha dengan perasaan berkecamuk di dalam hati.
Saat ia ingin mengetahui jawaban dari ibu Alex, tiba-tiba Rafael menarik pergelangan tangan kiri Tsamara karena merasa curiga ketika wanita itu berjalan seperti siput.
"Apa kamu mau aku menggendongmu?" tanya Rafael yang langsung sedikit membungkuk untuk meraup tubuh seksi Alesha ke atas lengannya dan berjalan menuju ke arah ruangan perawatan tanpa menoleh ke arah belakang lagi.
__ADS_1
To be continued...