
Sosok wanita yang berada di dalam kamar kos, baru saja membereskan beberapa sampah makanan ringan karena semalam tidur tanpa membersihkan.
Setelah mendapatkan pesan dari sahabatnya yang diketahui telah menikah dengan seorang CEO perusahaan besar dan tidak lagi menjadi sugar baby sepertinya, ia tidak bisa tidur lagi.
Setelah selesai membersihkan ruangan kamar, wanita bernama Stella Mayasari berusia 21 tahun itu membersihkan diri dengan melakukan ritual mandi.
Selama di dalam kamar mandi, memikirkan sahabatnya yang tiba-tiba ingin datang ke tempatnya.
"Kenapa Alesha ingin ke sini? Padahal baru menikah dan tidak mengizinkanku datang ke resepsi pernikahan yang ada di hotel dengan alasan akan menceritakan semuanya saat kami bertemu."
"Aku benar-benar sangat penasaran dengan apa yang ia sembunyikan dariku. Selama ini kami selalu berbagi masalah apapun tanpa terkecuali, tapi semenjak ia memutuskan untuk tidak lagi menjadi sugar baby, sikapnya sangat aneh."
Stella Mayasari yang sudah dua tahun menjadi sugar baby itu sebenarnya selama ini tinggal di apartemen dan sering membeli barang-barang mewah dan alat-alat kosmetik mahal. Hingga ia seringnya kehabisan uang jika tidak ada yang menggunakan jasanya.
Ia selalu mendapatkan omelan dan petuah macam-macam dari Alesha yang membuatnya memutuskan untuk tidak lagi hidup boros dengan tinggal di sebuah tempat kos.
Meskipun berbanding terbalik dengan apartemen yang selama ini ditempati, tapi ia berusaha untuk membiasakan diri demi bisa menghemat pengeluaran. Apalagi ia selalu saja terngiang perkataan sahabatnya.
Kamu tidak mungkin selamanya ingin menjadi seorang sugar baby, kan? Karena semakin bertambah usia, kita hanya menginginkan ada satu pria yang serius untuk menjalin hubungan dengan kita. Simpan dan tabung uangmu untuk masa depan.
Stella yang baru saja selesai mandi, kini berniat untuk menaruh handuk basah di depan, agar terkena angin dan sinar matahari karena jika hanya ditaruh di dalam kamar, akan berbau.
Saat ia membuka pintu, seketika membulatkan mata begitu melihat sosok wanita yang berjongkok sambil menunduk dengan membekap mulut.
"Alesha!" teriak Stella yang saat ini bisa menebak siluet wanita yang menundukkan kepala di depan pintu kamar kosnya adalah sahabat baiknya. "Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah dari tadi berada di sini?"
Dengan menyamakan posisi, Stella kini sudah berjongkok di depan Alesha yang masih enggan membuka suara.
Sementara itu, beberapa saat yang lalu, Alesha benar-benar merasa hancur kala mendapatkan pesan dari sosok pria yang semalam berhasil merenggut kesuciannya.
__ADS_1
Ia benar-benar tidak pernah menyangka jika pria yang semalam menikmati tubuhnya sama sekali tidak mengingat apapun. Bahkan ia yang ingin menenangkan diri, kini berpikir jika tidak bisa lagi tenang setelah Rafael menuduhnya.
Tentu saja ia tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa meratapi nasibnya dengan bersimbah air mata kala memikirkan semua yang menimpanya.
Hingga begitu mendengar suara dari sahabatnya, Alesha kini mengangkat pandangan dan bersitatap dengan netra kecoklatan Stella yang terlihat khawatir padanya.
"Aku ...."
Alesha bingung menjelaskan karena suaranya bahkan bergetar hebat sekaligus serak karena dari tadi menangis dengan membungkam mulut agar tidak membuat kehebohan di tempat kos sahabatnya.
Sementara itu, melihat wajah sembab sahabatnya, Stella seketika membantu berdiri Alesha karena tidak tega dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
"Tenangkan dirimu di dalam. Jangan di sini," ucap Stella yang kini tidak ingin memaksa Alesha bercerita karena hanya dengan melihat wajah sayu itu saja sudah membuatnya mengetahui bahwa sahabatnya tengah mengalami hal paling buruk sepanjang sejarah hidupnya.
Karena ia tahu bahwa selama ini Alesha tidak pernah menunjukkan kesedihan di depannya dan selalu terlihat kuat. Namun, saat pertama kalinya melihat wajah yang biasanya ceria itu dipenuhi air mata, benar-benar sangat terkejut sekaligus iba.
Alesha yang tadinya meraih ponsel miliknya tergolek di lantai, sama sekali tidak memperdulikan jika layar depan retak dan mewakili perasaannya yang serupa setelah mengetahui tanggapan dari Rafael.
Ia mendaratkan tubuhnya di atas ranjang di ruangan kamar sahabatnya dan menghapus kasar bulir air mata di wajahnya.
Stella yang langsung mengambilkan gelas dan menuangkan air minum, kini menyerahkan pada sahabatnya. "Minumlah!"
"Terima kasih," sahut Alesha masih dengan suara serak.
Kemudian ia langsung meneguk air putih itu hingga habis dan menaruh gelas di atas lantai sebelah ranjang.
Alesha kini mengangkat pandangan untuk menatap sahabatnya yang masih berdiri di hadapan. "Maafkan aku."
"Maaf? Untuk apa?" Stella kini memicingkan mata karena sangat heran dengan apa yang dimaksud oleh Alesha.
__ADS_1
"Aku melarangmu datang ke pernikahan, lalu sekarang datang ke sini dengan keadaan seburuk ini." Alesha sedikit merasa tenang setelah menghabiskan air minum satu gelas.
Tenggorokannya memang terasa kering karena sama sekali tidak makan dan minum setelah acara semalam. Bahkan ia kini merasakan perutnya terasa perih dan memberikan sebuah sinyal jika harus diisi.
Saat ini, Stella sama sekali tidak mengharapkan permintaan maaf, tapi ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya tersebut.
Namun, karena merasa iba, menahan diri untuk tidak bertanya dan memilih untuk menunggu sampai sahabatnya tersebut menceritakan sendiri, sehingga kini mengalihkan pembicaraan.
"Aku lapar dan ingin memesan makanan. Kau ingin makan apa?" Stella yakin jika Alesha belum makan dan ia meraih ponsel di atas laci untuk membuka aplikasi pesan antar.
"Kamu saja yang makan. Aku tidak lapar." Meskipun sebenarnya perut terasa perih karena belum diisi, Alesha tidak selera makan saat pikirannya tengah dipenuhi oleh kekhawatiran mengenai bagaimana akhir dari nasibnya setelah hari ini.
Tidak ingin banyak berbicara, Stella kini memilih untuk memesan sendiri tanpa bertanya lagi. Ia berpikir jika percuma bertanya, sehingga sekarang sibuk memilih menu makanan untuk sarapan.
Beberapa saat kemudian, ia menemukan menu makanan kesukaan
sahabatnya, yaitu ayam geprek. Menu sederhana dengan harga terjangkau dan pastinya tidak menguras kantong karena memang sahabatnya itu tidak suka makan-makanan mahal.
Setelah memesan dua porsi ayam geprek, Stella mendaratkan tubuhnya di atas ranjang dan melirik ke arah Alesha yang kini fokus pada layar ponsel.
"Sekitar dua ratus ribu."
Refleks Alesha menoleh ke arah Stella. "Apa maksudmu?"
"Aku kemarin baru menjatuhkan ponselku dan layarnya retak seperti ponselmu. Aku bawa ke tempat servis dan bayar dua ratus ribu. Jadi, jangan terlalu memikirkan layar ponselmu yang retak itu karena murah memperbaikinya." Stella sengaja tidak berbicara serius dengan Alesha karena ingin mengetes reaksi dari sahabatnya.
Namun, ia mendapatkan sebuah jawaban yang menyayat hati.
To be continued...
__ADS_1