
Sebenarnya Alex merasa tidak tega melihat Alesha menangis tersedu-sedu di atas ranjang perawatan. Namun, ia pun saat ini merasa sangat terluka atas perbuatan wanita yang sama sekali tidak menepati janji padanya dan membuatnya patah hati.
"Bukan ini yang ingin kudengar darimu, Alesha." Alex kini berjalan mendekat dan mengarahkan usapan lembut dengan ibu jarinya pada wajah yang sudah dihiasi oleh bulir air mata.
"Bukan maaf, tapi ingin mendengar bahwa semua yang kudengar ini salah." Ia masih sangat berharap bahwa semua kejadian malam ini tidak benar dan hanyalah sebuah mimpi semata.
Bahkan berharap jika wanita yang terlihat sangat pucat tersebut mau menjelaskan semuanya dan mengatakan ada kesalahpahaman.
Namun, jawaban singkat dari Alesha membuatnya semakin patah hati. Alex selama ini hanya dekat dengan mantan istrinya yang sudah meninggal dan memutuskan untuk membuka hati pada Alesha yang berhasil membuat perasaannya bergetar saat menatap wanita yang menjadi mahasiswinya.
Namun, harapannya ternyata terlalu tinggi dan mengempaskan ke dasar paling rendah hingga hancur berkeping-keping bagaikan pecahan kaca yang dibanting.
"Aku dengan tulus mencintaimu dan menyiapkan semua kejutan untuk melamarmu, agar setelah kamu resmi bercerai dengan pria itu, akan langsung kunikahi. Namun, ternyata semua hanyalah sebuah angan semu semata."
Alex bahkan saat ini merasa sangat bersalah karena membuat air mata dari Alesha tidak berhenti mengalir. Ia mengungkapkan semua keluh kesah yang dirasakan karena tidak ingin berakhir stres dan gila, sehingga butuh pelampiasan.
Sementara di sisi lain, Alesha yang masih menangis tersedu-sedu karena dikuasai oleh rasa bersalah, sebenarnya ingin sekali menjelaskan mengenai semua yang terjadi padanya saat menjadi istri Rafael.
Bahwa ia benar-benar tulus mencintai Alex dan berpikir bisa menjadi istri pria itu karena memang memiliki perasaan semenjak menjadi sugar baby.
Namun, Alesha berpikir jika menceritakannya, yang ada malah akan terjadi pertengkaran atau mungkin perkelahian hebat antara Alex dan Rafael. Ia tidak ingin itu terjadi dan berharap dia di hadapannya mau merahasiakan kehamilannya.
Semenjak menikah dengan Rafael, ia sadar bahwa ada banyak hal yang membuatnya menahan diri agar tidak sampai mencemarkan nama baik pria yang merupakan seorang pemimpin perusahaan terkenal itu.
Sangat berbeda dengan dirinya yang dulu, sama sekali tidak pernah memikirkan pemikiran orang lain dan hanya berfokus pada diri sendiri.
Ia dulu tidak butuh pengakuan dari semua orang untuk mengatakan bahwa ia adalah wanita baik-baik, tapi semenjak menjadi seorang istri, selalu ingin menjaga nama baik pria itu.
Hingga sekarang ia pun seolah terbiasa dan saat ini tengah berpikir untuk mencari cara agar bisa menyembunyikan kehamilannya dari Rafael.
Kini, Alesha menatap ke arah Alex setelah sedikit lebih tenang dan menghapus bulir air mata di wajahnya.
"Aku butuh bantuanmu untuk merahasiakan apa yang baru saja kamu dengar hari ini. Jangan sampai rahasia ini didengar oleh siapapun, khususnya Rafael." Alesha saat ini masih ingin menenangkan diri dan berharap tidak ada yang memberitahu Rafael karena ia tidak ingin dikasihani.
"Apa maksudmu, Alesha? Kamu bahkan saat ini hamil benih bajingan itu! Sepertinya ia sama sekali tidak tahu bahwa ketika menceraikanmu, kamu tengah hamil benihnya." Alex bahkan menatap tajam ke arah wanita yang terlihat sangat konyol menurutnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus merahasiakan hal besar seperti ini darinya?" Alex kali ini semakin emosi dan benar-benar tidak paham dengan pemikiran Alesha.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Jika kamu ingin aku merahasiakan hal besar ini, lebih baik menceritakan semuanya padaku!" Akhirnya Alex memilih untuk memberikan ancaman agar wanita yang dianggapnya tidak berperasaan itu segera menjelaskan.
Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga Rafael menceraikan Alesha tanpa mengetahui bahwa wanita itu tengah hamil benihnya.
Awalnya, Alesha sama sekali tidak berniat untuk menceritakan pada Alex, tapi karena mendapatkan sebuah ancaman dan membuatnya khawatir, akhirnya menjelaskan semua yang terjadi mengenai rumah tangganya.
Mulai dari pertama menikah hingga Rafael melakukan hubungan dengan pengaruh minuman beralkohol, lalu ketika semakin lama perasaannya berkembang pada pria itu, serta mantan istri dari pria itu yang terancam bercerai.
Hingga kabar kehamilan wanita itu yang membuat Rafael lebih memperhatikan hingga setiap hari datang dan selalu pulang malam dengan alasan lembur.
Alesha yang saat ini merasa jauh lebih baik dan mempunyai tenaga untuk segera pulang ke rumah sang ibu, merasa ragu apakah malam ini ke sana atau kembali ke tempat kos sahabatnya.
Sebenarnya ingin kembali ke tempat kau sahabatnya agar sang Ibu tidak mengetahui bahwa saat ini ia sedang hamil muda. Namun, tidak mungkin selamanya menyimpan rahasia itu. Apalagi terkadang sang ibu setiap dua minggu sekali datang untuk menjenguknya.
Meskipun ia sering datang ke rumah sang ibu setelah menikah, tetap saja wanita yang sangat disayanginya tersebut datang ke rumah besan dengan membawakan beberapa makanan hasil buatan sendiri.
"Aku akan pulang ke rumah ibu hari ini karena selama ini tinggal di tempat kau sahabatku. Mungkin aku menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan mengenai masalah kehamilanku."
"Anda sudah siap, Nyonya," tanya sang perawat yang saat ini tersenyum sambil mengarahkan kursi roda untuk mendekat dan diduduki oleh pasien yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu tersebut.
Alesha saat ini bergerak turun perlahan dan mendaratkan tubuhnya di atas kursi roda yang telah disediakan. Ia tadi sekilas melirik ke arah Alex yang semakin membuatnya merasa bersalah.
Ia mungkin nanti akan berbicara lagi saat berada di dalam mobil dan meminta pria itu agar mau melupakannya.
"Kalau begitu, saya siapkan mobilnya dulu." Akhirnya Alex yang kini sudah mengerti apa yang terjadi pada Alesha, merasa ada sebuah kesempatan untuknya karena Rafael sama sekali tidak mencintai Alesha dan malah sibuk mengurus mantan istri yang tengah hamil saat diselingkuhi suami.
Sebenarnya ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak karena merasa apa yang terjadi dengannya dan juga Alesha adalah sebuah hal yang konyol. Namun, kali ini ia fokus mengambil kendaraan dan memeriksa apakah orang tuanya sudah benar-benar pergi.
Merasa sangat lega ketika saat ini orang tuanya tidak ada karena jika sampai sang ibu mendengar kabar kehamilan Alesha, pasti akan kembali mengumpat wanita itu dan ia tidak ingin sampai terjadi.
"Syukurlah Mama dan papa sudah benar-benar pulang dan tidak membuat kekacauan seperti biasanya. Lalu, Apa yang harus kulakukan saat ini setelah mengetahui semua hal mengenai Alesha?" tanya Alex yang kini sudah berjalan keluar dan membantu Alesha naik ke mobil.
Ia mengucapkan terima kasih pada perawat sebelum kembali duduk di balik kemudi. Kemudian kembali ke dalam mobil dan mulai mengemudikan kendaraan menuju ke arah alamat rumah Alesha.
__ADS_1
Saat ia ingin membuka pembicaraan mengenai rencana Alesha, Alex tidak jadi melakukannya karena wanita itu membuka suara terlebih dahulu.
"Nanti, turunkan aku di depan gang saja karena lebih baik berjalan kaki pulang. Aku tidak ingin ibuku berpikir macam-macam pada putrinya yang pulang malam malah diantarkan oleh pria lain. Kamu paham kan maksudku?"
Alesha memang ingin menceritakan mengenai pernikahannya dengan Rafael hanyalah sebuah sebatas perjanjian semata dan untuk sementara waktu menyembunyikan kehamilannya karena tidak ingin sang ibu khawatir akan keadaannya.
Jadi, kehadiran Alex malah akan membuat kesalahpahaman bahwa pernikahan berakhir karena orang ketiga. "Ibuku tidak boleh berpikir bahwa aku bercerai dengan Rafael karena ada kamu di antara kami."
"Kami bahkan saat ini aku tidak bisa lagi berpikir jernih selain mengatakan itu pada ibuku demi menjaga kesehatannya agar tidak kumat penyakit jantungnya. Aku harap kamu ngerti." Alesha sebenarnya tidak ingin Alex yang mengantarnya pulang dan bisa naik taksi, tapi ia mengetahui bagaimana sifat pria itu.
Jadi, merasa percuma meminta pria itu tidak perduli padanya, jadi membiarkan Alex mengantarkannya pulang meski tidak sampai di depan rumah.
Alex sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu, tapi sangat khawatir jika nanti Alesha pingsan lagi ketika berjalan pulang.
"Baiklah, aku akan menurunkanmu di depan gang, tapi aku akan berjalan di belakangmu karena ingin memastikan kamu selamat sampai di rumah. Sekarang kamu hamil dan bisa pingsan suatu waktu di jalan jika tidak ada yang mengawasi." Alex tidak butuh jawaban dari Alesha karena meskipun wanita itu menolak, tetap akan melakukannya.
Alesha menyadari bahwa semua itu memang benar dan sekaligus membuatnya berpikir bahwa impiannya tidak akan menjadi kenyataan ketika sekarang tengah mengandung.
'Aku akan sibuk dengan kehamilanku dan jika nanti sudah lahir ke dunia, akan sibuk mengurusnya. Aku tidak mungkin bisa dengan posisi hamil dan punya anak masih tetap kuliah. Sepertinya aku harus fokus pada janin yang ada dalam rahimku.'
Alesha yang masih melamun dan tidak menjawab perkataan dari Rafael, kini tersadar begitu mendengar suara bariton yang memecah keheningan di dalam mobil.
"Apa kamu tengah memikirkan bagaimana nasib anakmu yang tidak diketahui oleh ayahnya? Jika pria berengsek itu tidak mau menerimanya karena masih belum bisa move on dari mantan istrinya, biar aku yang bertanggungjawab penuh terhadapnya."
"Lupakan cintamu pada si brengsek itu dan menikahlah denganku setelah bercerai nanti karena aku tahu bahwa saat ini perceraian kalian tidak sah." Alex bukanlah orang yang pintar agama, tapi ia tahu mengenai hal yang menimpa Alesha.
"Sayangnya aku tidak bisa menikahimu sekarang, tapi akan kupastikan memenuhi semua yang kamu butuhkan serta memberikan perhatian ekstra khusus padamu."
Alesha hanya terdiam karena jujur saja saat ini tengah bingung untuk mengambil keputusan. Ia bahkan tidak tahu apakah Rafael bisa menerima kabar kehamilannya.
'Aku sangat yakin jika Rafael mendengarnya, akan menertawakanku dan menuduh bahwa janin ini adalah benih Alex karena setahunya tidak pernah melakukan itu denganku. Miris sekali nasibmu, Sayang. Maafkan, Ibu karena telah menghadirkanmu.'
Alesha kini kembali menangis tersedu-sedu mengingat nasib janin yang berkembang di dalam rahimnya. Ia berpikir lebih baik Rafael tidak tahu apapun mengenai kehamilannya agar tidak sakit hati saat dituduh sebagai wanita murahan karena hamil.
To be continued...
__ADS_1