
Waktu satu minggu mungkin tidak lama bagi orang normal, tapi tidak untuk Alesha yang berstatus sebagai janda, tapi masih tinggal dalam satu kamar dengan mantan suami yang sama sekali tidak pernah menyimpan perasaan padanya.
Ia menganggap bahwa setiap detik demi detik berlalu sangat lambat dan terasa menyiksa, sehingga seperti sedang berada di neraka yang menyiksanya.
Semenjak kejadian saat Rafael mengucapkan talak padanya dengan alasan Alex, ia sudah tidak mau berinteraksi lagi dan lebih banyak diam. Bahkan saat ditanya apapun oleh Rafael, ia hanya menjawab iya dan tidak.
Namun, berbeda ketika berhadapan dengan mantan mertuanya yang sama seperti biasa, yaitu sangat menyayanginya. Seperti hari ini, ia tengah makan siang bersama wanita berhati malaikat yang selalu baik padanya.
Bahkan semenjak sakit, lebih perhatian dan semakin menyayanginya. Hal itu malah semakin menyiksanya karena bagaikan sebuah rantai yang membuatnya seperti tidak bisa bernapas.
Terasa sesak saat mendapatkan kebaikan dari orang yang telah ditipunya, sehingga yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa bersalah yang tak terhingga dan tidak tahu bagaimana caranya memohon maaf saat ia melangkahkan kaki keluar dari rumah bak istana itu.
Alesha bahkan setiap hari menghitung sisa waktunya di rumah yang sempat memberikan kenyamanan serta segala kemewahan untuknya. Tinggal dua hari lagi ia menunggu sampai Rafael menjelaskan pada sang ibu.
Kini, ia yang sudah sehat berkat perhatian mertuanya, tidak berhenti mengulas senyuman melihat mertuanya yang berbicara panjang lebar menceritakan banyak hal mengenai masa muda.
"Jadi, Mama tidak berniat menikah lagi dari dulu? Aku benar-benar sangat kagum pada cinta Mama pada almarhum papa." Alesha yang baru saja menutup mulut seketika terdiam karena bingung untuk menanggapi perkataan dari wanita paruh baya di sebelah kiri hal tersebut.
"Kamu dan Rafael kalau juga akan demikian. Cinta kalian hanya akan terpisahkan oleh maut. Apalagi Mama tahu bahwa siapa yang tidak mudah mencintai seorang wanita." Tiana kini mengusap lembut punggung tangan menantunya.
Seolah tengah menyalurkan energi positif pada wanita yang diharapkan bisa segera memberikannya cucu untuk semakin mengeratkan rumah tangga keduanya karena buah cinta bisa menghindari adanya hal-hal negatif yang mengancam bahtera rumah tangga.
Meskipun ia tahu ada banyak kasus perceraian yang menjadikan bahkan sebagai korban. Harapannya sangat besar pada wanita yang memiliki paras cantik itu.
"Kamu adalah wanita yang hebat karena berhasil meluluhkan dinginnya hati suamimu. Mama harap, kalian hidup bahagia sampai kakek nenek dan hanya maut yang bisa memisahkan."
Alesha hanya diam karena tidak mungkin mengaminkan doa yang diketahuinya sangat mustahil karena sudah bercerai dengan putra dari wanita yang sangat baik itu.
Ia bingung harus menjawab apa karena sejujurnya hatinya berontak ketika selalu menyembunyikan kenyataan sebenarnya dari wanita yang sama sekali tidak bersalah dan akan menjadi korban dari keegoisan mereka.
'Apa yang harus kukatakan? Aku bahkan sudah berstatus janda sekarang. Mana mungkin bisa mengarungi bahtera rumah tangga sampai kakek nenek seperti harapan mama?' lirih Alesha saat ini mendapatkan catatan penuh pertanyaan serta kecurigaan dari mertuanya.
Tiana saat ini mengerutkan kening karena merasa curiga saat menatap wajah menantunya yang tiba-tiba berubah memerah seperti tengah banyak beban pikiran.
Ia pun mengusap lengan Alesha untuk menanyakan sesuatu yang terlintas di pikirannya saat mengkhawatirkan ada hal yang disembunyikan oleh menantu.
"Sayang, apa yang saat ini sedang kamu pikirkan? Kamu terlihat stres akhir-akhir ini. Ternyata apa yang dikatakan oleh dokter benar saat memeriksamu. Katakan pada Mama, apa yang membuatmu seperti sedang tertekan saat ini?"
__ADS_1
Karena merasa bahwa pembicaraannya sangat privasi dan tidak boleh didengar oleh orang lain, Tiana bangkit berdiri dan mengajak menantunya tersebut untuk pergi dari ruang makan karena memang kegiatan mereka sudah selesai beberapa menit yang lalu.
"Ada yang ingin Mama bicarakan di ruang kerja Rafael," ucap Tiana yang memberikan kode agar Alesha upacara mengikutinya meski terlihat bahwa menantunya tersebut sangat ragu dan gelisah.
Alesha masih berpikir bahwa ada waktu dua hari seperti perjanjian dengan Rafael dan ia tidak akan mengatakan pada wanita yang sudah berjalan ke ruang kerja di lantai atas.
Sepanjang menaiki anak tangga tadi, ia mengumpat diri sendiri karena membangkitkan kecurigaan dari mertuanya hingga mengajaknya berbicara berdua.
'Dasar bodoh! Apa susahnya mengatakan aamiin apa yang tadi diungkapkan oleh mama. Jika begini, kamu sendirian repot dan kebingungan harus menjawab apa jika mendapatkan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai hubungan dengan Rafael.'
Kini, Alesha sudah berada di ruangan kerja yang bahkan tidak pernah dimasuki olehnya karena hubungan dengan Rafael tidaklah sebaik yang dipikirkan mertua.
"Duduklah di sini, Sayang." Tiana yang baru saja mendaratkan tubuhnya di atas sofa di sudut kanan ruangan, menepuk sebelah kiri tempat duduk agar alisha segera ke sana.
Karena tidak ada pilihan lain dan tidak bisa kabur lagi atau beralasan, kini Alesha tersenyum simpul dan duduk di sebelah wanita yang terlihat jelas tengah curiga padanya dan ingin mengorek informasi apa yang selama ini ia sembunyikan.
Sebelum ditanya, Alesha memilih untuk segera mengatakan kebohongan seperti biasanya. "Aku sama sekali tidak stres ataupun memikirkan masalah apapun, Ma."
"Mama sepertinya terlalu sensitif menanggapi perkataan dokter. Aku hanya dengan biasa dan setelah minum obat juga sembuh seperti sekarang. Apalagi ada Mama yang selalu merawatku dengan baik saat suamiku pergi bekerja ke kantor."
Bahkan untuk meyakinkan akting yang dianggapnya sangat memuakkan, kini Alesha sudah bergelayut manja pada lengan wanita paruh baya itu sambil bersandar.
"Bersumpahlah atas nama ibu yang melahirkanmu bahwa saat ini kamu tidak ada masalah apapun."
Tiana tidak bisa mempercayai apapun yang dikatakan wanita dengan ekspresi wajah tertekan seperti menantunya saat ia memanjatkan doa. Bahkan sama sekali tidak diaminkan oleh wanita yang seketika bergerak untuk menegakkan tubuh dan tidak lagi bersikap manja padanya.
"Mama tidak akan memaksamu, Alesha. Hanya saja, saat melihatmu hari ini, membuatku merasa bahwa ada sesuatu yang kamu tutupi. Apa yang sedang kamu tutupi dari Mama, Sayang?" Tiana sangat khawatir jika apa yang ditakutkan olehnya benar-benar terjadi begitu melihat Alesha seketika berlutut di kakinya.
Alesha mungkin bisa mematuhi perintah Rafael yang menyuruhnya terus bersandiwara di depan mertua. Namun, ia tidak bisa melakukan perintah mertua yang menyuruhmu untuk bersumpah atas nama wanita yang telah melahirkannya.
Refleks ia memilih untuk memohon ampunan dari wanita yang sudah sangat baik padanya, tapi dibalas dengan sebuah penipuan.
Bahkan ia yang saat ini berlutut di depan kaki mertuanya, kini menangis tersedu-sedu saat tidak kuat lagi untuk berakting baik-baik saja.
"Mama, maafkan aku."
Tiana benar-benar tidak tega melihat menantu kesayangannya malah perlu tadi paginya dengan wajah yang sudah bersimbah air mata. Refleks ia menyamakan posisi dengan menekuk lutut sambil memeluk tubuh yang sudah bergetar karena efek menangis.
__ADS_1
Ia seketika menyesal begitu menyadari bahwa pertanyaan darinya membuat menantunya kini menangis. Bahkan ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan yang akan disampaikan oleh wanita yang masih terus menghiasi dengan suara menyayat hati di ruangan kerja itu.
"Jangan! Mama tidak mau mendengar apapun. Lupakan apa yang pernah Mama tanyakan tadi. Ayo, kita keluar dari sini." Tiana kemudian berusaha untuk membuat menantunya yang masih terus menangis itu bangkit berdiri.
Namun, karena tenaganya yang sudah tidak kuat lagi seperti muda dulu, tidak bisa melakukannya karena Alesha seolah tidak bergeming dari posisi karena tidak mau menuruti perintahnya untuk dari sana.
Hingga ia yang saat ini berdiri menjulang di sebelah wanita yang masih berlutut itu, seketika merasakan tangannya gemetar begitu mendengar suara bergetar yang menyayat hati itu.
"Mama, maafkan aku karena selama ini telah menipumu. Aku dan Rafael menikah atas dasar surat perjanjian. Kami akan bercerai setelah satu bulan menikah. Hanya saja, karena kami sama-sama egois saat bertengkar, Rafael mengucapkan talak lima hari lalu."
Alesha bahkan berbicara sambil menangis dan dengan suara dan tubuh yang bergetar. Ia benar-benar merasa sangat berdosa karena telah menipu wanita sebaik malaikat tersebut.
Ia kini mendengar menatap ke arah mantan mertuanya yang sama sekali tidak berkomentar apapun begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Alesha sama sekali tidak takut dibenci oleh wanita yang berdiri menjulang di sebelahnya, tapi satu-satunya yang ditakutkan dari mantan mertuanya itu adalah akan menyiksa diri sendiri dan berakhir sakit karena terlalu banyak pikiran.
"Aku tidak berharap Mama memaafkan semua perbuatan jahatku. Aku sangat berharap Mama selalu sehat dan hidup bahagia seperti biasanya. Tanpa memikirkan gagalnya rumah tangga putra Mama."
"Maafkan aku, Ma karena selama ini berakting menjadi seorang istri yang bahagia. Aku saat ini sudah bukan lagi menantu di keluarga ini. Aku harus pergi meninggalkan Mama yang berhati malaikat."
Alesha sangat berharap mertuanya membuka suara untuk marah dan menyalahkannya karena telah mempermainkan perasaan seorang ibu sekaligus mertua.
Namun, sebanyak apapun ia berbicara, tetap tidak mendapatkan tanggapan karena mertuanya saat ini hanya diam seribu bahasa tanpa membuka mulut. Hal yang paling ditakutkan adalah itu dan kini benar-benar terjadi.
Refleks Alesha bangkit berdiri karena ingin mengajak mertuanya duduk di sofa karena sangat khawatir dengan keadaan wanita paruh baya tersebut.
Namun, tangannya seketika diempaskan. Seolah menolak untuk disentuh olehnya. Alesha kini terdiam membisu di tempat karena merasa bingung harus melakukan apa.
'Mama pasti sangat terpukul dengan apa yang baru saja kukatakan. Apakah sebaiknya harus menghubungi Rafael karena aku telah melanggar perjanjian?' gumam Alesha yang saat ini mengerjapkan kedua mata begitu mendengar mertuanya membuka suara.
"Pergilah, Alesha. Carilah kebahagiaanmu dan jangan sekali lagi melukai hati seorang ibu yang tulus karena kau akan menyesal jika melakukannya. Mama sama sekali tidak membencimu karena telah menipu hati seorang ibu yang ingin melihat putranya bahagia."
Tiana kemudian berlalu pergi meninggalkan wanita yang sudah bukan lagi menjadi menantunya tanpa menoleh ke arah belakang lagi dengan bersimbah air mata.
Sementara itu, untuk kesekian kali Alesha merasakan ribuan anak panah menancap tepat di jantungnya saat ini karena rasa bersalah yang menghujamnya.
Kali ini jauh lebih sakit terasa dan ia sudah tidak kuasa untuk menahan diri. Tangisnya seketika pecah membahana memenuhi ruangan kerja yang awalnya dipenuhi oleh sejuta keheningan dan sekarang berubah penuh isak tangisnya.
__ADS_1
"Mama, maafkan aku, Ma!" lirih Alesha dengan terus bergetar dan suara serak karena masih terus menangis dan bulir kesedihan terus membanjiri wajahnya.
To be continued...