
Alesha berjalan kesana-kemari mengelilingi fakultas untuk mencari keberadaan Alex. Wanita itu telah menyelesaikan hukumannya—menulis sepuluh lembar surat permintaan maaf, yang membuat tangannya kini kebas dan kesemutan.
Sementara sekarang kakinya juga harus mengalami hal yang sama. Ia merasa sudah pegal-pegal karena terlalu lama mengelilingi fakultas hanya untuk mencari lelaki itu.
Ruangan demi ruangan sudah ia intip satu persatu. Bahkan lorong-lorong pun sudah ia pastikan tidak ada yang terlewat, tetapi eksistensi lelaki itu tetap belum bisa ditemukan.
Alesha akhirnya memilih berjongkok sebentar di samping salah satu pilar bangunan itu untuk beristirahat.
Sampai kemudian Alesha melihat lelaki itu berjalan keluar dari salah satu ruangan. Wanita itu berlari kecil. Hingga kemudian mendekat untuk menghadang dosen—Alex Claire yang merupakan mantan sugar daddy-nya.
"Pak, tunggu!" Alesha melambaikan tangannya pada Alex seraya menenteng sepuluh lembar kertas yang sudah dipenuhi oleh tulisan.
Lelaki itu menghentikan langkahnya, kini menatap wanita yang tadi telah diberikan sebuah hukuman dengan alis bertaut.
Tidak membuang waktu, kini Alesha kemudian menyodorkan kertas-kertas itu pada Alex, tetapi lelaki itu malah terdiam dan membiarkan tangannya menggantung di udara.
Alesha kini tersenyum kikuk, sampai kemudian ia memberanikan diri untuk bersuara. "Pak, saya telah menyelesaikan hukuman."
Lelaki itu masih menatap Alesha dengan pandangan datar, membuat perempuan itu semakin kikuk. Dalam hati, ia merutuki sendiri. Mengapa suasananya menjadi sangat canggung?
Sampai kemudian terdengar suara dering telepon dari tas Alesha. Wanita itu seketika panik. Ia kemudian menatap Alex dengan tatapan ragu, tetapi lelaki itu mengangkat alisnya seakan mengisyaratkan Alesha untuk mengangkat panggilan telepon.
Meski merasa ragu, tetapi akhirnya Alesha memberanikan diri untuk mengangkat telpon itu.
Alesha memilih unty menjauh sedikit, membelakangi posisi Alex seraya mengangkat panggilan itu.
Ternyata dari Rafael dan ia langsung mengangkat panggilan itu dengan menggeser tombol hijau ke atas. "Halo."
"Kelasmu sudah selesai, kan? Aku sedang menunggumu di depan kampus. Mamaku sedang di rumah sakit. Dia menyuruhku untuk menjemputmu dan datang bersama ke sana." Rafael di seberang telpon langsung menjelaskan tanpa basa-basi.
__ADS_1
Sementara Alesha kini menahan napas, lantas melirik diam-diam ke arah sang dosen yang ada di belakangnya itu.
"Benar, kelasku sudah selesai, tetapi sedang mendapat sedikit masalah. Kamu bisa menunggu sebentar, kan?" ucapnya dengan intonasi pelan.
Di seberang telpon, Rafael mengernyitkan alisnya. "Ada masalah apa? Kenapa bicaramu berbisik-bisik begitu?"
Alesha kini berdecak kecil. "Ah, bukan apa-apa. Kamu tunggu saja. Aku akan segera ke sana kalau sudah selesai. Sudah dulu, ya! Bye!"
Wanita itu lantas mematikan panggilannya sepihak, meskipun sedikit mendengar suara penolakan dari seberang telpon. Satu-satunya hal yang ingin ia selesaikan adalah urusan dengan sang dosen karena menghukum di hari pertama mengikuti kelas.
Sementara itu, Rafael yang mendengar suara Alesha seperti sangat panik, semakin dibuat heran, tetapi karena ia sudah tak bisa mengatakan apa-apa lagi, lelaki itu tak punya pilihan lain selain membiarkannya.
Akhirnya Rafael hanya bisa menuruti apa yang dikatakan Alesha, yaitu menunggunya di mobil.
Sudah beberapa menit Rafael menunggu dengan sabar. Memejamkan, membuka mata, mencoba untuk tidur sebentar, atau melakukan hal-hal lainnya.
Semuanya sudah ia lakukan untuk mengusir kebosanan, tetapi wanita itu tetap tak kunjung kembali. Rafael lantas mengembuskan napasnya dengan gusar. Sedang apa sebenarnya wanita itu?
Berdasarkan dugaannya, wanita itu mungkin tidak akan jauh-jauh dari gedung fakultasnya. Jadi, Rafael melangkahkan kaki panjangnya menuju gedung fakultas bahasa.
Rafael lantas menghentikan langkahnya, begitu melihat wanita yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang lelaki. Raut wajahnya terlihat tidak baik. Jelas sekali terlihat kalau ia tidak nyaman dan ingin cepat-cepat pergi dari sana.
Lelaki itu tak memiliki pilihan lain, lantas mendekati mereka untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Alesha!" panggilnya.
Wanita yang dipanggil itu menoleh. Pupilnya melebar, keterkejutan terlihat begitu kentara.
"Ah, Pak, saya benar-benar ada urusan penting. Jadi, saya mohon terima ini, ya?" pintanya dengan suara pelan, sambil menyodorkan kertas-kertas itu pada Alex, entah untuk ke berapa kalinya.
__ADS_1
Oh, lelaki itu ternyata dosennya. Namun, kemudian Rafael mengerutkan alisnya. Heran. Ia sungguh heran. Selama ini, di matanya, Alesha adalah seseorang yang selalu tampak berani di hadapan siapa pun.
Akan tetapi, melihatnya hari ini justru wanita itu seperti sedang ditindas. Sungguh aneh melihatnya seperti ini. Padahal, biasanya Alesha akan selalu melawan siapa pun tanpa ragu jika ada yang menyulitkan.
Tentu saja hal itu membuat Rafael penasaran. Ia kemudian mengambil kertas itu dari tangan Alesha. "Apa ini?" tanyanya penasaran. "Surat permintaan maaf?" Ia bertanya lagi setelah membaca sekilas isinya.
"Kamu sudah menulisnya sampai sebanyak sepuluh lembar begini. Apa jari-jari tanganmu tidak patah?" Rafael bertanya dengan nada sarkas, kini lantas menatap pria yang terlihat sangat datar tersebut.
Ia kemudian menyodorkan kertas-kertas itu padanya. "Keterlaluan sekali kalau Anda tidak menerimanya, Pak."
Alesha yang mengamati mereka berdua hanya bisa menggigit bibirnya. Suasana tiba-tiba saja begitu mencekam. Keduanya kini bertatapan. Bahkan tatapan keduanya sama-sama terlihat sengit.
Rafael menggerakkan tumpukan kertas itu di depan Alex.
Kemudian, lelaki tersebut terpaksa menerima kertas-kertas itu. Namun, tatapannya masih sama. Kini ia menatap Rafael semakin tajam.
Sementara Rafael tersenyum kecil. Ia kemudian menggenggam pergelangan tangan Alesha.
"Maaf, Pak. Kami ada urusan penting dan harus segera pulang. Terima kasih." Ia kemudian langsung menarik tangan Alesha dan membuatnya mau tak mau harus mengikutinya.
Sampai kemudian mereka tiba di area parkir, Alesha langsung melepaskan tangannya dari cengkeraman Rafael. Ia kemudian berjalan lebih dulu dengan langkah cepat setelah melihat keberadaan mobil Rafael.
Alesha kemudian mencoba membuka mobil itu, tetapi terkunci. Ia pun berdecak kesal, lantas menoleh pada Rafael dengan alisnya yang berkerut, melampiaskan kekesalan.
Sementara itu, Rafael yang melihat sikap Alesha yang seperti ingin meledak, lantas hanya bisa menuruti maksudnya. Ia langsung menekan tombol untuk membuka kunci pada remote mobilnya.
Setelah berhasil membuka pintu, wanita itu lantas mengempaskan tubuhnya pada sandaran jok mobil itu. Ritme napasnya berantakan, sedari tadi menarik dan mengembuskannya dengan kasar.
Rafael yang baru saja masuk dan duduk itu kini sontak menoleh, langsung memasang raut wajah merasa terganggu.
__ADS_1
"Kenapa? Siapa pria tadi? Kulihat-lihat sepertinya ekspresimu sangat tidak nyaman ketika bersamanya." Begitu tanya Rafael, mengingat bagaimana ekspresi Alesha tadi.
To be continued...