
Aeleasha terbangun di pagi hari saat sinar mentari pagi mulai tersenyum dan menambah cerahnya dunia. Menyambut aktivitas orang-orang yang mulai membuka rutinitas pagi, mulai dari joging maupun bekerja.
Sementara Aeleasha yang sangat nyenyak dalam tidurnya tersebut terbangun karena rasa mual di perutnya. Hingga tanpa membuang waktu, langsung berlari ke kamar mandi.
Ya, ia saat ini sudah memuntahkan seluruh isi perutnya di toilet dan tubuhnya seketika lemas. Hingga ia yang sudah tidak kuat untuk berdiri, memilih berjongkok.
Tadi ia tidak sempat melihat ke sekeliling ruangan kamar karena sudah tidak bisa menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Hingga beberapa saat kemudian, ia sudah jauh lebih baik dan mulai berjalan keluar.
Kini, Aeleasha mulai memindai seluruh ruangan kamar hotel dan bernapas lega begitu hanya melihat bocah laki-laki yang masih sangat pulas tertidur tersebut, sedangkan ia tidak melihat sosok pria yang semalam tidur satu ranjang dengannya.
"Apa brother sudah pulang kota sebelah? Ponselku, aku bahkan seharian tidak melihat sama sekali."
Aeleasha baru saja meneguk air karena setelah muntah-muntah tadi, sangat haus dan ia pun kemudian memilih untuk mencari ponsel miliknya. Namun, ia sama sekali tidak menemukan di manapun dan membuatnya berpikir macam-macam.
"Astaga! Apa brother membawa ponselku? Memangnya untuk apa?"
Melihat pergerakan putranya yang menggeliat dan langsung memanggilnya, kini Aeleasha sudah berjalan menuju ke arah ranjang dan kembali memeluk erat putranya sambil sesekali mencium gemas pipi putih gembil itu.
Hingga beberapa saat kemudian, Aeleasha kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari putranya tersebut.
"Papa mana?" tanya Arza setelah merasa bosan karena dari tadi hanya diam di atas ranjang.
"Papa ...."
Aeleasha tidak bisa melanjutkan perkataannya begitu mendengar suara bariton dari pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan kamar hotel sambil membawa beberapa paper bag.
"Papa ada di sini," ucap Rafael yang baru saja selesai joging dan juga membelikan sarapan untuk ibu dan anak itu.
Tadi ia melihat penjual makanan favorit Aeleasha saat joging pagi. Jadi, ia memilih untuk membelinya setelah selesai olahraga pagi. Makanan dengan jenis nasi berwarna kuning dengan toping berbagai macam lauk dan sayur, semakin menambah rasa nikmat.
"Ayo, kita sarapan."
Kemudian Rafael menaruh makanan yang dibeli ke atas meja, sedangkan Aeleasha saat ini hanya diam mengamati pergerakan pria yang seharusnya tidak berada di sini.
__ADS_1
"Brother, kenapa kamu tidak pulang? Bukankah ada meeting penting dengan klien? Jangan membuatku merasa bersalah karena kamu kasihan padaku." Aeleasha kini bangkit berdiri dari ranjang sambil menggendong Arza.
Ia pun berjalan mendekati pria yang tengah sibuk mengeluarkan satu-persatu makanan, serta aneka kue.
"Apa kamu menyembunyikan ponselku, Brother?" Aeleasha kembali bertanya pada pria yang terlihat sibuk mengeluarkan makanan dari kantong plastik, tetapi tidak juga mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
Hingga ia pun merasa kesal dan memilih untuk mengarahkan cubitan cukup kuat pada lengan telanjang Rafael. "Brother!"
Suara lengkingan dari Aeleasha tersebut, membuat Rafael seketika menutup daun telinga dengan ekspresi wajah meringis menahan rasa nyeri.
"Aku sedang sibuk menyiapkan makanan, jadi tidak bisa berkosentrasi." Rafael yang baru selesai mengeluarkan aneka macam makanan dan kue tersebut, kini memilih untuk mendaratkan tubuhnya di dekat Arza, lalu memangkunya.
"Aku akan pulang nanti setelah selesai mengurus restoranmu karena tadi sudah menghubungi seseorang yang menyewakan tempat strategis dan sesuai dengan apa yang kamu katakan semalam."
Tentu saja saat ini Aeleasha seketika membulatkan mata karena tidak percaya dengan apa yang didengar hari ini. "Bagaimana mungkin secepat itu? Aku pikir, setelah Brother menikah, baru akan mengurusnya."
"Kalau soal ponselku, memangnya Brother sembunyikan di mana? Aku dari tadi mencarinya, tetapi tidak menemukannya."
"Lebih baik kita sarapan dulu karena aku sudah sangat lapar. Sepertinya Arza pun lapar."
"Daddy mana? Arza mau makan dengan daddy." Bocah laki-laki itu merasakan rindu pada ayah biologisnya karena sudah beberapa hari tidak bertemu.
Pada saat sarapan pagi, selalu terbiasa disuapi dan membuatnya merindukan sang ayah.
Refleks Aeleasha seketika bersitatap dengan Rafael karena merasa sangat bingung jika bocah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut merengek dan menangis tersedu-sedu karena mencari ayah kandungnya.
Padahal dulu ia yang menjadi ayah anak laki-laki itu hingga berusaha 3 tahun, tapi karena kecelakaan, sehingga membuat Arza kehilangan ingatan.
Rafael yang saat ini masih mengunci rapat mulutnya karena tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Jadi, memilih jalan paling aman, dengan cara diam.
Sementara itu, Aeleasha memilih untuk memindahkan Arza ke pangkuannya dan mencoba untuk menghibur, walau dengan sebuah kebohongan.
"Sayang, daddy sedang sibuk kerja, agar bisa membelikan banyak mainan untuk Arza. Jadi, tidak boleh nakal, ya!" Ingin meyakinkan, kini Aeleasha sudah memilih makanan kesukaan putranya dan menyuapkan ke dalam mulut mungil itu.
__ADS_1
Jika Aeleasha berusaha untuk menghibur putranya yang sangat merindukan sang ayah, sedangkan Rafael saat ini tengah sibuk yang mengobati luka di hatinya.
Bahkan ia sengaja menyembunyikan ponsel milik Aeleasha karena merasa takut jika wanita itu pergi lagi. Akhirnya ia memilih untuk menikmati makanan dan membahas secara tenang mengenai masalah membuka restoran.
Rafael ingin menyibukkan Aeleasha, agar tidak ada waktu atau kesempatan untuk sekedar memikirkan Arsenio. Bahkan bila perlu, ia ingin membuat mantan istrinya tersebut dipusingkan dengan banyak hal mengenai restoran.
Jadi, saat ia tidak ada di dekat wanita itu, bisa sedikit lebih tenang. Apalagi Rafael akan disibukkan dengan pekerjaan sekaligus pernikahan.
"Arza, kan ada papa Rafael. Jadi, jangan bersedih, ya?" Rafael kini merasa kasihan pada Aeleasha karena wanita itu kesulitan untuk menyuapi ketika selalu ditolak.
"Apa Arza mau disuapi oleh Papa Rafael?"
Dengan perasaan berdebar, Rafael saat ini menunggu jawaban dari bocah laki-laki tersebut dan begitu anggukan kepala menjadi jawaban penuh kelegaan yang diterimanya.
Seketika embusan napas lega kini membuatnya tersenyum simpul dan langsung menyuapi Arza saat berada di pangkuan Aeleasha.
"Lebih baik kamu makan dulu, Aeleasha. Biar aku yang menyuapi Arza. Turunkan saja Arza di sofa."
Aeleasha kini memilih menuruti perintah dari Rafael karena saat ini memang kelaparan karena efek memuntahkan seluruh isi perutnya tadi saat mengalami morning sickness beberapa saat lalu.
Ia sangat bersyukur karena Rafael sampai sekarang belum tahu dan kini mulai menikmati makanan favoritnya. Sebenarnya ia hari ini ingin makan potongan buah yang disiram dengan saus gula merah pedas.
Namun, ia menahan sekuat tenaga keinginannya selama masih ada ma karena pasti pria itu akan mengetahui jika ia sedang terbawa keinginan janin.
Itulah yang sering dialami oleh ibu hamil dan biasanya akan menyusahkan para kaum suami untuk mencarikan permintaan macam-macam dari istri yang sedang hamil.
Namun, dari dulu Aeleasha tidak bisa bermanja-manja saat hamil.
Ia sama sekali tidak pernah menyangka jika akan mengalami itu untuk kedua kalinya. Kini, Aeleasha menatap ke arah sosok pria yang masih sibuk menyuapi Arza.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tentang ponsel, Brother. Sebenarnya kamu sembunyikan di mana?"
"Ada di saku celana." Rafael menjawab dengan santai sambil mengarahkan kode mata pada bahkan celana panjang yang ia kenakan. "Ambil saja kalau kamu mau."
__ADS_1
To be continued...