I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Fokus liburan


__ADS_3

Satu jam kemudian, Aeleasha dan Rafael sudah berada di restoran mewah yang ada di dalam area hotel bintang lima tersebut.


Aeleasha saat ini terlihat memangku putranya dan menyuapkan makanan ke dalam mulut mungil itu.


Sementara Rafael saat ini tengah menikmati makanannya sambil memanjakan mata dengan melihat interaksi antara ibu dan anak tersebut.


Pemandangan itu sudah lama tidak ia lihat dan dulu berpikir tidak mungkin bisa mengulang momen-momen indah tersebut.


Namun, hari ini asumsinya terpatahkan begitu kembali merasakan momen yang sangat membahagiakan ketika melihat mantan istri dengan penuh kasih sayang menyuapi Arza.


Sebenarnya tadi ia menyuruh Aeleasha untuk makan duluan karena mengetahui jika wanita itu sudah kelaparan. Bahkan ia ingin menyuapi Arza, tapi sama sekali tidak diizinkan.


Aeleasha mengatakan jika putranya sudah terbiasa ia suapi dan bisa habis banyak. Namun, jika orang lain yang melakukannya, hanya akan makan sedikit dan itu membuat Aeleasha tidak puas.


Apalagi sudah merupakan hal yang biasa dilakukan sebelum makan, bahwa ia harus memastikan putranya kenyang dan menghabiskan makanan. Ia bisa menahan rasa lapar demi putranya.


Aeleasha memang sangat pandai mengajak putranya untuk berinteraksi saat menyuapi dan selalu mau membuka mulut tanpa harus bersusah payah merayu.


Hingga suapan terakhir sudah dilakukan tersenyum lebar karena bagi seorang ibu, merasa sangat senang ketika anaknya menghabiskan makanan tanpa tersisa.


Itu adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira, meski sebenarnya terdengar sangat sepele, tetapi susah dilakukan jika memiliki anak yang sangat sulit untuk dirayu ketika makan.


"Anak Mommy memang pintar sekali karena selalu menghabiskan makanan." Aeleasha bahkan sudah mencium gemas pipi putranya saat merasa senang dan bahagia.


Hingga kegiatannya berhenti begitu mendengar suara dari pria di hadapannya yang juga baru selesai makan.


"Sekarang tugasmu sebagai seorang ibu sudah selesai, kan? Sekarang biarkan tugasku sebagai seorang ayah dari Arza menyelesaikan pekerjaan." Rafael sengaja mengungkapkan kalimat ambigu karena ingin membuat Aeleasha tidak menolak.


Sementara Aeleasha saat ini mengerutkan kening karena tidak mengerti apa maksud pria yang sudah bangkit berdiri dan memilih untuk duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Apa maksud Brother?"


"Lebih baik kamu diam dan patuh, oke!" Rafael meraih makanan yang tadi dipesan oleh Aeleasha. "Bahkan ini sudah dingin. Apa aku pesan saja yang baru?"


Rafael meraih piring berisi makanan tersebut dan berniat untuk memanggil waiters karena berpikir itu sudah dingin dan tidak nikmat jika dimakan oleh Aeleasha. Namun, ia tidak jadi melakukannya saat Aeleasha membuka mulut.


"Tidak perlu, Brother! Aku sudah terbiasa makan makanan yang dingin. Jangan menghamburkan uang lagi. Tolong gendong Arza sebentar karena aku ingin makan."


Aeleasha menatap ke arah sosok pria yang duduk di sebelah kanannya dan berniat untuk menyerahkan Arza, tetapi tidak jadi melakukannya begitu mengetahui niat Rafael.


"Tetaplah seperti itu karena aku yang akan menyuapimu. Kamu pasti sudah sangat lelah hari ini. Bukan hanya fisik, tetapi otak juga diforsir terlalu berat. Biarkan semuanya beristirahat. Jadi, kamu tidak perlu bersusah payah untuk makan sendiri."


Rafael sudah meraih sendok dan menyuapkan makanan ke arah mulut Aeleasha. Hingga sendok itu masih menggantung di udara karena wanita di sebelahnya belum membuka mulut.


"Ayo, buka mulutmu!" seru Rafael dengan suara bariton penuh ketegasan.


"Aku bisa makan sendiri, Brother. Kamu gendong saja Arza." Aeleasha masih merasa keberatan jika Rafael menyuapinya. Bahkan saat masih berstatus sebagai istri siri pria itu, tidak pernah disuapi.


"Ingat balas budi karena liburan ini belum selesai." Rafael sengaja mengingatkan Aeleasha agar tidak membantahnya.


Bahkan ia sudah mengarahkan tatapan tajam dan kembali menyahut, "Jadi, tunjukkan balas budimu padaku dengan patuh saat aku suruh untuk membuka mulut ketika kusuapi, oke!"


Tentu saja saat ini Aeleasha tidak bisa menolak perintah pria dengan iris tajam tersebut saat membahas mengenai balas budi.


Aeleasha akhirnya terpaksa membuka mulut dan menjadi seperti seorang anak yang patuh. "Kamu selalu menyerang sisi kelemahanku, Brother!"


Baru saja Aeleasha selesai berbicara, mulutnya sudah dipenuhi oleh makanan yang disiapkan oleh Rafael.


Seperti beberapa saat yang lalu, ia melihat Rafael malah tertawa dan membuatnya bertambah kesal.

__ADS_1


"Kamu malah terlihat seperti anak kecil yang merajuk dan sangat menggemaskan. Jika bisa, rasanya aku ingin mencubit emas pipimu." Rafael kembali menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut wanita yang dilihatnya baru saja menelan makanan.


"Kamu sudah sering melakukannya dulu dengan menganggapku seperti anak kecil, Brother. Menyebalkan!" Aeleasha saat ini berbicara dengan mulut penuh dan terdengar tidak jelas.


Hal itu kembali memperlihatkan sudut bibir melengkung ketika melihat mulut penuh makanan berbicara dan terdengar tidak jelas, seketika membuatnya terbahak.


"Habiskan makanannya dulu sebelum berbicara! Bukannya kamu tahu bahwa adab makan dan minum adalah tidak boleh berbicara saat makan? Jadi, simpan tenagamu untuk mengumpat padaku nanti setelah selesai makan."


Saat baru selesai berbicara, ia meringis menahan nyeri ketika Aeleasha mengarahkan tangan untuk meninju lengannya.


Aeleasha akhirnya hanya mengungkapkan kekesalan dengan tanpa membuka suara, melainkan langsung perbuatan dan merasa sedikit terhibur ketika melihat wajah yang menampilkan seperti kesakitan tersebut.


"Rasakan pembalasanku!" umpat Aeleasha begitu selesai mengunyah makanan dan meloloskan dari tenggorokan.


Saat ia baru selesai mengumpat, ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya dan meraih dari tas selempang. "Sebentar!"


Aeleasha ingin menghentikan aksi Rafael yang akan melanjutkan menyuapinya karena ingin melihat apa ada berita penting yang perlu dilihat.


Namun, ia merasa sangat terkejut atas perbuatan yang dilakukan oleh Rafael. "Brother, apa yang kamu lakukan?"


Rafael tadinya hanya diam saja ketika melihat Aeleasha meraih ponsel di dalam tas. Namun, saat ia mengingat telah menonaktifkan Android miliknya, membuatnya ingin wanita itu melakukan hal yang sama.


Hal itulah yang membuatnya langsung merebut benda pipih di tangan Aeleasha karena tidak ingin momen mereka terganggu dan langsung menonaktifkan ponsel tersebut.


Padahal sebenarnya ia takut jika ada kabar mengenai Arsenio dan menghancurkan momen kebersamaan antara ia dan Aeleasha. Tentu saja ia tidak ingin itu terjadi.


"Aku rela menonaktifkan ponselku agar kita bisa fokus liburan, Aeleasha. Jadi, kamu harus melakukan hal yang sama. Tutup mata dan telinga sampai masa liburan kita selesai. Hari ini saja. Tidak selamanya, jadi tidak akan susah, bukan?"


Rafael masih memegang ponsel milik Aeleasha yang baru saja dimatikannya. Kemudian langsung memasukkan pada saku celana.

__ADS_1


"Baiklah." Aeleasha akhirnya menjawab sambil bangkit berdiri dari posisinya dan menurunkan Arza di pangkuan Rafael. "Jaga Arza! Aku mau makan sendiri karena tidak akan kenyang saat kamu menyuapiku."


To be continued...


__ADS_2