I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
I love you my sugar daddy


__ADS_3

Selama ini Alesha jarang keluar rumah semenjak menikah dengan Rafael. Itu semua dilakukannya karena ia merasa harus menjaga nama baik sang suami dan menuruti perintah apapun, meski iya sedikit tidak nyaman.


Apalagi statusnya yang dulu merupakan seorang sugar baby dan pastinya banyak dikenal oleh banyak pria dewasa.


Jika sampai bertemu salah satu diantara mereka di salah satu pusat perbelanjaan, akan membuatnya terlihat mempermalukan nama baik Rafael yang notabene adalah seorang pemimpin perusahaan besar.


Sebenarnya ada beberapa berita miring yang terkait dengan dirinya setelah menikah, tapi langsung ditangani oleh pihak IT perusahaan atas suruhan Rafael.


Jadi, ia sangat berhutang budi pada pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut dan membalas semua yang dilakukan dengan cara hanya diam di rumah agar tidak lagi membawa masalah jika sampai bertemu dengan beberapa pria yang sempat memakai jasanya.


Kini, ia menatap ke arah sang mertua yang baru saja menawarkannya untuk menikmati uang dari Rafael, tapi saat memikirkan beberapa kemungkinan buruk itu, membuatnya menggelengkan kepala.


"Aku sangat lelah, Ma. Entah mengapa beberapa hari ini badan sangat lesu dan cepat kelelahan. Jadi, Aku hanya ingin bersantai di kamar dengan menonton film kesukaan yang sedang viral."


Sebenarnya Alesha sangat tertarik untuk berbelanja barang-barang kesukaannya, tapi setelah memikirkan matang-matang, memilih untuk menahan diri dan berpikir bisa berbuat sesuka hati setelah terbebas dari status istri CEO.


Sementara itu, wanita paruh baya yang saat ini terlihat sangat kecewa karena niat baiknya ditolak oleh sang menantu, seketika membuatnya tidak bersemangat.


"Sayang sekali. Apa perlu Mama panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu, Sayang?" Tiana tiba-tiba memikirkan sesuatu dan langsung mengungkapkan pemikirannya.


"Apa kamu dulu melakukannya dengan putraku sebelum menikah?" Tiana saat ini berpikir bahwa menantunya tersebut sudah hamil, tapi saat berpikir masih beberapa minggu menikah, seketika merasa tidak mungkin.


Jadi, sengaja bertanya sesuatu yang bersifat privasi dan berharap apa yang ia pikirkan dan tebak benar karena ingin sekali segera menimbang cucu saat usianya sudah semakin renta.


Kini, Alesha mengerutkan kening karena merasa tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh sang ibu mertua.


"Maksud Mama? Melakukannya?"


Namun, saat baru saja menutup mulut, kini mulai mengerti dengan apa yang dimaksud oleh mertuanya tersebut.


"Aaah ... tidak, Ma. Mana mungkin kami melakukannya sebelum menikah. Aku bahkan masih perawan saat duduk di singgasana."


Merasa sangat malu dengan perkataannya ketika mengungkit masalah perawan, seketika ia membekap mulut. Hingga mendapatkan candaan dari sang ibu yang berbicara vulgar.

__ADS_1


"Tapi sekarang sudah tidak lagi karena putraku pun saat itu masih berstatus perjaka tulen, Alesha. Rafael memang pernah menikah selama 3 tahun dengan Aealeasha, tapi hanyalah pernikahan di atas kertas semata."


"Rafael tidak pernah memaksa Aealeasha untuk melayaninya meskipun berstatus sebagai istri. Bahkan selama tiga tahun tidur terpisah di kamar yang berbeda. Jadi, Mama merasa sangat bahagia begitu melihatmu di rumah sakit."


Alesha kini kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan wanita yang sangat baik dan tidak pernah mempermasalahkan perbedaan kasta diantara mereka. Bahkan memberikan perawatan terbaik untuk ibunya saat berada di rumah sakit.


Kali ini, ia kembali menghambur memeluk untuk mengungkapkan kebahagiaan memiliki seorang ibu mertua yang sebaik malaikat.


"Mama! Terima kasih atas semuanya. Aku sangat menyayangimu seperti ibu kandungku sendiri." Alesha berbicara dengan suara serak serta tubuh bergetar ketika membayangkan ia sebentar lagi akan meninggalkan wanita yang sangat disayanginya tersebut.


'Mama, maafkan aku karena tidak bisa selamanya menjadi menantumu. Semoga mama tidak membenciku setelah mengetahui bahwa semua yang kulakukan hanyalah berdasarkan sebuah surat perjanjian.'


Tiana saat ini hanya tersenyum sambil mengusap punggung belakang menantunya tersebut dan berusaha untuk menenangkan agar tidak menangis terus menerus.


"Sayang, kenapa hari ini kamu sangat cengeng sekali karena sebentar sebentar menangis? Sebenarnya Apa yang terjadi padamu karena hari ini sangat sensitif? Apakah Rafael menyakitimu?"


Tidak ingin terjadi kesalahpahaman dari mertuanya, kini Alesha buru-buru melepaskan pelukan dan menghapus kasar boleh air mata yang selalu lolos tanpa seizinnya.


Kemudian ia menggelengkan kepala dan mengatakan alasannya. "Seperti yang tadi kubilang bahwa aku sangat bahagia dan beruntung bisa menjadi istri Rafael sekaligus menantu Mama."


Alesha sama sekali tidak berbohong pada poin terakhir karena memang dulu pernah mendengar cerita dari salah satu sahabatnya yang sangat dibenci oleh mertuanya karena dari awal tidak mendapatkan sebuah restu.


Bahkan ketika mendengar cerita tersebut dari sahabatnya, ia pun ikut merasa emosi dan ingin sekali mengumpat pada mertua yang diceritakan itu.


"Ternyata tidak semua mertua itu jahat pada menantunya karena Mama sangat baik padaku. Padahal aku hanyalah seorang wanita dari keluarga miskin dan tidak memiliki seorang ayah."


"Jika aku menceritakan keberuntunganku ini pada sahabatku, pasti akan merasa iri padaku, tapi tidak mungkin melakukan itu karena akan menimbulkan hal tidak baik karena seolah memamerkan pada orang yang salah."


Saat ini, Tiana kini tersenyum simpul. Bahkan ia semakin mengagumi menantunya.


Karena sangat bijak ketika berpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, dengan tidak menyombongkan diri atas semua kebaikan yang didapatkan pada orang yang hidup tidak bahagia.


"Kamu benar, Sayang. Namun, terkadang kita perlu menyombongkan diri pada orang yang pantas mendapatkannya karena dulu mama pernah sangat kesal pada seseorang yang selalu sombong."

__ADS_1


"Menurut Mama, menyombongkan diri di depan orang takabur itu wajib dilakukan agar menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Bukan berniat untuk membalas, tapi memiliki niat menyadarkan."


Kini, Alesha terkekeh geli karena mengingat jika dulu pernah melakukan hal serupa pada salah satu sugar baby yang sangat sombong.


"Iya, Mama benar. Aku dulu pernah melakukannya dengan alasan bisa menyadarkan orang yang bersangkutan. Siapa tahu dengan begitu, ia sadar dan pahalanya akan kembali pada kita, bukan?"


"Iya, kamu benar, Sayang. Dulu Mama juga berusaha menyadarkan Rafael agar segera move on dari Aealeasha dan sepertinya hanya kamulah yang berhasil menyadarkannya, sehingga mengakhiri status tidak tapi perjaka."


Kemudian ia mengusap lembut lengan menantunya. "Mama juga berterima kasih padamu karena membawa cahaya di rumah ini. Mama selalu mendoakan kalian hidup bahagia selamanya sampai akhir hayat."


"Hanya maut yang bisa memisahkan kalian nanti dan hidup bahagia bersama anak cucu suatu saat nanti. Ya sudah, karena kamu tidak mau diajak shopping, Mama berniat untuk mengajak Ibu agar tidak kesepian di rumah."


Tentu saja saat ini Alesha seketika berbinar mendengarnya. "Iya, Mama ajak saja ibuku untuk berbelanja di Mall."


"Selama ini, aku belum pernah mengajak ibu untuk berbelanja ke mall karena selalu menolak dengan alasan mahal dan lebih baik berbelanja di toko grosir atau pun pasar yang jelas lebih murah. Pasti tidak akan pernah menolak jika mama yang mengajak."


Tiana hanya tertawa mendengarnya karena sebenarnya ia dulu juga seperti itu, tapi karena Rafael selalu mengomel dengan mengatakan berhak menikmati hasil jerih payah putranya tersebut, sehingga membuatnya kini sesekali pergi ke pusat perbelanjaan.


"Sebenarnya semua wanita itu perhitungan dan selalu membandingkan harga meskipun hanya selisih seribu rupiah. Itu sangatlah wajar karena memang kamu wanita jauh lebih pusing dalam memanage keuangan dan harus berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari."


Kemudian ia melambaikan tangan untuk berbisik di dekat daun telinga menantunya karena ingin menjelekkan putranya dan tidak ingin didengar oleh beberapa pelayan yang melintas.


Alesha yang merasa sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya tersebut, seketika mendekat dan mendengarnya.


"Harta tidak dibawa mati. Jangan sampai hasil kerja kerasku dinikmati oleh wanita lain dan membuat mama menderita di alam lain. Bukankah putraku sangat kurang ajar?"


Alesha sebenarnya ingin tertawa, tapi tidak mungkin karena berpikir itu tidaklah sopan. "Tapi apa yang dikatakan oleh putra Mama memang benar."


"Rafael pekerja keras untuk bisa membahagiakan orang-orang yang ia sayangi. Jadi, manfaatkan itu untuk membahagiakannya. Apalagi sudah diberi lampu hijau oleh putra mana yang menyuruh untuk menghabiskan uang."


"Nanti, aku pun akan melakukannya untuk menghabiskan uang suamiku." Alesha berbicara dengan mengulas senyuman palsu untuk membuat mertuanya segera pergi karena ia ingin menikmati kesedihan sendiri di dalam kamar.


Ia ingin meratapi nasibnya yang malang karena mencintai suami karena lebih memperhatikan mantan istri yang sedang hamil.

__ADS_1


'Aku hanya ingin menangis dalam kamar dan mengatakan i love you my sugar daddy and husband.'


To be continued...


__ADS_2