I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Kecelakaan


__ADS_3

"Lebih baik kamu mengaktifkannya untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ibumu menelpon. Jika Rafael yang menghubungi dan kamu tidak mau mengangkat, ;


biarkan saja," ucap Stella yang saat ini memberikan saran ketika tengah memakai lipstik di bibir.


Sementara itu, Alesha yang kini membenarkan perkataan dari Stella, kini kembali meraih benda pipih di atas ranjang yang merupakan milik sahabatnya tersebut. Hingga saat masih memegang ponsel Android di tangan, seketika ponselnya berdering.


Alesha mengerjapkan mata begitu melihat kontak Alex dan mendengar suara Stella.


"Siapa? Apa Rafael?" tanya Stella yang kini duduk di depan cermin dan seketika menoleh ke sebelah kiri.


Alesha refleks menggelengkan kepalanya untuk tidak membenarkan perkataan dari sahabatnya tersebut. "Alex. Bagaimana ini? Aku angkat atau tidak?"


"Bukankah itu yang kamu harapkan? Angkat saja. Siapa tahu Alex memberikan jawaban atas pertanyaanmu." Stella tidak jadi pergi karena ingin mendengar pembicaraan antara sahabatnya dengan kekasih gelap yang merupakan mantan sugar daddy.


Karena memang ia ingin sekali mendengar suara pria yang sangat dicintai, akhirnya Alesha tanpa membuang waktu langsung menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo, Sayang. Aku sudah mengingat semuanya. Aku ingin mengatakannya padamu, tapi sialnya tidak bisa karena semalam mengalami kecelakaan. Apa kamu tidak mau menjengukku di rumah sakit untuk melihat kondisi kakiku yang harus dipasang gips?"


Refleks Alesha bersitatap dengan iris kecoklatan sahabatnya.


***


Kejadian kecelakaan yang terjadi pada Alex adalah saat malam ketika pernikahan Alesha dan Rafael.


Saat malam di hari pernikahan, sosok pria yang berdiri di depan cermin di ruangan kamarnya, kini tengah memandangi penampilannya yang memakai setelan jas lengkap dan rambut berpomade rapi, sehingga membuatnya terlihat sangat tampan dan memesona


Pria yang tak lain adalah Alex tersebut terlihat bersiap untuk segera berangkat setelah merasa penampilannya terlihat sangat rapi dan juga membuat wajahnya semakin rupawan.


Tentu saja, ia tidak ingin kalah tampan dengan sosok pria yang hari ini menikahi wanita yang dicintainya.


Seharian ini, ia merasa galau dan gundah gulana karena bingung tentang keputusan yang akan diambil setelah wanita yang dicintai mengancam dan meminta untuk memberikan waktu selama satu bulan.

__ADS_1


"Apa dengan menuruti permintaan dari Alesha, ia akan benar-benar kembali padaku dan semuanya seperti perkataannya?"


"Aku masih sangat ragu untuk menuruti permintaan Alesha, tapi takut jika kehilangan kesempatan untuk membuatnya kembali padaku."


"Mungkin hanya dengan membiarkan ia menyelesaikan semuanya dalam waktu satu bulan, semuanya akan baik-baik saja. Apalagi ia sudah berjanji dan menegaskan akan kembali padaku satu bulan lagi."


Meskipun sebenarnya sangat berat, tetapi berpikir tidak ada jalan lain dan terpaksa harus menuruti apa yang dikatakan oleh Alesha.


"Baiklah, aku akan menunggu dan memberikan waktu untukmu, Sayang. Buktikan cintamu padaku setelah satu bulan dengan bercerai."


Embusan napas kasar dan panjang terdengar sangat jelas, seolah mewakili perasaannya saat ini. Bahwa ia tengah gundah gulana karena tidak bisa lagi melakukan hal sesuka hati setelah diancam oleh Alesha.


Setelah merasa rapi dan sempurna penampilannya, Alex berbalik badan dan mulai melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar sambil meraih kunci mobil di atas nakas.


Saat berjalan menuruni anak tangga, ia melihat mesin waktu di pergelangan tangan kiri. "Mungkin sekarang sudah tidak terlalu ramai para tamu undangan di Ballroom Hotel itu."


Alex memang sengaja datang terlambat dari jam undangan karena memang tidak ingin berdesakan dengan tamu lainnya.


Sebenarnya ia tidak mendapatkan undangan karena Alesha memang mengatakan tidak ingin ia datang, tetapi rasa penasaran saat ingin melihat secara langsung wanita yang dicintainya berada di pelaminan, membuatnya nekad untuk datang ke acara.


Meskipun sebenarnya ia sangat sadar jika yang terjadi adalah hatinya akan sakit dan terluka jika melihat wanita yang dicintai duduk di pelaminan bersama pria lain, tetap saja membuatnya ingin pergi.


Hingga lamunan Alex yang memikirkan sosok wanita yang dicintai seketika buyar begitu mendengar suara dari sang ibu.


"Mau ke mana, Alex?" tanya wanita paruh baya yang langsung bangkit berdiri dari posisinya yang duduk di ruangan santai bersama sang suami untuk melihat televisi.


Alex seketika menghentikan langkah kaki dan menoleh ke arah sang ibu yang terlihat mengerutkan kening. "Menghadiri pernikahan teman, Ma."


Sebenarnya ia ingin berbohong, tetapi tidak jadi melakukannya karena belum menemukan hal yang cocok untuk beralasan pada sang ibu. Hingga akhirnya ia memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


"Teman kuliah? Atau dosen yang satu tempat kerja denganmu?" Sang ibu sebenarnya sudah melihat berita di televisi mengenai pernikahan wanita yang sangat ia benci dengan pengusaha terkenal.

__ADS_1


Awalnya ia sangat tidak percaya dengan kabar tersebut, tetapi merasa sangat lega karena berpikir jika hal itu akan membuatnya tenang. Dengan Alesha menikah, putranya tidak akan pernah mengejar wanita yang dianggapnya sangat murahan tersebut.


Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka jika putranya akan datang ke pernikahan wanita bernama Alesha tersebut. Ia masih tidak berkedip menatap wajah tampan putranya dan penampilan sangat rapi tersebut.


Sementara itu, Alex yang tidak ingin panjang lebar berbicara dengan sang ibu yang menginterogasinya, memilih untuk segera beralasan.


"Teman sesama dosen, Ma. Aku sudah terlambat, jadi harus segera berangkat." Kemudian ia beralih menatap sang ayah. "Aku pergi, Pa."


Pria paruh baya yang dari tadi hanya membiarkan ibu dan anak itu berbicara, kini hanya menganggukkan kepala dan mengibaskan tangan karena ia hari ini sangat senang melihat berita bahagia dari wanita yang dibenci.


Setelah melihat respon dari sang ayah, Alex pun kini langsung berjalan menuju arah pintu utama rumah dan langsung ke garasi. Kemudian melajukan mobil mewah miliknya yang berwana hitam tersebut untuk menuju ke arah hotel yang menjadi tempat pernikahan Alesha.


Selama setengah jam perjalanan masih cukup aman dan mobil yang dikendarai membelah jalanan kota yang dipenuhi oleh cahaya lampu kerlap-kerlip lampu di kanan kiri.


Hingga ia pun melihat ke arah jam tangan dan waktu sudah semakin larut. "Jangan sampai Alesha sudah turun dari pelaminan saat aku datang."


"Tunggu aku, Alesha. Hari ini, aku ingin melihat wajahmu secara langsung," ujar Alex yang saat ini merasa sangat gelisah sekaligus gugup karena sebentar lagi akan melihat secara langsung wanita yang dicintai duduk di singgasana bersama pria lain.


Tidak ingin terlambat, Alex menginjak pedal gas mobilnya dan akhirnya kendaraan roda empat tersebut melaju semakin kencang dan saat tiba di lampu merah, ia kehilangan kendali dan menginjak rem, agar tidak sampai menabrak beberapa mobil yang sudah berhenti.


Hingga perbuatannya tersebut berhasil membuat mobilnya menabrak pembatas jalan karena ia membanting setir ke kiri, demi menghindari menabrak kendaraan yang sudah berhenti di perempatan lampu merah.


Suara benturan sangat keras menggema di malam itu dan kepala Alex pun sudah terhempas kemudi dan rasa nyeri teramat sangat mendera di sana.


Bahkan cairan berwarna merah berbau anyir sudah keluar dari area kepala dan ia masih bisa sadar. Bahkan potongan memori seolah kembali berputar di kepalanya saat ini.


Hingga ia memegangi kepala saat kepingan memori berputar di kepalanya. Alex berteriak karena merasakan rasa nyeri luar biasa begitu mengingat tentang masa lalu yang sempat dilupakan olehnya ketika mengalami amnesia disosiatif.


"Alesha ...."


Alex hanya sempat menyebut nama itu sebelum akhirnya kesadaran perlahan pergi dan ia menutup kedua mata karena sudah kehilangan kesadaran.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2