
Kedatangan Arsenio dan Aeleasha disambut dengan baik oleh Rafael di bandara.
Ya, pria itu menyempatkan diri untuk menjemput keduanya di bandara secara langsung.
Pertemuan pertamanya setelah sekian lama terasa canggung. Akan tetapi, Aeleasha berhasil membuat suasana menjadi biasa dan Rafael tidak lagi menunjukkan wajah tidak enak.
Selama perjalanan, Rafael yang duduk di bangku depan bersama Arsenio hanya memilih untuk menjadi pendengar ketika pria itu bercerita banyak hal tentang kehidupan mereka di New York.
Bahkan, keduanya tampak bahagia dengan pernikahan yang terjadi dan hanya bisa membuatnya merasa sangat iri.
Apalagi saat Arsenio baru saja membahas tentang program hamil anak kedua yang semakin membuka luka lama di dalam hati Rafael.
'Kenapa rasanya masih sesakit ini? Bahkan sama dan sama sekali tidak berubah. Apa yang harus kulakukan untuk menyembuhkan luka yang ditorehkan Aeleasha di hatiku?'
Saat Rafael hanya diam dengan wajah murung dan terlihat jelas seperti pria yang patah hati, malah membuat Arsenio merasa sukses mengerjai mantan suami Aeleasha itu karena ingin balas dendam.
Ya, ia ingin membalas dendam karena Rafael sempat membuatnya tidak percaya diri saat mengejeknya tua.
Sebenarnya ia tahu jika hati dan mulut mereka sama sekali tidak sinkron. Mungkin jika tidak ada Aeleasha dan hanya berhadapan berdua, sudah dipastikan mereka akan adu kekuatan untuk meluapkan emosi dan semua rasa yang membuncah di dalam hati.
"Honey," ujar Arsenio yang saat ini menoleh ke arah belakang untuk melihat wajah cantik sang istri saat bercanda tawa dengan Arza.
"Iya, ada apa?" sahut Aeleasha yang mengalihkan perhatian dari putranya yang berada di pangkuan dan beralih ke arah sang suami berada di sebelah Rafael yang mengemudi.
"Apakah kamu akan langsung pulang ke rumah papa atau rumah persinggahan kita?" Arsenio memang mempunyai rumah yang dulu dibeli dari rekan kerja telah bangkrut saat terjerat utang.
"Kita ke sana saja karena papaku juga masih belum pulang dari kantor jam segini. Lebih baik kita sambut calon pengantin di rumah kita."
Sengaja Aeleasha menyebutkan pengantin untuk menyadarkan mantan suami agar bisa segera move on darinya. Jujur saja saat pertama kali melihat Rafael tadi di bandara, masih merasa bersalah.
Bahkan saat ia berusaha untuk bersikap biasa dan mengurai aura ketegangan di antara mereka dengan cara mengulas senyuman. Ia masih sangat ingat dengan jelas saat Rafael dulu mengancam agar tidak muncul di depan pria itu selamanya.
Namun, sekarang malah terlihat seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Nasib baik tadi suami dan Rafael tidak menampilkan wajah permusuhan karena yang terjadi adalah Arsenio masih kesal dan begitu pun sebaliknya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil berwarna hitam itu telah tiba di depan rumah lantai dua dengan cat berwarna orange tersebut. Mereka pun segera turun dan sudah disambut oleh tiga pelayan yang selalu menjaga rumah itu.
"Selamat datang kembali di Jakarta, Tuan Arsenio dan Nyonya Aeleasha."
Dengan kompak, tiga pelayan itu membungkuk hormat dan mengulas senyuman.
"Kami lapar dan haus. Bisakah mengeluarkan makanan dan minuman dari kantong ajaib," ucap Aeleasha yang mencoba untuk bercanda agar suasana yang terlihat tegang itu berubah lebih nyaman.
Hingga beberapa pelayan dan yang lainya lama-kelamaan sudah tidak lagi tegang dan usahanya berhasil.
Mereka bersantai sejenak di ruang tamu dan menikmati hidangan yang sudah disiapkan asisten rumah.
Sementara itu, Aeleasha berkutat dengan barang-barangnya di kamar.
Arsenio menjelaskan pada Rafael tentang pengalihan kekuasaan yang akan mereka lakukan keesokan harinya.
Keberadaan Arsenio di Jakarta memang tidak lama, semua hanya demi pengalihan saja agar Rafael bisa mengelola perusahaan dengan bebas.
“Rencana berapa lama di sini?” tanya Rafael memastikan.
Arsenio tahu jika pertanyaan Rafael itu seolah tidak menyukainya dan hanya dijawab seadanya. Mungkin akan lama jika target waktu tidak bisa dipenuhi, yaitu menemukan dalang dibalik kejadian nahas yang membuat orang tuanya meninggal.
__ADS_1
Semenjak ia menceritakan hal itu pada Aeleasha, merasa bersalah dan berjanji akan membantu untuk mencari pelaku. Meskipun belum bertanya pada sang ayah.
“Tidak bisa lama karena pekerjaan di perusahaan sangat menumpuk. Mungkin satu minggu saja.”
“Begitu rupanya. Aku pikir ingin berlama-lama di negara sendiri." Rafael yang kali ini ingin membahas tentang hal serius, berharap tidak akan merasa canggung jika hanya diam saja.
Arsenio yang memiliki sikap kaku tampak sedikit mencair saat bersama Rafael. Mereka berbincang dengan santai di sana, saling bertukar pendapat dan memberikan masukan tentang dunia bisnis.
Hingga Aeleasha datang dan menyapa mereka di ruang tamu dan kembali duduk di sofa.
Ia pun ikut larut dalam percakapan di antara kedua pria itu. Hingga sebuah pertanyaan yang dihindari Rafael terucap.
“Bagaimana dengan keadaan mama?”
“Baik. Bukankah kalian saling bertukar kabar?” jawab Rafael singkat dengan mengajukan pertanyaan lain.
“Ya. Mama sangat senang mendengar aku akan datang ke sini. Aku juga ingin berkunjung ke sana. Lalu, kenapa kamu tidak mengajak calon istrimu? Aku sangat penasaran dengan wanita yang memiliki nama sama denganku.”
“Dia sedang sibuk dengan kuliah dan juga merawat ibunya. Kebetulan ibunya sedang dirawat di rumah sakit karena penyakit jantung.”
“Maaf, aku ikut prihatin. Jadi, kapan kamu akan mengenalkannya pada kami? Jika dia menjadi calon istrimu, kelak harus berteman baik denganku. Aku akan mengajaknya berbelanja dan pergi bersama selama kunjungan di sini.”
“Dia … tidak terlalu suka berbelanja karena yang dipikirkan hanyalah kesembuhan ibunya.”
Mendengar hal itu, Aeleasha mengerti mengapa Rafael tidak membawa serta kekasihnya untuk bertemu dengan mereka.
“Lalu, bagaimana bisa kalian bertemu? Aku penasaran. Bolehkah aku mengetahuinya?"
“Sayang, jangan memberondong pertanyaan seperti itu pada Rafael. Kamu harus sabar. Rafael pasti akan mengenalkannya pada kita. Bukankah begitu, Rafael?” sahut Arsenio yang merasa jika istrinya terlalu masuk ke dalam kehidupan mantan suami.
“Ya, aku akan mengenalkannya pada kalian, segera. Aku harus bertanya dulu padanya. Apakah dia memiliki waktu untuk bertemu karena selalu menjaga sang ibu di rumah sakit, bukan karena sok sibuk."
Percakapan itu akhirnya selesai saat Rafael menerima pesan tentang pertemuannya bersama seorang klien dipercepat. Rafael merasa lega karena bisa menghindari pertanyaan Aeleasha. Kemudian langsung berpamitan pada keduanya dan pergi dari sana.
'Beruntung aku bisa keluar dari sana. Hatiku benar-benar tidak siap untuk melihatnya. Bahkan rasanya seperti melarikan diri dari mereka.'
Rafael mengemudikan mobilnya menuju kantor dan melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak ingin ada yang terlewatkan kali ini, agar Arsenio tidak kecewa dengan kinerjanya selama ini.
***
Sementara di kampus, Alesha kembali bertemu dengan Alex. Pria itu sungguh tidak menyerah dengan Alesha.
Masa lalu yang tidak bisa Alex ingat, membuatnya terus mencari tahu tentang wanita yang membuatnya terus memikirkan siapa Alesha.
Alex menarik Alesha ke ruangannya, duduk bersama dan kembali mengajukan pertanyaan tentang siapa dia?
“Jelaskan! Aku sungguh tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkanmu. Bahkan, bayangan antara kamu dan kekasihmu itu selalu membuatku merasa sakit di dada."
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kita di masa lalu?”
Alesha masih membisu, suasana sunyi untuk beberapa saat hingga Alex berada di atas emosinya. Pria itu mendesak Alesha untuk memberitahukan apa hubungan mereka sebelumnya?
“Untuk apa lagi aku menjelaskan tentang kita? Bukankah yang berakhir harus dilupakan? Biarkan saja semua menjadi kenangan. Jika memang kita memiliki hubungan di masa lalu, dan tidak dapat kamu ingat, sebaiknya ini tersimpan erat seperti ini saja."
Kehidupanku sudah berjalan ke depan. Aku tidak ingin lagi berjalan mundur dengan terus berada dalam bayanganmu.”
__ADS_1
Mendengar penjelasan Alesha membuat Alex semakin yakin bahwa ada sesuatu di antara mereka sebelumnya. Entah apakah itu hal baik atau buruk, Alex terus mencari tahu tentang Alesha.
“Jangan bermain teka-teki denganku. Jika kita memiliki hubungan di masa lalu, jelaskan padaku, kenapa kita mengakhirinya?”
“Itu bukanlah hal penting, Alex!”
Alesha beranjak dan meminta Alex untuk membuka pintu yang terkunci itu. Sayang, keinginannya ditolak, hingga Alex mendapatkan jawaban atas rasa ingin tahunya yang begitu tinggi.
Alex kembali berdiri, langkahnya mendekat dan membuat Alesha terpojok. Tubuh Alesha sudah berada di di antara dinding dan Alex.
Wajah mereka saling berhadapan, perlahan Alex kembali mendekatkan bibirnya, hingga berhasil menyatukan bibir.
Penekanan yang dilakukan Alex membuat Alesha tidak berkutik. Hingga tubuhnya hanya bisa menyerah pada keadaan. Bahkan, Alesha kembali memberikan izin untuk lidah pria itu masuk dan menyusuri bibirnya.
Saat Alex selesai, Alesha meneteskan air matanya.
“Maafkan aku. Aku hanya ingin tahu, bagaimana perasaanku sebelum ini? Aku selalu marah saat kamu tidak mempedulikanku. Bahkan kamu sama sekali tidak menjawab telpon dan pesanku."
“Alex, biarkan aku pergi. Aku mohon.” Alesha masih berusaha untuk menyadarkan diri bahwa apa yang terjadi saat ini salah dan tidak seharusnya terjadi.
“Tidak sebelum kamu memberikan jawaban atas pertanyaanku.”
“Alex, aku tidak ingin mengulang masa lalu. Hubungan kita sudah berakhir.”
“Alesha, terima tawaranku. Aku akan mengulangnya dan membuatmu lebih bahagia.”
“Tidak!” sahut Alesha tanpa berniat untuk memikirkan.
“Apakah aku sejahat itu padamu? Hingga kamu tidak ingin kembali?” Alex masih tidak melepaskan kuasa yang mengungkung Alesha dengan menahan kedua sisi lengan wanita itu.
“Tidak! Bukan seperti itu, Alex. Bahkan walaupun kita kembali bersama, hubungan ini tidak akan pernah berhasil.”
“Apa? Kenapa? Berikan aku alasan yang tepat.”
Alesha tidak menjawab. Ia tidak ingin terjadi salah paham antara Alex dan ibunya. Wanita yang dulu datang dan memberikan cek padanya, tetapi sayang ditolak karena perasaannya pada Alex adalah nyata.
“Apa kita saling mencintai?” tanya Alex pada akhirnya.
Alesha masih terdiam dan enggan menjawab. Tidak, ia tidak ingin masuk dalam kehidupan pria itu. Akan terjadi banyak kesalahan jika hubungan mereka kembali bersatu. Bukan hanya ibu Alex saja yang merasa keberatan. Bagaimana dengan Rafael yang sudah menolongnya dan akhirnya sang ibu bisa lebih baik."
“Aku dalam keadaan yang tidak bisa menjelaskan padamu. Bisakah kamu mengerti ini?”
“Tidak jika pengertian itu memisahkan kita.” Alex berbicara sambil menggelengkan kepala.
“Meskipun aku mengatakannya, kita tidak akan bisa bersama.” Sementara Alesha masih berusaha menormalkan perasaan karena antara bibir dan hati tidak sinkron.
“Katakan saja. Takdir akan tepat pada sasarannya. Takdir tidak akan beralih jika bukan jawabannya.”
“Alex, kamu sungguh membuat aku bingung. Jangan seperti ini, kumohon. Cukup lepaskan saja aku dan carilah wanita lain untuk bisa menemanimu.”
“Aku menginginkanmu," sarkas Alex yang kali ini tidak bisa lagi menahan kesabaran dan sudah mengarahkan tatapan tajam.
Alesha terdiam, lagi-lagi tidak bisa menjawab apa yang di katakan Alex. Hatinya bergelut dengan dua perasaan yang harus dijaga.
Selain perasaannya sendiri, Alesha harus menjaga perasaan Rafael. Pria itu sudah membantunya dengan membiayai pengobatan sang ibu, bahkan biaya kuliahnya.
__ADS_1
'Aku mencintaimu, Alex, tapi tidak bisa bersamamu,' lirih Alesha yang saat ini hanya menampilkan wajah penuh penyesalan karena tidak bisa melakukan apa yang diinginkan.
To be continued...