
Setelah tiba di tempat kos, Alesha buru-buru keluar dari mobil dan melarang Rafael keluar. "Buka saja bagasinya! Aku akan mengambil sendiri kopernya. Kamu bisa langsung pulang."
Sementara itu, Rafael yang dari tadi tidak mengalihkan perhatian dari sosok wanita yang terlihat seperti tengah buru-buru karena menghindarinya, kini sama sekali tidak menuruti perintah Alesha.
Ia turun dari mobil dan mendapatkan tatapan tajam dari Alesha, tapi sama sekali tidak diperdulikan.
"Kenapa kamu ikut turun? Aku bisa sendiri!" Alesha yang tadinya melirik sinis pria di sebelahnya saat berniat untuk mengambil koper.
Hingga ia tidak berkutik mendapatkan tanggapan bernada ancaman dari pria yang menyuruhnya untuk menyingkir dan diam saja tanpa melakukan apapun.
"Bukankah kamu ingin aku tidak mengatakan pada ibumu bahwa kita sudah bercerai? Jadi, kamu harus patuh padaku jika ingin aku tidak mengatakannya pada ibumu." Terpaksa mengancam karena ingin memastikan sesuatu, sehingga Rafael tidak memperdulikan wajah memerah wanita dengan bibir mengerucut itu.
Sementara di sisi lain, Alesha yang tidak ada pilihan, akhirnya hanya diam tanpa membantah maupun membuka mulut untuk sekedar menanggapi. Hanya saja, hatinya benar-benar sangat dongkol.
Karena meski ia sudah tidak lagi ada hubungan dalam hal apapun dengan pria itu, tetap saja tidak pernah bisa lepas sepenuhnya dari ancaman yang selalu didengar dan membuatnya bosan.
Akhirnya ia memilih untuk berjalan melewati pintu gerbang berwarna hitam yang sudah dibukanya karena ia terbiasa keluar masuk di area tempat kos sahabatnya tersebut.
Saat ia tiba di depan pintu kamar ruangan sahabatnya, tidak membuang waktu langsung mengetuknya. "Aila!"
Ia menunggu beberapa detik untuk mendengar jawaban dari dalam ruangan kamar, tetapi sama sekali tidak ada suara dan membuatnya langsung mengeluarkan ponsel untuk menghubungi dan bertanya apakah ada di kamar atau keluar.
"Apa dia keluar? Biasanya jam jam segini selalu saja memanjakan diri di atas tempat tidur untuk bermalas-malasan."
"Mungkin temanmu sedang keluar. Nasib baik aku tadi tidak langsung meninggalkanmu dan kamu sendirian di sini." Rafael yang tadinya memegang koper, kini menaruhnya di dekat dinding sebelah kiri pintu sambil menunggu Alesha menghubungi.
Alesha yang tadinya menunggu panggilannya diangkat, seketika membuka mulutnya untuk bertanya. "Halo, Aila. Aku di depan kamarmu. Kamu di mana?"
__ADS_1
"Apa? Kenapa datang tidak kasih tahu dulu? Aku sedang ada janji dengan sugar daddy yang membayar mahal untuk menemani ke acara penting," sahut Aila yang saat ini merasa kasihan pada sahabatnya karena datang saat ia tidak ada.
Alesha saat ini merasa kebingungan karena tidak tahu harus ke mana sahabatnya kembali karena tahu pasti akan lama perginya dan ia tidak mungkin tetap berada di depan kamar.
"Biasanya kamu selalu tidur jam segini, jadi kupikir ada di tempat kos. Apa kamu membawa kunci kamar atau menaruh di tempat lain?" Alesha saat ini masih sangat berharap bisa segera masuk ke dalam kamar kost sahabatnya agar Rafael bisa segera pergi dari sana.
Ia benar-benar sangat tidak nyaman saat selalu melihat pria yang telah membuat hatinya bergetar sekaligus menyadari bahwa cintanya pada Alex yang selama ini ia miliki telah sirna gara-gara Rafael.
Hingga jawaban dari temannya membuatnya merasa sangat kecewa dan dengan wajah masam ia merasa bingung harus bagaimana saat ini karena akan sangat lelah menunggu di depan kamar kos.
"Hari ini aku terburu-buru pergi dan lupa menaruh kunci kamar di bawah alas kaki. Maaf, Alesha. Apa kamu mau menungguku sampai aku kembali atau pergi dulu jalan-jalan ke mana gitu?"
Alesha saat ini merasa bingung untuk menjawab karena ia sangat malas untuk pergi ke mana-mana dan hanya ingin mengistirahatkan tubuh serta otaknya di atas tempat tidur.
Entah mengapa ia merasa sering sakit kepala semenjak selalu memikirkan pria di sebelah kanannya tersebut. "Aku tunggu saja di depan kamarmu. Lagipula di sini ada kursi sebagai tempat duduk."
Jadi, saat ini tempat kos terlihat sangat sepi dan membuatnya merasa seperti orang hilang saja jika nanti Rafael pergi. Namun, pemikirannya seolah dibantah dengan perkataan dari pria yang kini sudah mendapatkan tubuh di atas kursi yang tadi hendak ia tempati.
"Baiklah, aku akan menemanimu sampai temanmu datang." Rafael tidak tega melihat meninggalkan Alesha sendirian di sana, sehingga memilih untuk tetap tinggal tanpa mempedulikan wajah memerah serta bibir mengerucut yang menandakan tidak menyetujui keinginannya.
"Ternyata kamu datang bersama dengan suamimu. Baiklah kalau kamu ingin menunggu di sana, tapi aku tidak janji bisa pulang dengan cepat. Seandainya nanti pulang terlambat, jangan marah padaku, oke! sampai jumpa di sana."
Alesha sama sekali tidak menjawab candaan dari temannya karena ia tengah malas membahas pria yang terlihat sudah sibuk dengan ponsel.
Kini, ia menghampiri Rafael dan berusaha untuk membuat pria itu segera angkat kaki dari tempat yang membuatnya merasa nyaman.
"Bukankah kamu harus kembali bekerja? Sebentar lagi temanku pulang. Tadi bilang sedang keluar sebentar karena ada sesuatu yang ingin dibeli." Ia sengaja berbohong agar pria itu segera pergi dari hadapannya.
__ADS_1
'Aku sungguh tersiksa melihatnya. Kenapa ia tidak membiarkan hidupku Tenang walau hanya sebentar saja. Aku bahkan tidak meminta banyak darinya, tapi selalu saja menyiksaku dengan menata wajahnya yang sangat menyebalkan karena hanya meninggalkan luka di hati.'
Suasana area tempat kos itu karena hanya ada pria dan wanita yang sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Kamu tidak boleh berada di sini karena nanti orang akan mengira kita berbuat mesum di sini. Kamu tahu kan kalau ini tempat kos para wanita? Aku tidak ingin nama baik temanku menjadi buruk gara-gara orang mengira sahabatnya membawa lelaki untuk berbuat mesum di sini."
Berharap dengan mengatakan itu, Rafael bisa mengerti dan meninggalkannya agar bisa menjernihkan pikiran. Namun, lagi dan lagi ia merasa sangat kecewa karena apapun yang ia perintahkan pada pria itu tidak pernah dituruti.
Tentunya selalu berbanding terbalik ketika ia diancam oleh Rafael dan harus selalu menuruti.
"Tenang saja karena jika ada yang menuduh kita berbuat mesum di sini, aku akan menunjukkan foto buku nikah atau pernikahan kita yang sudah tersebar di media sosial. Mereka pasti tidak akan menuduh lagi dengan berpikir hal konyol."
Rafael kini menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari ponsel miliknya karena sedang mengirimkan pesan pada asisten untuk mengerjakan beberapa dokumen penting agar besok bisa segera ia tanda tangani.
Sebenarnya ia sangat mengerti bahwa Alesha tidak ingin bersamanya, tapi entah mengapa tidak tega meninggalkan wanita itu sendirian di sana.
"Aku malah khawatir ada pria jahat yang berbuat macam-macam padamu saat melihatmu sendiri di sini. Di dunia ini, tidak ada pria yang bisa tahan godaan selain aku. Aku bahkan sudah membuktikannya padaku, bukan? Bahwa saat kita tinggal bersama dalam satu kamar, aku tidak pernah bercinta denganmu."
"Mungkin jika pria lainnya, sudah menghamilimu tanpa memperdulikan perjanjian yang sudah ditandatangani. Jadi, kamu harusnya bangga bisa menikah dengan pria sepertiku." Rafael kini meletakkan ponsel pintar miliknya di meja dan menoleh ke arah Alesha yang terlihat kembali memerah.
"Kenapa wajahmu?"
Alesha yang saat ini ingin tertawa terbahak-bahak karena semua yang didengar barusan hanyalah omong kosong, tapi berusaha untuk menahannya karena berpikir bahwa jika mengatakan hal sebenarnya hanya akan dituduh macam-macam.
Ia tidak ingin dituduh sebagai seorang wanita yang gila harta dengan mengatakan hal yang bahkan tidak diingat oleh pria yang telah menggaulinya.
'Aku seperti tengah mendengarkan orang gila berbicara. Biarkan saja ia berbicara konyol sendiri karena aku hanya ingin menenangkan pikiran setelah lepas dari Rafael,' gumam Alesha yang kini mengalihkan perhatian dari pria besar kepala itu.
__ADS_1
To be continued...