
Nick benar-benar merasa sangat muak melihat wanita yang dianggap sangat tidak berguna tersebut. Hingga mengungkapkan apa yang saat ini seperti hendak meledak di kepala.
"Sudah kukatakan bahwa aku sangat muak melihat wajahmu. Dengarkan ini baik-baik, Zea! Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu karena hanya memanfaatkanmu untuk menghancurkan Arsenio."
"Namun, kau telah gagal dan buat apa aku mempertahankan wanita yang tidak berguna sepertimu. Jadi, dari hadapanku sebelum diusir oleh security." Nick memilih untuk berjalan meninggalkan wanita yang terlihat sangat terkejut atas perkataannya.
Ia mengempaskan tubuhnya pada kursi kebesaran dengan posisi menghubungi wanita yang sudah dianggap tidak berguna lagi untuknya.
Nick saat ini tengah memikirkan cara untuk menyingkirkan Arsenio dan juga mengalihkan semua aset kekayaan yang sudah berpindah tangan pada pria itu.
Namun, belum sempat ia menemukan ide, suara wanita yang berteriak di dalam ruangan kerja, seketika membuatnya menutup daun telinga.
"Kau sangat keterlaluan, Nick! Kau bahkan seperti bukan manusia saat berbicara sekejam itu pada seorang wanita yang mencintaimu." Zea saat ini merasa sangat terluka dan tidak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan seburuk ini dari pria yang seolah tidak ingin menatap wajahnya.
Posisi pria yang sudah menjadi mantan kekasih karena memutuskan hubungan secara sepihak, masih mau menghubunginya dan semakin membangkitkan kekesalan yang menyewa memenuhi seluruh urat syarafnya saat ini.
"Kau akan menyesal dengan memutuskan hubungan kita. Aku akan menemukan pria yang jauh lebih hebat darimu, sedangkan kau tidak akan hidup bahagia karena hanya penderitaan yang datang setelah memutuskanku." Zea berbicara sambil mengusap bulir air mata yang menghiasi bibir putihnya.
Tanpa menunggu jawaban dari pria yang kini sangat ia benci, Zea memilih untuk melangkahkan kaki jenjangnya ke arah pintu. Meninggalkan semua kenangan buruk yang menyakiti perasaannya.
Zea merasa sangat menyesal karena pernah mencintai pria yang sangat arogan dan berbuat sesuka hati.
Namun, saat ia tengah mengarahkan tangan untuk membuka penuh pintu, tidak jadi melanjutkannya karena mendengar suara Nick yang sekali lagi menghinanya.
__ADS_1
Nick semakin marah saat ada seorang wanita yang seperti merasa menjadi paling tersakiti. Padahal ia tahu jika Zea mencintainya karena memandang hartanya saja.
"Kau hanyalah mengincar hartaku dan jangan berlagak seperti seorang wanita yang tulus mencintai dan paling tersakiti. Kau tidak akan berbicara seperti itu jika melihatku tidak punya apa-apa, kan? Kau sama seperti para wanita pengincar harta. Pergilah jauh dariku karena aku tidak ingin melihatmu lagi!"
Nick memutar kursi kebesarannya dan bisa menatap sosok wanita yang berdiri di depan pintu. "Satu hal lagi, anggap kita tidak pernah mengenal saat bertemu di jalan atau di mana saja!"
Saat Nick kembali mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerja, ia bahkan mengarahkan tangan yang masih mengepal dari tadi ketika dikuasai oleh api amarah yang memuncak di dalam hati.
Tanpa membuang waktu, Nick sudah mengempaskan beberapa barang-barang yang berada di atas meja hingga hancur berantakan di atas abu-abu tersebut. Salah satunya adalah laptop mahal yang selama ini menjadi teman kerjanya.
"Bangsat! Semuanya tidak berguna!" Nick masih tidak bisa mengendalikan diri ketika merasa sangat marah.
Sementara Zea memilih untuk segera pergi dengan membuka pintu karena tidak ingin berdebat dengan pria yang sedang dikuasai oleh api amarah.
Tidak ingin semakin tersakiti dengan kalimat kasar pria yang dicintai, Zea memilih untuk melanjutkan langkah kaki dan meninggalkan ruangan kerja Nick.
Ia merasa sangat sakit hati saat dihina oleh Nick dan berjalan menuju ke arah lift. Zea menunggu hingga lift terbuka. "Aku baru sadar jika pria itu tidak berperasaan."
"Aku sangat menyesal karena pernah sangat mencintai Nick. Lupakan pria jahat itu karena di dunia ini ada banyak orang yang lebih baik dari Nick."
Saat Zea baru saja menutup mulut dan mendengar suara denting lift, seketika ia membulatkan kedua mata begitu melihat dua pria yang berada di hadapannya.
Bahkan ia langsung membekap mulutnya dan ingin berniat untuk melarikan diri dengan memakai pintu darurat di sebelah kanan.
__ADS_1
Namun, suara bariton dari pria yang dijebak olehnya di hotel dan masih sangat dihafal olehnya, membuat Zea tidak berkutik ketika tangan itu menarik bagian belakang pakaiannya.
"Berhenti kau, Wanita murahan!" sarkas Arsenio yang merasa keberuntungan ada di pihaknya hari ini karena bisa bertemu dengan sosok wanita di hadapannya.
Wanita yang telah memberikan obat tidur pada minumannya ketika sedang bertemu dengan investor palsu.
Ia tadi langsung bergerak cepat begitu mengetahui wanita itu akan kabur darinya dengan tangga darurat.
Arsenio bahkan sudah mengarahkan tatapan tajam pada sosok wanita yang masih memunggunginya tersebut. "Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu dipenjara! Jadi, jangan kabur karena aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Arsenio masih menahan kerah kemeja wanita itu dan memberikan kode pada sang ayah di sebelah kirinya. "Tolong hubungi polisi, Dad. Aku akan mengajar bajingan yang ada di dalam ruangan itu."
"Daddy tidak perlu ikut masuk dan tunggu saja di sini karena aku akan merasa bersalah nanti saat memberikan pelajaran dengan membuat babak belur wajah Nick yang masih merupakan keponakan tidak tahu diri itu."
Sementara Adelardo memilih untuk mengibaskan tangan sambil memegangi lengan wanita yang sudah mencemarkan nama baik Arsenio.
"Kau benar, Arsenio. Pergilah dan berikan pelajaran pada keponakanku yang sangat keterlaluan itu. Semua orang yang melakukan kesalahan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Meskipun Nick adalah keponakanku, sudah merupakan tugas seorang paman untuk membawanya kembali ke jalan yang benar."
"Penjara mungkin bisa membuatnya berubah menjadi pria yang baik atau malah semakin bertambah liar," sahut Arsenio yang kini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah ruangan kerja Nick.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Arsenio sudah masuk ke dalam ruangan yang terlihat sangat berantakan dengan beberapa barang berserakan di lantai dan membuatnya tersenyum smirk.
"Apakah kau merasa frustasi atas kekalahanmu, Nick?" sarkas Arsenio dengan tatapan penuh seringai ketika merasa sangat senang saat berhasil membuat wajah musuh besarnya memerah karena kalah darinya.
__ADS_1
To be continued...