I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Tamu tak diundang


__ADS_3

"Apa pria itu yang menelponmu?" tanya Alex yang saat ini melihat ketika Alesha masih menggenggam benda pipih di tangan dan ragu untuk mengangkat telpon.


Sudah dipastikan jika itu adalah pria yang telah berstatus sebagai suami Alesha dan bukan ibu wanita di hadapannya tersebut karena tidak langsung diangkat.


Saat ini, Alesha hanya menganggukkan kepala dengan lemah untuk membenarkan pertanyaan dari pria yang beberapa saat lalu sempat memberikan ketenangan padanya setelah perasaannya bergejolak karena bingung untuk memikirkan keputusan.


"Aku susah payah datang ke sini dengan mencari alasan satu jam akan kembali. Jadi, aku sekarang harus pergi karena tidak ingin membuat masalah. Seperti janjiku padamu, selama 1 bulan, kita tidak boleh bertemu. Aku harap kau mengerti posisiku yang sulit."


Alesha yang dituntut untuk menjaga nama baik Rafael, saat ini menatap ke arah sosok pria yang wajahnya berubah murung. Tentunya ia mengerti bagaimana perasaan Alex karena juga merasakannya.


Namun, tidak ingin semuanya bertambah rumit dan kacau, sehingga harus segera pergi. "Aku akan kembali padamu setelah satu bulan."


Alesha mencoba untuk menghibur pria yang terlihat muram tersebut. Bahkan ia tidak ingin mengangkat telpon dari Rafael karena akan membuatnya merasa kesal dan marah jika berbicara dengan pria yang pastinya akan menuduh telah pergi ke rumah sakit untuk menemui Alex.


'Aku akan menerima semua penghinaan dari Rafael dan tidak akan membantah apapun tuduhannya karena memang benar aku berada di Rumah Sakit bersama dengan Alex,' gumam Alesha yang saat ini berjalan mendekati sosok pria dengan kaki digantung ke atas tersebut.


Alesha seperti mendiamkan seorang anak kecil agar tidak merajuk karena saat ini tengah mengusap lembut lengan kekar pria di balik seragam Rumah Sakit tersebut.


"Kamu harus segera pulih dan bisa berjalan lagi agar Setelah satu bulan kita bertemu, bisa langsung ngedate."


Sengaja Alesha mengatakan itu agar Alex bersemangat untuk segera sembuh dan secara rutin kontrol ke rumah sakit agar bisa kembali pulih dan segera berjalan seperti biasa.


Meskipun ia tahu jika itu membutuhkan waktu dan mungkin lebih dari satu bulan karena kaki yang di gips tersebut pastinya mengalami retak ketika kecelakaan.


Sementara itu, Alex yang saat ini hanya terdiam karena sebenarnya masih merasa rindu pada Alesha, tapi mengetahui tidak bisa berbuat apapun, sehingga terpaksa harus menerima kepergian sang kekasih yang merupakan istri orang.

__ADS_1


"Janji kita bertemu satu bulan lagi," ucap Alex yang saat ini memberikan jari kelingking.


Tanpa ragu, Alesha yang sudah mengambil keputusan penting dalam hidupnya, segera mengaitkan jari kelingking. "Kita bertemu di restoran favoritmu dan jangan hubungi aku pukul tujuh malam satu bulan lagi."


Alex saat ini mengangguk perlahan dan menyetujui janji Alesha. "Jadi, kita bertemu tanggal 28 Februari karena bulan itu hanya sampai tanggal segitu. Lagipula itu adalah hari bersejarah untukku, jadi kita bertemu untuk merayakan dua hal, yaitu bersatu dan hari ulang tahunku. Jangan lupa bawa hadiah."


Alesha saat ini tersenyum dan menyetujui semua yang dikatakan oleh Alex saat ini. Sebenarnya ia ingin sekali mencium pipi Alex sebagai salam perpisahan, tapi tidak ingin melakukan karena mengetahui bagaimana sifat pria itu yang pastinya akan meminta lebih.


Apalagi statusnya yang saat ini masih menjadi istri Rafael, sehingga tidak bisa berbuat sesuka hati. Meskipun sekarang berbohong dan tidak menuruti perkataan Rafael, tetapi berpikir bahwa hari ini adalah pertemuan terakhir dengan kekasih gelapnya.


"Aku akan mengingatnya dan membawakanmu hadiah. Aku pergi dulu." Saat Alesha menutup mulut, di saat bersamaan pintu ruangan terbuka dan terlihat sahabatnya terburu-buru masuk.


"Mereka sudah datang. Ayo, kita harus segera pergi karena aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan beberapa wanita yang merupakan sahabat dari dosenmu." Stella berbisik di dekat daun telinga Alesha karena merasa tidak enak pada sosok pria yang masih terbaring di atas ranjang perawatan tersebut.


Namun, Alesha yang merasa tidak sopan ketika pergi tanpa berpamitan kepada ibu Alex, sehingga memilih menunggu sampai semua orang masuk.


Tentunya sudah seperti yang dibayangkan, bahwa wanita yang sangat membencinya tersebut masuk bersama para wanita sosialita dan langsung menatapnya dengan mengintimidasi.


Namun, Alesha sama sekali tidak memperdulikan itu karena hanya ingin berpamitan saja demi sopan santun. "Kami harus pulang, Nyonya."


Sementara itu, Ana Maria yang tadi sudah menyuruh beberapa teman menyindir Alesha, tidak ingin membiarkan wanita itu kabur begitu saja. Apalagi beberapa saat lalu ketika bertemu dengan teman-teman di lobi rumah sakit, mendapatkan sebuah ide cemerlang untuk menghancurkan wanita yang sangat dibenci.


'Aku tidak akan pernah membiarkan wanita murahan ini bersatu dengan putraku. Ia sama sekali tidak pantas karena hanyalah seorang pelacur di mataku.'


'Lihat saja, setelah hari ini, kau akan menyadari posisimu yang tak lebih dari seorang wanita kelas rendahan sekaligus murahan,' gumam Ana Maria yang berakting tersenyum dan memegang lengan Alesha untuk menahan kepergian.

__ADS_1


Alesha bisa membaca ada sesuatu yang direncanakan oleh wanita itu, tapi tidak tahu apa yang dipikirkan oleh ibu dari pria yang dicintainya tersebut. Dengan menyunggingkan senyuman dan berbicara lembut karena tidak ingin menyinggung perasaan wanita yang sangat munafik tersebut.


Bahkan ia tidak mungkin bersikap kasar pada wanita itu di depan Alex. Saat hendak menanggapi, merasa lega karena Alex mewakilinya berbicara agar bisa segera pergi karena tidak ingin membuat masalah makin besar pada Rafael.


"Mereka harus segera pergi karena ada jam kuliah, Ma. Jadi, jangan menahan para mahasiswiku." Alex sebenarnya merasa senang jika sang kekasih pujaan hati lebih lama berada di sana, tetapi mengerti bahwa itu akan menjadikan masalah.


Bukan itu yang diinginkan karena berharap akan bersatu dengan Alesha setelah 1 bulan. Jadi, memilih untuk bersabar dan tidak lagi menahan kepergian wanita itu.


Sementara itu, salah satu wanita yang mengenakan segala barang-barang branded di tubuhnya, berjalan mendekat untuk bisa menatap lebih jelas sosok wanita yang tadi sudah diceritakan oleh sahabat.


"Tunggu. Bukankah kamu adalah istri dari pengusaha sukses bernama Rafael Zafran yang semalam menikah? Aku semalam datang ke acara resepsi pernikahanmu karena suamiku merupakan rekan bisnis suamimu." Mengarahkan tatakan penuh curiga dan kembali melanjutkan aksinya untuk menguliti wanita itu hidup-hidup.


"Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan seorang istri pengusaha sukses. Lalu, di mana suamimu? Kamu tidak pergi sendiri untuk menemui seorang pria, kan?"


Alesha menelan kasar saliva karena bingung harus menjawab apa. 'Inilah alasan Rafael melarangku berbuat hal yang mempermalukan namanya karena ia sangat terkenal dan banyak orang yang tahu mengenai kehebatannya. Aku harus segera pergi dari sini.'


Setelah bergumam sendiri di dalam hati, Alesha mencoba untuk menenangkan perasaan dan saat ini berpikir bahwa harus segera meninggalkan ruangan yang dipenuhi oleh 6 orang wanita dengan tatapan tidak suka padanya.


Dengan tersenyum simpul, Alesha berusaha untuk menghormati para wanita dengan barang-barang mewah yang dikenakan.


"Anda benar, Nyonya. Senang bisa bertemu dengan istri dari rekan bisnis suami saya. Memang Hari ini pergi sendiri ke rumah sakit untuk menjenguk dosen karena suami sedang sibuk saat tiba-tiba ada meeting mendadak di kantor."


"Sebagai seorang istri yang baik, harus bisa mengerti kesibukan suami dan tidak merengek seperti anak kecil hanya demi bulan madu." Saat Alesha menutup mulut dan berpikir bisa segera keluar dari ruangan tersebut, menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka.


Alesha seketika membulatkan mata begitu melihat seseorang yang masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


'Tidak mungkin,' lirih Alesha di dalam hati degup jantung tidak beraturan kini mewakili perasaan saat ini.


To be continued...


__ADS_2