I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Malaikat dan Pendosa


__ADS_3

Rafael benar-benar sangat marah sekaligus shock begitu mengetahui kenyataan bahwa mantan istri yang sedang tidak baik hubungan rumah tangga tengah hamil anak kedua.


Bahkan tadi ia mendapatkan penjelasan dari sang dokter mengenai keadaan janin Aealeasha yang lemah.


Bahwa mantan istrinya tersebut tidak boleh kelelahan dan harus istirahat total karena kehamilannya yang lemah. Ia bahkan baru saja keluar dari ruangan dokter setelah membahas mengenai keadaan Aealeasha.


Rafael tidak langsung masuk ke dalam ruangan perawatan karena tadi Aealeasha sudah dipindahkan ke kamar terbaik di rumah sakit. Seolah ia saat ini tidak punya tenaga untuk berjalan masuk ke ruangan wanita yang masih membuatnya berharap bisa kembali bersatu.


Bahkan ia kali ini tidak tahu apakah bisa menatap wajah cantik wanita yang masih bertahta di hatinya.


'Ya Tuhan, kenapa aku selalu merasakan kepahitan hidup saat baru saja memupuk harapan? Bahkan sekarang aku mengalami Dejavu. Hari ini sama persis dengan kejadian lima tahun lalu saat aku pertama kali bertemu dengan Aealeasha yang hendak bunuh diri di taman.'


Saat ini Rafael seolah mengenang memori masa lalu dari takdirnya ketika menyelamatkan Aealeasha yang hendak bunuh diri setelah diperkosa oleh Austin ketika mabuk.


Bahkan kejadian itu tepat setelah Aealeasha diusir oleh sang ayah yang telah dicuci otaknya karena ibu tiri.


Hingga akhirnya ia mengajak Aealeasha pulang bersamanya tanpa sepengetahuan sang ayah. Hingga menikahinya setelah satu bulan kemudian berakhir hamil.


Sampai akhirnya ia jatuh cinta pada wanita yang dinikahi secara siri, tapi cintanya selalu bertepuk sebelah tangan dan hanya meninggalkan luka di hati karena Aealeasha sama sekali tidak menyukainya.


"Apa dosaku di masa lalu sebenarnya? Kenapa aku selalu hidup menderita seperti ini karena mencintai Aealeasha? Bahkan takdir seolah tidak pernah berpihak padaku karena saat berharap mendapatkan sebuah kesempatan, selalu ditampar dengan kenyataan."


Rafael kini mengepalkan kedua tangannya saat mengingat takdir buruk dalam hal asmara. Hingga ia mengingat penyebab dari semua kemalangan yang terjadi dalam hidupnya.


"Arsenio!"


Rafael semakin mengepalkan tangan dengan wajah memerah karena kali ini ia benar-benar dikuasai oleh ledakan kemurkaan.


Tanpa membuang waktu, Rafael langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mencari kontak seseorang yang ingin diumpat habis-habisan.

__ADS_1


"Pria berengsek itu harus membayar semuanya. Bila perlu, aku akan ke sana untuk menghabisinya!" umpat Rafael yang kini berniat untuk melakukan panggilan internasional.


Namun, saat hendak menekan tombol panggil, indra pendengaran menangkap suara seseorang yang memanggilnya.


"Tuan Rafael, nyonya Aealeasha ingin bertemu dengan Anda karena sekarang sudah sadar," ucap wanita berseragam baby sitter yang baru saja keluar dari ruangan perawatan VVIP.


Ia yang tadi menunggu, langsung melihat majikan tersadar dan langsung bertanya mengenai pria yang diakuinya memiliki wajah rupawan tersebut, sehingga langsung melaksanakan perintah untuk memanggil.


Sementara itu, Rafael kini tengah menatap ke arah sang baby sitter dan seketika bangkit begitu mengetahui bahwa Aealeasha sudah sadar, sehingga langsung memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana.


Berpikir bahwa ia akan melihat keadaan Aealeasha yang mungkin tengah tertekan dan merasa hancur seperti dulu. Jadi, ia buru-buru ingin menenangkan perasaan mantan istrinya yang hubungannya tidak baik dengan suami.


Rafael kini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu masuk setelah dibukakan oleh wanita muda itu. Kemudian ia pun berjalan masuk ruangan perawatan dan melihat sosok wanita yang sudah dalam posisi duduk bersandar.


"Aealeasha. Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa kamu pusing dan mual?" tanya Rafael begitu berada di sebelah kiri wanita dengan wajah sangat pucat khas ibu hamil.


Ia ingin menyentuh wajah pucat itu untuk memberikan semangat, tapi tidak bisa melakukannya kala mengingat mantan istrinya ternyata hamil benih pria yang telah menjadi penyebab penderitaannya.


Sementara itu, Aealeasha yang kini merasa sangat bersalah karena kembali melukai perasaan pria yang dianggapnya malaikat penolongnya, bisa melihat ekspresi dari wajah murung itu.


"Maaf."


Meskipun ia tahu jika satu kata itu sangat dibenci oleh mantan suami, tapi tidak tahu kata lain yang bisa mewakili perasaannya saat ini.


Hanya keheningan yang kini mengelilingi interaksi keduanya dan ruangan perawatan tersebut seolah menjadi saksi bisu atas diamnya Rafael yang kini kembali merasakan pahitnya arti dari sebuah kata maaf.


Sementara itu, sang baby sitter yang tadinya masuk ke dalam ruangan, kini bisa membaca mengenai privasi antara majikan dengan mantan suami, sehingga kini langsung mengeluarkan suara.


"Nyonya Aealeasha, saya mohon izin ke kantin sebentar. Tuan Arza sedang tidur, jadi saya akan makan sebentar di kantin." Menatap ke arah anak laki-laki yang ada di atas ranjang sang ibu karena tadi memang merengek untuk bisa berada di sebelah wanita yang disayangi.

__ADS_1


Begitu sang majikan menganggukkan kepala, ia buru-buru berjalan keluar dari ruangan dan membiarkan mantan istri dan mantan suami tersebut berbicara empat mata.


Aealeasha tadi sekilas menatap ke arah wanita yang kini sudah menghilang di balik pintu dan kembali melihat Rafael yang diam membisu.


"Aku benar-benar tidak menyukai keheningan ini, Brother. Kenapa situasi ini kembali di antara kita? Maafkan aku karena membuatmu terluka dengan kenyataan hidupku."


Saat Aealeasha berusaha untuk mengungkapkan rasa bersalah, berbeda dengan yang saat ini dirasakan oleh Rafael.


Ia benar-benar sangat iba pada nasib wanita sebaik Aealeasha, tapi selalu merasakan penderitaan di saat mengandung.


Kini, ia mengangkat pandangannya yang semula menatap ke sembarang arah. Itu karena menghindari bertatapan dengan manik kecoklatan wanita yang selalu membuatnya iba sekaligus terluka.


Namun, karena ia ingin membahas mengenai masalah wanita itu, sehingga mau tidak mau menatap wajah mantan istrinya yang sangat pucat tersebut.


"Kenapa kamu harus hamil? Kenapa kamu selalu menderita saat hamil? Apa perlu aku menghabisi bajingan sialan itu agar kamu tidak lagi merasakan penderitaan karena dihamili Arsenio?"


Meskipun ia menyadari bahwa apa yang dikatakannya sangat konyol, tapi Rafael benar-benar tidak tahu lagi bagaimana cara mengungkapkan kemurkaannya pada wanita yang masih diharapkan bisa kembali padanya.


Ia sadar akan selalu kalah dengan Arsenio jika Aealeasha kembali melahirkan anak kedua. Seolah memutuskan harapan besar yang baru saja dipupuk.


"Rasanya sekarang aku ingin sekali menghabisi nyawa Arsenio!" Saat Rafael baru saja meledakkan amarah, ia seketika terdiam begitu mendengar suara tawa dari sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut.


Wanita yang tengah menyimpan luka mendalam di hati, seolah kini tengah menutupi rasa sakit dengan mengulas senyuman palsu dan melihat itu membuatnya merasa sangat miris.


"Ternyata kita sekarang sepemikiran, Brother. Aku pun ingin menghabisi bajingan itu," ucap Aealeasha yang kini terbahak karena merasa miris dengan nasibnya yang malang karena ini adalah kedua kali hamil tanpa pria yang menghamili dan selalu berakhir bersama Rafael.


'Aku adalah wanita bodoh yang jatuh di lubang yang sama, sedangkan Rafael adalah pria berhati malaikat yang harus merelakan diri disakiti. Kalimat apa yang pantas untuk mewakili kami? Mungkin malaikat dan pendosa.'


Aealeasha hanya bisa mengungkapkan pemikirannya di dalam hati karena saat ini mulutnya tiba-tiba serasa terkunci.

__ADS_1


Ia yakin jika hal pertama yang akan dilakukan adalah menangis tersedu-sedu di pelukan pria itu jika sampai membuka mulut ketika rasa sakit menyiksa kala mengingat sang suami.


To be continued...


__ADS_2