I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Sangat bingung


__ADS_3

Alesha hanya bisa tertawa miris kalau memikirkan takdir yang dianggap telah mempermainkan hidupnya. Ia bahkan sudah seperti orang gila karena merasa jika yang dikatakan oleh sahabatnya adalah sebuah kekonyolan karena jelas-jelas bahwa yang semalam dialami merupakan musibah.


Meskipun sempat merasa bahwa keberuntungan menghampiri ketika bertemu dengan Alex yang merupakan cinta pertama saat masih menjadi sugar baby.


"Takdir mempermainkan hidupku karena bertemu dengan Rafael. Aku tahu bahwa Rafael adalah penyebab utama bisa bertemu dengan Alex. Tanpa bertemu dengan pria itu, mana mungkin bisa kuliah dan akhirnya Alex lah yang menjadi dosenku."


Alesha tadi belum sempat menceritakan mengenai mantan sugar daddy yang mengalami kecelakaan dan berakhir kehilangan sebaguan ingatan. Akhirnya ia menceritakan semua hal yang dialami oleh cinta pertamanya tersebut pada Stella.


Ia ingin mengetahui pendapat dari sahabatnya mengenai pria yang diharapkan bisa menjadi pasangan karena menyatakan cinta padanya dan mau menunggu.


Sebenarnya merasa sangat aneh karena Alex tidak menghubunginya semenjak ia melarang untuk melakukan hal konyol, yaitu menculiknya di pelaminan.


Meskipun berpikir bahwa pria itu hanya sedang bercanda saja, tapi khawatir juga jika benar-benar terjadi dan akan menjadi penyebab ibunya bersedih dan beresiko kembali kena serangan jantung.


Sementara itu, Stella yang dari tadi menjadi pendengar saat sahabatnya bercerita, kini meraih ponsel miliknya dan menyerahkan pada Alesha.


"Kalau begitu, hubungi saja Alex dan bertanya alasan tidak menghubungimu."


Alesha yang merasakan perasaan berkecamuk dan dipenuhi oleh rasa bersalah sekaligus berpikir telah mengkhianati cinta pria yang tulus padanya, refleks langsung menggelengkan kepala.


Ia hanya menatap ke arah ponsel yang berada dalam genggaman sahabatnya tersebut dan beralih pada benda pipih yang teronggok di lantai dan bernasib nahas.


"Aku bahkan saat ini tidak bisa berpikir mengenai apa yang harus kulakukan setelah perbuatan pria yang bahkan sama sekali tidak mengingat apapun setelah merenggut kesucianku."


Kembali Alesha tertawa miris dengan nasib yang dialami karena mungkin hanya ialah satu-satunya wanita yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang pria.


"Bagaimana mungkin bajingan itu sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi semalam." Alesha bahkan saat ini mengepalkan kedua tangan ketika mengingat pesan yang dikirimkan oleh Rafael.


'Padahal aku tidak bisa melupakan ekspresi wajah si berengsek itu ketika berada di atas tubuhku. Bahkan aku sangat bodoh karena semalam sangat menikmati semua sentuhan dan perbuatan bajingan itu,' umpat Alesha yang saat ini tidak bisa melupakan wajah Rafael.


Ia yang merasa sangat jijik pada diri sendiri karena tidak bisa melupakan wajah Rafael yang merenggut kesuciannya. Bahkan ia semalam meninggalkan jejak pada punggung lebar pria yang pertama kali menyatukan tubuh karena merasakan penyarian luar biasa dan mencakar bagian belakang pria itu.


Lamunan Alesha seketika buyar begitu merasakan sebuah tepukan pada pundaknya dan membuatnya menoleh pada sahabat baiknya tersebut.


"Lalu apa rencanamu sekarang? Aku tidak tahu lagi harus memberi saran apa karena juga merasa bingung. Aku bahkan tidak mengalami apa yang kamu rasakan saat ini. Jadi, sepertinya hanya kamu saja yang bisa menentukan keputusan."


Saat Stella baru saja menutup mulut, mendengar suara notifikasi dari ponsel dan langsung memeriksa. "Aku ambil makanan dulu di depan."


Kemudian langsung beranjak dari ranjang dan berjalan keluar menuju ke arah pintu meninggalkan sahabatnya yang dari tadi hanya diam membisu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Alesha yang membenarkan perkataan dari sahabatnya, kembali menatap ke arah ponsel miliknya yang sebenarnya itu merupakan benda kesayangan. Apalagi saat membeli ponsel itu, memiliki banyak kenangan karena pertama kali membeli barang mahal setelah mengumpulkan uang.

__ADS_1


Ia bergerak dari ranjang untuk mengambil ponsel miliknya dan menatap benda yang sudah hancur di tangan. "Ponsel ini seperti hidupku yang hancur berantakan dan tidak bisa diperbaiki lagi."


"Apa yang harus kulakukan sekarang setelah semua hal buruk terjadi padaku akibat perbuatan bajingan itu?"


Alesha masih berjongkok dan memegang ponselnya yang hancur. Ia saat ini memikirkan apa yang akan dilakukan setelah mengetahui bahwa Rafael sama sekali tidak mengingat apapun yang mereka lakukan semalam.


"Apa aku harus melupakan kejadian semalam dengan bersikap tidak terjadi apapun di antara kami? Apa aku bisa melakukannya karena dengan menatap si berengsek itu, pasti akan selalu mengingatkanku pada perbuatannya."


"Aku pun tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya setelah ia mengatakan tidak mengingat apapun karena mungkin akan dianggap berakting dan menipunya. Atau mungkin ia akan menganggap aku memerasnya."


Alesha saat ini kembali mengajak prestasi rambutnya yang dari tadi dibiarkan tergerai di bawah bahu. "Hanya seperti itulah arti aku di mata pria yang sekarang berstatus sebagai suamiku yang sah dimata agama dan negara."


Menyadari bahwa status hanya dianggap sebuah permainan dan sebuah perjanjian di atas kertas, kini Alesha semakin yakin saat mengambil keputusan.


Hingga ia kembali melihat sahabatnya sudah masuk sambil menenteng kantong plastik berisi makanan.


Stella yang tadi memutar otak untuk membuat sahabatnya mau makan, menemukan sebuah ide dan langsung mengungkapkan pada sahabat baiknya tersebut.


"Ayo kita makan! Aku tahu bahwa sekarang tidak berselera makan karena masalah yang kamu hadapi, tapi jika masih ingin hidup, lebih baik makan. Namun, jika sudah bosan hidup, kamu bisa gantung diri di tempat lain, jangan di sini karena aku tidak ingin berurusan dengan polisi."


Kemudian ia duduk di sebelah Alesha dengan membuka kantong plastik berisi dua paket ayam geprek super pedas. Ia tahu bahwa sahabatnya tersebut selalu menyukai makanan super pedas, jadi tadi memesan sesuai dengan selera.


"Sialan! Ternyata aku datang ke tempat yang salah hari ini. Kamu mengingatkanku pada pria berengsek itu yang suka berbicara sinis padaku. Aku sangat membenci bajingan itu!"


Sementara itu, Stella yang sudah membuka makanan dalam sterofom, kini sibuk menyiapkan nasi ayam geprek ke dalam mulut dan merasakan sensasi pedas, hingga membakar lidahnya.


Ia mendorong sterofom yang masih utuh ke hadapan Alesha. "Sudah tahu salah, tapi kau selalu merasa nyaman berada di sini, bukan. Lebih baik makan dan tenangkan pikiranmu di sini. Bukankah kalau suka makanan super pedas ketika sedang menghadapi masalah?"


Alesha saat ini masih terdiam dan menatap ke arah makanan yang merupakan favoritnya. "Bukankah tadi aku bilang pesan saja satu untukmu karena tidak lapar dan tidak berselera?"


"Aku ingin tidur di sini hari ini dan tidak ingin bertemu bajingan itu," ucap Alesha yang hendak bergerak untuk naik ke atas tempat tidur, tapi tidak bisa melakukannya karena ditahan oleh Stella.


"Kamu boleh tidur di sini sepuasmu, tapi ikuti aturanku. Aku tidak ingin ibumu mengomel padaku karena tidak memberimu makan. Cepat makan! Setelah itu, kamu bebas tidur seharian di sini."


Stella merasa tidak tega pada sahabatnya dan berpikir ingin memberitahukan semua kejadian yang menimpa sahabatnya tersebut pada pria bernama Rafael tersebut.


"Aku akan pergi setelah sarapan karena ada janji dengan seseorang. Jadi, tidur saja sepuasnya karena tidak akan mengganggu."


Dengan terpaksa, akhirnya Alesha menuruti perintah dari sahabatnya dengan membuka sterofom berisi makanan kesukaannya. Ia tahu bahwa Stella merupakan teman terbaik karena sangat hafal dengan apapun kesukaannya.


Hingga memesan makanan favoritnya dan paksaan yang dilakukan merupakan sebuah bentuk kepedulian karena sangat mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Terima kasih," lirih Alesha yang sudah menyiapkan satu suapan ke dalam mulut.


Bahkan ia sampai berkaca-kaca ketika membuka suara dan sekaligus mewakili bahwa saat ini sensasi terbakar dirasakan.


"Ini sangat pedas sekali, tapi aku suka." Alesha yang sudah berkaca-kaca bola matanya, sesekali menghapus dengan kasar.


Stella memang sengaja membiarkan Alesha memiliki alasan untuk menangis tanpa harus merasa canggung di depannya dengan cara menikmati makanan super pedas.


"Nanti kalau sakit perut, jangan salahkan aku," ucap Stella yang menunjuk ke arah kotak obat tergantung di dinding. "Ada obat sakit perut di sana. Jadi, nanti jangan menggangguku dengan menghubungi ketika aku sedang menemani dengan sugar daddy."


Sebenarnya hari ini ia sama sekali tidak ada janji dengan sugar daddy, tapi sengaja berbohong pada Alesha karena tidak ingin sahabatnya mengetahui rencananya.


Ia berniat untuk mengambil SIM card milik Alesha dan digunakan untuk menghubungi suami sahabatnya. Meskipun mengetahui hanyalah suami di atas perjanjian semata, tapi masalah yang menimpa Alesha harus diselesaikan dengan kedua belah pihak mengetahui kejadian sebenarnya.


'Seandainya ada CCTV di kamar hotel ketika mereka bercinta, pasti ada bukti untuk menuntut pertanggungjawaban dari CEO berengsek itu.'


Stella yang saat ini melirik ke arah ponsel Alesha yang hancur, refleks membuka suara untuk mengatakan niatnya. Kemudian mencuci tangan setelah selesai makan.


Kemudian meraih benda pipih bernasib nahas tersebut dan mengambil SIM card dan mengambil ponsel miliknya yang lain di atas nakas.


"Untuk sementara, kamu bisa menggunakan ponselku dulu sebelum membeli yang baru. Minta si berengsek itu menggantinya atau Alex karena pasti akan membelikannya." Stella yang sudah berhasil memasang SIM card milik Alesha, kini memeriksa nomor yang dicari.


Saat menemukan kontak dengan nama CEO Rafael, langsung menghafal di otaknya. Kemampuannya untuk menghafal nomor sudah tidak diragukan lagi karena saya ingatnya sangat tinggi.


Hingga ia melihat Alesha merebut ponsel miliknya dan nasib baik sudah mengembalikan ke mode awal.


"Aku ingin menenangkan diri dan tidak ingin menerima telpon dari siapapun!" Alesha kembali menonaktifkan ponsel sahabatnya, di mana nomornya ada di sana.


Ia hanya ingin menenangkan perasaan seharian ini di tempat Stella dan tidak ingin terganggu dengan siapapun jika nanti ada yang menelpon.


Tidak ingin berdebat, kini Stella membiarkan sahabatnya berbuat sesuka hati. "Baiklah. Terserah kamu saja. Aku mau bersiap untuk pergi."


Stella kini bangkit berdiri dan mengambil pakaian, lalu mengganti dengan percaya diri di hadapan sahabatnya tanpa malu karena sama-sama wanita. Hingga ia mengingat sesuatu yang terlupakan.


"Alesha, bagaimana jika ibumu yang menghubungi?"


Sementara itu, Alesha kini terdiam dan merasa bingung jika ibunya benar-benar menelpon dengan menanyakan tentang Rafael. Bahkan mungkin juga ibu mertua akan ikut berbicara.


"Aku tidak tahu," lirih Alesha yang kini kembali melanjutkan ritual makan sambil menahan sensasi pedas di lidahnya. Ia benar-benar sangat bingung sekarang.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2