I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Kekasih CEO


__ADS_3

Seperti yang diminta Rafael, Alesha hari ini bersiap-siap pergi ke perusahaan besar yang ada di Bandung.


Persyaratan Rafael yang mengharuskannya memakai pakaian rapi dan sopan sedikit menyulitkannya karena sudah cukup lama sejak terakhir kali pekerjaannya membutuhkan persyaratan seperti itu.


Sebelum akhirnya ia mendapatkan uang dengan menjadi sugar baby, yang selalu berpenampilan mencolok.


Alesha bahkan dibuat berdecak panjang ketika melihat riasan wajahnya sendiri di cermin, yang terlihat sama tebalnya seperti biasanya.


Wanita itu lantas menghapus kembali riasan wajahnya dan mencoba membubuhkan bedak tipis-tipis serta lipstik merah muda agar bibirnya tidak terlihat pucat saja.


Setelah puas dengan penampilannya, Alesha segera keluar dan mencari taksi untuk kembali ke rumah sakit terlebih dulu. Ada sesuatu yang harus ia lakukan.


Alesha kemudian berhenti di sebuah toko bunga dan membeli beberapa bunga lavender kesukaan ibunya. Setelah selesai membelinya, kembali ke rumah sakit menggunakan bus umum. Ia terus menjaga bunga itu sepanjang jalan sembari tersenyum.


Sampai rumah sakit, Alesha memasukkan bunga lavender itu ke dalam vas kaca berisi air untuk menjaga agar bunga selalu segar. Wanita itu kemudian meletakkan bunga itu tak jauh pada meja di samping tempat tidur ibunya.


"Indahnya." Alesha berdecak kagum. "Selalu cantik seperti Ibu." Ia lantas menatap wajah ibunya yang sedang tertidur pulas.


"Selamat ulang tahun, Ibu."


Hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Biasanya, Alesha merayakan ulang tahun Iibunya dengan menghabiskan waktu seharian membuat kue dan menghiasnya bersama.


Sebagai hadiahnya, dari tahun ke tahun ibunya selalu meminta hal yang sama. Bunga lavender. Seperti yang dikatakan oleh ibunya, ayah Alesha membeli bunga itu saat kencan pertama mereka.


Oleh karena itu, setiap merayakan ulang tahun ibunya, Alesha seringkali berakting seolah-olah ia adalah seorang pria yang datang membawa ibunya berkencan dengan membawa bunga lavender itu.


Alesha tersenyum kecil.


"Aku pergi dulu, Ibu. Aku akan mendapatkan uang itu agar Ibu bisa segera dioperasi."


Alesha menyentuh kelopak bunga lavender itu dengan lembut. "Ibu akan sembuh dan kembali segar seperti bunga-bunga ini," bisik Alesha di dekat daun telinga ibunya.


Wanita itu akhirnya keluar dari ruangan dengan harapan yang menyelimuti hatinya. Ia kemudian pergi menuju halte yang berjarak hanya ratusan meter saja dari rumah sakit.

__ADS_1


Beberapa menit menunggu, sebuah bus mini berwarna biru berhenti di hadapannya. Ia segera masuk ke dalam bus itu dan duduk di baris ketiga dekat jendela.


Meski sudah dua jam yang lalu lewat jam kerja, jalan raya kali ini cukup ramai. Alesha mengalihkan pandangannya keluar jendela dengan tenang. Bunyi klakson bersahutan.


Jalanan macet total. Hingga tiga puluh menit ia duduk tenang menunggu kendaraan melaju pelan-pelan, tetapi arus jalanan tetap stagnan pada posisinya.


Alesha kembali melihat keadaan keluar jendela. Pandangannya lantas tertuju pada beberapa tukang ojek di seberang. Melirik jam di handphone-nya, Alesha memutuskan turun dari bus itu untuk menaiki ojek.


Ia melihat kanan-kiri, memperhatikan langkahnya dengan teliti di tengah-tengah ramainya jalanan yang sedang macet. Setelah dirasa aman, menyeberang jalan dengan hati-hati.


Namun, tiba-tiba saja terdengar suara klakson yang berasal motor ugal-ugalan yang sedang melaju dari arah sampingnya. Ia sontak terkejut dan cepat-cepat berlari untuk menghindar ke arah jalan yang lebih aman.


Sedangkan motor itu pun membelokkan langkahnya untuk menghindari si puan.


Terlalu panik menghindar, Alesha tersandung selang selokan yang membuatnya terjatuh di trotoar. Nyeri menghantam lututnya ketika berbenturan dengan aspal.


Nasib baik ia hanya sedikit lecet tanpa luka serius. Alesha segera bangun dengan cepat lantas membersihkan pakaiannya yang kotor.


Alesha bergegas berlari kecil menuju pangkolan ojek, memutuskan untuk naik salah satu kendaraan roda dua itu untuk menembus arus macet.


Sebelum motor itu melaju, Alesha terlebih dahulu menunjukkan alamat yang terpampang pada kartu nama milik Rafael yang dibawanya kepada tukang ojek itu.


"Pak, tolong agak cepat ya," titah Alesha meski tak yakin akan bisa lebih cepat.


Setelah sekitar tiga puluh menit berusaha menembus macetnya jalanan, akhirnya sampai di depan gedung besar bernuansa abu-abu itu.


Di depannya terhampar area yang cukup luas dengan berpetak-petak pohon di pojok-pojok liku jalan. Sedangkan di area sayap kanan dan kiri terlihat beberapa kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua memenuhi lahan.


Alesha memasuki gerbang yang tidak dikunci, lalu seorang satpam datang menghampiri. "Apakah ada yang bisa saya bantu, Nona? Selain memiliki kepentingan, Anda dilarang datang ke sini."


"Ya, saya ada janji dengan tuan Rafael." Alesha menjawab dengan percaya diri. Sesuai dugaan, satpam itu tidak langsung percaya. Lalu menunjukkan kartu nama Rafael.


"Presdir Rafael tidak sembarangan memberikan kartu nama ini kepada orang lain, bukan? Saya harap tidak membuang lebih banyak waktu karena beliau sedang menunggu."

__ADS_1


Satpam itu akhirnya mengangguk mengerti. "Baiklah. Kalau begitu, silahkan Anda masuk lewat pintu depan di sana. Setelah itu Anda harus menghubungi resepsionis terlebih dahulu."


"Terima kasih."


Alesha dengan segera melangkahkan tungkainya menuju pintu depan itu yang berjarak sekitar seratus meter. Kaca tebal bersih mengkilap itu didorongnya, ia langsung disuguhi sejuknya udara ber-AC ketika masuk ke dalam sana.


Tepat lurus di depan, terlihat meja resepsionis yang tampak dijaga seorang karyawan perempuan. Wanita itu dengan cepat mendatangi resepsionis itu.


"Selamat datang, Nona? Apakah ada yang bisa saya bantu?" Resepsionis itu tersenyum dengan ramah.


"Saya ingin bertemu dengan presdir Rafael. Bisa saya tahu di mana ruangannya?"


"Ah, mohon maaf, Nona. Untuk bertemu CEO, Anda harus membuat janji terlebih dahulu. Anda tidak bisa sembarang datang ke sana karena beliau sangat sibuk." Resepsionis itu menolak memberitahukan ruangan bos dengan halus.


Alesha mengembuskan napasnya setengah kesal. Susah-susah ia datang ke sini, sudah masuk ke dalam kantornya pun masih susah juga untuk bertemu.


"Saya kekasih presdir Rafael. Kartu nama ini juga tidak bisa diberikan sembarangan kepada orang lain, bukan? Saya ada janji dengan beliau."


Resepsionis itu tampak sedikit terkejut, tetapi atas dasar profesionalitasnya, ia mampu menutupi keterkejutannya itu.


Namun, Alesha yang menyadari hal itu segera memberi penimpalan. "Kalau tidak percaya telepon saja dia dan tanyakan sendiri."


Resepsionis itu akhirnya mengangguk kecil. "Nona, silahkan Anda menunggu dulu sambil duduk di sana."


Resepsionis itu menunjuk ruang tunggu yang ada di samping belakang posisi tamu itu.


Sementara itu, Alesha pun mengangguk menuruti arahannya untuk duduk di ruangan itu.


Sedangkan resepsionis itu akhirnya menelepon bosnya untuk mencari kebenaran dari wanita yang tiba-tiba mengaku kekasih dari pemimpin perusahaan.


'Wanita itu tidak sedang mengingau atau mabuk, kan?' gumam resepsionis yang menunggu hingga panggilan diangkat.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2