
Jika dulu Alesha muda berkhayal menjadi seorang wanita matrealistis, tetapi kenyataan mengatakan lain saat ia bertemu dengan Alex. Ia bahkan heran pada diri sendiri karena langsung merobek cek dengan nominal angka fantastis itu dan pergi tanpa menyesal.
"Aku memang sangat bodoh saat itu karena tidak menerima uang pemberian orang tua Alex, tapi ada kebanggaan tersendiri karena orang miskin sepertiku bisa terlihat percaya diri di depan para konglomerat itu."
"Namun, jika saat itu aku menerima uang itu dan menggunakan untuk biaya pengobatan ibu, mungkin tidak akan pernah bertemu dan berurusan dengan Rafael. Hingga berakhir seperti hari ini."
Ia kini mengingat jika Alex tadi sudah tidak terlihat dan yakin jika pria itu pergi tanpa pamit.
"Apa yang dipikirkan Alex saat melihat Rafael menciumku dan aku sama sekali tidak menolak tadi? Apakah ia akan berpikir jika aku adalah kekasih Rafael? Bukan ... tadi Rafael bahkan mengatakan aku adalah calon istri."
Wajah Alesha yang terlihat sangat muram karena berpikir jika Alex akan sangat kecewa. Namun, ia kembali sadar jika pria itu bukanlah siapa-siapa.
"Alex bahkan bukan kekasihku. Kenapa aku berpikir jika ia merasa kecewa padaku? Bahkan ia hilang ingatan dan aku bukanlah siapa-siapa untuk Alex. Kenapa aku bisa sebodoh ini?"
Begitu menutup mulut saat cukup lama sibuk berbicara sendiri seperti orang gila dan tidak memperdulikan tatapan beberapa orang yang keluar masuk toilet dan menatap aneh.
Hingga indra pendengarannya menangkap suara bariton dari luar dan itu adalah Rafael berteriak padanya.
"Alesha! Cepatlah! Mama sudah kelaparan karena menunggumu keluar dari toilet!" teriak Rafael yang dari tadi berdiri di depan toilet wanita tanpa mempedulikan tatapan beberapa orang yang seolah berpikir ia adalah pria mencurigakan.
Tidak ingin dianggap sebagai penguntit wanita karena berdiri di depan toilet, ia mengatakan jika sedang menunggu calon istri, sehingga tidak lagi dianggap pria kurang ajar.
Awalnya ia menunggu di kursi taman setelah melihat Alesha masuk ke toilet. Namun, menunggu beberapa menit, membuat Rafael tidak sabar. Akhirnya memilih untuk berjalan menuju ke arah toilet dan berakhir di sini.
"Alesha, cepat keluar. Kasihan Mama menunggu makanan ini."
Sementara itu, Alesha yang saat ini tengah menatap pantulan wajah memerah di cermin karena kembali tersulut emosi ketika pria di luar menyalahkan.
"Astaga, kenapa ada pria yang sangat menyebalkan sepertinya di dunia ini? Rasanya sekarang aku ingin menarik rambut pria sialan itu dan juga membuat ia menyesal karena telah mencuri ciuman pertamaku."
Namun, kali ini sadar jika perkataan barusan sangat konyol karena jika benar Rafael juga baru pertama kali berciuman, itu berarti mereka berdua adalah orang yang polos dan tidak punya pengalaman dalam hal menyatukan bibir.
Namun, meski begitu, ia masih berpikir ingin membuat perhitungan pada Rafael. Setelah merapikan rambut menggunakan sela-sela jari dan penampilan mulai sedikit lebih baik, Alesha berjalan keluar dari toilet dan melihat sosok pria di depan sana.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali? Mamaku bisa kelaparan karena menunggu makanan ini." Rafael saat ini menunjukkan kantong plastik tersebut untuk menyadarkan kesalahan Alesha.
"Maafkan aku karena terlalu lama berada di toilet." Alesha memang tidak ingin mengungkapkan rasa marah, sehingga memilih untuk mengatakan hal tidak ia sangka karena bisa melakukan itu.
Meminta maaf saat pikiran dipenuhi oleh segala amarah memuncak yang seolah telah menciptakan kobaran api di sana, tapi masih mencoba ia tahan sekuat tenaga.
Kemudian berjalan menuju ke arah lift dan meninggalkan Rafael karena tidak ingin membahas tentang ciuman pertama tadi.
Mengingat kejadian beberapa saat lalu tersebut, membuatnya memilih untuk melupakan dan menganggap tidak terjadi apapun di antara mereka.
Meskipun saat ini, ada beragam pertanyaan di otak tentang kisah Rafael mengenai rumah tangga dengan wanita bernama serupa dengan namanya.
Buru-buru ia masuk ke dalam lift dan mengetahui jika Rafael pun mengejar dan berdiri tepat di sana, sehingga ia hanya berjarak beberapa centi tersebut merasa sangat tidak nyaman.
Tidak ingin merasa sangat risi dengan tatapan Rafael yang seolah ingin menguliti hidup-hidup, Alesha memilih untuk mundur dua langkah agar bisa bernapas dengan tenang.
Hingga suara bariton Rafael membuat ia tidak bisa lagi menghindar.
"Apa kau marah padaku karena perihal ciuman tadi?" tanya Rafael yang dari tadi tidak mendengar suara Alesha saat membahas tentang kesalahan yang ia lakukan.
Namun, melihat sikap tenang Alesha yang dianggap adalah seorang pemain, Rafael merasa seperti pria polos yang galau dan lebay.
"Apa kau selalu bersikap datar seperti ini setelah berciuman dengan para pria? Apa hanya aku yang merasa aneh karena baru pertama kali berciuman dengan seorang wanita?"
Jika tadi Rafael ingin menyembunyikan fakta tentang ia belum pernah berciuman dengan wanita, tapi gagal karena melihat sikap Alesha yang sangat dingin dan tidak membahas tentang ciuman mereka tadi.
Bahkan tanpa disadari, mengungkapkan semua hal yang berhubungan dengan pengalaman pertama tersebut. Hingga ia tadi beberapa kali menelan saliva dengan kasar saat melihat bibir merah merekah Alesha ketika berdiri berhadapan dengan jarak beberapa centi.
Di sisi lain, sekuat tenaga Alesha mencoba untuk menormalkan deru napas memburu saat meredam segala amarah yang membuncah.
'Sabar, Alesha. Jangan terpancing emosi karena ulah pria sialan ini. Bagaimana mungkin ia menuduhku sudah biasa berciuman, saat tadi hanya diam saja dan merasa shock. Astaga, seandainya sekarang aku ada di hutan, sudah langsung menarik rambutnya, menginjak kaki, mencakar kulit dan mengarahkan pukulan pada perut itu.'
Lamunannya seketika musnah saat mendengar suara bariton Rafael ketika kembali berteriak.
__ADS_1
"Alesha! Kenapa kamu berubah seperti orang bisu setelah aku cium tadi? Jangan menguji kesabaran seorang pria karena kamu akan menyesal." Rafael yang tadinya melangkahkan kaki dua langkah untuk semakin menunjukkan kuasa dan mengunci tatapan mata Alesha, kini mendekatkan wajah di dekat daun telinga wanita itu.
"Jangan pernah berpikir aku akan diam saja jika kau terus mengunci mulut seperti ini."
Rafael mengeluarkan ponsel dari saku celana dan mengaktifkan kamera. Kemudian mengarahkan bibir pada pipi putih Alesha. Kemudian langsung menekan tombol kamera beberapa kali
Hingga beberapa foto romantis mereka tercipta.
Hal yang sama sekali tidak pernah disangka tersebut, membuat Alesha seperti sedang dimanfaatkan oleh Rafael dan ia langsung mendorong dada bidang itu agar menjauh dari hadapannya.
"Apa maumu sebenarnya?"
"Tidak ada!" jawab Rafael yang kali ini masih sangat santai ketika memeriksa hasil gambar itu.
Ia tersenyum karena melihat wajahnya masih terlihat tampan. Kemudian mengirimkan gambar itu ke akun media sosial karena tidak ingin kalah bersaing dengan Arsenio yang tadi terlihat sangat romantis ketika keluar dari hotel.
'Aeleasha ... aku pun bisa melakukan hal sama sepertimu. Semoga kau melihat ini dan menghubungiku hari ini,' gumam Rafael di dalam hati yang saat ini tengah memberikan hukuman pada wanita dengan bibir tertutup rapat tersebut.
"Ternyata setelah dilihat-lihat, kita sangat serasi."
"Dasar pria gila! Aku bertanya apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau mengambil foto seperti itu dan mengunggah di media sosial?" umpat Alesha yang saat ini mengepalkan kedua tangan dan di saat bersamaan pintu lift terbuka.
"Kau akan menjadi istri dari seorang CEO Rafael Zafran. Memangnya apa lagi?"
Belum sempat ia menanggapi perkataan dari Rafael, pintu lift terbuka dan seketika membulatkan kedua mata begitu melihat pemandangan di depan mata.
To be continued...
Author kembali membawa Novel dari teman. Ada karya dari Author Navizaa dengan judul Jangan lupa masukkan ke rak baca, ya. Terima kasih 🙏
Blurb:
__ADS_1
Safara Maulida tidak pernah menyangka bahwa dia akan dilamar secara tiba-tiba oleh atasannya. Tentu saja Fara nama panggilan gadis itu merasa sangat bahagia, apalagi atasannya itu adalah cinta pertamanya di masa putih abu-abu. Namun, pernikahan itu tak berjalan dengan semestinya karena sikap Keill Abraham sangat dingin jika di rumah dan akan berubah hangat jika di kantor. Membuat Fara sangat kecewa dan menyesali hubungannya itu.