
Rafael yang seharian ini dipusingkan oleh pekerjaan, kini melihat sang istri yang menangis saat membayangkan hal-hal yang bahkan membuatnya merasa sangat iba sekaligus kesal.
Kini, ia langsung memeluk erat tubuh sang istri yang sudah menangis tersedu-sedu. "Sayang, jangan seperti ini. Nanti anak kita juga merasakannya."
"Seharusnya kamu berdoa agar diberikan kemudahan saat melahirkan dan bisa membesarkan putra kita bersama-sama. Apa kamu tidak ingin melihat pertumbuhan putra kita?" Masih mengusap lembut punggung belakang wanita yang ada di pelukannya.
Sementara itu, Alesha saat ini semakin mengeraskan tangisannya karena tentu saja ia tidak ingin mati dan sangat takut jika tidak bisa membesarkan putranya yang sudah dikandung selama 9 bulan di rahimnya.
"Tentu saja aku sangat ingin, Sayang," ucap Alesha sambil menangis tersedu-sedu. "Tapi aku takut jika terjadi sesuatu hal yang buruk. Jika nanti disuruh memilih, aku akan memilih untuk menyelamatkan anakku agar bisa melihat indahnya dunia."
Suaranya yang serak dan bulir air mata sudah mengenakan sungai di wajah, hingga membasahi piyama yang dikenakan oleh sang suami.
Sementara itu, Rafael saat ini sampai merasakan dadanya yang basah karena bulir air mata sang istri sudah menembus kulitnya.
Namun, ia tidak mengeluh karena fokus pada menenangkan perasaan wanita yang menurutnya terlalu berlebihan ketika membayangkan melahirkan.
'Harus bagaimana lagi aku menenangkan istriku yang sangat gelisah seperti ini? Apa semua wanita seperti ini saat akan melahirkan?' gumam Rafael yang sebenarnya merasa lega karena kehamilan dari sang istri sudah menginjak trimester akhir.
Ia berpikir akan segera bisa melihat putranya lahir ke dunia, tapi sama sekali tidak berpikir jika akan mengalami drama seperti ini.
'Apa aku tanya saja pada Aealeasha saja ya? Tapi ia bisa menjawab pertanyaanku jika dulu saat melahirkan tidak seperti istriku. Atau ia menahannya karena berpikir aku bukan siapa-siapa dan tidak berhak untuk mengeluh ataupun bermanja-manja?'
Rafael saat ini berpikir jika ia salah jika bertanya pada Aealeasha. 'Aku harus bertanya pada Arsenio. Apakah ia merasakan ini saat anaknya lahir dua minggu yang lalu?'
Ia berencana untuk menghubungi arsenio dan bertanya apakah Aealeasha bersikap berlebihan saat hendak melahirkan. Hingga ia mendengar suara dari sang istri yang saat ini sudah jauh lebih tenang karena tidak menangis lagi.
"Sayang, maafkan aku karena membuatmu tidak bisa tidur dengan tenang. Aku janji tidak akan berpikir macam-macam lagi dan akan memenuhi pikiran dengan energi positif."
"Aku akan berdoa agar diberikan kelancaran saat persalinan dan tetap bisa membesarkan anak kita serta melihat tumbuh kembangnya hingga dewasa nanti," ucap Alesha yang saat ini merasa berdosa karena ketakutan berlebihan seolah tidak percaya pada kuasa Tuhan.
Ia kini bangkit dari posisinya yang miring dan berniat untuk ke kamar mandi. Selama kehamilannya di trimester akhir ini, sering buang air kecil dan bolak-balik ke kamar mandi.
__ADS_1
Bahkan harus menahan beban berat tubuhnya ketika berjalan menuju ke kamar mandi selama masa kehamilannya.
"Aku makan cuci muka dan buang air kecil." Alesha bahkan saat ini agak kesulitan saat bangun dari posisinya yang berbaring miring.
Rafael seketika membantu sang istri dan berniat untuk menemani ke kamar mandi, tapi tidak diizinkan. "Aku benar-benar tidak tega melihatmu berjalan dengan kesusahan seperti ini, Sayang."
"Maafkan aku karena telah membuatmu kesusahan seperti ini karena menghamilimu. Aku dulu memang tinggal satu rumah dengan Aealeasha, tapi tidak terlalu melihat seperti apa iya saat malam hari karena memang tidur di kamar yang berbeda."
Alesha yang mengetahui hal itu karena sudah berkali-kali dijelaskan oleh sang suami dan juga ibu mertuanya, kini membiarkan sang suami menuntunnya ke kamar mandi karena ia ingin bermanja-manja saat ditemani.
"Makanya kamu sama sekali tidak tahu saat malam hari wanita hamil di trimester pertama itu gelisah sepertiku, bukan?" Kemudian sudah masuk ke dalam kamar mandi dan menyuruh sang suami menunggu di luar.
Rafael sama sekali tidak menuruti perintah sang istri dan tetap berjalan menemani masuk. "Aku sudah sangat hafal dengan bentuk tubuhmu. Jadi, tidak perlu malu padaku saat akan buang air kecil di depanku, Sayang."
Alesha mengerucutkan bibir saat sang suami berbicara vulgar. Akhirnya ia tidak bisa lagi berbicara untuk menolak perintah pria yang selalu perhatian padanya.
"Aku benar-benar tidak tahu karena memang tidak pernah tidur bersama dan ia juga terlihat kuat. Aealeasha tidak pernah mengeluh. Padahal saat itu usianya masih 19 tahun dan sudah melahirkan satu anak."
"Tidak perlu melakukannya, Sayang karena sepertinya aku sudah tahu alasannya." Alesha yang baru saja menyelesaikan ritualnya, kini bisa melihat raut wajah penasaran dari sang suami.
"Memangnya apa yang menjadi Aealeasha berbeda?" tanya Rafael yang ingin tahu.
Ia kini mencuci tangan sebelum keluar dari kamar mandi. "Aealeasha seperti itu karena keadaan yang memangsanya untuk dewasa. Ia bahkan merasa sendirian dan tidak Ingin mengeluh karena tidak ada tempat yang menampungnya."
"Sangat beda dengan aku yang bisa meluapkan apa yang kurasakan pada suami. Karena berpikir ingin sama-sama merasakan bagaimana susahnya perjuangan akan mempunyai seorang anak." Berbalik badan menatap sang suami yang kini kembali menuntunnya untuk berjalan keluar dari kamar mandi.
Alesha saat ini seolah di tempat dengan keadaan karena ia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan wanita luar biasa yang pernah sangat dicintai oleh sang suami.
"Aku menjadi sangat manja setelah memilikimu, Sayang. Aku benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Aealeasha." Ia kini perlahan mendaratkan tubuhnya di atas ranjang dan kembali untuk berbaring miring ke kanan.
Sementara itu, Rafael saat ini naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di hadapan sang istri. Ia bahkan bergerak untuk memijat bagian pinggang wanita yang sudah sangat luar biasa karena hamil benihnya.
__ADS_1
"Kalau Aealeasha itu dulu sangat dimanja dan mendapatkan banyak cinta dari orang tua, tapi semuanya hancur setelah ia berusia 12 tahun saat ibunya meninggal." Rafael bahkan mengetahui semua hal yang dialami oleh Aealeasha dari sang ibu yang dulu menjadi asisten rumah tangga di rumah wanita itu.
"Mendapatkan perlakuan jahat dari ibu tiri bahkan adalah makanan sehari-hari dan ia tidak pernah mengeluh pada ayahnya. Mungkin itulah yang kamu maksud dewasa karena keadaan dimulai saat itu." Ia pun saat ini masih bersitatap dengan sang istri.
Rafael tahu jika alesha dari kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang ayah. Karena itulah ia ingin menjadi seorang suami sekaligus pria dewasa untuk sang istri.
"Kalian sebenarnya serupa tapi tak sama karena memiliki ujian hidup masing-masing sesuai dengan takaran menurut versi Tuhan. Bahwa pepatah yang mengatakan Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi batas umat-Nya, itu benar."
Saat Rafael baru saja menutup mulut, mengerutkan kening ketika melihat sang istri yang meringis seperti menahan sakit.
"Aaarggh ...." Alesha tiba-tiba merasakan perutnya yang terasa sangat nyeri dan mengetahui bahwa itu adalah sebuah kontraksi.
Ia sudah mempelajari semua hal mengenai ciri-ciri ibu yang akan melahirkan. Bahkan saat ini rasa nyeri di perutnya semakin kuat.
Alesha kini memegangi perutnya yang membuncit. "Sayang, sepertinya anak kita mau keluar setelah aku mengatakan agar ia cepat keluar."
Rafael yang seketika bangkit dari ranjang dan bersiap untuk membawa sang istri ke rumah sakit. "Kalau begitu, kita ke rumah sakit sekarang, Sayang," ucapnya sambil membantu sang istri agar bangkit dari ranjang.
Ia tidak tega melihat wajah sang istri yang seperti menahan rasa sakit. Bahkan saat ini merasa seperti mengalami Dejavu karena dulu pernah mengalaminya saat mengantarkan Aealeasha ke rumah sakit saat mau melahirkan.
"Sayang, aku sebenarnya ingin menggendongmu. Tapi khawatir jika nanti malah menyakitimu jika aku tidak kuat. Itu benar-benar berisiko dan tidak ingin jadi apa-apa pada kalian. Kamu masih bisa jalan, kan?" Ia benar-benar merasa tidak berguna karena tidak bisa menggendong sang istri.
Alesha yang bisa mengerti pemikiran dari sang suami, kini menganggukkan kepala, tanda bahwa ia masih bisa berjalan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku masih kuat karena kontraksi ini baru dimulai dan sekarang sudah tidak terasa sakit seperti tadi." Alesha masih berusaha untuk mengambil napas teratur sesuai dengan apa yang dibacanya.
"Jangan lupa, bawa tas berisi pakaian anak kita." Ia menuju ke arah ruangan ganti di mana sudah menyiapkan perlengkapan bayi karena disuruh oleh sang ibu agar lebih mudah jika sampai sewaktu-waktu kontraksi.
Rafael saat ini langsung melaksanakan perintah sang istri agar bisa segera berangkat ke rumah sakit dan perasaannya benar-benar tidak karuan melihat wanita yang sangat dicintainya sebentar lagi akan melahirkan keturunannya.
'Ya Allah, lancarkanlah semuanya dan selamatkanlah ibu dan anakku agar bisa berkumpul menjadi keluarga yang lengkap.'
__ADS_1
To be continued...