I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Gangguan


__ADS_3

"Ibu, kenapa harus pergi sekarang? Padahal mama sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran di sini." Alesha yang kini sudah berdiri di dekat mobil berwarna hitam yang akan mengantarkan sang ibu ke rumah atas perintah Rafael.


Alesha sebenarnya merasa sangat kecewa karena sang ibu seolah buru-buru ingin segera pergi dari rumah keluarga Rafael. Padahal ia sangat tahu bahwa tidak ada yang keberatan jika ibunya tinggal di sana.


Bahkan tadi Tiana sudah melarang agar tidak pergi dan tinggal di sana, tapi sang ibu sama sekali tidak memikirkan ketika memberikan jawaban atas perkataan mertuanya yang menginginkan bisa tinggal bersama dengan sang ibu.


Hingga keputusan sang ibu membuat ibu mertuanya kesal dan tidak mau mengantarkan kepergian, sehingga hanya ia yang berada di sana.


"Ibu tidak bisa tidur di rumah megah ini. Semalaman Ibu hanya memikirkan rumah karena meskipun sederhana, lebih nyaman berada di sana." Lia Nurani kini mengusap lembut lengan putrinya.


"Kamu harus bersikap baik mertua dan suami karena mulai hari ini akan tinggal di rumah mewah keluarga Zafran. Meskipun Ibu tahu tidak mudah untuk tinggal di rumah mertua, tapi berharap kamu bisa melaluinya."


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Alesha pada sang ibu. Apakah dulu ibunya merasakan tinggal di rumah mertua setelah menikah atau tidak. Namun, ia tidak bisa melakukan hal itu karena khawatir sang ibu akan terluka.


Ia tahu jika wanita yang sangat disayanginya itu tidak pernah menceritakan mengenai pihak kakek nenek dari pihak ayah dan merasa ada banyak rahasia yang ditutupi. Jadi, memilih untuk tidak bertanya macam-macam.


"Baiklah, kalau memang ibu merasa tidak nyaman tinggal di sini. Ternyata harta kekayaan suamiku tidak bisa mengalahkan kenyamanan rumah kita."


Alesha pun memeluk sang ibu dan berusaha untuk tidak menangis di depan wanita paruh baya itu. Tadi ia menyuruh Rafael masuk ke dalam saat ikut mengantarkan sang ibu ke mobil dengan alasan ingin berbicara empat mata.


Jadi, kini hanya berdua dengan sang ibu di halaman rumah. Sebenarnya Alesha ingin menangis tersedu-sedu di pelukan sang ibu dan menceritakan mengenai sesuatu hal yang berhubungan dengan rumah tangganya bersama Rafael.


Namun, tidak bisa melakukannya karena sang ibu bukanlah seseorang yang bisa mengerti bagaimana posisinya saat ini. Bahwa ia dilanda kegundahan luar biasa karena Rafael.


"Aku akan sering datang mengunjungi Ibu." Alesha kini melepaskan pelukannya dan mengusap lembut punggung tangan wanita paruh baya di hadapannya. "Jaga kesehatan Ibu."

__ADS_1


Lia Nurani kini tersenyum simpul saat mendapatkan perhatian penuh dari putrinya. "Tentu saja. Tidak perlu khawatir karena menantu telah mengirimkan perawat untuk menjaga dan menemani Ibu."


"Padahal itu terlalu berlebihan karena Ibu sudah sembuh total. Namun, Ibu menghargai niat baik menantu dan kamu pun harus melakukan hal sama pada suamimu."


Alesha hanya bisa mengangguk perlahan atas perintah dari sang ibu yang kini masuk ke dalam mobil. Ia hanya diam sambil melambaikan tangan ketika melihat mobil yang di dalamnya ada sang ibu telah bergerak menuju ke arah pintu gerbang utama.


"Ibu, ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu, tapi sayangnya tidak bisa melakukannya." Saat Alesha tengah melihat mobil yang mulai menghilang di balik pintu gerbang tinggi menjulang itu, ia seolah enggan beranjak dari sana dan bertemu lagi dengan Rafael.


Saat sendirian, Alesha hanya mengingat kejadian yang terjadi dengan Rafael. Merasa sangat bingung harus bagaimana saat menghadapi pria yang berhasil membuat perasaan tidak menentu.


Saat mengembuskan napas kasar, Alesha merasakan ada yang menepuk pundak dan seketika menoleh ke belakang.


"Maafkan Mama, Alesha." Tiana yang tadi berada di dalam rumah dan tidak ingin mengantarkan besan, buru-buru keluar begitu mobil sudah melaju pergi.


"Mama? Kenapa Mama harta minta maaf?" tanya Alesha yang kini makin dibuat bingung dengan sikap mertua.


Tiana yang kini menyesali perbuatan kekanak-kanakan pada besannya, ingin meminta maaf sebagai bentuk ketulusan.


"Masuklah sekarang! Mama akan pergi ke rumahmu untuk menemui besan." Kemudian Tiana kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas sebelum pergi ke tempat besan.


Alesha yang makin dibuat bingung oleh dua wanita paruh baya tersebut, seolah ingin saling menghibur, seolah menjelaskan jika keduanya sangat cocok.


Namun, ia pun sekaligus tahu jika keduanya sama-sama saling menyayangi.


"Mama dan Ibu adalah para malaikat berhati peri. Keduanya sangat baik. Aku sama sekali tidak tahu jika yang terjadi adalah mereka punya kelemahan yang sama."

__ADS_1


Saat ia menuju ke arah pintu utama dan berniat untuk pergi ke dapur karena ingin membereskan semuanya, mendengar suara dari sang ibu mertua yang sudah sangat rapi.


"Mama mau ke mana dengan penampilan rapi seperti itu?" Rafael kebetulan berada di ruang tamu dan melihat sang istri yang bersikap seolah tidak tahu apapun.


"Mama ingin pergi menginap di tempat besan bersama dengan para saudara yang mau menemani agar suasana rumah tidak sepi."


"Apa? Menginap?" Rafael membulatkan mata karena tidak percaya dengan sikapnya yang konyol saat ini.


"Iya, kenapa? Harusnya kamu senang karena kami memberikan waktu untuk berduaan dengan istrimu agar bisa segera memberikan kami cucu." Tiana kini terdiam untuk melihat respon dari putra dan menantunya.


'"Maafkan aku karena selama ini belum pernah bisa membahagiakanmu, Ma."


Rafael saat ini merasa bersalah karena sebentar lagi akan berpisah dengan wanita yang kini tengah menatapnya.


"Aku akan berusaha, tapi jika Alesha belum hamil juga, jangan terus menyudutkannya. Itu sangat menyakitkan bagi seorang wanita. Aku tidak ingin istriku terluka perasaannya karena terbebani dengan masalah keturunan."


Kemudian Rafael berakting tersenyum simpul pada Alesha dan kembali membuka suara. "Bukankah begitu, Sayang?"


Alesha sebenarnya merasa sangat risi dengan perbuatan dari Rafael kala tiba-tiba memeluknya di depan mertua, tapi tidak bisa mengungkapkan nada protes di hadapan mertua, sehingga kini berakting tersenyum.


"Aku tahu perasaan Mama karena sama dengan ibuku yang selalu membahas cucu. Jadi, sudah tidak terkejut dengan sikap Mama."


"Terima kasih sudah mencoba mengerti, Sayang." Rafael yang masih memeluk Alesha di depan sang ibu, kini mendengar suara dari beberapa saudara.


"Ayo, kita berangkat sekarang, Kak karena kami sudah siap."

__ADS_1


"Baiklah. Kami berangkat dulu, Sayang." Tiana kini berbalik badan dan mengajak dua wanita lain ikut dengannya untuk pergi ke tempat besan. Ia ingin bebas berbicara tanpa ada gangguan putra dan menantunya.


To be continued...


__ADS_2