I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Tatapan kosong


__ADS_3

"Halo, Bos. Saya sudah menemukan orang yang telah menyebabkan kecelakaan orang tua Anda," jawab sang detektif dari seberang telpon.


"Jangan bertele-tele, cepat katakan!" sarkas Arsenio yang mengibaskan tangan pada dua pria di hadapan agar pergi dari ruangan.


"Jebloskan dia ke penjara!" Arsenio mengarahkan jari telunjuk pada sang pengkhianat dan menyuruh sekertaris mengurus.


"Siap, Bos." Sang sekretaris langsung mencengkeram erat kerah pakaian Max dan menyeret keluar dari ruangan.


"Tolong maafkan saya, Bos," teriak Max yang merasa sangat takut merasakan dinginnya sel. Ia benar-benar merasa serba salah karena dulu juga diancam oleh keponakan dari pemilik perusahaan.


Jadi, mau tidak mau, lebih membela keponakan yang masih memiliki hubungan darah daripada Arsenio yang hanya anak angkat. Namun, sama sekali tidak pernah menyangka jika akan dijebloskan ke penjara oleh Arsenio.


Sementara itu, Arsenio yang kini masih fokus mendengarkan penjelasan panjang lebar dan berputar-putar dari detektif, seolah ingin membuatnya bingung.


"Aku tidak butuh kau menceritakan apa yang dilakukan pelaku sebelum menabrak orang tuaku. Cepat katakan siapa wanita itu karena aku akan membalas dendam!" Arsenio terlihat mengepalkan tangan kanan dengan wajah memerah karena merasa tidak sabar untuk mengetahuinya.


"Bos, wanita yang menabrak orang tua Anda sudah meninggal dan ternyata adalah istri Cakra Charlotte dan tak lain ibu dari istri Anda."


Refleks Arsenio seketika menjatuhkan ponsel dalam genggaman tangan dan terhempas lantai hingga layar depan retak.


Panggilan telpon masih tersambung dan Arsenio tidak mampu untuk meneruskan panggilan tersebut karena saat ini benar-benar sangat shock.


Bahkan jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal. Seperti hendak melompat dari tempatnya saat ini. Hingga ia seketika tertawa terbahak-bahak dengan bola mata berkaca-kaca.


Namun, tidak sampai menghasilkan bulir air mata membasahi wajah dengan rahang tegas itu. Kemudian Arsenio sudah berjalan menuju ke arah meja dan mengempaskan tangan pada semua barang di atas meja.

__ADS_1


"Tidak mungkin!" teriak Arsenio yang sudah membanting komputer hingga bernasib nahas. Seolah nasib benda tersebut tak jauh beda dengan hatinya yang hancur saat ini.


"Tidak mungkin orang yang membunuh orang tuaku adalah ibu dari istriku —wanita yang sangat kucintai," lirih Arsenio yang kini melihat dengan tatapan kosong pada semua barang-barang yang berserakan di lantai.


Urusan di New York tidak berjalan lancar begitu saja. Banyak hal yang dilakukan oleh Arkan di sana, salah satunya melakukan proses penyelidikan.


Dalam beberapa detik saja, ia menemukan orang-orang yang ingin dicari. Mulai dari pembunuh orang tuanya dan juga penyebab perusahaan bangkrut.


Semua berlalu dengan cepat setelah beberapa hari di Jakarta. Sekarang, ia sudah kembali ke New York dan dihantam beban berat hingga membuatnya semakin hancur tak tersisa.


'Apa yang harus kulakukan? Rasanya sekarang semua hancur dan tak bersisa.' Arsenio merasa sesak untuk bernapas dan mengingat jika tadi berjanji pada Aeleasha akan pulang hari ini. Arsenio kini menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak bisa bertemu istriku yang ternyata adalah putri dari pembunuh orang tuaku. Ayah, ibu, maafkan putramu. Kalian pasti menangis dari sana karena aku hidup bahagia bersama putri dari pembunuh kalian."


Wajah Arsenio benar-benar terlihat sangat mengenaskan dan suara menyayat hati. Ia kini hanya diam di lantai dengan tatapan kosong. Tidak tahu apa yang harus dilakukan begitu mengetahui kenyataan pahit yang dialami.


Mengenai masalah Aeleasha, ia ingin menyelesaikan dengan kepala dingin karena saat ini tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak bisa dipungkiri jika ia sangat mencintai Aeleasha, tapi juga merasa bersalah pada orang tuanya.


Karena merasa masalah perusahaan jauh lebih penting karena beban berat di pundak ketika harus menanggung hidup banyak orang, Arsenio memilih untuk fokus menyelesaikan pekerjaan.


Seperti saat ini, ia memilih menyelesaikan tugasnya di kantor dan menghubungi orang untuk membereskan kekacauan yang dibuatnya.


Kali ini wajahnya terlihat murung dan ia tidak semangat menjalani hidup.


Apalagi ada kasus dan berita yang beredar tentang perusahaan yang kini mulai jatuh dan memiliki banyak isu buruk.

__ADS_1


Usahanya untuk membangun dan memajukan perusahaan, akhirnya dipatahkan oleh seseorang yang memiliki niat jahat untuk memfitnah dan memberikan sebuah kabar yang sangat buruk tentang perusahaan miliknya.


Padahal, selama ini merasa jika ia tidak pernah mengusik seseorang dan semua berita yang terjadi pada perusahaannya sangat membuat dia shock dan heran


Kesalahan apa yang pernah ia perbuat, sehingga ada seseorang yang sangat dendam kepadanya.


Setelah berpikir ulang, Arsenio tidak perlu heran ataupun bertanya-tanya. Ia menganggap jika apa yang telah diterima sekarang adalah sesuatu hal yang wajar karena setiap kesuksesan seseorang, pasti ada saja yang tidak menyukai. Itu adalah hal yang wajar dan tidak perlu heran.


“Ternyata apa yang selama ini aku usahakan, kandas begitu saja. Bagaimana mungkin tidak ada celah untuk aku bisa bebasdari neraka ini?”


Dari maksud perkataan Arsenio seolah-olah menyayangkan jika hidupnya masih diawasi oleh orang yang tidak menyukai. Walaupun ia tahu jika di dunia ini, ada yang tidak suka, tetapi masih berusaha menganggap semua orang menyukainya.


“Mungkin dari sini, aku bisa belajar. Jika tidak semua orang baik dan aku memiliki banyak pelajaran untuk bersikap dan berjaga-jaga ke depannya.”


Hingga malam telah tiba dan Arsenio memilih untuk meninggalkan ruangan dan membereskan berkas-berkas yang ada di atas meja.


Tatapannya tidak fokus pada sesuatu yang dikerjakan karena sejak tadi pikirannya sudah mengajak untuk pulang menemui sang istri dan seperti tidak ada gairah untuk bisa bekerja lagi di kantor.


Harapan besarnya seolah sudah pupus. Apalagi para pemilik saham telah menganggapnya sebagai nama yang cacat.


Seperti tidak ada lagi harapan untuknya bisa membangun bisnisnya lebih maju karena saat ini tahu banyak yang tidak suka dan berusaha menjatuhkannya. Bahkan rumah tangganya terancam saat mendengar kenyataan pahit mengenai sang istri yang merupakan putri dari pembunuh orang tuanya.


Selama berjalan, Arsenio berpikir jika saat ini ingin melihat Aeleasha. Ia ingin tahu bagaimana perasaannya setelah melihat wanita yang sangat dicintai.


'Apakah aku hanya akan melihat cintaku padamu yang begitu besar, ataukah hanya tersisa kebencian semata karena mengingat jika kau adalah putri dari wanita yang telah membunuh orang tuaku?' gumam Arsenio yang saat ini berjalan menuju ke arah pintu keluar dan langsung masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lobi perusahaan.

__ADS_1


Tatapan matanya kosong karena saat ini sedang dilanda oleh kegundahan luar biasa saat mengingat hari ini benar-benar sangat berat untuknya.


To be continued...


__ADS_2