
Selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, perasaan Rafael dipenuhi kekhawatiran mengenai bagaimana keadaan Aealeasha. Ia sangat khawatir dengan keadaan mantan istrinya.
Meskipun tadi ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Alesha mengenai tujuan sebenarnya karena khawatir jika kembali marah-marah dan berbuat hal di luar nalar.
"Lebih baik aku tidak mengatakan padanya kalau sebenarnya selama ini Aealeasha ada di Jakarta dan mengalami masalah dengan Austin."
Rafael yang kini fokus mengemudi, sekilas mengingat tentang kejadian beberapa saat lalu. Mengenai momen intim yang mereka lakukan dan membuatnya merasa seperti sebuah candu.
Bahkan ia kini meraba bibirnya saat mengingat momen liar yang dilakukan dengan penuh gairah. Refleks Rafael menepuk kepala untuk menyadarkan dirinya agar fokus mengemudi.
"Fokus, Rafael! Apa kau mau mati karena mengalami kecelakaan saat asyik memikirkan perbuatanmu pada Alesha?" Rafael mengingat satu hal mengenai sesuatu yang dirasakan ketika menikmati bibir Alesha.
"Sial! Mungkin jika tidak ada yang menelpon dan mengabarkan mengenai keadaan Aealeasha, pasti sudah berakhir lebih jauh. Aku mungkin sudah melakukannya."
Rafael kini mengempaskan tangan karena meluapkan amarah ketika tidak bisa menahan diri. "Alesha membuatku bernafsu dan ingin menikmati tubuhnya. Kenapa aku jadi segila ini?"
"Padahal aku tidak pernah melakukan hal segila ini pada Aealeasha dulu. Mungkin ini semua karena aku marah padanya atas sikapnya yang kekanak-kanakan dan mempermalukanku di depan para sanak saudara."
__ADS_1
Rafael yang masih sibuk memikirkan dua hal, yaitu mengenai perbuatannya pada Alesha dan juga keadaan mantan istrinya. Ia benar-benar sangat pusing, tapi saat ini jauh mengkhawatirkan wanita yang berakhir di rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, Rafael yang sudah tiba di rumah sakit, kini langsung memarkirkan mobil di tempatnya. Kemudian berlari menuju ke ruangan gawat darurat.
Tidak sulit baginya untuk menemukan wanita yang sangat ia khawatirkan dan begitu melihat baby sitter menunggu di luar bersama dengan anak laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai putra kandungnya.
"Putra Papa ada di sini rupanya. Arza tenang saja karena mommy pasti baik-baik saja." Rafael refleks menggendong Arza dan mencium pipi kanan kiri.
Ia bisa melihat jika anak dalam gendongannya tersebut tengah mengkhawatirkan sang ibu, sehingga berusaha untuk menghibur dengan cara memeluk erat dan mengusap lembut rambut hitam itu.
Sementara itu, wanita yang saat ini masih menjaga Arza dan segera bangkit berdiri ketika melihat pria tampan yang jarang ditemui akhir-akhir ini.
"Tuan Rafael, anak kecil dilarang masuk, jadi saya menjaga di luar ruangan. Tadi saya bersama dengan salah satu pegawai restoran dan sekarang tengah mengurus administrasi."
Merasa bahwa bukan itu yang ingin diketahui, kini Rafael menatap dengan sangat tajam. "Bagaimana bisa Aealeasha pingsan? Apa ia tidak makan?"
Saat Rafael baru saja menutup mulut, mendengar suara seorang wanita yang keluar dari ruangan gawat darurat.
__ADS_1
"Dengan keluarga pasien Aealeasha!"
"Saya keluarganya!" Refleks Rafael menyerahkan Arza pada baby sitter. "Biar aku yang urus semuanya. Lebih baik kamu pulang saja dengan membawa Arza. Di sini banyak virus dan bisa menyerang imunitas Arza."
Rafael kini mencium kening anak laki-laki yang selalu membuatnya sangat menyayanginya.
Kemudian masuk ke ruangan setelah baby sitter menganggukkan kepala penuh keraguan. Hingga ia pun bertemu dengan dokter jaga yang menangani mantan istri.
"Apa Anda adalah suaminya?" tanya seorang dokter wanita yang menangani pasien. Tanpa membuang waktu, Rafael langsung berbicara pada intinya.
"Iya, saya suaminya." Mengulas senyuman untuk menyembunyikan perasaan berkecamuk di dalam hati.
"Jadi, Anda sudah tahu jika istri tengah hamil dan mengalami stres?"
Wajah Rafael kini dipenuhi oleh berbagai macam kemurkaan begitu mengetahui kenyataan pahit menimpa mantan istrinya.
To be continued...
__ADS_1