
Beberapa saat kemudian, Alesha mengerlingkan kedua obsidiannya. Mengembuskan napas kecil, ia seketika merobek cek itu menjadi dua bagian. Suaranya terdengar nyaring, membuat kedua borjuis itu seketika menoleh dengan tatapan terkejut.
Merasa puas menarik perhatian mereka, Alesha menumpuk kedua sobekan itu menjadi satu, lantas kembali menyobeknya menjadi dua bagian. Kemudian menjadi empat bagian, delapan bagian, sampai kertas itu menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak terbaca lagi isinya.
Kedua orang tua Alex yang duduk di hadapannya semakin dibuat geram. Mereka berdua kini menatap Alesha nyalang.
"Apa yang kamu lakukan?" bentak wanita dengan rambut rapi tergelung ke atas dan penampilan elegan karena segala sesuatu yang menempel di tubuh jelas merupakan barang-barang mewah dan limited edition.
Matanya terbelalak, jelas sekali darahnya sedang mendidih kala melihat wanita yang dianggapnya murahan itu merobek cek berisi uang yang jumlahnya cukup lumayan tinggi bagi kalangan kelas bawah.
Sementara itu, Alesha hanya membalas tatapannya sembari mendengus.
"Saya tidak membutuhkan semua ini!" ucapnya tegas.
"Kamu benar-benar tidak tahu diuntung, ya?" Pria dengan setelan jas rapi itu kini menghardik dengan rahang mengeras dan bunyi gemeretak gigi yang saling bertautan.
Alesha kini menghela napasnya. "Mohon maaf, Tuan dan Nyonya. Saya sedari tadi sudah menahan diri dari segala hinaan yang Anda berikan. Saya sudah berusaha menahan diri untuk tidak berbuat kurang ajar, tetapi untuk kali ini, merasa kalian sungguh keterlaluan." Alesha menatap tuan dan nyonya itu satu persatu.
"Jika kalian berpikir saya adalah orang murahan yang bisa disingkirkan dengan uang, maka kalian salah. Saya tidak akan menerima sepeser pun pemberian yang diberikan atas penghinaan." Kemudian Alesha mengakhiri pertemuan.
Ia lantas bangkit dari tempat duduknya. Meninggalkan kedua orang tua Alex dengan perasaan marah yang berkecamuk dalam dadanya.
Alesha selalu tidak habis pikir, mengapa orang-orang kaya selalu merasa dunia berada di bawah pijakannya. Mereka menganggap menginjak-injak orang miskin adalah pantas, dan menghinanya adalah wajar. Mereka selalu merasa derajat mereka lebih tinggi dari pada si miskin.
Itulah salah satu sebabnya, mengapa Alesha begitu panik dan takut ketika Rafael tiba-tiba mengajaknya ke rumahnya untuk diperkenalkan sebagai calon istri kepada ibunya.
Melihat bagaimana posisi Rafael, tentu saja menjadi pertanyaan besar dan menjadi kekhawatiran sendiri tentang bagaimana keluarganya.
Oleh karena itu juga mengapa Alesha spontan berbohong mengenai ibunya yang sedang berada dalam perjalanan bisnis. Selain karena ia tidak mau kondisi keluarganya diketahui orang lain, juga tidak ingin kejadian serupa terulang kembali padanya.
Wanita itu kini menghela napasnya. Kembali mengingat kejadian di masa lalu itu benar-benar membuatnya emosi. Ditambah lagi noda di celananya yang sangat sulit untuk dihilangkan, membuatnya semakin tidak sabaran.
Alesha kini kembali fokus membersihkan celananya, tetapi sayang sekali, tisunya sudah habis. Kini hanya tersisa satu lagi tisu yang sedang ia gunakan.
Sampai kemudian terdengar suara heels yang beradu dengan lantai toilet, nyaringnya terdengar menggema di seisi ruangan area wastafel yang cukup luas itu. Wanita itu kemudian berjalan semakin dekat, mendekat tepat ke arah Alesha.
"Hai." Wanita itu menolehkan kepalanya. "Ah, ternyata benar wanita yang tadi," lanjutnya.
Alesha menoleh bingung. "Ada apa?" tanyanya.
Wanita itu tersenyum kikuk. "Perkenalkan, namaku Stella. Melihatmu tadi sepertinya sangat kesulitan. Jadi, aku mengikutimu sampai ke sini. Ah, larimu ternyata cepat sekali."
Alesha balas tersenyum. "Perkenalkan juga, namaku Alesha. Aku tidak apa-apa. Terima kasih."
__ADS_1
Sementara itu, wanita yang baru saja memperkenalkan diri dengan nama Stella itu kemudian merogoh tas selempangnya. Ia lalu mengeluarkan selembar sapu tangan dari sana.
"Pakailah. Tisumu sepertinya sudah habis dan tidak bisa dipakai lagi."
Alesha menerima sapu tangan itu dengan ragu, tetapi ia memutuskan untuk menerimanya karena noda di celananya masih tidak mau menghilang juga.
"Terima kasih. Akan kukembalikan setelah kucuci di rumah," ucapnya lalu kembali fokus membersihkan noda di celananya lagi.
"Tidak perlu. Sebenarnya itu barang jualanku." Wanita itu menolak Alesha.
Alesha seketika mengernyitkan dahinya. "Maksudnya?"
Stella tertawa kecil. "Harganya lima belas ribu."
Alesha refleks menganga kecil. Ternyata. Padahal ia sempat takjub dengan kebaikannya, tetapi ternyata wanita itu ingin mengambil keuntungan di tengah kesialannya.
"Baiklah, aku bayar setelah ini selesai." Alesha berucap dengan suara sedikit pelan.
"Tidak perlu juga karena aku baru saja melihat sesuatu yang seru. Jadi, itu gratis untukmu," tolak Stella lagi-lagi.
Alesha kini berdecak merasa dipermainkan. "Ayolah, apa maksudmu?" keluhnya.
Wanita itu kembali tertawa kecil. Ia kemudian melihat-lihat sekeliling. "Untunglah tidak ada orang," ucapnya, kemudian mengarahkan pandangannya pada Alesha.
Stella menggeleng kecil. "Sebenarnya tidak ada apa-apa, tetapi sebagai senior, aku hanya ingin memberimu saran. Kamu mahasiswa baru, kan?" tanya wanita itu memastikan dan dibalas anggukan oleh Alesha.
"Kamu tahu belum kalau orang yang tadi itu dosen di sini?" tanya Stella lagi.
Alesha menggeleng perlahan karena memang tidak pernah mengetahui jika ternyata mantan sugar daddy-nya adalah dosen.
"Maksudmu, yang mana?" tanyanya skeptis dan berpura-pura bodoh.
"Astaga! Itu pria yang sepatunya kamu lap, lalu dia menyuruhmu bangun." Stella menjawab cepat.
Alesha membelalakkan matanya dan mengumpat di dalam hati. 'Alex? Alex Claire adalah dosen di sini? Mampus. Gawat sudah, hidupku sepertinya akan berakhir.'
"Kamu yakin?" tanya Alesha memastikan.
Stella menghela napas. "Mana mungkin aku bohong. Asal kamu tahu saja, ya. Lebih baik kamu tidak berurusan dengannya lagi setelah ini. Sebisa mungkin jangan menampakkan wajahmu lagi di hadapannya sampai dia lupa."
Alesha mengernyit bingung, dan perasaannya tidak enak. "Memangnya kenapa?"
"Aku pernah berurusan dengannya dan berakhir mengulang di kelasnya. Dosen satu itu memang penyiksa mahasiswa," keluh Stella.
__ADS_1
Alesha hanya bergeming, mencoba mencerna perkataan Stella pelan-pelan. Sampai kemudian wanita itu kembali menyeletuk.
"Tunggu dulu, kamu bukan mahasiswa dari Fakultas Bahasa, kan?"
Mendengar pertanyaan Stella, sontak membuat Alesha tersentak. "Sayangnya … iya," jawabnya dengan intonasi melemah.
Stella membulatkan mulutnya. "Astaga, habislah kamu!"
Tentu saja kini Alesha hanya bisa meringis sekaligus merasa kebingungan. "Apakah semengerikan itu?" tanyanya ragu.
Mulutnya mengatakan pertanyaan demikian, tetapi hatinya menjawab dengan pasti. Tentu saja. Sekarang kekhawatirannya meningkat berkali-kali lipat.
Stella yang tidak dikenalnya saja dibuat sampai mengulang kelas. Apa kabar dengan Alesha yang mana adalah mantan sugar baby-nya?
"Aku sungguh mengatakan yang sebenarnya. Itu adalah pengalaman terburukku selama kuliah." Stella mendengus dengan wajah kesal. "Namun, untungnya aku sekarang sudah lulus dari mata kuliahnya. Apa kamu tahu hal yang lebih mengejutkan lagi?"
Alesha seketika menoleh dan merasa sangat tertarik. "Apa?"
"Pak Alex itu mengalami amnesia disosiatif. Dia pernah mengalami kecelakaan, sehingga membuatnya seperti itu. Ya, aku merasa kasihan sedikit, tetapi sepertinya akibat kecelakaan itu, pola pikirnya semakin parah."
Stella membeberkan informasi, dan berakhir meracau sendiri.
Sementara itu, Alesha kini lagi-lagi melebarkan matanya. "Apa kamu bilang? Dia, mengalami amnesia?"
Stella mengangguk yakin. Dalam raut wajahnya sama sekali tidak ada keraguan yang memungkinkan ucapannya hanya membual dan bercanda.
Berbeda dengan tanggapan Alesha kini merasa lemas seketika. Pantas saja ada yang aneh ketika Alesha menatap Alex beberapa saat lalu. Tatapannya jelas seperti tidak mengenalinya, tetapi ia baru menyadari hal itu.
Akan tetapi, bukankah itu hal yang sedikit menguntungkan?
Alesha tidak bermaksud senang atas kecelakaan yang telah dialami Alex, tetapi ia hanya berpikir kalau mantan sugar daddy-nya mengalami amnesia, setidaknya ia lupa segala hal tentangnya—termasuk mengenai ia yang pernah menjadi sugar baby-nya.
Bukankah itu artinya, sekarang sudah tidak ada lagi yang mengetahui sisi kelamnya.
Mungkin saja Alesha bisa merasa tenang sedikit.
Ya, kini Alesha bisa bernapas lega begitu mendengar penjelasan dari wanita yang tak lain bernama Stella. Ia merasa semesta seperti sedang mendukungnya dan ketakutannya sama sekali tidak terjadi.
'Syukurlah. Ternyata musibah yang menimpa Alex menjadi berkah bagiku. Apakah aku adalah orang yang jahat? Karena merasa bersyukur ketika ia mengalami amnesia disosiatif yang akhirnya tidak bisa mengingatku?'
'Padahal aku sudah bersusah payah untuk melupakannya, tetapi saat berhasil, ia muncul lagi tepat di hadapanku. Apa yang harus kulakukan sekarang?' gumam Alesha dengan perasaan yang berkecamuk dan bingung untuk menata hatinya saat ia bertemu dengan mantan sugar daddy yang dulu membuatnya jatuh cinta.
To be continued...
__ADS_1