I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Hamil


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Alex merasa sangat terkejut dengan pengakuan dari wanita yang ternyata datang bukan untuk kembali padanya, tapi terlihat memutuskan hubungan dengannya karena perasaan sudah berubah.


Alex merasa sangat sock dan seolah tidak percaya ada semua yang harus terjadi dengarnya.


Hingga bunga serta kotak perhiasan berisi cincin lamaran, seketika lolos dari tangannya begitu mengetahui bahwa wanita itu berlalu pergi tanpa merasa ragu untuk menoleh ke belakang lagi.


Namun, ia seketika membulatkan mata begitu melihat wanita yang telah membuatnya patah hati itu pingsan di depan pintu dan membuatnya berteriak, "Alesha!"


Kemudian berlari secepat kilat untuk merengkuh tubuh lemah yang sudah tidak berdaya tersebut ke atas lengannya.


"Alesha, apa yang terjadi denganmu, Sayang?" Alex benar-benar sangat khawatir dengan keadaan wanita yang sudah kehilangan kesadaran tersebut dan berniat untuk membawa ke rumah sakit.


Sementara itu, sosok wanita paruh baya serta sang suami seketika berjalan cepat menghampiri putra mereka.


"Apa wanita murahan ini sedang berpura-pura pingsan untuk mendapatkan perhatianmu?" sahut Ana yang tadinya merasa sangat senang begitu mengetahui pengakuan wanita yang sangat dibencinya tersebut telah memutuskan hubungan dengan putranya.


Namun, kini kembali merasa curiga begitu melihat mantan sugar baby putranya telah pingsan di depan pintu. 'Kenapa ia harus punya di hadapan putraku, sehingga tidak tega dan kini berniat menolong meski sudah disakiti dengan ditolak lamarannya.'


'Menyebalkan sekali!' sarkas Ana yang saat ini merasa semakin bertambah kesal karena putranya sama sekali tidak perduli padanya dan terus berjalan menuju ke arah pintu keluar sambil menggendong wanita yang sudah tidak sadarkan diri tersebut.


Sementara itu, Robert yang berjalan di sebelah sang istri, kini menatap tajam dan ingin memberikan sebuah petuah agar patuh padanya agar tidak bersikap berlebihan pada wanita yang masih tidak sadarkan diri itu.


"Jaga mulutmu karena aku tidak ingin putus aku kembali mengalami sesuatu hal yang buruk karena terluka oleh perasaan cintanya pada wanita itu," seru Robert yang kini mau memencet remote mobil sebelum masuk ke dalam begitu tiba di parkiran.


Ia sudah melihat putrinya baru saja membaringkan wanita yang sangat dibenci istrinya di kursi belakang, sehingga berniat untuk mengikuti dan yakin bahwa akan menuju ke rumah sakit.


Sementara itu, Ana yang saat ini menatap malas pada sang suami karena tiba-tiba berubah sikap mendukung wanita yang sangat dibenci. Ia membanting pintu setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah sang suami yang sudah menyalakan mesin mobil.


"Kenapa kau ini tiba-tiba berubah melihat wanita liar itu? Seharusnya mendukung istrimu agar putramu selamat dari godaan wanita murahan yang sama sekali tidak pantas untuk menjadi menantu di keluarga kita."


Merasa berdebat dengan sang istri yang sangat keras kepala dan selalu ingin menang sendiri, Robert saat ini hanya diam dan memilih untuk fokus mengemudikan kendaraan mengikuti mobil putranya.


Sementara itu di sisi lain, Alex yang sesekali melirik ke arah spion untuk melihat keadaan dari wanita yang tengah tidak sadarkan diri itu, merasa sangat khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada Alesha.


"Alesha, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu malah pingsan setelah memutuskan hubungan denganku? Kenapa kamu bisa sekejam ini dan sekarang berubah lemah tidak sadarkan diri. Apa yang harus kulakukan sekarang saat hatiku sangat hancur mengetahui kenyataan pahit ini?"


Alex menambah kecepatan mobil karena ingin segera tiba di rumah sakit agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada wanita yang baru saja memutuskan hubungan dengannya.


Selama fokus mengemudi, pikirannya saat ini tanya-tanya mengenai siapa sosok pria yang dimaksud oleh Alesha tadi.

__ADS_1


'Siapa pria yang telah merebutmu dariku? Siapa dia yang telah mengambil posisiku di hatimu? Apa pria itu adalah si berengsek Rafael? Tapi tadi Alesha mengatakan bahwa ia sudah ditalak oleh suaminya yang tak lain adalah Rafael? Lalu, siapa yang dimaksud oleh Alesha?'


Alex saat ini dikuasai oleh berbagai macam pertanyaan di pikiran dan ingin bertanya pada wanita yang masih pingsan di belakang sana setelah sadar.


Ia butuh penjelasan secara lengkap agar mengerti apa yang harus dilakukan olehnya untuk ke depannya. Karena sejujurnya tidak rela melepaskan wanita yang sudah berstatus sebagai janda tersebut.


Alex saat ini berpikir bahwa ingin merebut hati Alesha lagi agar kembali mencintainya seperti dulu lagi. "Aku tidak akan pernah menyerah setelah kamu mengatakan hal itu, Alesha."


"Selama aku tidak melihatmu bersama pria lain, akan selalu bersamamu dan kembali merebut hatimu seperti dulu lagi." Alex mengembuskan napas kasar dan mengempeskan tangan pada kemudi untuk melampiaskan amarah yang bergejolak.


Ia saat ini berpikir tidak akan pernah rela melepaskan wanita yang diketahuinya sudah diceraikan oleh Rafael dan berpikir masih ada sedikit kesempatan untuk masuk ke dalam hati Alesha.


Hingga beberapa saat kemudian, Alex sudah memarkirkan mobil di depan ruangan gawat darurat dan seketika perawat datang membawa brankar.


"Ia tadi tiba-tiba pingsan saat di restoran," ucap Alex yang saat ini berbicara dengan perawat pria yang sudah memudahkan Alesha ke atas brankar.


"Anda bisa langsung memasukkan kendaraan di rumahnya tersedia dan kembali ke sini untuk mengurus pendaftaran. Kami akan membawa pasien untuk segera ditangani," sahut perawat wanita yang kini menjawab sebelum membantu mendorong dan brankar tersebut masuk ke ruangan unit gawat darurat.


Alex yang saat ini mengerti, seketika masuk ke dalam mobil untuk mematikan di tempat yang tersedia dan kembali ke sana lagi karena saat ini sangat mengkhawatirkan keadaan wanita yang masih belum sadarkan diri hingga sekarang.


"Alesha, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu." Alex merasa sangat khawatir jika wanita yang dicintai memiliki riwayat penyakit kronis, sehingga pikirannya saat ini tidak karuan.


"Aku bisa sendiri di sini dan kalian tidak perlu mengikuti atau menemani. Apalagi aku tidak ingin ditegur oleh pihak rumah sakit jika mama membuat keributan dengan berteriak seperti di restoran tadi."


Alex berniat untuk tidak menunggu tanggapan dari sang ibu karena ia sampai sekarang masih merasa sangat kesal atas penghinaan yang dilontarkan pada Alesha.


Mendapatkan sikap sinis dari putranya, seketika membuat wajah Ana masam dan menunjuk arah putranya yang sudah benar-benar meninggalkan untuk mencari sebuah pembelaan dari sang suami yang berdiri di sebelahnya.


"Kamu lihat itu, kan? Apa dampak wanita itu pada putra kita? Hanya sebuah hal buruk yang membuat Alex berani melawan ibunya sendiri hanya demi wanita murahan seperti itu."


Karena menganggap bahwa apa yang tadi dikatakan oleh putranya benar, kini Robert yang tidak ingin ada keributan di rumah sakit gara-gara sang istri, sehingga langsung menarik pergelangan tangan wanita itu agar kembali masuk ke dalam mobil.


"Lebih baik kita pulang daripada kau membuat keributan di rumah sakit seperti kata putramu. Aku tidak akan membiarkanmu mempermalukan Alex di depan para staf rumah sakit."


Saat ini, Ana tidak ingin pulang karena sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu. "Aku harus mengetahui bagaimana keadaan wanita itu untuk memastikan apakah ia hanyalah berpura-pura untuk pingsan demi mencari perhatian putra kita."


Kini, Robert seketika menepuk jidat karena merasa bahwa sang istri sama sekali tidak berubah meskipun sudah mendapatkan ancaman dari putranya.


"Kau sama sekali tidak menyadari kesalahanmu. Jangan kehilangan putramu karena sangat membenci ibunya. Jika kau merasa penasaran dengan keadaan wanita itu, jangan membuat keributan di sana, oke!"

__ADS_1


Ada nada penuh penekanan yang saat ini diungkapkan oleh Robert untuk membuat sang istri tidak mempermalukan putranya di rumah sakit.


Sementara itu, Ana saat ini mengejutkan bibir dengan wajah masam dan terpaksa menganggukkan kepala karena sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


"Baiklah ... baiklah. Aku akan mengunci mulutku dan tidak berbicara apa-apa karena hanya ingin melihat apakah wanita itu pingsan beneran atau hanya sedang berakting saja. Biarkan dokter yang memutuskan apakah perkataanku ini benar atau tidak."


Kemudian Ana berjalan lebih dulu menuju ke arah ruangan gawat darurat tanpa menunggu sang suami karena sudah sangat penasaran pada keadaan wanita yang sama sekali tidak disukainya.


Sementara Robert hanya berjalan mengikuti belakang sambil geleng-geleng kepala karena tidak tahu apakah istrinya suatu saat akan berubah tidak keras kepala.


Di sisi berbeda, yaitu di ruangan unit gawat darurat, Alex masih berada di sebelah ranjang sosok wanita yang masih betah menutup mata tersebut dan melihat beberapa perawat tengah memeriksa.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apa ada penyakit kronis yang dideritanya?" tanya Alex yang saat ini masih dengan sabar menunggu penjelasan dari seorang wanita berseragam biru tersebut.


"Kami akan mengetahui hasilnya sebentar lagi, Tuan. Apakah Anda kerabat atau suaminya?" tanya perawat yang baru saja mengambil sampel darah untuk dibawa ke laboratorium Rumah Sakit.


Alex yang beberapa saat terdiam karena merasa bingung untuk menjawab, kini memilih untuk berbohong karena ingin mengetahui apapun yang terjadi.


"Saya suaminya. Semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada istri saya."


"Iya, Tuan. Semoga semuanya sesuai dengan perkiraan kami." Jawab wanita berseragam biru tersebut dan berpamitan setelah selesai melakukan tugasnya.


Alex saat ini mengusap lembut wajah putih Alesha, merasa sangat tidak tega dan sekaligus mengkhawatirkan keadaan wanita yang sangat dicintai tersebut.


"Apa yang terjadi padamu, Sayang? Kamu baru saja menghancurkan perasaanku dan sekarang membuatku tidak bisa tenang karena mengkhawatirkanmu."


"Apa aku boleh mengatakan bahwa kamu sangat jahat karena tidak punya hati saat memutuskanku dengan mengatakan telah mencintai wanita pria lain." Alex berbicara sangat lirih karena tidak ingin terdengar oleh para perawat karena tadi mengaku sebagai suami.


Ia kemudian duduk di kursi yang tersedia dan menggenggam erat telapak tangan dengan jemari lentik itu.


Entah sudah berapa lama ia menunggu, hingga beberapa saat kemudian kembali seorang wanita yang tadi memeriksa Alesha telah tersenyum menatap ke arahnya dan membuatnya memungkinkan mata karena merasa heran.


"Selamat, Tuan. Istri Anda saat ini telah hamil enam minggu. Jadi, ini merupakan sebuah kabar baik dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena hanyalah efek dari kehamilan di trimester pertama hingga membuat istri Anda pingsan."


Seketika tubuh Alex lunglai seperti kehilangan tenaga begitu mendapatkan kabar yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya.


Bahkan suaranya bergetar ketika menanggapi perkataan dari perawat wanita tersebut.


"Hamil?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2