I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Kenapa dia ada di sini?


__ADS_3

Alesha kini sudah melangkahkan kaki jenjangnya untuk mengikuti pergerakan dari sosok pria dengan badan tinggi tegap, serta bahu lebar saat memakai setelan jas lengkap khas kerja yang dianggapnya sangat membosankan.


Ia selama ini sangat menyukai pria yang berpenampilan santai karena lebih menarik dibandingkan dengan setelan jas lengkap berwarna gelap yang membalut tubuh kekar seorang pria.


Tentu saja saat ini bisa melihat siluet belakang sosok pria yang tadi baru saja mengungkapkan hal yang membuatnya merasa aneh dan bertanya-tanya di dalam hati.


Meskipun ia tadi sudah menyetujui semua perkataan yang lebih terdengar seperti sebuah larangan dari Rafael, tetap saja merasa aneh begitu pria itu mengungkapkan tidak boleh dekat dengan pria manapun.


'Kenapa sikapnya sangat aneh? Apa karena tadi dia melihat Alex Claire dan berpikir bahwa aku akan berhubungan lagi dengan mantan sugar daddy-ku itu? Hingga dia berpikir aku akan mencemarkan nama baiknya jika berbuat seperti yang dipikirkannya?'


Alesha yang masih sibuk bergumam sendiri di dalam hati sambil berjalan dengan suara langkah flat shoes miliknya memecah keheningan lorong-lorong rumah sakit.


Suasana sore ini jauh lebih sepi dari sebelumnya. Tidak sama dengan kemarin yang merupakan hari libur dan banyak keluarga pasien datang menjenguk karena bisa dipastikan memiliki waktu senggang saat bukan hari aktif bekerja.


Alesha hanya bisa melihat saat beberapa pasien dikunjungi oleh beberapa sanak keluarga, sedangkan ia dan ibu sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Apalagi ibunya merupakan anak tunggal dan sudah tidak mempunyai kakek nenek setelah meninggal ketika berusia 10 tahun.


Sementara sang ibu sama sekali tidak pernah menceritakan perihal tentang keluarga sang ayah dan membuatnya terkadang merasa heran sekaligus curiga.


Namun, melihat raut wajah sang ibu yang seketika berubah muram ketika ia bertanya perihal sang ayah, akhirnya membuatnya tidak ingin bertanya panjang lebar dan memilih memendam perasaannya di dalam hati.


Jika dari dulu ia dan sang ibu hidup sendiri tanpa ada sanak keluarga, kini merasakan sedikit terhibur karena begitu mengenal Rafael dan Tiana merasa seperti memiliki kerabat.


Apalagi mama dari Rafael yang dianggapnya sangat baik itu sering menjenguk ibunya di rumah sakit.


Ia merasa senang karena merasa tidak kesepian lagi. Saat melihat mama Rafael sering mengajak bicara ibunya, tentu saja merasa sangat senang dan terhibur. Bahkan ia merasakan sangat beruntung bisa mengenal wanita sebaik Tiana.


Meskipun ia terkadang sangat kesal pada ulah Rafael, tetapi memilih untuk memakluminya karena berpikir bahwa mayoritas pemimpin sebuah perusahaan besar kebanyakan selalu menganggap siapapun sebagai bawahan dan harus patuh pada semua perintah.

__ADS_1


Termasuk dirinya yang menyadari bahwa saat ini hanyalah seorang wanita yang tak lebih baik dari pegawai bagi Rafael. Ia berpikir bahwa posisinya setara dengan pelayan di rumah pria itu yang memang harus patuh pada titah sang majikan.


Ya, Alesha berpikir bahwa hubungannya dengan Rafael seperti seorang pelayan dan majikan.


Hal itulah yang kini membuatnya hanya diam saja tanpa bertanya apapun karena berpikir jika pria itu tak lebih adalah majikan dan tidak boleh banyak bertanya atau pun membantah.


Jika Alesha kini tengah sibuk bertanya-tanya tentang poin baru yang tadi langsung disetujui, berbeda dengan Rafael saat ini.


Rafael yang kali ini merasa seperti mengalami Deja vu begitu melihat bahwa Alesha ternyata merupakan mantan sugar baby dari dosen yang saat ini mengajar di kampus.


Tentu saja ia langsung mengingat masa lalu karena dulu mantan istri memiliki hubungan rahasia dengan presdirnya dan itu langsung membuatnya kehilangan istri sirinya tersebut.


Ia memang sedang melangkahkan kaki panjangnya menyusuri koridor rumah sakit dengan pandangan ke depan, tetapi sebenarnya pikirannya benar-benar kosong saat ini.


Hal yang saat ini tengah mengganggu pikirannya adalah terbersit ketakutan di dalam hatinya.


'Kenapa aku merasa saat ini sedang dipermainkan oleh takdir? Kenapa kejadian ini sangat mirip dengan apa yang kuhadapi di masa lalu dan membuat hidupku seketika seperti sedang dipermainkan? Berengsek!'


Rafael yang kini mengempaskan tangan untuk meninju udara demi melampiaskan amarah saat tidak bisa menerima dengan takdir yang dianggap tengah mempermainkannya.


"****!" umpat Rafael dengan wajah memerah karena dikuasai oleh amarah.


Sementara saat ini, Alesha yang tadinya tidak berkedip menatap siluet pria dengan bahu lebar di hadapannya tersebut, sempat berjenggit kaget saat melihat aksi Rafael.


"Astaga! Kamu benar-benar mengangetkanku! Apa yang kamu lakukan sebenarnya? Apa kamu marah padaku gara-gara tadi bicara dengan dosen?"


Embusan napas kasar kini menghiasi lorong sepi rumah sakit melewati kamar-kamar tertutup yang dilalui. Rafael yang menyadari kebodohannya karena bertingkah berlebihan, kini memijat pelipis dan berbalik badan.

__ADS_1


Begitu melihat sosok wanita yang menatapnya tajam seperti sedang meluapkan kekesalan padanya, membuatnya benar-benar menyadari kebodohan. Hingga ia kini memilih untuk menjawab dengan gelengan kepala.


"Aku sedang memikirkan masalah pekerjaan. Hingga membuatku benar-benar pusing hari ini." Mengibaskan tangan pada Alesha agar masuk duluan ke dalam ruangan perawatan.


"Aku ingin membeli kopi untuk menghilangkan rasa pusing di kepalaku. Apa kamu mau titip sesuatu?"


Sengaja Rafael mengalihkan pembicaraan agar wanita di depannya tidak menginterogasi macam-macam karena ia tahu bahwa Alesha tipikal orang seperti sang mama. Banyak bertanya dan tidak akan berhenti sebelum menceritakan semua.


Hal itulah yang membuatnya berbohong dan kali ini memilih kantin sebagai tempat pelampiasan. Kopi, minuman berwarna gelap itu dianggapnya bisa menetralkan pikiran. Apalagi ia tidak ingin bertemu dengan sang mama dengan wajah masam yang pastinya akan bisa dibaca oleh wanita yang melahirkannya tersebut.


Ia tahu bahwa sang mama seperti seorang peramal yang selalu bisa membaca apa isi otaknya dan tidak ingin diinterogasi macam-macam.


Sementara Alesha yang kini mengerti, hanya menganggukkan kepala, meskipun di pikirannya saat ini masih dikuasai rasa penasaran dan tidak puas dengan jawaban Rafael, tapi hanya diam saja.


"Tidak perlu. Aku sudah makan di kantin tadi. Jadi masih kenyang. Kamu pergi saja. Nanti aku akan mengatakannya pada mamamu bahwa kamu ke kantin," ucap Alesha yang memilih untuk berbohong.


Padahal sebenarnya ia sangat lapar, tetapi tidak ingin terlihat seperti sedang memanfaatkan pria itu.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi!" Rafael yang dari tadi ingin berdiam diri untuk merenungkan nasibnya yang malang, seolah merasa lega begitu bisa lepas dari tatapan penuh selidik wanita di hadapan.


Ia kemudian berbalik badan dan melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah lift yang membawanya turun ke lantai satu, di mana kantin berada.


Hingga ia mengerjapkan kedua mata begitu pintu lift di hadapannya terbuka dan melihat seseorang di dalamnya.


'Kenapa dia ada di sini?"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2