
Memang sudah merupakan hal yang wajar jika uang bisa merubah watak seseorang, tetapi tidak pernah menyangka jika itu berlaku juga pada Rafael.
Hingga ia kali ini hanya bisa tersenyum masam karena merasa semakin kesal atas jawaban Rafael yang sangat santai, sekolah tanpa beban ketika membuka mulut.
"Anggap saja seperti itu. Sudah, jangan banyak tanya! Ayo kita cepat masuk ke dalam. Tenang saja, aku tidak akan memperkosamu!"
Rafael sengaja menegaskan kalimat terakhir agar wanita dengan wajah memerah tersebut mau masuk ke dalam dan mengikuti langkah kakinya menuju ke arah lobby.
Ia ingin Aeleasha menghilangkan pikiran buruk tentangnya. Sebenarnya Rafael ikut merasa kesal karena wanita yang seolah enggan beranjak dari tempatnya tersebut seolah menganggapnya hanyalah pria berengsek. Padahal ia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya liburan bersama anak dan istri.
Meskipun status mereka sudah bukan lagi merupakan anak dan istri, tetap saja Rafael tidak bisa menghilangkan perasaan yang sangat dekat pada ibu dan anak tersebut.
'Jika sampai aku mengatakan itu padamu, namanya bukan sebuah kejutan,' gumam Rafael yang akhirnya memilih untuk meraih pergelangan tangan Aeleasha agar berjalan masuk ke lobby hotel dengannya.
Aeleasha yang refleks langsung menolak, akhirnya menjawab, agar tidak bersentuhan fisik dengan pria lain selain suaminya.
"Baiklah, aku bisa jalan sendiri."
Pedoman Aeleasha adalah kalimat terakhir dari sosok pria yang berada di sebelahnya tersebut. Bahwa Rafael tidak akan memperkosanya.
Meskipun ia bukanlah seorang wanita perawan, tetap saja merasa sangat khawatir. Baginya, janji Rafael sudah cukup dan memilih untuk mempercayainya.
Kemudian, mereka sudah tiba di lobby hotel dan Rafael langsung memesan kamar terbaik di hotel.
Hingga Aeleasha semakin membulatkan mata begitu mengetahui hal itu. "Brother, apa yang kamu lakukan?"
Dengan sangat santai, Rafael menjawab, "Memesan kamar. Memangnya apa lagi?"
"Astaga!" Aeleasha kembali mengarahkan pukulan pada lengan kekar tersebut. "Aku tahu itu!"
"Lalu, kenapa kamu masih bertanya padaku?" Rafael berpura-pura bersikap bodoh dengan menatap intens wajah cantik wanita yang tak lain adalah mantan istrinya tersebut.
__ADS_1
Aeleasha merasa geram dan memilih untuk menambah hukuman dengan cara mengarahkan sebuah cubitan keras pada pinggang pria di sebelah kanannya disebut. Tidak hanya itu saja, bahkan ia saat ini sudah mendekatkan diri agar bisa berbisik di dekat daun Rafael.
"Jangan macam-macam! Bukankah kamu tadi berjanji tidak akan memperkosaku?"
Aeleasha berbisik sangat lirih agar tidak didengar oleh dua resepsionis berseragam hitam tersebut. Namun, ia seolah seperti tidak mempunyai muka begitu mendengar jawaban dari Rafael yang seketika mempermalukannya.
"Mana mungkin aku memperkosa istri sendiri di hotel! Kita hanya berbulan madu saja di sini, Sayang. Bukankah dulu aku hanya bisa menikahimu secara siri? Jadi, setelah aku sukses, ini membahagiakanmu dengan cara berbulan madu di hotel mewah. Memangnya ini salah?"
Rafael refleks menatap ke arah dua resepsionis yang masih terdiam di tempat. "Apakah menurut kalian, aku salah?"
"Tidak, Tuan. Itu malah sangat romantis," sahut salah satu resepsionis yang mewakili rekannya untuk menjawab pertanyaan dari tamu hotel.
Meskipun sebenarnya di dalam hati, ia meragukan jika dua orang di hadapannya tersebut merupakan pasangan suami istri. Apalagi tadi ia melihat kartu nama dari pria tersebut masih berstatus single.
Namun, pria tersebut mengerti dan langsung mematahkan asumsinya dengan mengatakan hanya menikah secara siri dengan wanita tersebut.
"Nah, itu baru benar. Kamu membuat mood-ku berubah baik. Ini untukmu!" Rafael memberikan satu lembar uang setelah memasukkan kembali kartu namanya ke dalam dompet.
Tidak ingin semakin kehilangan muka di depan resepsionis, Aeleasha akhirnya terpaksa melangkahkan kaki jenjang yang menuju ke arah pintu kotak besi dan masuk ke dalam.
Tentu saja begitu berada di dalam lift, ia meluapkan amarah dengan cara berkali-kali memukul lengan pria yang sudah dianggap seperti saudara laki-laki tersebut.
"Kamu benar-benar sangat menyebalkan, Brother! Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku!"
Suara teriakan Aeleasha yang cukup memekakkan telinga tersebut, seketika membangunkan Arza dari tidur nyenyak. Tentu saja balita tersebut seketika menangis tersedu-sedu karena sangat terkejut.
Refleks ia menepuk jidatnya berkali-kali dan langsung meraih putranya dari gendongan Rafael.
"Berikan padaku!"
Sementara Rafael hanya bisa geleng-geleng kepala karena melihat tingkah Aeleasha dan langsung memberikan Arza pada sang ibu.
__ADS_1
"Kamu malah membuatnya menangis dengan suaramu yang seperti kaleng rusak itu."
"Astaga!" Aeleasha merasa sangat kesal, tetapi tidak bisa meluapkan ketika harus menenangkan putranya agar tidak menangis lagi.
"Sayang, Mama di sini. Jangan menangis lagi, ya?" Aeleasha beberapa kali mengusap punggung putranya tersebut, agar tidak menangis lagi.
Hingga ia merasa sangat lega karena usahanya berhasil saat putranya sudah diam dan tidak menangis lagi.
Hingga beberapa detik kemudian, pintu kotak besi tersebut terbuka. Kemudian Rafael mengajak Aeleasha untuk keluar dari sana.
Ia yang melihat Aeleasha seperti enggan untuk berjalan mengikutinya, akhirnya membuat Rafael terpaksa mengatakan semua hal yang menjadi impian ketika masih menjadi suami wanita cantik itu.
"Beraktinglah seperti kita masih menjadi pasangan suami istri karena aku ingin sekali mengajak kalian berdua liburan di hotel mewah, tapi dulu tidak bisa melakukannya."
"Semua itu karena aku tidak mempunyai cukup uang untuk memenuhi impianku. Namun, sekarang bisa melakukannya. Meskipun semua ini terjadi karena suamimu. Jadi, biarkan aku merasakan saat impianku terpenuhi."
Aeleasha yang tadinya nggak berjalan untuk mengikuti Rafael menuju ke arah ruangan kamar terbaik di hotel tersebut, seketika merasa berdosa serta bersalah karena sempat berpikir macam-macam.
Ia akhirnya mengingat tentang foto-foto dari sang suami yang berada di dalam kamar hotel bersama seorang wanita. Akhirnya Aeleasha tidak bisa menahan bulir kesedihan yang memenuhi bola matanya saat ini.
Tentu saja bayangan dari foto-foto suami bersama wanita lain, membuatnya sangat bersedih dan menjadi lemah di depan Rafael. Padahal ia awalnya ingin menyembunyikan semua kesedihan yang dirasakan.
Namun, ia tidak kuasa menahan lebih lama lagi setelah mendengar semua kejujuran dari Rafael. Tubuh Aeleasha seketika bergetar hebat saat menangis tersedu-sedu.
Hingga Rafael merasa sangat terkejut melihat ekspresi dari Aeleasha setelah ia berbicara jujur. Bahkan sama sekali tidak pernah menyangka jika saat ini sosok wanita di hadapannya tersebut malah menangis.
"Kenapa kamu malah menangis saat aku berbicara yang sebenarnya padamu? Apa ada yang salah dengan perkataanku?"
Aeleasha hanya menggelengkan kepala dan tidak bisa menghentikan suara tangisan yang memecahkan keheningan di lorong hotel tersebut.
To be continued...
__ADS_1