
Suasana di dalam ruangan kamar yang dipenuhi oleh suara napas memburu dari pasangan suami istri yang tak lain adalah Rafael dan Alesha.
Rafael yang awalnya memberikan sebuah hukuman karena perbuatan Alesha, lama-kelamaan menikmati dan seolah tidak ingin melepaskan kuasa.
Bahkan ia semakin bersemangat ketika Alesha mulai membalas dan menikmati ciumannya. Seolah kegiatan intim mereka yang berbagi saliva itu membuatnya lupa jika beberapa saat lalu sangat marah.
Seolah ledakan amarah yang dirasakan mulai hilang dan kini berganti dengan bangkitnya gairah yang membuat tubuh memanas dan urat syaraf menegang.
Hingga deru napas memburu kini terdengar jelas dari mereka saat merasakan kehabisan napas karena sangat lama berciuman.
Rafael yang baru saja melepaskan pagutan, kini menatap ke arah wajah wanita dengan kelopak mata tertutup itu. Hingga ia pun bersitatap dengan netra kecoklatan di hadapannya.
Tatapan keduanya saling beradu kala Alesha perlahan membuka mata. Hanya keheningan yang mengelilingi interaksi keduanya. Bahkan bukan hanya deru napas memburu terdengar, tapi juga debaran jantung tidak beraturan saat ini bisa didengar masing-masing.
Tangan Rafael kini masih menahan tengkuk belakang Alesha dan ia mengerjapkan mata saat berhasil dikalahkan oleh wanita yang kini menantang pandangannya.
Jadi, merasa perlu untuk memberikan sebuah pembelaan atas perbuatannya yang terpancing emosi.
"Jangan memancing amarahku lagi karena aku tidak akan pernah bisa menahan diri untuk tidak melakukan ini padamu!" sarkas Rafael yang masih pada posisi berjarak beberapa centi saja darinya.
Ia bahkan kali ini tidak berkedip menatap manik kecoklatan wanita yang juga tengah menatapnya tajam, seolah sama sekali tidak merasa takut padanya.
'Melihat tatapannya, aku seperti melihat mantan istriku dulu yang sama sekali tidak takut padaku saat aku marah. Hanya saja, aku tidak pernah bisa melakukan hal seperti ini pada Aealeasha dulu, tapi kenapa bisa pada Alesha?'
Saat Rafael sibuk bertanya-tanya di dalam hati, ia mendengar tanggapan dari sosok wanita yang saat ini mendorongnya dengan sangat kuat hingga mundur beberapa langkah ke belakang.
"Dasar pria berengsek!" sarkas Alesha yang sangat kesal karena ia benar-benar marah pada sikap kasar Rafael setelah menciumnya.
__ADS_1
'Aku pikir ia akan meminta maaf padaku karena menciumku dengan paksaan, tapi ia malah kembali mengancamku setelah melakukan hal ini padaku. Berengsek! Rafael benar-benar sangat berengsek!'
Alesha awalnya melupakan kekesalan pada Rafael, tapi karena kembali mendengar perkataan kasar yang dianggap tidak berperasaan, membuatnya kembali tersulut emosi.
"Kau selalu berbuat seenaknya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Apa lagi jika bukan pria berengsek namanya?"
"Aku tidak ingin berada dalam satu ruangan denganmu karena membiarkanmu tenang bisa membayangkan serta mengenang momen-momen berhargamu dengan mantan istrimu. Apa aku salah dan kamu pantas marah padaku seperti ini?"
Alesha sebenarnya tidak ingin berteriak saat berbicara, tapi ia tidak bisa menahan diri menghadapi sikap arogan pria yang selalu saja menciumnya tanpa izin.
Apalagi ia hanyalah seorang wanita dengan hati lemah yang mudah bimbang semenjak pria di hadapannya tersebut merenggut kesuciannya. Bahkan menyadari bahwa ia tidak bisa mengendalikan hatinya.
Perasaan yang sangat dibenci adalah menyadari jika ia merasa cemburu ketika memikirkan Rafael masih mencintai mantan istri yang memiliki nama sama dengannya.
'Aku benci dengan rasa cemburu yang kumiliki pada Rafael. Namun, sialnya aku tidak bisa mengatakannya karena ia akan semakin menginjak-injak harga diriku,' gumam Alesha yang kini ingin mendengar tanggapan dari Rafael.
Berharap setelah mengungkapkan semuanya, amarah Alesha reda dan tidak berbuat sesuka hati dan mempermalukannya di depan para sanak saudara karena kesalahpahaman.
"Dasar bodoh! Semua tidak seperti yang kau pikirkan. Sebenarnya ...."
Rafael tidak bisa melanjutkan perkataannya karena mendengar suara dering ponsel miliknya yang ada di atas meja. Awalnya ia berniat untuk membiarkan dan kembali menjelaskan pada Alesha, tapi terganggu dengan suara panggilan telpon yang terus berbunyi.
Akhirnya Rafael berbalik badan dan berjalan menuju ke arah meja untuk mematikan panggilan telpon tersebut. Namun, saat melihat jika yang menghubungi adalah Aealeasha, ia seketika menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo."
"Halo, Tuan Rafael."
__ADS_1
Rafael yang tadinya bersemangat karena berpikir bahwa yang berbicara adalah mantan istrinya, tapi ternyata bukan, membuat raut wajah berubah masam.
"Iya. Ada apa?"
"Nyonya Aealeasha tadi pingsan di restoran dan sekarang dibawa ke rumah sakit terdekat. Apa Anda bisa datang ke rumah sakit?"
"Apa? Pingsan? Bagaimana bisa? Pasti ia kelelahan karena sibuk mengurus restoran. Baiklah, aku akan langsung ke sana."
Tanpa menunggu jawaban dari wanita yang merupakan baby sitter Arza, Rafael langsung mematikan ponselnya. Kemudian ia berlari ke arah ruangan walk in closet untuk berganti pakaian.
Sementara itu, Alesha yang bisa mendengar suara dari Rafael, kini tengah bertanya-tanya mengenai siapa yang membuatnya merasa sangat penasaran.
"Memangnya siapa yang pingsan? Hingga membuat Rafael merasa shock seperti itu? Apakah mama yang pingsan?"
Saat Alesha belum menemukan jawaban atas pertanyaannya, ia melihat Rafael keluar dari ruangan ganti dengan sudah rapi memakai celana panjang hitam serta kemeja berwarna putih.
"Siapa yang pingsan? Apakah mama?" tanya Alesha yang kini ingin mengobati rasa penasarannya.
Rafael yang buru-buru berjalan menuju ke arah pintu keluar, kini menatap Alesha yang diketahui akan kembali marah jika ia mengatakan hal sebenarnya, sehingga memilih untuk berbohong saja.
"Temanku. Sekarang aku akan pergi ke rumah sakit. Kamu di rumah saja." Rafael tidak ingin berbicara panjang lebar karena saat ini hanya mengkhawatirkan keadaan mantan istrinya.
Jadi, ia buru-buru berjalan keluar tanpa menunggu tanggapan dari wanita yang belum sempat dijelaskan mengenai hal yang sesungguhnya.
"Rafael, tunggu! Aku belum selesai bicara!" teriak Alesha dengan wajah memerah karena merasa sangat kesal saat melihat Rafael buru-buru pergi.
To be continued...
__ADS_1