
Pagi-pagi, bukan hanya hangatnya kopi yang menemani para staf perusahaan yang hendak memulai rutinitasnya, tapi juga hangatnya gosip dan bisik-bisik tentang CEO mereka yang selalu mengundang buah bibir seperti biasanya.
Dina dan Roy, HRD yang sudah seminggu menemani wawancara pendaftaran lowongan sekretaris pribadi CEO-nya itu kini sudah dihadang oleh beberapa staf lain yang terlampau ingin tahu mengenai hasil wawancara itu.
Mereka sudah menduga akan begini. Terkadang muak dengan situasinya, tetapi siapa yang menolak gosip panas di tengah-tengah jam terbang kerja yang padat itu?
Namun, seperti adanya, Dina dan Roy menjawab sebagaimana hal yang terjadi kemarin. "Tidak ada sekretaris pribadi. Bahkan tidak ada wawancara lagi. Presdir sudah menolak semua pendaftar dan membuat keputusan final kemarin." Dina, menjawab pertanyaan-pertanyaan para karyawan itu seadanya.
"Di antara pelamar sebanyak itu, apakah benar-benar tidak ada kriteria yang cocok atau setidaknya mendekati kualifikasi?" Salah seorang staf wanita pun bertanya dengan heran, membuat Dina menipiskan bibirnya.
Wanita itu langsung memegang sebelah kepala wanita itu dengan heboh.
"Kualifikasi apanya? Aku ini, hanya staf di bidang Human Resource Departement yang sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun, yakin sekali sudah memiliki setidaknya satu rekomendasi dengan kualifikasi paling baik di antara yang terbaik."
"Namun, kalian tahu apa yang presdir katakan? 'Saya tidak suka', katanya. Hah, astaga. Aku hampir saja menggebrak meja kalau saja lupa aku akan mendapat bonus, tapi harga diriku sebagai HRD tetap merasa tersiksa telah melepaskan calon staf sebaik itu dengan alasan CEO yang seperti itu, tahu?"
Dina bercerita dengan menggebu-gebu sambil menghapus air mata buayanya yang gaib.
"Wah, astaga, aku merinding. Aku tidak percaya presdir Rafael bisa begitu juga." Salah satu karyawan yang baru saja mengambil kopi kini menyahut.
"Sudah kubilang. Untung saja aku ingat kalau akan mendapat bonus." Dina menggerutu dengan ekspresi senang sekaligus kesal.
Empat lima karyawan yang menghadang Dina dan Roy itu kini berganti menatap Roy dengan kompak hingga membuat pria itu salah tingkah.
"A-apa?" gugupnya.
Ia lantas berdehem sedikit sebelum akhirnya mengerti maksud mereka.
"Tentu saja aku adalah orang yang paling kesulitan memahami kriteria dan kualifikasi yang diinginkan presdir Rafael."
Roy, HRD fresh graduate yang sudah bekerja selama satu tahun itu terpaksa menjawab dengan wajah kusut. Ia sebenarnya sangat ingin menghindar dari percakapan dan situasi ini, tetapi tahu keadaannya akan merepotkan lagi jika berusaha menghindar.
__ADS_1
Terlebih lagi saat bersama seniornya, Dina, percakapan gosip akan menjadi seperti minyak goreng panas yang mengalir begitu saja.
Roy berdecak sedikit. "Kalian lihat ini?"
Kemudian ia mengangkat notes book kecilnya untuk diperlihatkan pada para karyawan itu. "Aku tidak pernah membiarkan buku mungil ini kosong sekali pun saat mewawancarai orang."
Salah satu karyawan kemudian mengambil notes book itu dan melihat isinya yang benar-benar kosong. Mereka kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Roy, menuntut pria muda itu untuk melanjutkan perkataannya.
Kemudian pria itu pun akhirnya melanjutkan. "Tapi selama tujuh hari ini, buku yang sudah kusiapkan secara khusus itu benar-benar bersih! Sungguh hebat, bukan?"
Ia kemudian mengambil kembali notes book itu ke tangannya. "Entah apa yang terjadi," lanjutnya berbisik.
"Presdir Rafael itu benar-benar tidak terduga. Apakah ia sedang berusaha melupakan mantan istrinya?" Salah satu karyawan dengan rambut kepang itu menyeletuk.
Dina kemudian menutup mulutnya yang menganga. "Astaga. Jadi dia betul-betul masih menyukai mantan istrinya?"
"Ada apa? Siapa yang masih menyukai mantan istrinya?" Salah satu karyawan magang yang sedang lewat kini bergabung.
"Presdir Rafael," bisik salah satu karyawan menjawab.
"Kamu tahu? Mantan istri presdir Rafael itu adalah Aeleasha Charlotte—istri pemilik perusahaan ini—Arsenio Giovanni Adelardo," lanjut staf itu membeberkan informasi.
"Wah, aku jadi merasa bersalah pagi-pagi sudah mendengar informasi mengejutkan ini," balas si karyawan magang itu sambil mengatupkan kedua tangan di depan mulutnya.
"Tidak apa-apa. Itu bukan rahasia." Karyawan dengan rambut kepang itu memberikan jawaban.
"Hei, ngomong-ngomong, kamu dekat dengan pegawai magang yang suka memakai lipstik merah darah itu, kan?" Dina menanyai tepat sasaran.
"Benar. Kami dari kampus yang sama. Memangnya kenapa?" Gadis itu menggigit bibirnya, sedikit khawatir mengapa temannya tiba-tiba disebut di tengah-tengah pembicaraan ini.
"Astaga, kamu ini seperti hidup dalam lemari kaca, ya? Kamu tidak tahu temanmu sendiri beberapa hari lalu menggoda presdir Rafael?" Dina bertanya dengan terkejut. "Bahkan tembok saja punya telinga."
__ADS_1
Pegawai magang itu seketika membulatkan matanya. "Serius?"
Ia melirih dan diangguki para karyawan lain. Ia melirik wajah serius karyawan itu satu-satu. Nyalinya tiba-tiba menciut.
Gadis itu ingin membantah tidak percaya, tetapi wajah serius mereka yang meyakinkan membuatnya jadi hanya bercicit kecil.
"Astaga, bagaimana bisa aku tidak tahu hal ini? Aku harus memberinya pelajaran. Mohon maafkan sikap teman saya, ya!" Gadis itu menundukkan kepalanya berkali-kali sampai akhirnya ia pergi dengan bibir cemberut.
"Tapi yang lebih mengherankan lagi, bagaimana bisa presdir Rafael sama sekali tidak tertarik dengan wanita secantik itu?" Roy, kini menggumamkan pertanyaan yang berhasil mengundang berbagai macam spekulasi.
Para pegawai itu sontak menatapnya, tetapi kemudian saling bergumam dengan spekulasi masing-masing. Sampai akhirnya Roy kembali menambahkan.
"Apa jangan-jangan dia sebenarnya bukan tidak bisa melupakan istrinya, tapi memang tidak menyukai perempuan, ya?"
Pertanyaan itu sontak mendapat pukulan dari Dina yang mendarat tepat di kepalanya. "Hati-hati kalau bicara!" Sungut wanita itu.
Segerombol karyawan itu semakin ribut bisik-bisik, sampai beberapa detik kemudian terdengar suara nyaring dari arah pintu masuk.
"Selamat pagi semuanya!" Rudy, pengacara dengan pembawaan easy going itu seperti biasa melewati ruang kerja para karyawan dan memberi sapaan singkat sebentar. Sapaan itu secara singkat mendapat balasan dari para karyawan yang menggantikan bisik-bisik gosip pagi itu.
"Apa ada kabar lagi mengenai bos kalian?"
Refleks semua orang saking bersitatap dan mempertimbangkan untuk menceritakan gosip pagi ini.
"Tuan Rudy, apa Anda tahu tentang perasaan bos selama ini? Bukankah kalian teman dekat?"
"Apa maksudmu sebenarnya?" Rudy menyipitkan mata karena tidak paham dengan kalimat ambigu tersebut.
Kemudian semua orang menyampaikan argumen masing-masing, termasuk pemikiran mengenai hal yang sempat dipikirkan. Jika bos mereka tidak menyukai wanita setelah patah hati.
"Apakah presdir Rafael sekarang gay?"
__ADS_1
Refleks Rudy melempar pulpen di atas meja ke arah pegawai pria tersebut. "Jangan sampai mulutmu dirobek oleh bos. Bubar ... bubar!"
To be continued...