I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Kerja sama


__ADS_3

Sampai sudah berpuluh-puluh menit berlalu, Rafael mencari wanita itu. Ia masih sangat yakin jika wanita bernama Alesha itu masih berada di dalam Mall.


Itu semua hanya naluri berdasarkan spekulasinya. Ia tidak mungkin pulang sendirian, sedangkan teman-temannya masih berada di sini. Akan tetapi, entah ke mana ia menghilang.


Lelaki itu kemudian memutuskan untuk istirahat sejenak di samping tangga yang menurun ke lantai tiga. Sekaligus melihat dari atas jika ada sosok Alesha di bawah sana.


Setelah beberapa lama mengamati tanpa membuahkan hasil, Rafael kembali melangkahkan kaki jenjangnya menuju sudut lebih dalam di lantai empat yang belum sempat ia telusuri lagi.


Namun, di depan sana terlihat beberapa orang berkerumun, dalam beberapa detik saja kerumunan itu semakin membesar dan menghalangi jalannya.


Sayup-sayup terdengar suara ribut-ribut yang semakin gaduh dari arah depan gerai sepatu itu. Rafael berdecak kesal karena jalannya benar-benar terhalangi untuk melanjutkan pencariannya.


"Dasar perebut suami orang! Kamu ini wanita tidak tahu malu, ya!" Bentakan lantang terdengar menggelegar mengalahkan ramainya pengunjung Mall.


Sedangkan yang dibentak hanya membalas seadanya dengan suara malas. "Astaga, Nyonya. Sudah saya bilang, tidak kenal suami Anda ini." Alesha berusaha untuk mengelak tuduhan wanita yang merupakan istri sah dari sugar daddy-nya satu bulan lalu.


Menjadi bahan hinaan dan mendapatkan umpatan dari istri sah sudah menjadi hal biasa untuknya dan hari ini masih sangat tenang dengan cara mengelak seperti biasa.


Bahkan semua orang sudah menatap dengan pandangan jijik padanya karena di mata dunia, istri sah jauh lebih berharga dan selalu maha benar


'Sial sekali aku hari ini karena bertemu dengan istri mantan sugar daddy-ku,' gumam Zaara yang mengumpat di dalam hati.


Sementara itu di sisi lain, merasa familiar, Rafael memutuskan untuk pergi melihat keadaan di depan sana. Beruntung tubuh jangkungnya bisa dimanfaatkan untuk melihat ada apa di balik kerumunan itu. Ia sontak terkejut melihat wanita yang ia cari sedari tadi berada di sana.


"Pembohong kamu!" Wanita itu tampak semakin marah.


"Wah, setelah Anda menuduh saya merebut suami, sekarang menuduh pembohong? Jangan sembarangan kalau bicara, Nyonya. Saya bisa menuntut Anda atas pencemaran nama baik, lho."


Alesha terlihat tidak mau kalah dalam perdebatan penuh drama itu. Tidak perduli, meski kini sekumpulan orang-orang di sekitarnya sedang merekamnya atau menayangkan live streaming untuk dimanfaatkan sebagai pencari atensi dalam dunia maya.


Rafael yang melihat hal itu berusaha memaksa memasuki kerumunan. Namun, sayang kerumunan yang begitu padat sangat sulit dilewati.


"Kamu pintar bicara, ya! Setelah berani merebut suami saya, masih berani mengancam. Semua orang juga tahu wanita rendahan dengan pakaian minim sepertimu hanya bisa merebut suami orang!" Wanita dengan warna lipstik merah menyala itu semakin meluapkan emosinya.


Alesha berdecak sesaat, mengangkat sebelah alisnya tanda kesal. "Nyonya, jika Anda mau marah, lebih maik marah pada suami saja lebih dulu karena ia yang menggoda saya duluan."

__ADS_1


"Apa kamu bilang?" Wanita itu tampak siap mengamuk. Ia lantas mendekati wanita yang lebih muda tersebut dan berusaha menarik rambutnya.


Tidak, Alesha berada dalam masalah sekarang. Refleks Rafael lagi-lagi berusaha menerobos kerumunan yang rusuh itu dengan sekuat tenaga yang ia punya.


Merasa tidak memiliki jalan keluar lain, ia kemudian berteriak.


"Berhenti!"


Kericuhan itu mendadak hening. Kedua wanita yang menjadi tokoh utama pusat perhatian saat ini terlihat terengah-engah dan saling menatap tajam. Hingga akhirnya Rafael kembali membuka suara dan mengalihkan atensi mereka.


"Berhenti berkerumun dan merekam! Wanita ini datang bersama saya."


Ia menunjuk wanita yang diincar dan sontak membuat wanita itu terkejut.


Namun, Alesha dengan cepat berpura-pura membenarkan setelah melihat isyarat dari Rafael yang memberinya anggukan kecil.


Kerumunan itu perlahan-lahan merenggang, suara hening berganti menjadi bisik-bisik yang perlahan pergi. Rafael kemudian membawa wanita itu pergi dari situ, meninggalkan wanita yang melabraknya tadi bersama suaminya.


Alesha berdehem sedikit, sebelum kemudian memberanikan diri mengeluarkan suaranya.


"Ngomong-ngomong, terima kasih."


Hening di antara mereka selama beberapa saat, hingga Rafael perlahan memberanikan diri mengungkapkan niatnya. "Sebenarnya aku dari tadi mencarimu, Alesha."


Alesha tampak membulatkan matanya sedikit, menolehkan kepalanya pada pria yang menyebutkan namanya. "Aku? Ada perlu apa? Dari mana juga kamu tahu namaku?"


"Kebetulan saja aku tadi mendengar percakapanmu dengan teman-teman di area food court. Jika aku tidak salah dengar, kau itu … sugar baby, kan?"


Alesha terdiam dan masih belum menjawab, mencoba menebak apa yang akan dikatakan pria dengan setelan jas lengkap itu selanjutnya.


"Aku ingin memberikan tawaran padamu."


Alesha mundur beberapa langkah, mengamati sosok pria di hadapannya setiap inci dari atas ke bawah. Ia sedang membuat kalkulasinya sendiri. Pakaian terlihat formal, setelan jas rapi, dasi yang menggantung dengan kokoh bagai tahta yang digenggam dengan erat.


Tak lupa surai yang jatuh sebagian di depan dahi yang menambah pesona pria tersebut. Rafael sempat bingung apa yang sedang dilakukan wanita itu.

__ADS_1


Hingga kemudian wanita di hadapannya berbicara dan membuatnya berdecak beberapa kali.


"Penampilanmu cukup menarik juga."


Namun, Alesha kemudian melipat kedua tangan di depan diafragmanya sambil menghela napas.


"Hanya saja, mohon maaf, Tuan. Kalau kamu ingin mendapatkanku karena telah membantu barusan, aku tidak bisa menerima karena hanya butuh uang."


Hanya butuh uang.


Deklarasi yang terucap dengan ketegasan pasti itu membuat senyum Rafael mengembang. Ia merasa semakin dekat dengan tujuannya. Bidikan yang begitu tepat sasaran.


Pria itu tanpa ragu langsung mengeluarkan kartu nama dari sakunya, lantas diberikan pada wanita incarannya.


Alesha terlebih dahulu menyentil tebalnya kartu nama berwarna hitam itu dengan telunjuknya, lantas menyentuh cetakan timbul yang dihiasi warna platina yang memberikan kesan mewah di sana.


Puas mengamati, ia kemudian mengucapkan apa yang dibaca tanpa suara untuk yang tertulis di sana.


Rafael Zafran


Chief Executive Officer


Ia sontak membuka mulutnya takjub, kedua kelopak matanya membulat sempurna menatap pria yang tampak santai dan bangga akan reaksinya itu. Alesha kemudian mengangkat kartu nama itu ke atas sambil menunjuk bolak-balik antara si kartu dan dirinya.


Sementara itu, Rafael hanya membalasnya dengan tersenyum simpul.


"Wah … sungguh mengejutkan."


"Jadi ... bagaimana?" Rafael bertanya memastikan.


Padahal ia diberi uang banyak pun sudah sangat cukup bagi Alesha. Namun, kali ini ia benar-benar seperti mendapat harta karun.


"Seperti yang Anda tahu, Tuan. Aku sugar baby. I am sweet and expensive. Sepertinya kita adalah rekan yang tepat."


Ia menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan, sebagai etiket dasar antar kedua belah pihak dalam kesepakatan saling menguntungkan.

__ADS_1


Mulai hari ini, Rafael benar-benar memutuskan dengan mantap, bahwa ia akan mengikat wanita ini dalam rencananya.


To be continued...


__ADS_2