I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Kumpul kebo


__ADS_3

Rafael hari ini bangun pagi-pagi sekali. Bukan karena ingin berangkat lebih awal ke kantor, tapi akan pergi ke rumah mantan ayah mertua untuk memberikan hadiah pada Arza. Putra Aeleasha yang dulu semenjak dari masa kandungan sudah bersamanya dan tiga tahun membesarkan seperti putra kandung sendiri.


Namun, karena kecelakaan yang dialami oleh Arza akibat orang suruhan dari ibu tiri Aeleasha sekaligus merupakan mantan kekasih Arsenio ketika berniat jahat menculik dan lalai, sehingga sampai mengalami kecelakaan.


Hingga bocah berusia empat tahun itu harus kehilangan memori dan tentu saja melupakannya yang dulu selalu dipanggil papa.


Rafael bahkan sangat menyayangi Arza seperti putra kandung sendiri saat dulu menikahi Aeleasha yang hamil karena diperkosa oleh Arsenio. Hingga lama-lama perasaan cinta untuk wanita itu semakin berkembang dan berpikir jika Aeleasha bisa melihat keseriusannya, tetapi hanya rasa sakit yang didapatkan.


Aeleasha sama sekali tidak pernah mencintainya dan hanya memilih Arsenio saat pria itu kembali setelah tiga tahun. Rafael sama sekali tidak bisa bersaing dengan Arsenio untuk mendapatkan hati Aeleasha dan harus mengikhlaskan istri sirinya kembali pada pria yang dicintai.


Saat Rafael berdiri di depan cermin untuk melihat penampilannya, berpikir bahwa wajah tampannya sama sekali tidak sebanding dengan Arsenio—pria dewasa yang sama sekali tidak bisa dikalahkan dan selalu berada di hati Aeleasha.


"Bagaimana caranya aku menghilangkan perasaan ini?" lirih Rafael yang seketika melihat sang ibu membuka pintu kamar dan melangkah masuk.


"Mama sudah mengemas oleh-oleh untuk Aeleasha. Dia paling suka sambal buatan Mama. Meskipun tidak meminta, aku yakin akan sangat senang karena sudah membuatkan beraneka jenis sambal," ucap Tiana yang semalam sudah mengetahui jika putranya hari ini akan mengantarkan mantan menantu ke bandara.


Rafael yang saat ini berusaha untuk berakting tersenyum, padahal perasaan berkecamuk saat memikirkan tentang mantan istri yang akan kembali ke New York dan entah kapan bisa melihatnya lagi.


"Memangnya Mama membuat sambal apa saja? Mendengarnya, aku jadi langsung lapar, tapi tidak mungkin sarapan pagi dengan sambal. Aku akan makan roti saja sebelum berangkat." Menaruh sisir di meja rias dan berbalik badan menatap sang ibu.


Tiana yang tadi sebenarnya ingin mengecek apakah putranya sudah bangun atau belum karena khawatir kesiangan dan tidak jadi mengantarkan Aeleasha, sehingga merasa sangat lega begitu melihat jika Rafael sudah siap.


"Kesukaan Aeleasha sambal cumi dan cakalang, tapi Mama menambah beberapa jenis, seperti sambal hijau, sambal tuna, sambal bawang dan sambal terasi. Kamu tahu sendiri kalau Aeleasha sering bilang sangat ingin makan sambal karena di New York tidak ada."

__ADS_1


"Oh ya, apa kamu akan mengajak Alesha untuk mengantarkan Aeleasha ke bandara?" tanya Tiana yang baru mengingat tentang calon menantunya. "Biar nanti Mama yang menjaga calon mertuamu di rumah sakit."


Rafael yang sebenarnya dari semalam memikirkan tentang itu, tapi akhirnya memutuskan untuk tidak mengajak Alesha karena berpikir hanya akan membuatnya merasa tidak nyaman saat ingin berduaan dengan Arza.


Tadi saat bangun tidur, Rafael mengirimkan pesan pada Aeleasha, bahwa hari ini akan pergi ke rumah papa mantan istrinya tersebut untuk menjemput Arza sekalian memberikan hadiah untuk salam perpisahan.


Rafael kini menatap ke arah sang ibu dan menggelengkan kepala. "Alesha harus kuliah dan beberapa hari ini banyak tugas di kampus. Aku tidak akan mengganggunya, Ma. Lagipula aku tidak nyaman pergi dengan Alesha saat ingin menunjukkan kasih sayangku pada Arza."


"Nasib baik beberapa hari ini Arza menginap di rumah kakeknya, jadi aku bisa sering mengunjungi dan hari ini adalah pertemuan terakhir saat berada di sini."


Tiana saat ini masih menatap putranya karena ada sesuatu yang tengah dipikirkan. Kini, menepuk lengan kekar Rafael dan mengungkapkan penyesalan.


"Sebenarnya Mama ingin ikut mengantarkan Aeleasha dan Arza, tapi harus ke rumah sakit untuk memberikan semangat pada calon mertuamu. Ibu Alesha butuh teman berbagi karena seperti tidak mempunyai semangat hidup karena sampai sekarang keadaan masih belum stabil."


Rafael memang sudah menduga sang ibu akan lebih mengedepankan ibu Alesha dibandingkan dengan Aeleasha. Kemudian langsung memeluk erat sang ibu agar tidak merasa bersalah.


Kemudian Rafael melepaskan pelukan pada wanita paruh baya yang tak lebih tinggi darinya.


Tiana yang kini merasa terhibur dengan perkataan dari Rafael, kini mengulas senyuman dan menepuk bahu putranya.


"Bilang pada Aeleasha untuk menjaga kesehatan di luar negeri dan sering hubungi Mama karena dia sudah tidak mempunyai ibu semenjak ibu kandungnya meninggal saat masih kecil dulu. Kamu sarapan dulu sebelum berangkat biar tidak terkena magh. Mama tidak mau pergi ke rumah sakit untuk melihatmu terbaring lemah di sana seperti dulu."


Hal yang paling dibencinya adalah melihat putranya sakit dan dulu sampai dirawat di rumah sakit setelah kepergian Aeleasha ke New York.

__ADS_1


Rafael kini mengingat masa-masa terpuruk ketika awal-awal bercerai dengan Aeleasha yang dibawa ke New York oleh Arsenio demi pengobatan Arza yang dulu kecelakaan. Memang bibirnya mengatakan ikhlas melepas Aeleasha dan Arza untuk dibawa Arsenio, tapi hatinya terluka dan hancur.


Hingga memilih untuk melampiaskan dengan bekerja tanpa kenal lelah dan jarang makan karena tidak berselera. Hal itu berlangsung sampai satu bulan dan kondisinya drop dan berakhir di rumah sakit selama satu minggu.


Semenjak saat itu, sang ibu sangat over protektif terhadapnya agar tidak pernah telat makan. Rafael yang akhirnya selalu menuruti perintah ibunya untuk makan tepat waktu, akhirnya memilih untuk melampiaskan rasa sedihnya dengan cara merokok.


Padahal dari dulu adalah seorang pria yang tidak pernah mengenal benda mengandung racun dan bisa merusak kesehatan tersebut. Namun, semenjak ditinggalkan wanita yang dicintai, sehingga memilih untuk melarikan diri dengan cara itu.


Rafael kini menatap ke arah sang ibu dan mengulas senyuman. "Aku akan sarapan sebelum pergi, Ma. Jadi, tenang saja," ucap Rafael yang memeluk erat sang ibu dan mengajak keluar dari ruangan kamar.


Sementara itu, Tiana yang bisa melihat putranya selalu patuh, mengulas senyuman dan beberapa kali menepuk bahu kokoh nan lebar itu. "Mama harap kamu dan Alesha segera menikah."


"Semoga ibu Alesha segera sembuh. Nanti Mama akan menyuruh mereka tinggal di sini karena rumah ini terlalu besar untuk kita berdua. Kedatangan mereka akan menambah kehangatan di keluarga kita. Harusnya kamu tidak melarang Mama untuk mengajak Alesha tinggal di sini."


Rafael yang kini baru saja menapakkan kaki di anak tangga terakhir, menoleh ke arah sang ibu karena seperti anak kecil keras kepala ketika selalu membahas tentang keinginan untuk mengajak Alesha tinggal di sana.


"Jangan membuat pikiran orang lain buruk dengan mengajak Alesha yang belum sah menjadi istriku, Ma. Setelah aku resmi menikahi Alesha, pasti akan mengajaknya tinggal di sini. Sepertinya aku akan makan di mobil saja karena sudah terlambat."


Malas, mungkin itu yang dirasakan oleh Rafael saat sang ibu selalu meminta hal-hal yang membuatnya serasa dicekik karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.


Apalagi berpikir bahwa mengajak Alesha tinggal di rumahnya adalah sesuatu yang tidak masuk akal karena pasti akan menjadi incaran para wartawan jika sampai terdengar di telinga mereka.


'Apa mama tidak pernah berpikir jika para wartawan mendengar hal ini, maka namaku akan berada di surat kabar pada halaman pertama. Rafael Zafran memilih kumpul kebo dengan sang kekasih. Astaga, membayangkan hal itu saja sudah membuat pusing.'

__ADS_1


'Untuk kesekian kalinya akan menjadi bulan-bulanan para wartawan dan aku tidak mau itu terjadi. Dulu saat dikabarkan gay saja membuatku tidak punya muka di depan para klien bisnis,' gumam Rafael yang saat ini melihat sang ibu tidak lagi protes karena menganggukkan kepala.


To be continued...


__ADS_2