I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Amarah


__ADS_3

Hari ini, Rafael benar-benar disibukkan oleh pekerjaan. Mulai dari menandatangani beberapa berkas penting dan juga pertemuan dengan klien.


Seperti siang ini, ia ada jadwal bertemu dengan salah satu orang yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.


Kini, ia sudah duduk di salah satu restoran dengan asisten pribadinya yang menjelaskan mengenai kerjasama. Rafael selalu datang lebih awal karena tidak ingin membuat rekan bisnis menunggu dan mencoba untuk menghormati waktu orang lain.


Apalagi semenjak menjadi pemimpin perusahaan, semboyannya menjadi 'waktu adalah uang'. Jadi, berusaha untuk menghargai waktu dengan tidak datang terlambat saat menemui akan bisnis.


Ia saat ini melirik jam tangan mewah miliknya. "Masih lima menit lagi. Semoga pria itu tidak datang terlambat. Aku paling tidak suka dengan orang yang tidak tepat waktu."


Sementara itu, sang asisten yang saat ini duduk di sebelah kiri bosnya, mencoba untuk menatap ke arah pintu masuk dan berharap orang yang ditunggu segera tiba.


Namun, harapannya tidak terjadi karena hanya orang lain yang melewati pintu masuk restoran mewah tersebut. "Semoga saja orang itu tidak terlambat datang, Presdir."


'Karena jika terlambat, bos pasti akan merasa ilfil dan membatalkan kerja sama,' gumam sang asisten yang kini harap-harap cemas menunggu.


"Baiklah." Rafael menjawab singkat dan menghilangkan rasa bosan dengan membuka ponsel miliknya.


Satu hal yang terpikirkan olehnya saat ini adalah sesuatu mengenai sikap aneh Alesha dan sempat membuatnya dimarahi oleh sang ibu karena mengungkit masalah Alex.


Rafael yang selama ini terbiasa dan bisa dibilang saling melihat sosial media milik Alesha semenjak mereka menikah, kini ingin mengetahui apakah hari ini memposting sesuatu.


'Biasanya ia selalu membuat kata-kata penuh arti dan bermakna di sosial media miliknya. Sebenarnya ia sangat inspiratif dan kreatif dalam menyusun kata-kata yang tidak pernah aku bisa.'


Rafael tidak pernah mengungkit mengenai media sosial milik Alesha atau mengungkapkan ada protes karena wanita itu jarang memposting foto, tapi lebih sering mengunggah kata-kata yang inspiratif.


Ia mengetahui media sosial Alesha tanpa bertanya, tapi mengetik banyak nama Alesha untuk mencari tahu sendiri dan butuh perjuangan menemukannya.


Bahkan sempat merasa sangat kesal karena tidak kunjung menemukan media sosial milik Alesha.


Hingga setelah perjuangan satu hari mencari, sangat senang begitu menemukannya. Semenjak saat itu, selalu mencari tahu apa saja yang diposting oleh Alesha di media sosial.


Kini, ia melihat postingan terbaru dari Alesha dan membacanya.


Saat kau berlari dari takdir yang mengejarmu, hasilnya adalah sebuah keberuntungan. Namun, saat kau mengejar takdir yang menjauh darimu, hasilnya hanyalah nestapa.


Rafael bahkan beberapa kali membacanya dan mencoba untuk mencari tahu arti dari kata-kata tersebut.


Namun, seolah otaknya sangat tumpul karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Alesha saat menuliskan itu.


Karena tidak ingin pusing sendiri untuk mencari tahu artinya, kini Rafael menoleh ke arah asisten yang masih terlihat fokus menatap ke arah layar tablet.


Kemudian ia membacanya agar pria yang sangat dipercayainya tersebut mendengar dan memberikan jawaban atas pertanyaannya.


"Menurutmu, apa maksudnya? Coba kau artikan itu! Aku ingin tahu apa arti dari kata-kata inspiratif itu."

__ADS_1


Rafael bahkan menatap intens asistennya dan menunggu hingga bibir tebal dengan warna sedikit kehitaman karena efek merokok, menjawabnya.


Sementara itu, sosok pria yang baru saja mengalihkan pandangan dari layar tablet saat berkonsentrasi dalam masalah pekerjaan, kini mencoba untuk meresapi apa yang baru saja didengar.


"Apakah itu kata-kata dari penulis terkenal?"


"Bukan! Jawab saja karena aku sangat penasaran dengan artinya." Rafael sudah tidak sabar mendengar arti dari kata-kata Alesha hari ini.


Ia sangat berharap asistennya yang sangat pintar tersebut bisa memberitahunya. Hingga ia seketika mengarahkan tinju pada lengan asistennya tersebut.


Rafael merasa sangat kesal pada jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Meskipun kau berlari dengan sekuat tenaga dari takdir yang mengejarmu, hasilnya hanyalah sebuah keberuntungan. Namun, saat kau mengejar takdir yang menjauh darimu, hasilnya hanyalah nestapa."


"Saya tidak paham apa maksudnya. Lebih baik Anda tanyakan sendiri pada orangnya langsung dengan mengirimkan pesan. Apalagi di zaman ini sudah jauh lebih canggih dan bisa mencari tahu apapun melalui ponsel."


Steven Aliandro meringis menahan rasa nyeri pada lengannya, tapi kemudian terkekeh melihat wajah kesal yang seperti anak kecil tidak diberikan permen oleh ibunya.


"Anda seperti seorang anak kecil saja. Pasti istri Anda akan sangat gemas melihat wajah suaminya yang seperti ini." Steven berusaha untuk memuji bosnya agar tidak mendapatkan pukulan sekali lagi.


Apalagi ia sangat hafal dengan watak dari atasannya tersebut yang akan ada mamanya jika dipuji, tapi tidak berlebihan.


"Sialan! Kau sengaja mengatakan itu agar aku tidak memotong gajimu bulan ini, kan?" sarkas Rafael yang memilih untuk memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku jas.


"Hanya saja, saya menangkap nada kegetiran dalam kata-katanya karena lebih fokus pada kalimat terakhir." Steven sengaja tidak mengatakan kalimat terakhir karena ingin bosnya tersebut berpikir sendiri.


Rafael kini langsung menyebutkan nanti niatnya. "Maksudmu nestapa?"


"Iya, sepertinya penulisnya sedang dalam suasana hati yang tidak baik dan mengungkapkannya melalui kata-kata itu. Memangnya siapa penulisnya? Apakah saya boleh tahu?"


Stevan melihat atasannya tersebut mengarahkan kepalan tangan padanya, ia mengerti bahwa keinginannya tidak disetujui karena mendapat penolakan.


Rafael yang tadinya benda kembali meninju lengan di balik setelan jas berwarna hitam asistennya tersebut, yang baru saja datang dan mengurungkan tangan padanya.


"Tuan Rafael Zafran. Maaf saya terlambat datang."


Rafael seketika berdiri untuk menyambut uluran tangan dari orang yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaannya.


"Iya. Selamat datang, Tuan Noel Harahap." Tersenyum dan memberikan kode untuk duduk pada pria yang diketahui memiliki usia jauh di atasnya tersebut.


"Terima kasih." Noel Harahap kini juga tersenyum pada pria yang berada di sebelah Rafael.


"Apa perjalanan Anda nyaman atau terjebak macet, Tuan Noel." Rafael yang tadi langsung melirik mesin waktu di pergelangan tangan kiri, ingin mengetahui berapa menit pria dihadapannya tersebut terlambat.


Jadi, ia sengaja berbasa-basi sebelum memulai pembicaraan yang lebih serius. Namun, Rafael merasa sangat terkejut dengan jawaban yang didengarnya dan seolah menyindirnya habis-habisan.

__ADS_1


"Maaf terlambat datang karena tadi ada gangguan sekilas. Ada seorang wanita yang berprofesi sebagai sugar baby menggodaku dan pastinya mengincar uangku untuk hidup mewah."


Noel sebenarnya tidak berniat untuk bekerja sama dengan pria di hadapannya tersebut karena hanya ingin mengejeknya. Itu karena ia dulu ditolak oleh Alesha yang masih berprofesi sebagai sugar baby.


Jadi, begitu melihat berita di media sosial serta televisi saat pernikahan seorang pengusaha sukses di hadapannya tersebut dengan wanita yang dulu pernah menolaknya, membuatnya merasa kesal.


Ia kini tertawa sambil menatap ke arah pria yang jauh lebih muda darinya terlihat memerah. Seolah dikuasai oleh kemurkaan begitu ia menyebutkan sugar baby.


Rafael tidak pernah menyangka akan berurusan dengan pria yang pernah berhubungan dengan Alesha saat menjadi sugar baby dulu.


Ia saat ini mengepalkan tangan kiri di bawah meja dan masih mencoba untuk menahan amarah yang membuncah di dalam hati.


'Berengsek! Jadi, ia hanya mempermainkanku agar bisa berhadapan denganku karena mengetahui bahwa aku telah menikahi Alesha? Apakah ia dulu telah banyak memberikan uang pada Alesha?'


'Jadi, sekarang merasa sangat kesal padaku. Dasar pria menjijikkan! Aku benar-benar sangat muak melihat seorang suami yang berselingkuh dari istrinya. Apalagi dengan menyewa para sugar baby yang berusia muda dengan paras cantik dan seksi.'


Kini, Rafael berusaha untuk tenang dan tersenyum simpul saat menanggapi. Namun, sebelumnya menyuruh asistennya untuk memesan makanan terlebih dahulu.


Tentu saja dengan mengibaskan tangan karena ingin mengusir asistennya.


Merasa ada aura menegangkan di antara dua pria itu, kini Steven bangkit berdiri dan melakukan kepala, lalu berjalan menuju ke arah salah satu waiters.


Kemudian Rafael yang sudah menahan kemurkaan dari tadi, kini menatap tajam ke arah sosok pria yang diketahuinya hanya ingin menghinanya.


"Jadi, apa Anda ingin membicarakan mengenai istriku? Ataukah mengarang cerita mengenai sugar baby untuk mengenang momen yang tidak bisa Anda lupakan? Lalu, kesal karena sayalah yang menjadi pemiliknya?"


Awalnya Noel berpikir jika Rafael akan langsung meninju wajahnya, tapi ia malah mendapatkan kalimat ejekan serupa, amarahnya seketika bangkit. Refleks ia menggebrak meja dan mengumpat.


"Apa saat ini kau sedang membanggakan istrimu yang tak lain adalah wanita murahan karena menjadi seorang sugar baby? Dasar pria bodoh! Meskipun kau menutupi dari awak media dengan mengandalkan para IT di perusahaan, itu tidak akan selamanya menutupi identitas pelacur itu!"


Seketika Rafael melakukan hal yang sama dengan bangkit dari kursi dan menendang ke arah belakang.


Tanpa membuang waktu, ia langsung mengarahkan tangan yang dari tadi mengepal untuk meninju wajah pria yang membangkitkan amarahnya.


"Berengsek! Dasar pria tua bangka yang tidak tahu diri!"


Rafael sudah memerah wajahnya dan berapi-api, kini tidak berniat untuk melepaskan sasaran dan beberapa kali meninju wajah pria yang dianggap hanyalah seonggok sampah karena memakai jasa sugar baby hanya demi nafsu semata.


"Kau hanyalah sampah yang kotor karena mengkhianati istrinya hanya demi nafsu semata. Lalu, kau berlagak ingin menjadi seorang pria suci di depanku?"


Sementara itu, Noel saat ini berusaha untuk melawan, tapi tenaganya tidak sekuat pria yang berusia lebih muda darinya dan membuat bibirnya berdarah serta merasa nyeri pada bagian wajah sebelah kiri.


"Presdir, hentikan!" Steven seketika berlari begitu mendengar keributan dan langsung menghentikan aksi baku hantam dari bosnya dengan menahan kedua tangan pria yang diliputi oleh amarah tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2