I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Tidak ada cinta


__ADS_3

Karena Alesha merasa kasihan pada sang ibu yang selama ini tinggal sendiri, ia ingin sesekali tinggal bersama wanita paruh baya yang membuatnya tidak tega. Ia ingin sang ibu bisa memberikan perhatian padanya saat hamil muda. Kini, ia menatap ke arah sang ibu begitu ditanya oleh Rafael.


"Aku ingin tinggal di rumah ibu selama beberapa hari," ucap Alesha yang kini menatap ke arah mertuanya. "Tidak apa-apa kan, Ma? Aku ingin ibu memberikan perhatiannya padaku saat hamil muda seperti ini."


Tidak ingin membuat Alesha merasa bersalah, kini Tiana menggelengkan kepalanya karena sama sekali tidak keberatan. "Tentu tidak masalah, Sayang. Tidak perlu merasa tidak enak pada Mama karena kamu berhak melakukan apapun yang membuatmu bahagia."


Kemudian Tiana beralih menatap ke arah putranya yang terlihat kecewa. "Kamu juga akan menemani istrimu, kan?"


Rafael yang sebenarnya merasa kecewa pada keputusan Alesha saat tidak memilih rumahnya yang mewah untuk pulang, kini berusaha untuk bersikap biasa dan menyembunyikan perasaan begitu melihat ke arah sang ibu.


"Tentu saja aku akan menemani istrimu, Ma. Ke mana Alesha pulang, aku akan ikut karena sudah menjadi tugas seorang suami memberikan perhatian pada istri yang tengah hamil."


Kemudian Rafael ingin segera membereskan masalah admistrasi, jadi ia berpamitan pada tiga wanita itu. "Kalau begitu, aku akan membayar biaya rumah sakit dulu."


"Baiklah. Kamu urus semuanya dulu," ucap Tiana pada Rafael dan merasa sangat lega melihat putranya bisa menerima keputusan sang menantu.


"Syukurlah suamiku tidak keberatan menerima keputusanku, Ma." Sebenarnya Alesha merasa lidahnya seperti susah mengucapkan kata yang baru diucapkan, yaitu suami.


Namun, ia tidak mungkin memanggil nama saja di depan sang ibu dan mertua setelah rumah tangganya kembali baik dan berjalan normal seperti layaknya hubungan suami istri sesungguhnya.


Jika biasanya ia selalu memanggil sayang dan terbiasa melakukannya saat berakting, tapi kali ini semuanya berjalan natural. Ia bahkan merasa kikuk ketika mengucapkan kalimat barusan.


'Suami, rasanya lidahku seperti terpeleset saja memanggil Rafael suamiku. Padahal dari dulu aku sangat berharap bisa memanggilnya seperti ini, tapi sekarang malah terasa kaku dan terkesan aneh karena baru pertama kali,' gumam Alesha yang saat ini bisa melihat wajah bahagia sang ibu.


Namun, seperti biasa selalu menasehatinya macam-macam karena berharap ia tidak terlalu memikirkan sang ibu.


"Sebenarnya akan lebih baik jika kamu tinggal di rumah yang besar dan dipenuhi dengan fasilitas lengkap seperti yang dikatakan oleh menantu, tapi ibu merasa senang jika kamu ingin tinggal sementara di rumah."


Lia Nuraini tidak merasa percaya diri setelah mengetahui keputusan putrinya yang memilih untuk tinggal bersamanya selama beberapa hari.


Hal itu dikarenakan sang menantu juga akan tinggal di rumah sempit yang menurutnya tidak pantas untuk ditempati pria sekaya Rafael. "Rumah kita jelek dan sangat malu jika menantu tinggal di sana."


"Astaghfirullah! Jangan berkata seperti itu, Jeng karena kami juga berasal dari keluarga sederhana. Bahkan rumah lama dulu tidak lebih besar dari rumah kalian." Tiana benar-benar tidak suka dengan pemikiran besannya yang berlebihan pada keluarganya.


Padahal sudah mengetahui cerita yang sebenarnya karena tidak ada yang ditutupi selama ini dari wanita yang sebaya dengannya tersebut.


"Kalau tidak percaya, nanti akan mengajak kalian ke Bandung. Aku tidak menjual rumahnya karena hanya mengontrakkan. Itu adalah satu-satunya rumah peninggalan suami dan tidak mungkin kami jual karena banyak kenangan di sana."

__ADS_1


Alesha yang pernah mendengar rumah lama di Bandung, kini merasa tertarik untuk pergi melihat seperti apa tempat tinggal suaminya yang dulu dari kecil hingga dewasa.


"Kalau begitu, kapan-kapan kita ke sana bersama-sama, Ma. Aku juga ingin melihat tempat tinggal suamiku dari kecil hingga dewasa. Berarti setelah memimpin perusahaan yang dialihkan Arsenio pada suamiku, kalian pindah ke Jakarta agar bisa lebih dekat memimpin perusahaan?"


Alesha memang tidak banyak bertanya mengenai Rafael yang memimpin perusahaan pusat di Jakarta.


Ia hanya tahu bahwa sang suami dulu bekerja di Jakarta sebagai staf biasa, lalu meminta pindah ke Bandung karena ingin dekat dengan sang ibu yang sudah dipecat dari rumah keluarga Aealeasha.


Hal itu karena dituduh mencuri oleh ibu tiri mantan istri Rafael yang tak lain adalah kekasih Arsenio di masa lalu dan menikah dengan ayah Aealeasha.


Namun, sekarang sudah berada di rumah sakit jiwa karena tidak bisa menerima kenyataan saat Arsenio mencintai anak tirinya yang semenjak kecil disiksa.


Alesha mengetahui semua cerita itu dari mertuanya yang menjelaskan semuanya agar ia tidak merasa cemburu saat Rafael membahas mengenai Aealeasha.


Karena berpikir bahwa rasa sayang Rafael seperti layaknya seorang kakak yang iba pada adik perempuan karena kekurangan kasih sayang dari sang ibu setelah meninggal ketika berusia 12 tahun.


"Baiklah. Aku nanti akan berbicara pada Rafael agar meluangkan waktunya untuk kita pergi ke Bandung saat weekend. Tapi yang jelas, kamu sudah melewati kehamilan trimester pertama dulu, Sayang," seru Tiana yang saat ini tersenyum sambil mengusap perut datar menantunya.


"Semoga jabang bayi sehat sampai dilahirkan nanti," harap Tiana sambil tersenyum pada besannya yang mengaminkan.


"Kamu harus menjaga kesehatan serta pikiran, Nak. Jangan lupa makan makanan yang sehat selama masa kehamilan. Meskipun di trimester pertama sangat berat karena selalu makan dan dengan mudah dikeluarkan, tapi jangan membiarkan perut kosong."


Ia ingin memberikan yang terbaik pada putri dan cucunya. Apalagi selama ini selalu mendapatkan uang belanja yang dikirimkan oleh Rafael dan tidak pernah disentuhnya.


Memang ia selama ini memenuhi kebutuhan dari uang berjualan karena membuka toko kelontong di rumah dan menjadi tempat belanja para tetangga.


Awalnya ia bingung harus bekerja apa untuk menghilangkan kebosanan di rumah, hingga mendapatkan sebuah ide untuk membuka toko kelontong bahan-bahan kebutuhan pokok kecil-kecilan.


Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena Rafael memfasilitasi semuanya dengan memberikan modal dan membuat toko impian di depan rumah.


"Jadi, nanti sekalian pulang, kita belanja untuk membeli susu serta beberapa makanan sehat untukmu dan cucuku."


Bahkan ia mempunyai ATM yang bisa digunakan untuk belanja apapun karena dulu sudah diuruskan oleh Rafael yang benar-benar memberikan banyak uang belanja padanya sebagai menantu yang baik.


Karena itulah ia tidak bisa membenci ataupun memarahi menantunya yang dianggap adalah pria yang baik meskipun sudah memberikan talak 1 pada putrinya.


Hingga ia mengetahui semuanya setelah putrinya berakhir di rumah sakit karena efek kehamilan. Kini, ia mendapatkan dukungan dari besan yang juga ingin memberikan terbaik.

__ADS_1


"Iya, nanti Jeng belanja denganku saja di supermarket. Biarkan putra-putri kita pulang terlebih dahulu agar Alesha bisa beristirahat di rumah." Tiana yang baru saja menutup mulut, kini melihat putranya yang baru memasuki ruangan.


"Cepat sekali, Sayang?" tanya Tiana kepada putranya dengan tatapan heran.


"Cepat kalau ada duit, Ma. Oh ya, aku akan memanggil perawat untuk melepaskan infus dari tangan istriku dulu." Saat Rafael berniat untuk berjalan berjalan memanggil perawat, ia mendengar suara dari sang ibu dan membuatnya menoleh ke belakang.


"Sayang, nanti kamu pulang dengan Alesha karena Mama akan pergi ke supermarket dulu bersama besan untuk membelikan bahan-bahan kebutuhan serta susu untuk menantu dan calon cucuku." Tiana saat ini bersiap untuk pergi dan beralih menatap ke arah besannya.


"Kita pergi sekarang saja karena Alesha sudah sehat karena merasa bahagia saat bersama suami yang bucin dan perhatian." Ia melirik ke arah putra dan menantunya yang terlihat seperti malu-malu kucing bagaikan remaja yang baru saja jatuh cinta.


Sementara itu, Lia Nuraini hanya tersenyum simpul melihat putri dan menantunya sangat bahagia. Ia saat ini hanya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.


Di sisi lain, Rafael yang melirik ke arah sang istri saat terlihat memerah wajahnya, kini terkekeh geli. "Mama jangan suka menggoda istriku karena ia sangat malu. Biarkan aku saja yang menggodanya nanti di kamar."


Rafael merasa lega karena tidak berada di dekat sang istri. Ia mengetahui apa yang terjadi padanya saat Alesha marah dan kesal padanya, pasti akan memukulnya bertubi-tubi seperti tadi. Dengan mengusap dada beberapa kali sambil tertawa ketika melihat sang istri mengarahkan tatapan tajam menusuk padanya.


"Selamat!" seru Rafael yang saat ini terbahak begitu melihat Alesha yang mengarahkan kepalan tangan ditujukan padanya.


"Awas saja kalau ke sini! Sudah sana! Cepat panggil perawat untuk melepaskan ini karena aku ingin segera pulang ke rumah." Alesha kembali membuka mulutnya karena berpikir bahwa 3 orang di hadapannya mungkin memikirkan hal lain saat ia ingin segera pulang dari rumah sakit.


Ia kembali menatap tajam Rafael agar tidak berpikiran macam-macam padanya.


"Cepat! Aku benar-benar sudah bosan berada di sini!" umpat Alesha yang ingin segera mengusir sosok pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


Meskipun ia merasa malu, tetap saja ingin segera meninggalkan ruangan dengan dipenuhi warna putih itu. Apalagi selama ini tidak pernah suka berada di tempat yang menjadi berakhirnya orang-orang sakit.


Meskipun rumah sakit di zaman sekarang sangat berbeda dengan yang dulu dipenuhi bau obat menyengat. Karena rumah sakit yang sekarang sudah bersih dan bebas dari bau obat.


Tetap saja ia tidak pernah betah berada di sana meskipun di kelas VVIP sekalipun. Alesha yang melampiaskan kekesalan pada Rafael, kini kembali ke memasang wajah masam begitu mendengar sang suami mengejeknya.


"Sabar, Sayang. Iya, kita akan secepatnya pulang dan bisa bersama dengan mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendam." Rafael mengedipkan mata dan berlari pergi meninggalkan wanita dengan bibir mengerucut karena marah sekaligus kesal padanya saat digoda.


Ia merasa sangat bahagia hari ini karena tidak ada lagi sesuatu yang disembunyikan dan tidak diketahuinya dari Alesha yang ternyata mencintainya, bukan mencintai Alex.


Saat Rafael berjalan menuju ke arah meja perawat, ia memikirkan Alex dan berniat untuk berbicara empat mata dengan pria itu.


'Aku sangat yakin jika Alex berusaha untuk menyatukanku dengan Alesha begitu mengetahui tidak ada cinta yang dirasakan oleh istriku padanya.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2