I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menyatakan cinta


__ADS_3

Tentu saja Rafael mengerti apa yang saat ini diharapkan oleh Alesha, sehingga langsung berbicara pada sang ibu agar tidak lagi membuat wanita yang duduk di sebelahnya tersebut kesal padanya.


"Aku sudah berusaha setiap hari untuk membuat cucu untuk mama, tapi bukankah semua itu adalah kuasa dari Tuhan? Jadi, serahkan saja semuanya pada yang lebih berkuasa karena kami sudah berusaha."


Kemudian Rafael menggenggam erat tangan Alesha dan tersenyum. "Mama doakan saja agar menantu kesayangan Mama ini segera hamil karena aku sudah berusaha sekuat tenaga."


Wanita baru bayar yang baru saja mengambil nasi goreng kambing kesukaan putranya, kini langsung memberikannya. "Setiap hari Mama berdoa tanpa kamu memintanya."


"Semoga Tuhan mendengar doa-doa Mama dan Alesha segera hamil, sehingga rumah besar ini akan dihiasi dengan suara tangisan serta canda tawa cucu."


Kemudian ia giliran mengambilkan makanan untuk menantu kesayangannya, lalu memberikannya.


"Makan yang agar tubuhmu semakin fit dan selalu sehat, Sayang. Bukankah kamu sangat menyukai ini?"


Alesha sebenarnya merasa tidak enak karena selalu dilayani oleh mertuanya yang sangat baik hati seperti Dewi. Bahkan ia seperti tidak merasa menjadi seorang menantu di rumah itu karena malah dianggap layaknya anak kandung sendiri.


Alesha yang menerima piring berwarna putih berisi menu kesukaannya, yaitu kwetiau goreng kerang, kini berkaca-kaca bola matanya. Ia ingin sekali menahan bulir air mata sudah menganak sungai yang terjun bebas tanpa seizinnya.


Ia tidak bisa membayangkan jika sebentar lagi akan meninggalkan rumah yang dianggapnya sebuah surga karena memberikan semua kehangatan keluarga dan diratukan oleh para pemilik rumah, meski Rafael tidak melakukan itu padanya saat berada di dalam kamar.


Saat ini ia sudah menangis sesenggukan dan membuat ibu dan anak itu merasa sangat heran melihat Alesha menangis.


Refleks Rafael merasa khawatir jika wanita di sampingnya tersebut berbicara jujur pada sang ibu karena pembicaraan di kamar tadi. Padahal ia belum siap melakukan itu.


Refleks ia memeluk erat tubuh Alesha dengan mendekatnya dan mengusap lembut lengan kanan wanita yang masih sesenggukan itu.


"Sayang, kenapa menangis? Bukankah mama tidak marah padamu? Mama hanya mendoakan agar kamu segera hamil dan memberikannya cucu."


Rafael benar-benar merasa bingung dengan sikap wanita yang masih berada dalam pelukannya karena seolah betah meneteskan air mata dan dianggap berubah menjadi orang lain karena selama ini jarang melihat Alesha menangis sesenggukan.


'Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa ia malah menangis seperti orang yang baru saja mengalami kekerasan ataupun kesedihan?' gumam Rafael yang saat ini masih terdiam di tempatnya dan menunggu penjelasan.


Sementara itu, Tiana seketika merasa bersalah begitu melihat menantunya menangis tersedu-sedu, sehingga buru-buru bangkit berdiri dan mendekat.


"Sayang, apa kata-kata mama sangat menyakitimu? Maafkan Mama jika membuatmu merasa tertekan seperti yang dikatakan oleh Rafael karena selalu membicarakan masalah cucu."


Bahkan Tiana kepala menantunya agar tidak semakin menangis dan bersedih. "Mama janji, mulai hari ini tidak akan membicarakan mengenai masalah cucu padamu. Jadi, jangan menangis lagi."


Kini, rasa bersalah semakin menyeruak di dalam hati Alesha karena selama ini menipu wanita yang dianggap sebaik malaikat tersebut.

__ADS_1


'Mama, maafkan aku karena telah menipumu dan tidak bisa membuat harapan menjadi kenyataan karena sebentar lagi akan pergi dari rumah ini.'


'Maafkan aku karena tidak bisa membalas semua kebaikan mama karena sebentar lagi akan bercerai dengan putramu,' gumam Alesha seketika melepaskan Rafael dan bangkit berdiri untuk memeluk wanita paruh baya yang sudah dianggap seperti ibu kandung sendiri.


Bahkan ia kembali melanjutkan tangisannya saat berada di pelukan wanita dengan penuh kehangatan yang sangat disayanginya tersebut.


Namun, ia tidak ingin kesalahpahaman mengelilingi mereka dan membuka suara untuk meluruskan pemikiran salah yang saat ini membuat rasa bersalah mertuanya.


"Mama, aku sangat menyayangimu dan merasa sangat bahagia menjadi menantumu di rumah ini. Mama adalah seorang ibu yang baik dan memperlakukanku layaknya ratu di rumah ini."


"Aku harusnya melayani Mama dengan baik, tapi malah sebaliknya dan hal itu membuatku merasa bersalah, tapi sangat terharu atas kebaikanmu padaku." Alesha bahkan berbicara dengan suara serak dan masih sesenggukan.


Ia berusaha untuk tidak melanjutkan tangisannya karena tidak ingin membuat suasana di pagi hari yang cerah tersebut dipenuhi oleh suaranya yang mengandung kesedihan.


'Aku tidak tahu bagaimana respon Mama setelah nanti mengetahui kami bercerai. Maafkan aku karena telah menipumu.' Alesha hanya bisa mengatakan di dalam hati karena benar-benar tidak tega melihat wajah bak malaikat yang ditunjukkan oleh mertuanya.


Tiana begini semakin mengusap punggung belakang menantu kesayangannya tersebut untuk menenangkan dan berharap tidak lagi melihat tangisan dari menantunya.


Meskipun mengetahui bahwa itu adalah tangisan kebahagiaan, tetap saja tidak tega melihatnya. "Sayang, Mama pikir kamu bersedih karena tertekan dengan perkataan yang mengungkit masalah kehamilan."


"Ternyata kamu menangis bahagia karena menjadi menantuku. Syukurlah kamu bisa menyayangi Mama seperti ibu kandungmu sendiri." Tiana saat ini tersenyum pada putranya yang tadinya khawatir, kini berubah tersenyum penuh kelegaan.


"Lagipula Mama selama ini ingin sekali memiliki anak perempuan dan begitu kamu datang ke rumah ini, semua impianku terwujud. Ternyata memiliki seorang anak perempuan sangat menyenangkan karena kita bisa melakukan apapun berdua."


"Apalagi selalu tidak betah dan ingin segera pulang saat diajak untuk berbelanja ke Mall. Beda saat Mama pergi denganmu, bisa membicarakan apapun mengenai apa yang dibeli serta membandingkan bermacam-macam barang serta masih banyak lagi."


Masih berusaha untuk menenangkan perasaannya yang kacau balau karena berpikir bahwa waktunya tinggal satu minggu lagi di rumah itu, Alesha ini membalas pelukan dari mertuanya.


"Iya, Mama benar karena pria tidak pernah betah diajak shopping. Putra Mama lebih betah berkutat dengan banyaknya dokumen di atas meja dengan suasana penuh keheningan. Bukankah hidupnya sangat membosankan?"


"Memikirkan hal itu, aku tapi tidak merasa keberatan karena ia melakukan semua itu demi membahagiakan kita agar bisa memberikan uang banyak dan bisa kita gunakan untuk shopping sesuka hati. Jadi, tidak boleh menyalahkan pria yang menjadi ATM berjalan kita."


Seketika suasana yang diliputi rasa haru tersebut berubah dipenuhi suara tawa dari dua wanita yang masih berpelukan.


Sementara itu, Rafael hanya geleng-geleng kepala melihat semua itu dan kini menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut, lalu mengunyahnya.


"Para wanita tidak pernah salah dan juga tidak mau mengalah pada pria. Jadi, aku tidak akan berkomentar." Kemudian melirik jam tangan mewah miliknya.


"Karena sebentar lagi harus berangkat bekerja dan melanjutkan untuk menjadi ada yang berjalan kalian." Rafael sebenarnya tidak percaya dengan apa yang menjadi alasan Alesha menangis tersedu-sedu hari ini.

__ADS_1


Namun, ia tidak tahu apa yang disembunyikan oleh Alesha karena saat ini pikirannya seolah tumpul dan tidak bisa diajak berpikir.


Apalagi hari ini banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan juga ada pertemuan dengan klien penting di salah satu restoran.


Bahkan rencananya adalah ingin memberitahu mantan istrinya mengenai perihal kecelakaan puluhan tahun yang lalu yang melibatkan ibu dan mertuanya.


Ia ingin mengetahui apa yang menjadi keputusan Aealeasha setelah mengetahui hal itu. Apakah masih memiliki harapan untuk kembali pada suami yang merupakan putra dari orang tua yang telah menjadi korban tabrak lari ibunya.


Kemudian baru menyelesaikan masalahnya dengan Alesha dengan menggugat cerai di pengadilan setelah satu minggu lagi.


Namun, mengingat itu semua, saat ini Rafael berpikir mengenai Alesha. 'Apakah Alesha merasa bersedih karena sebentar lagi meninggalkan rumah ini dan juga tidak lagi mendapatkan kasih sayang mama?'


Kemudian ia beralih menatap ke arah mertua dan menantu yang saat ini kembali duduk bersebelahan tengah menikmati makanan sambil bercanda tawa.


Bahkan ia melihat sang ibu mengusap sisa bulir air mata di wajah Alesha. Entah mengapa melihat pemandangan itu membuat hatinya menghangat. Ia dulu sering melihat sang ibu melakukannya pada mantan istrinya karena juga menganggap seperti anak kandung sendiri.


Namun, perbedaannya adalah saat itu menikahi Aealeasha secara siri dan tidak pernah mencintainya walau sedikitpun karena selalu menganggapnya seperti seorang saudara laki-laki.


Berbeda saat ini ketika menatap ibu dan Alesha yang seperti anak kandung sendiri dan pernikahannya sah di mata agama dan negara, tapi hanyalah berdasarkan sebuah perjanjian di atas kertas.


'Apakah Alesha tidak pernah sekalipun memikirkanku karena ada Alex di hatinya? Kenapa aku sekarang tiba-tiba merasa penasaran dengan isi hati wanita ini?'


Rafael yang saat ini menatap ke arah ibu dan Alesha, tiba-tiba bertanya sesuatu untuk menjawab rasa penasaran yang menyiksanya.


"Sayang, sepertinya kamu sangat menyayangi mertuamu seperti ibu kandung sendiri."


"Iya, tentu saja," jawab singkat Alesha yang sekilas melirik ke arah Rafael.


Hingga ia menelan saliva dengan kasar begitu mendapatkan pertanyaan kedua dari pria yang telah berhasil meninggalkan luka tak berdarah di dalam hatinya.


"Lalu, apakah kamu juga sangat mencintaiku?" Akhirnya Rafael meloloskan pertanyaan yang membuatnya ingin mengetahui kejujuran di mata wanita yang saat ini ditatapnya.


'Apakah aku bisa melihat kejujuran atau kebohongan di mata Alesha? Jika dulu aku mengetahui semua hal mengenai Aealeasha, sekarang ingin tahu apakah juga berlaku pada Alesha.'


Saat ini, Alesha mencoba untuk menenangkan hatinya yang serasa jungkir balik ketika mendapatkan tatapan tajam dari iris berkilat di hadapannya.


Bahkan jujur saja saat melihat wajah tampan pria yang berstatus sebagai suami di atas kertas tersebut, hatinya seperti tengah naik roller coaster. Kini, ia langsung menjawab tanpa ragu.


"Tentu saja aku sangat mencintaimu, Sayang karena tidak ada pria lain yang membuat hati bergetar seperti ini."

__ADS_1


Kemudian Alesha memalingkan wajah setelah mengatakan itu karena jujur saja saat ini perasaannya bergejolak karena sebenarnya baru saja menyatakan cintanya.


To be continued...


__ADS_2