
Setelah menempuh perjalanan di udara lebih dari 20 jam, pesawat yang ditumpangi oleh Aeleasha dan putranya sudah mendarat dengan sempurna di Bandara.
Kini, Aeleasha berjalan keluar dari terminal kedatangan bersama putranya."
"Mommy? Daddy di mana? Apa Daddy tidak menjemput kita?" Arza kecil yang berusia lima tahun lebih itu berbicara dengan suaranya yang sangat menggemaskan.
Meskipun sebenarnya hati sedang terluka saat ini, ia berusaha menampilkan senyuman semanis mungkin agar putranya tersebut tidak merasa curiga dan pastinya akan bersedih karena Arza dan Arsenio sudah sangat dekat sebagai ayah dan anak.
Arsenio selalu menyayangi Arza dan sangat dekat sebagai seorang ayah, sehingga ia sebenarnya merasa sangat berdosa karena memisahkan dua pria berbeda generasi tersebut yang saling menyayangi.
"Daddy sibuk bekerja, Sayang! Mungkin nanti saat libur kerja, daddy akan menjemput kita. Sekarang kita liburan di rumah kakek, ya?"
Arza yang berusia lima tahun itu menepuk tangannya dan terlihat sangat bahagia seraya menunjuk ke arah pria tampan yang saat ini berada di area depan Bandara.
"Papa ... Papa."
Aeleasha mengikuti arah pandang putranya yang terlihat sangat berbinar dan tentu saja ia merasa sangat terkejut begitu tatapan matanya bersitatap dengan mantan suami yang terlihat tengah tersenyum ke arahnya dan berjalan mendekat.
"Brother ? Kenapa kamu ada disini? Apa kamu datang kesini untuk menjemputku karena merasa sangat kasihan melihatku?"
Jika dulu Aeleasha memanggil Rafael dengan nama saja setelah menjadi istri Arsenio, tetapi kali ini berbeda ketika ia sudah tidak bersama sang suami dengan kembali memanggil brother untuk menciptakan sebuah dinding pembatas antara ia dan mantan suami siri tersebut.
Dengan begitu, ia berpikir jika Rafael akan mengerti bahwa ia selamanya akan menganggap mantan suaminya itu sebagai seorang saudara laki-laki.
Sementara itu, tanpa menjawab pertanyaan dari Aeleasha, Rafael langsung menggendong Arza dan tersenyum lebar dengan gemas menciumi wajah tampan bocah laki-laki itu. Dari dulu hingga sekarang, ia masih sangat menyayangi Arza seperti putra sendiri.
"Oh ... putraku sangat tampan, persis sepertiku. Mommy sangat cerewet sekali, ya? Bukannya malah senang ada yang menjemput, tapi malah banyak bertanya dan protes."
__ADS_1
Refleks Arza pun mencium pipi pria tampan yang menggendongnya itu. "Papa. Ayo, kita beli mainan yang banyak."
Arza yang sangat menyukai Rafael tadi terlihat mengarahkan tangannya untuk meminta digendong oleh pria yang dipanggilnya papa itu.
Tentu saja Rafael langsung menggendong putra dari mantan istri sirinya tersebut. "Arza pasti sangat merindukan Papa, ya? Papa juga sangat merindukan Arza."
Arza yang terlihat sangat berbinar itu tidak berhenti mencium pipi sang papa. "Iya, Arza sayang Papa."
Aeleasha hanya terdiam mematung melihat interaksi antara putranya yang memang masih sangat dekat dengan Rafael. Meskipun putranya masih belum bisa mengingat masa lalu ketika dulu bersama pria itu, tapi sepertinya memiliki ikatan batin cukup kuat.
Apalagi dulu selama tiga tahun Rafael menyayangi Arza layaknya putra kandung sendiri.
Melihat tingkah dari putranya yang sangat menyayangi pria yang pernah menjadi cerita masa lalunya, ia merasa sangat trenyuh seraya mengungkapkan perasaan di dalam hati.
'Bahkan Arza terlihat sangat menyayangi brother seperti ayahnya sendiri? Jika sampai suamiku melihat kejadian ini, mungkin dia akan merasa sangat marah dan murka karena telah berhasil merebut hati putraku meski belum bisa mengingat masa lalu.'
'Dasar bodoh! Kenapa kamu masih memikirkan suami gilamu itu?'
"Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian berdua?" Rafael sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak bertanya karena ingin mantan istrinya tersebut jujur padanya.
Ia bahkan pernah berjanji akan merebut Aeleasha kembali jika sampai Arsenio menyakiti dan menyia-nyiakan wanita yang dari dulu sangat dicintainya. Kemudian ia kembali berbicara untuk mengungkapkan apa yang ada di otaknya.
"Apa kalian berdua ada masalah?"
Aeleasha refleks menggelengkan kepala karena saat ini tidak ingin membahas tentang sosok pria yang membuatnya terluka dan hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya.
"Hanya ada sedikit kesalahpahaman di antara kami. Aku tidak ingin membahasnya," ucap Aeleasha yang kini malas untuk membahas pria yang telah menyakitinya.
__ADS_1
"Jelaskan dengan detail agar aku bisa mengerti!" ucap Rafael yang saat ini sebenarnya sudah mengetahui penyebab Aeleasha memilih untuk meninggalkan Arsenio.
Di lubuk hati, ia ingin sekali Aeleasha kembali padanya. Meskipun saat ini beberapa hari lagi akan menikah dengan wanita lain atas dasar perjanjian semata, tapi itu sama sekali tidak membuatnya mengurungkan niat untuk kembali pada mantan istri sirinya tersebut.
Undangan pernikahan memang sudah disebarkan dan ia tidak mungkin membatalkan karena sang ibu bisa terkena serangan jantung saat ia melakukan hal itu. Tentu saja itu akan mempermalukan nama baiknya serta keluarga.
Hingga ia mendengar perkataan Aeleasha dan membuatnya merasa sangat tertarik. Berharap itu semua menjadi kenyataan.
"Aku ingin berpura-pura berselingkuh denganmu untuk membuatnya cemburu. Dia benar-benar sangat menyebalkan! Makanya aku ingin memberinya pelajaran, biar panas sekalian!"
Melihat Aeleasha yang terlihat sangat marah dan bersungut-sungut ketika membahas Arsenio malah membuat Rafael merasa sangat senang. Tentu saja di dalam hati saat ini bersorak kegirangan karena bisa membuat pria yang membuatnya patah hati akan kebakaran jenggot.
"Aku sama sekali tidak keberatan," sahut Rafael yang kini sangat senang karena bisa kembali dekat dengan Aeleasha.
Saat Aeleasha sibuk memikirkan idenya, saat ini mengingat sesuatu hal yang jauh lebih penting dari pemikiran tentang sang suami.
Bahwa saat ini, sosok pria yang ada di hadapannya sebentar lagi akan menikah. "Aku harus berbicara pada calon istrimu dulu karena tidak ingin masalahku akan berimbas pada hubungan kalian."
"Kenapa kamu tidak mengajaknya ke sini tadi? Jadi, aku bisa berbicara dengan calon istrimu untuk meminta izin. Aku ingin meminjam calon suaminya agar bisa memberikan pelajaran pada suamiku."
"Karena aku tidak percaya dengan orang lain. Pasti akan mencari keuntungan jika aku meminta tolong. Jadi, aku lebih suka meminta pertolongan pada pria lugu seperti Brother."
"Percayakan semuanya padaku." Rafael berbicara dengan penuh semangat karena sudah tidak sabar bisa dekat lagi dengan mantan istri yang masih bertahta di dalam hati.
Hingga ia mendukung perkataan dari sosok wanita yang terlihat seperti sakit karena wajah sangat pucat.
Aeleasha menutup mulut dan mengingat sesuatu. "Kamu belum menjawab tentang pertanyaanku tadi mengenai calon istrimu."
__ADS_1
Rafael merasa tidak ada masalah dengan semua itu, sehingga ia saat ini hanya menggeleng perlahan karena menganggap itu tidak penting.
To be continued...