I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Sikap dingin


__ADS_3

“Selamat malam, Tuan Arsenio," sapa salah satu staf perusahaan.


Saat itu, Arsenio berpapasan dengannya dan mereka sempat terhenti di perempatan koridor.


“Kamu tidak masuk kerja? Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatmu. Bahkan aku sudah masuk hampir tiga hari ini.”


“Iya, Tuan karena saya harus dirawat di rumah sakit," ucap pria yang sering membantu sekretaris bosnya tersebut. "Sebelumnya, Anda libur, bukan? Saya ingat, ada jadwal cuti dari sekretaris perusahaan.”


Arsenio mengiyakan tanpa banyak menolak karena kenyataannya memang seperti itu. "Jaga kesehatan dan jangan sakit lagi karena perusahaan membutuhkanmu." Arsenio menepuk pundak pria itu.


Kemudian ia langsung berpamitan kepada salah satu staf terbaik tersebut untuk segera pulang karena kondisi tubuhnya yang makin tidak baik. “Sepertinya kita tidak bisa berlama-lama. Aku harus segera pulang karena kondisiku kurang sehat.”


“Baik. Hati-hati, Tuan Arsenio. Saya akan bekerja dengan baik. Semoga selamat sampai tujuan.”


Arsenio mengiyakan dan langsung beralih pergi dari sana. Di sepanjang perjalanannya, ia terus memegang kepala yang serasa seperti meledak saat ini karena terlalu diforsir.


Hingga dibawa sampai rumah dan tentu saja melihat sang istri untuk pertama kalinya setelah mengetahui siapa sebenarnya wanita itu, seketika membuat Arsenio berusaha untuk menahan perasaan membuncah yang dirasakan.


“Astaga! Sakit sekali kepalaku.” Arsenio benar-benar merasa sangat pusing karena menatap sang istri langsung mengingat tentang orang tuanya yang dibunuh oleh ibu wanita di hadapannya.


Bahkan saat ini tengah memegangi kepala dan berlalu pergi meninggalkan Aeleasha karena berpikir semakin lama melihat sang istri, mungkin akan membuatnya tersiksa.


Di satu sisi, Aeleasha yang baru saja melihat suaminya pulang kerja, langsung merespons. Aeleasha terlihat respect dan tidak bisa membiarkan ini semua terjadi, lantaran ada hati dan sisi kemanusiaan yang dimiliki. Apalagi sangat mengkhawatirkan keadaan sang suami.


"Akhirnya kamu pulang ke rumah, Sayang. Apa yang terjadi? Apa perlu kupanggil dokter?” tanya Aeleasha dengan raut wajah penuh dengan kekhawatiran. Ia memang tidak pintar berbasa-basi dan langsung menanyakan to the point.


“Sepertinya aku hanya butuh waktu untuk istirahat karena kepala ini sakit sekali. Jam juga sudah larut, waktunya tidur.” Arsenio bahkan berbicara tanpa menatap Aeleasha karena jujur saja saat ini ingin sekali melampiaskan amarah dengan mencekik leher wanita di hadapannya tersebut.

__ADS_1


Apalagi saat mengingat jika wanita itu adalah anak seorang wanita yang telah membuatnya kehilangan orang tua saat remaja.


Aeleasha saat ini merasa khawatir pada keadaan sang suami sekaligus merasa aneh melihat Arsenio seperti enggan menatapnya. Sebagai seorang istri, ia merasakan perubahan sikap sang suami.


Mungkin Arsenio tidak pernah merasa jika telah berubah. Semacam tidak ada lagi perhatian yang diberikan suami untuknya. Meskipun ia tahu jika itu karena perusahaan yang mengalami masalah besar.


Namun, Aeleasha berpikir jika hari ini merupakan puncak perubahan sikap Arsenio yang seolah enggan menatapnya semenjak masuk dalam rumah.


Jujur saja ia ingin sang suami kembali seperti dulu. Banyak kenangan dan juga kebersamaan yang dilakukan bersama sang suami. Kapan semua itu akan terulang dan ia bisa menikmati hidup berumah tangga yang penuh kebahagiaan.


Melihat banyaknya perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Arsenio hari ini, kini Aeleasha hanya bisa menahan kegetiran defensif yang dirasakan. Sebagai seorang wanita, ia dituntut paham dan pengertian karena kali ini bukan masalah kecil yang dihadapi oleh sang suami.


Apalagi, bisa terbilang bahwa perusahaan itu adalah mata pencaharian mereka dan menjadi ladang untuk hidup.


Jadi jika terjadi apapun, maka pikiran merekalah yang akan dihantam oleh kebimbangan. 'Aku ingin membantu suamiku. Sepertinya suamiku benar-benar tertekan dan salam masalah besar."


'Sepertinya aku memang harus mencari solusi untuk bisa mengurangi beban suamiku dan berharap bisa menjadi seorang istri yang berguna. Walaupun bekerja adalah jalan satu-satunya, aku tidak masalah,' gumam Aeleasha dalam hati.


"Istirahatlah, Sayang. Semoga besok sudah tidak sakit kepala lagi."


"Iya." Arsenio hanya menjawab singkat dan memilih merebahkan tubuh di atas ranjang setelah melepaskan kemeja.


Sama sekali tidak ingin melihat sang istri karena khawatir akan kelepasan dengan menyakiti wanita itu, sehingga memilih untuk memejamkan mata.


Sementara itu, Aeleasha yang tidak ingin membebani dirinya dengan pikiran buruk, kini ikut merebahkan tubuh di samping sang suami. Jika biasanya ia tidur di pelukan suami, tapi kali ini tidak bisa melakukan karena melihat Arsenio memeluk guling untuk pertama kalinya.


'Bahkan masalah kantor kamu bawa ke ranjang kita, sayang,' lirih Aeleasha yang mencoba bersabar dan tidak mempermasalahkan perbuatan Arsenio yang aneh hari ini.

__ADS_1


Aeleasha memilih memejamkan mata setelah mendengar suara napas teratur dari sang suami dan berharap juga bisa segera tertidur pulas. Berharap besok pagi sang suami akan kembali seperti biasanya. Beberapa saat kemudian, Aeleasha larut dalam alam bawah sadar.


Sekitar pukul dua pagi, Arsenio terbangun karena merasa tidak nyaman saat rasa nyeri di kepala semakin bertambah.


Pergerakan sang suami, disadari oleh Aeleasha. Hingga pada akhirnya mereka berdua sama-sama terbangun dan duduk di tepi ranjang.


Aeleasha melihat jam di dinding begitu membuka mata. "Ini masih jam dua pagi. Tidurlah lagi. Masih ada waktu beberapa jam untuk bangun."


Arsenio hanya menggeleng perlahan dan tidak mengatakan apapun. Apalagi tidak menatap ke arah Aeleasha di sebelah kirinya.


“Kenapa kau tidak bisa tidur? Ini masih malam dan baru tidur selama dua jam. Ini tidak baik untuk kesehatan dan akan membuatmu sakit.” Aeleasha yang sangat mengkhawatirkan keadaan sang suami, mencoba untuk membujuk, tapi usahanya sia-sia dan bingung harus melakukan apa lagi.


Mendengar perkataan Aeleasha secara terus-menerus, Arsenio benar-benar muak. Ia langsung beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah ruang tengah untuk menonton televisi.


Sebagai istri yang sudah cukup lama bersama dengan Arsenio, kini Aeleasha merasa yakin jika hari ini sikap Arsenio sangat aneh dan ingin menggunakan kesempatan untuk bertanya.


Ia tidak ingin hidup dalam kehampaan seperti ini karena Arsenio cuek padanya. "Sabar, ini semua karena suamiku lelah tubuh dan otak. Aku tidak boleh kesal atau marah karena hanya akan menambah beban Arsenio.


Bangun malam dan ikut menahan kantuk bukanlah hal yang membuatnya mengeluh, tetapi sebagai istri, sudah sepantasnya ia perhatian kepada Arsenio.


“Sayang, sudah dari tadi menonton televisi, apa tidak mengantuk?”


Dengan kata-kata itulah, akhirnya Aeleasha memiliki kesempatan untuk bicara dengan sang suami setelah mendaratkan tubuhnya di sofa, tepat di sebelah kiri. Lagipula ia ingin sekalian mengungkapkan niatnya. Ini perihal pekerjaan dan bekerja.


“Sayang, apa sebaiknya aku ikut bekerja di perusahaanmu. Hitung-hitung membantu kamu? Sepertinya ini adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa memperbaiki semuanya."


Arsenio yang masih merasa sangat marah pada Aeleasha, menatap tajam ke arah istri. Ia tersenyum sinis seolah mengejek dan semacam marah dalam diam.

__ADS_1


“Lebih baik kau saja yang bekerja jika seperti itu keinginanmu. Biarkan aku duduk di rumah dan bahkan pergi. Bagaimana? Atau gajiku kurang untukmu? Atau bahkan, kamu memang ingin bebas?”


To be continued...


__ADS_2