
Rafael merasa senang kala Alesha mau membuang ego demi ibunya. Berpikir bahwa wanita di hadapannya yang kini berstatus sebagai janda tersebut masih menyayangi ibunya, meskipun sudah bukan lagi menjadi istrinya.
Paling tidak, ia membutuhkan waktu satu minggu untuk berbicara secara perlahan dengan sang ibu. Kini, ia mengungkapkan rencananya dan berharap Alesha setuju tanpa pikir panjang.
"Kau lihat wajah mama tadi saat keluar dari kamar bersama dokter, bukan?"
Alesha yang bisa menangkap arah pembicaraan dari pria yang sangat ia benci itu, kini hanya mengangguk perlahan. "Mama sangat bahagia melihat sikap palsumu tadi."
Tentu saja Rafael kini mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi pada wanita yang tidak pernah bisa mengerti akan ketulusannya saat merawat tadi. Bahwa ia benar-benar khawatir dan tulus saat merawat Alesha yang sakit.
Namun, ia tidak ingin membantah atau pun mencari pembenaran sendiri untuk menjelaskan bahwa tadi sama sekali tidak berpura-pura.
"Jika kamu keluar dari rumah sekarang dan menceritakan telah bercerai dengan putra kesayangannya, pasti mama akan sangat shock dan bersedih. Apalagi saat ini kondisi tubuh sedang tidak fit."
"Pasti di seumur hidupnya, mama akan menyerahkan dirinya karena tidak bisa menjaga menantu kesayangannya. Aku sama sekali tidak takut akan dihukum oleh mama karena menceraikanmu, tapi merasa bahwa saat ini harapan mau masak mau pesan ketika melihat perhatianku padamu tadi."
Rafael khawatir sang ibu akan berakhir sakit karena memikirkan nasib rumah tangganya yang sudah kandas saat merasa bahagia.
"Seolah harapan yang melambung tinggi seketika jatuh terhempas sekuat-kuatnya karena dihancurkan oleh takdir. Mama sudah tua dan aku belum siap mengatakan hal ini karena yang ada di pikirannya adalah mengkhawatirkanmu dan ingin cepat sembuh."
Menurutnya, Alesha selalu harus mengalah karena keegoisan seorang pria yang baru saja mengucapkan talak padanya. Ia benar-benar tersiksa ketika menatap wajah mantan suaminya yang masih membuatnya sakit hati.
Namun, harus mementingkan wanita yang sangat disayanginya karena selama ini memberlakukannya bagaikan seorang ratu di rumah itu.
Alesha merasa sangat bahagia bisa merasakan kasih sayang seorang mertua yang menurutmu terlalu baik adanya karena menganggap seperti putri kandung sendiri dan tidak pernah sekalipun memerintah untuk melakukan pekerjaan rumah.
"Lalu, apa maksudmu? Apa kau ingin aku tetap tinggal di rumah ini sudah berstatus sebagai mantan istrimu? Apa kau sudah gila?" Alesha masih ingin mendengar kelanjutan pria yang terkesan ingin memanfaatkannya untuk kesekian kali tanpa memperdulikan bagaimana perasaannya.
Hingga ia kembali memupuk rasa sabar atas semua yang dilakukan oleh Rafael padanya dengan harus menerima titah ia yang telah menjadi penyebab kesembuhan sang ibu.
Alesha mencoba untuk menekankan pada diri sendiri bahwa Rafael merupakan dewa penyelamat untuk ibunya yang hampir saja meninggalkan dunia jika tidak dioperasi.
Jadi, kali ini akan menganggap hidupnya sama sekali tidak berarti. "Sampai kapan aku harus menyembunyikan status pernikahan yang telah berakhir ini?"
Akhirnya kata yang diharapkan muncul dari bibir wanita yang berdiri di hadapannya tersebut membuat Rafael sedikit merasa lega dan kini ia mengungkapkan rencananya pada sang ibu.
"Satu minggu. Tinggallah satu minggu lagi di sini sampai kamu benar-benar sembuh dan tidak membuat mama merasa bersalah karena tidak bisa menjagamu saat sedang sakit."
__ADS_1
"Aku akan memikirkan cara untuk menjelaskan secara perlahan agar mama mengerti. Mama adalah seorang wanita yang bijak dan pasti akan mengerti jika yang terbaik untuk putranya adalah berpisah."
Kemudian Rafael yang dari tadi menggenggam kantong plastik di tangan, segera memberikannya pada wanita yang tadi demam tinggi dan memeluknya sangat erat.
"Minum obat ini agar kau cepat sembuh. Aku tadi baru saja berbicara dengan mama dan ia mengatakan agar aku memperhatikan serta merawatmu dengan baik sampai sembuh." Rafael memberikan penjelasan agar Alesha menunda kepergian dari rumahnya.
"Kamu pasti paham bagaimana rasanya hati seorang ibu yang terluka, jika putrinya yang sakit malah diceraikan oleh putranya. Ia pasti menyalahkan diri sendiri karena tidak becus mendidikku. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah putrinya sangat bahagia ketika diceraikan karena ini kembali pada kekasih yang dicintai."
Rafael tidak ingin sepenuhnya disalahkan atas talak yang baru saja dilakukannya karena semua itu terjadi atas permintaan Alesha sendiri yang segera ingin bercerai dengannya.
Ia berpikir bahwa sama-sama egois karena lebih mementingkan ego dan berakhir dengan keputusan bercerai.
Kini, ia mengambil koper yang berada di tangan Alesha tanpa menunggu tanggapan dari wanita itu. "Biarkan ini berada di atas lemari dulu karena aku tidak ingin mama melihatnya. Mama pasti akan lebih sering keluar masuk kamar ini untuk memeriksa keadaanmu."
Alesha merasa bahwa saat ini sedang difitnah oleh pria yang dianggapnya sangat egois karena menuduh hal yang tidak benar karena ia tadi hanya bertanya pada Rafael.
Namun, jawabannya adalah ia langsung diceraikan tanpa pikir panjang. 'Selamanya pria egois sepertinya tidak akan pernah mengalah ataupun mengakui kesalahan.'
'Kapan aku mau minta cerai padanya? Bukankah tadi bertanya apakah akan menceraikanku saat ia menuduhku memikirkan Alex? Aku selama ini tidak mengungkit Alex di depannya, tapi ia sendiri yang selalu menyebut dan menyangkut pautkan segala sesuatu tentang mantan sugar daddy-ku.'
Embusan napas kasar mewakili suasana hati yang sedang kacau balau sekaligus kondisi tubuhnya yang mulai melemah. Alesha akhirnya menuruti keinginan bernada perintah dari Rafael.
Alesha berjalan ke arah ranjang karena ingin meminum obat yang berada di tangannya. Begitu melihat Rafael keluar dari ruangan ganti, ia pun memutuskan jawabannya.
"Baiklah. Sesuai perjanjian, aku akan pergi dari sini setelah satu minggu lagi." Kemudian ia membuka beberapa obat dan berniat untuk meminumnya setelah mengambil air putih, tapi tangannya ditahan oleh pria yang baru saja berjalan mendekat.
"Tunggu!" Rafael yang tadinya mendengar suara Alesha, melihat jika wanita itu belum makan dan tidak boleh minum obatnya.
"Aku akan mengambil kamu makan. Baru kamu boleh minum obatnya. Apakah kamu tidak tahu aturan meminum obat? Lambung dan dan ginjalmu akan rusak jika meminum obat sebanyak ini tanpa makan terlebih dahulu."
"Obat bisa menjadi sumber penyakit jika meminumnya dengan cara yang salah. Jadi, semua harus ikut aturan dan tidak bisa keras kepala atau sesuka hati seperti yang biasa kamu lakukan selama ini." Rafael kini mengambil beberapa obat di telapak tangan Alesha dan meletakkannya di atas nakas.
"Tunggu sebentar karena aku tidak akan lama!" Kemudian ia berbalik badan tanpa menunggu jawaban dari Alesha karena berpikir bahwa wanita yang hanya diam saja tanpa membantahnya tersebut menyadari kesalahan.
'Nasib baik ia tidak berteriak dan mengamuk karena kesal,' gumam Rafael yang saat ini sedikit merasa lega ketika melihat bahwa Alesha hanya diam membisu tanpa membuka suara untuk mengungkapkan nada protes seperti biasanya.
Begitu berada di luar ruangan kamarnya, ia mempunyai ide untuk mencairkan suasana yang penuh ketegangan dengan cara membuat sang ibu merawat menantunya yang sudah dianggap sebagai putri sendiri.
__ADS_1
Kini, ia berjalan menuruni anak tangga dan berteriak untuk mencari wanita paruh baya yang sangat disayangi tersebut.
"Ma! Mama!"
Rafael berteriak dengan kencang dan berharap sang ibu segera muncul di hadapannya dan harapannya menjadi kenyataan begitu mendengar suara wanita yang dicarinya.
"Ada apa, Putraku? Apa terjadi sesuatu hal yang buruk pada Alesha?" tanya Tiana yang baru saja keluar dari dapur untuk memeriksa apakah makan malam hari ini sudah siap.
Ia berniat untuk mengambilkan makanan dan mengantarkan ke kamar agar putranya tidak turun, aku tidak jadi melakukannya begitu melihat Rafael sudah ada di hadapannya.
Rafael seketika menghambur memeluk erat sang ibu. "Aku tadinya ingin mengambilkan makanan untuk menantu kesayangan mama itu, tapi aku merasa risi karena belum mandi besok pulang kerja tadi karena sibuk merawatnya."
"Ia makan minum obat dan harus makan dulu. Apa mama bisa menyuapi putri kesayangan Mama dulu saat aku mandi?" Akhirnya Rafael merasa lega karena hari ini tidak membuat sang ibu dengan wajah murung jika sampai mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Hingga ia tersenyum lebar begitu melihat wajah ibunya berbenar sangat senang dan bahagia. Seolah menunjukkan sama sekali tidak keberatan dan sangat senang untuk menyuapi Alesha.
"Baiklah. Mama akan mengambilkan makanannya dulu. Kamu pergi mandi saja sana!" Tiana mengempaskan tangan dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah meja makan karena para pelayan baru saja menyelesaikan tugas untuk membuat makan malam.
"Terima kasih, Ma!" teriak Rafael yang saat ini bernapas lega dan kembali menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar.
Begitu melihat wanita yang masih berada di tempat yang sama, yaitu di tepi ranjang dan menatapnya, kini segera menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman dan membuat Alesha berteriak karena marah padanya.
"Mama tadi mengatakan akan membawa makanannya dan menyuapimu. Jadi, aku tidak bisa menolak ataupun membantah. Tunggulah sebentar lagi. Aku makan mandi dan membiarkan kalian berdua tanpa mengganggu."
Rafael masih berdiri di tempatnya karena ini mendengar tanggapan apa yang akan disampaikan oleh Alesha. Namun, ia merasa sangat kecewa karena wanita di atas ranjang tersebut hanya menganggukkan kepala tanpa membuka suara.
'Apa ia berubah bisu setelah berstatus sebagai mantan istriku?' rengut Rafael yang benar-benar sangat kesal karena seolah wanita di hadapannya sama sekali tidak perduli padanya.
Tidak ingin terlihat seperti seorang pecundang di hadapan wanita yang malah mengambil ponsel dan fokus menatap layar, kini ia menghembuskan napas kasar dan berlalu pergi menuju kamar mandi tanpa bersuara lagi.
Begitu pria yang sangat dibenci sudah pergi, Alesha kini mengangkat pandangannya dari benda pipih di tangan. Ia bahkan melempar asal ponselnya ke atas ranjang karena tidak tertarik untuk melihatnya.
Ia sudah beberapa kali menghembuskan napas kasar untuk melampiaskan perasaan membuncah yang dirasakan. Kini, ia memikirkan harus tinggal di kamar yang sama saat statusnya sudah bukan lagi istri Rafael.
'Sebenarnya ini jauh lebih berat dari apapun karena waktu satu minggu bagaikan setahun saat harus tinggal dengan pria yang membuat hatiku hancur.'
'Pria berengsek itu sama sekali tidak tahu apa yang kurasakan ketika menatapnya. Sangat sakit. Bahkan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata rasa sakitnya. Mulai hari ini, aku tidak boleh banyak berinteraksi dengan pria itu. Anggap saja ia hanyalah benda mati dan tidak perlu diperdulikan.'
__ADS_1
To be continued...