I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Semoga tidak apa-apa


__ADS_3

Rafael berada di dalam mobil yang melaju menuju ke arah tempat tinggal mantan istri, mendengar suara dering ponsel miliknya dan langsung memencet earphone begitu mengetahui bahwa yang menghubungi adalah wanita paruh baya yang masih dianggap sebagai mertuanya.


Meskipun sudah menalak Alesha, masih menganggap ibu dari wanita itu seperti ibu kandung sendiri dan tidak menganggap sebagai mantan mertua karena jujur saja masih sangat menyayanginya.


Apalagi mengetahui bahwa wanita paruh baya itu sangat baik. Tentu saja ia tahu apa yang akan dikatakan oleh mertuanya.


"Aku tidak berani menelpon ibu karena mengaku salah," jawab Rafael yang langsung mengungkapkan apa yang dirasakan selama ini.


"Alesha sudah menceritakan semuanya dan kalian berdua sama-sama tidak bersalah. Ibulah yang salah, Nak Rafael. Jika Ibu tidak sakit, mana mungkin Alesha mau bekerjasama untuk melakukan pernikahan kontrak."


Lia Nuraini memulai pembicaraan dengan menghentikan Rafael yang hendak menyalahkan diri sendiri. Itu dilakukannya agar saat bertemu nanti, tidak sama-sama sibuk saling menyalahkan.


"Ibu ingin bertemu dengan Nak Rafael. Apa sekarang kita bisa bertemu? Ada hal penting yang ingin Ibu sampaikan." Menunggu jawaban dari seberang telpon untuk memutuskan tempat jika setuju untuk bertemu dengannya.


Ia akan menyerahkan keputusan pada mantan menantunya karena tidak tahu harus bertemu di mana.


Sementara itu, Rafael yang saat ini memilih untuk menepikan kendaraan di tepi jalan karena ingin tahu keinginan mertuanya. Ia yang hendak pergi ke tempat Aealeasha, merasa bimbang harus mendahulukan yang mana begitu mertuanya mengajak bertemu.


"Kapan Ibu mau bertemu? Sekarang?"


"Kebetulan Alesha baru saja pergi untuk bertemu dengan temannya, jadi sepertinya sekarang sangat cocok untuk bertemu. Biasanya Alesha mengurung diri di kamar selama satu minggu ini dan kebetulan hari ini ada temannya yang mentraktir makan di restoran."


Sebagai seorang ibu, Lia Nuraini sebenarnya tengah memberikan semua clue pada Rafael bahwa putrinya selama ini diam di rumah dan menjadi pendiam agar tidak salah paham ketika mengatakan Alesha keluar hari ini.


Ingin sekali ia menyuruh Rafael datang ke rumah, tapi tidak bisa mengatakannya karena tidak ingin dianggap memanfaatkan dan mau menang sendiri. Sementara ia hanyalah seorang wanita miskin yang tidak pantas menyuruh seorang pemimpin perusahaan besar datang ke gubuknya.


Di sisi lain, Rafael yakin jika saat ini Alesha tengah bertemu dengan Alex karena memang pria itu tadi sengaja ingin memanasinya dengan mengancam agar segera mengurus perceraian di pengadilan agama.


Mengerti apa yang harus dilakukannya, kini ia langsung mengemudikan mobilnya menuju ke arah rumah Alesha untuk bertemu dengan mertuanya. Tentu saja ia yang lebih muda tidak ingin menyusahkan wanita paruh baya itu datang ke tempat lain hanya untuk menemuinya.

__ADS_1


"Aku akan langsung ke rumah Ibu sekarang. Kebetulan sekarang sudah ada di jalan. Mungkin setengah jam lagi akan tiba. Aku tutup telponnya dulu, Bu." Rafael mematikan sambungan telpon setelah mengucapkan salam.


Kemudian menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan. Kini, pikirannya tengah dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan mengenai Alesha yang hari ini pergi.


"Ibu bilang Alesha mengurung diri di kamar selama satu minggu ini? Apa ia bersedih? Atau hanya berakting di depan ibunya agar tidak disalahkan? Tapi ibu sama sekali tidak menyalahkanku tadi. Kira-kira apa yang akan dikatakan oleh ibu padaku?"


Berbagai macam pertanyaan menari-nari di otak Rafael saat ini. Meskipun ia sempat ragu sekaligus bimbang karena akhirnya tidak mendahulukan Aealeasha yang membutuhkannya, tapi kali ini merasa keputusannya benar.


Ia lebih mendahulukan wanita paruh baya yang sudah dianggap sebagai ibu sendiri karena belum pernah meminta apapun darinya semenjak menjadi seorang menantu.


Kini, Rafael mengetik pesan pada Aealeasha begitu mobil berhenti di lampu merah. Ia tidak mau menelpon mantan istrinya karena khawatir mendengar nada suara penuh kekecewaan dan selalu membuatnya tidak tega.


Sebenarnya aku ingin datang, tapi tiba-tiba mertuaku menyuruhku datang. Setelah menemuinya, aku akan ke sana.


Kemudian Rafael menekan tombol kirim dan kembali melajukan kendaraan begitu lampu merah berubah hijau. Tentu saja menuju ke rumah wanita yang sudah ditalaknya.


"Siapa?"


Karena tidak ingin merasa penasaran, kini Rafael kembali menekan eaprhone dan mendengar suara bariton dari seberang telpon.


"Halo."


"Halo, dengan Tuan Rafael?"


"Iya? Anda siapa?" Rafael yang merasa tidak mengenal pria di seberang telpon kini memicingkan mata dan memarkirkan mobilnya di depan rumah Alesha sambil mendengarkan.


"Saya supir taksi, Tuan. Sekarang saya sedang bersama dengan wanita yang tadi naik taksi, tapi tiba-tiba pingsan setelah tadi sempat muntah-muntah di pinggir jalan karena menyuruh saya berhenti."


Refleks Rafael langsung membulatkan matanya karena sangat yakin jika wanita yang dibicarakan supir taksi itu adalah Alesha.

__ADS_1


Meskipun ada banyak hal yang menjadi pertanyaan di pikirannya. Kenapa Alesha tidak menyuruh Alex menjemput atau kenapa supir taksi itu tidak menelpon pria itu, tapi malah dirinya.


"Sekarang Anda di mana? Saya akan langsung ke sana!" Rafael yang baru saja menutup mulut, kini mendengar suara seorang wanita yang terlihat mengetuk pintu mobilnya.


"Nak Rafael?" sapa Lia Nuraini yang langsung keluar dari rumah untuk menyambut menantu yang datang agar segera masuk ke dalam rumah.


Rafael yang masih belum mematikan telpon dari sopir taksi, saat ini masih mendengarkan suara dari seberang meskipun beranjak keluar dari dalam mobil dan tersenyum pada wanita paruh baya yang sudah berdiri di sebelahnya.


"Saya sebenarnya tadi menghubungi nomor tuan Alex karena memang membuka panggilan telepon paling teratas untuk mengabarkan keadaan nona yang memakai jasa saya. Hanya saja, sudah dua kali menghubungi tetap tidak dijawab. Jadi, saya menghubungi kontak di bawahnya, yaitu Anda, Tuan Rafael."


Sang supir taksi sudah menjelaskan semua agar pria yang dihubungi memahami apa yang saat ini sedang dialaminya karena tidak tahu harus menghubungi siapa, sehingga terpaksa membuka urusan yang berada di dalam tas wanita yang saat ini sudah berada di dalam taksi.


Rafael yang saat ini mengerti penjelasan dari sopir taksi, kini sangat mengkhawatirkan keadaan Alesha dan ini segera datang menjemput dengan membawa ke rumah sakit.


"Kirimkan lokasimu, aku akan segera datang ke sana!" Kemudian langsung mematikan sambungan telpon begitu mendengar suara dari sopir taksi yang mengiyakan perintahnya.


Kemudian beralih menatap ke arah wanita paruh baya yang perkataannya yang menjelaskan akan pergi, sehingga langsung mengatakan semuanya dan menyuruh mertuanya untuk masuk ke dalam mobil.


"Kita harus segera pergi, Ibu. Semoga Alesha tidak apa-apa."


"Astaghfirullah! Apa yang terjadi pada putriku?" Lia Nuraini membulatkan mata begitu mendengar penjelasan dari menantunya dan wajahnya berubah pucat ketika mengkhawatirkan keadaan putrinya.


Ia bahkan tidak membawa apapun karena langsung masuk ke dalam mobil atas perintah dari menantunya yang mengemudikan kendaraan meninggalkan rumah.


"Kita akan mengetahuinya setelah bertemu dengan supir taksi itu, Ibu. Semoga Alesha tidak apa-apa." Rafael menambah kecepatan mobil begitu keluar dari gang dan membelah lalu lintas kendaraan.


To be continued...


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2