I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Mencoba


__ADS_3

Pukul lima sore, semburat jingga melewati celah jendela rumah yang sepi, hanya ada Tiana seorang. Wanita itu duduk di sofa berwarna abu-abu yang secara khusus ditempatkan di samping jendela yang menghadap utara.


Di belakangnya terdapat rak buku berbahan kayu yang sebagian besar berisi koleksi buku-buku milik Rafael.


Tiana merasa selalu saja menemukan titik retak ketika ia baru saja merasakan kelegaan. Rasanya ia sudah kehabisan kesabaran menghadapi anaknya yang keras kepala itu.


Padahal, dirinya sudah begitu bahagia ketika Rafael akhirnya membawakan calon istri yang dipilihnya ke rumah, tetapi lelaki itu seakan enggan dan terus saja berkilah. Nyatanya, sampai detik ini pun masih saja membuatnya khawatir.


Tiana teringat kembali bagaimana mengancam Rafael untuk segera membawakannya calon istri, kalau tidak, ia sendiri yang akan turun tangan.


Bahkan yang dipikirkan, cara ini ia lakukan agar Rafael sibuk memikirkan wanita lain dan pelan-pelan melupakan mantan istrinya.


Karena meski Tiana sangat menyukainya pun, mantan istri Rafael sudah menikah dengan pria lain.


Mau selama apapun putranya menunggu dan mencintainya, Tiana tahu jika Aeleasha yang sudah dianggapnya seperti putri sendiri itu tidak akan pernah kembali.


Tiana sendiri tidak menyangka kalau Rafael ternyata bisa menyanggupi ancamannya. Ketika bertemu dengan wanita itu, ia sudah membayangkan kehidupan bahagia yang akan semakin melengkapi keluarganya.


Meski baru mengenal, ia merasa kalau pilihan Rafael tidak salah. Tiana menyukai penampilan, menyukai parasnya dan kepribadiannya.


Mungkin ketika wanita itu sudah menjadi menantunya nanti, Tiana tidak akan lagi merasa kesepian. Ia akan punya teman ketika memasak.


Ia akan punya teman mengobrol saat menonton televisi dan juga akan punya teman saat berbelanja.


Tiana sangat merindukan hadirnya sosok putri dalam hidupnya. Ia hanya ingin berusaha menjalani hidup tanpa kesepian dan mencoba memberikan kehangatan yang baru pada keluarganya.


Ia saat ini justru merasa takut kesempatannya akan hilang begitu saja jika tidak digenggam sekuat tenaga.


Saat ini adalah saatnya Tiana bergerak. Ia harus berusaha sendiri menikahkan Rafael bagaimana pun caranya. Ia takkan membiarkan putranya melarikan diri lagi.


Tiana memutar otaknya untuk mencari sebuah ide baru. Memikirkan cara untuk menggerakkan Rafael agar segera menikah.


Ia kemudian terpikirkan satu nama yang tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya.


Aeleasha_ mantan menantunya.


Wanita yang menjadi inti sari untuk dihindari. Wanita yang menjadi awal ketidakmampuan Rafael. Bagaimana kalau Rafael mencoba membuat wanita itu sendiri yang mengakhirinya sampai tuntas?


Tiana dengan yakin lantas membuka ponselnya, mencari-cari nama mantan istri anaknya itu untuk ia ajak bernegosiasi.


Sembari mengatur napasnya, Tiana memikirkan strategi apa saja yang akan ia katakan pada wanita itu.


Setelah dirasa persiapan dalam otaknya matang, ia dengan segera menekan tombol ikon panggilan itu.


Sebenarnya, Tiana mengakui kalau ia merindukan mantan menantunya itu. Baginya, Aeleasha sudah seperti putri kandungnya sendiri. Oleh karenanya, wanita itu menunggu jawaban panggilan itu dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


"Halo."


Suara lembut di seberang sana terdengar. Masih terdengar sama persis seperti saat terakhir kali mereka berbicara. Tiana seketika terbayang wajah cantik yang dulu selalu ia lihat setiap pagi.


Masa lalu Aeleasha dalam keluarganya bukanlah masa lalu yang selalu dihadiri bahagia juga. Banyak sekali lika-liku yang harus dilalui wanita yang masih muda belia itu.


Terlebih, Tiana sangat mengetahui luka yang diam-diam dibawa gadis itu saat memasuki kehidupan keluarganya ketika awal-awal mereka bertemu. Aeleasha benar-benar gadis yang malang.


Namun, mengetahui bisa berbicara dengannya lagi hari ini membuatnya bersyukur. Suaranya terdengar ringan. Wanita itu tampaknya sudah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Ia sekarang tinggal di London bersama suami, beserta anaknya.


Mengetahui mantan menantunya yang sudah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya itu, seringkali membuat hati Tiana merasa kosong.


Ada kehampaan yang menjalar di hatinya ketika ia mengingat kembali kehidupannya bersama Rafael. Meski anaknya itu merupakan lelaki yang baik, sempurna tanpa cela, tetapi ia tidak bisa memberikan kebahagiaan yang sama.


"Halo, Sayang. Bagaimana kabarmu, Nak?" Tiana tak dapat menahan senyumnya.


"Aku baik, Ma. Bagaimana dengan kabar Mama? Sudah lama sekali kita tidak berbincang. Aku sangat merindukanmu."


Jawaban ramah dan ceria itu masih terdengar begitu akrab. Hati Tiana selalu berhasil menghangat dibuatnya.


"Tentu saja aku baik. Aku sudah tidak perlu susah-susah bekerja keras lagi sekarang. Sepanjang hari hanya bersantai di dalam rumah."


Tiana menjawab setengah bercanda. "Akan tetapi, setelah kamu pergi dari sini, terkadang merasa bosan dan merindukanmu. Bagaimana ini?" lanjutnya dengan nada merengut.


"Ya ampun, Ma. Aku juga sangat merindukanmu. Aku selama ini tidak menelepon karena tidak ingin mengganggu, gara-gara takut salah waktu, mengingat perbedaan waktu kita. Tidak kusangka Mama ternyata akan menelepon duluan," tutur Aeleasha dengan begitu gembira.


"Ah, tidak, tidak sama sekali, Ma!" Aeleasha langsung menyangkal. "Aku hanya sedang jalan-jalan santai dan berolahraga pagi sekarang. Suami dan anakku masih tidur saat ini."


"Ah, syukurlah kalau aku tidak mengganggumu." Tiana mengembuskan napasnya lega. Jeda beberapa saat, membasahi bibirnya sembari meyakinkan diri sebelum mengatakan maksudnya.


"Sayang, sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, tetapi sedikit takut untuk mengatakannya," ungkap Tiana pada akhirnya.


"Ada apa, Ma? Katakan saja apa yang ingin Mama katakan."


"Begini, aku tahu hubunganmu dengan Rafael sudah diakhiri dengan jelas. Terkadang aku merasa dalam hati Rafael ada sesuatu yang belum bisa terselesaikan. Kamu tahu, kan? Sampai saat ini dia masih belum menikah lagi. Aku merasa dia masih takut untuk memulai hubungan baru lagi." Tiana mulai menjelaskan.


Sementara itu di seberang telpon, Aeleasha terdiam. Seketika terbesit rasa bersalah yang telah lama dikuburnya. Wanita itu ingat tahun-tahun yang dilaluinya bersama Rafael.


Tahun-tahun pernikahan yang bahkan tidak bisa membuatnya membuka hati pada pria sebaik malaikat itu. Pernikahan yang tidak adil untuk Rafael.


Aeleasha memilih untuk melepaskan pernikahan itu karena tidak ingin menyakiti Rafael lebih lama lagi.


Akan tetapi, setelah mendengar perkataan mantan ibu mertua, wanita itu kembali merasa bersalah.


Mendengar hening dari seberang, Tiana seketika meralat kata-katanya. "Kamu jangan salah paham. Mama mengatakan ini bukan untuk membuatmu merasa bersalah," ucapnya panik.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ma," jawab Aeleasha yang sebenarnya merasa tidak enak.


"Selama dua tahun ini, aku telah membiarkannya melakukan apapun yang ia mau, tapi setelah dua tahun berlalu, mulai semakin merasakan kekosongan dalam rumah kami. Setelah bercerai denganmu, Rafael tidak pernah membawa wanita mana pun ke rumah kami."


"Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tidak pernah sekali pun memikirkan kehidupannya bersama keluarganya." Tiana mengeluh panjang lebar. Kedua ujung jarinya kini ia pijatkan pada pelipisnya.


"Aku sebenarnya sudah berkali-kali membicarakan tentang pernikahan pada Rafael, tetapi anak itu sama sekali tidak pernah mendengarkanku."


"Bahkan aku sudah mengancamnya dengan segala cara, tetapi tetap keras kepala." Tiana melanjutkan, terdengar intonasi lelah yang keluar dari kata demi kata yang diucapkan wanita itu.


"Aku rasa, sekarang membutuhkan bantuanmu saat ini, Sayang." Wanita itu mengungkapkan maksudnya dengan hati-hati. "Rafael sama sekali tidak mau mendengarkanku. Mungkin ia akan mendengarkanmu."


Aeleasha terdiam sesaat. Ragu untuk menerima permintaan Tians saat ini. Ia bukannya takut untuk menghadapi Rafael. Akan tetapi, ia takut mengusiknya. Ia takut kalau kemunculannya hanya akan membuat segalanya semakin berantakan.


"Apa yang harus aku katakan pada Rafael, Ma?" Aeleasha akhirnya bertanya dengan skeptis.


Tiana tampak berpikir, memberi jeda sesaat untuk memberikan jawaban yang tepat. "Sebenarnya ada sesuatu yang kamu tahu jika bersedia membantuku. Sebenarnya, kemarin Rafael membawa seorang gadis ke rumah kami."


Sedikit terkejut, ada lega yang menguar di hati Aeleasha ketika mendengarnya. "Bukankah itu kabar bagus?" tanyanya antusias.


"Itu karena sebelumnya aku telah mengancam untuk membawa calon istri padaku di hari itu. Awalnya aku hanya asal bicara karena sebenarnya berniat menjodohkannya dengan anak dari teman-temanku."


"Tidak disangka Rafael benar-benar membawa pulang seorang wanita ke rumah." Tiana memberi jeda sebentar, sesaat helaan napasnya keluar. "Namun, sesuatu yang diancam itu tidak meyakinkan, bukan?"


Aeleasha menganggukkan kepalanya mengerti. "Lalu, seperti apa wanita yang dibawanya itu, Ma?"


Tiana tersenyum kecil. "Inilah masalahnya. Sayangnya aku sangat menyukai gadis ini. Ngomong-ngomong tentang namanya, ia memiliki nama panggilan yang sama denganmu. Namanya Alesha."


Terdengar suara bahagia yang dirasakan Aeleasha ketika wanita itu berbicara, membuat wanita itu tersenyum. Sudah bisa ditebak kalau Tiana saat ini sedang tersenyum juga.


"Wah, benarkah?" tanya Aeleasha antusias.


"Ya, itu benar," jawab Tiana senang, sebelum melanjutkan dengan serius.


"Rasanya aku tidak mau kehilangan kesempatan emas ini. Aku sangat ingin menahannya untuk tidak pergi dari rumah kami," ucap Tiana dengan intonasi rendah. "Namun, Rafael … dia terus saja membuat alasan ketika aku menyuruh mereka untuk menikah."


Aeleasha masih mendengarkan dengan seksama. Kini ia mendaratkan tubuhnya pada kursi yang berada di taman untuk merilekskan persendiannya.


"Jadi, aku meminta tolong padamu untuk membujuk Rafael agar mau menikah. Apakah kamu bisa?" pinta Tiana dengan penuh harap. Bukan hanya berharap. Bagi Tiana, Aeleasha adalah satu-satunya orang yang bisa ia andalkan untuk masalah ini sekarang.


Aeleasha memejamkan matanya sesaat, mengambil napas seraya menetralisir keraguannya dan sangat bingung. Jika menerima permintaan wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.


Ia, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Kalau menolaknya, merasa tidak akan bisa hidup tenang karena rasa bersalah pada Rafael_ mantan suaminya yang hanya dianggap sebagai saudara laki-laki karena tidak pernah bisa mencintai pria yang berhati emas tersebut.


Wanita itu menggigit bibirnya sesaat. "Baiklah, Ma. Aku akan mencobanya."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2