
Sementara itu, Tiana yang sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh putranya di dalam, benar-benar sangat khawatir dan jika hal yang ditakutkan yang terjadi, akan memberikan hukuman pada Rafael karena takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada calon cucunya yang sangat dinanti-nantikan.
"Awas aja jika sampai Rafael melakukannya pada Alesha yang harus beristirahat total seperti yang dikatakan oleh dokter. Aku pasti akan menjewer telinganya," umpatnya dengan perasaan berkecamuk karena benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan menantunya yang tengah hamil muda.
Baru selesai mengungkapkan kekesalan sekaligus kekhawatiran yang dirasakan pada menantu sekaligus calon cucunya, Tiana bersitatap dengan besannya begitu mendengar suara kunci pintu yang diputar dan beberapa saat kemudian pintu terbuka.
Keduanya melihat Alesha yang berdiri di hadapan mereka dan mengerutkan kening karena bukan Rafael yang membuka pintu.
Refleks Tiana langsung masuk ke dalam rumah dan mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari putranya. "Kenapa malah kamu yang membuka pintu, Sayang? Di mana Rafael?"
"Anak itu benar-benar ingin dihukum karena malah membuatmu harus repot membuka pintu. Padahal kamu harus menjaga kandunganmu dengan beristirahat total seperti yang dikatakan oleh dokter tadi, bukan?"
Alesha saat ini menggaruk tengkuk belakang karena merasa bingung harus menjelaskan pada mertuanya dan akhirnya ia berbohong karena berpikir hanya itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan sang suami yang tadi bermalas-malasan memakai kembali pakaian.
Bahkan tidak ingin membuka pintu dan merajuk karena malah berbaring di atas ranjang dan menyuruhnya untuk membuka pintu.
"Itu, Ma. Tadi suamiku berada di kamar mandi. Katanya sakit perut. Jadi, aku yang membuka pintu. Lagipula aku sudah baik-baik saja dan tidak lagi merasa pusing seperti tadi. Jadi, Mama tidak perlu khawatir karena setelah ini, aku juga akan beristirahat di kamar."
Saat ia baru saja menutup mulut, kini mendengar suara bariton dari sang suami yang datang menghampiri dan berbicara sangat konyol, sehingga membuatnya merasa sangat malu.
"Mama dan Ibu cepat sekali pulangnya. Tadi belanja apa saja untuk istri dan anakku? Harusnya kalian pulang nanti malam sekalian sambil jalan-jalan. Bukankah Mama dan Ibu jarang pergi bersama?" Rafael tidak berniat untuk menyapa sang mama serta mertuanya.
__ADS_1
Namun, ia yang merasa kesal karena menahan gairah yang memuncak di ubun-ubun, memilih untuk mengungkapkannya agar ibu dan mertuanya mengerti apa yang dirasakannya.
Hingga ia seketika merigis menahan rasa nyeri pada daun telinga karena mendapatkan omelan dari sang ibu.
"Dasar anak nakal! Mama tahu apa yang saat ini ada di otakmu. Tidak boleh! Kamu tadi belum melakukannya pada Alesha, kan?" sarkas Tiana yang saat ini sudah tidak bisa menahan diri untuk memberikan sebuah hukuman agar putranya sadar bahwa yang dilakukan sangat berbahaya pada janin di rahim Alesha.
Sementara itu, Rafael yang merasa nyeri pada daun telinga, meringis kesakitan sambil menahan tangan sang ibu. "Ya ampun, Ma! Sakit ini! Kenapa malah menjewer seperti anak kecil seperti ini, sih! Melakukan apa memangnya?"
Tiana hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari putranya yang tidak dipedulikan tengah menahan kesakitan akibat perbuatannya.Ia kali ini memilih untuk segera mengungkapkan apa yang ada di pikirannya agar bisa dimengerti oleh putranya yang belum berpengalaman.
"Kamu tidak boleh melakukan hubungan sebagai suami istri dengan Alesha karena saat ini kandungannya sedang tidak baik-baik saja dan sangat rawan mengalami hal buruk jika sampai memaksakan nafsumu!"
Saat Rafael merasa sangat frustasi pada perkataan sang ibu yang melarangnya dengan jelas, padahal tadi berpikir bisa melakukannya setelah kembali ke kamar dengan alasan beristirahat.
Namun, yang terjadi malah di luar dugaan dan membuatnya frustasi karena tidak tahu kapan bisa melakukannya pada istri sendiri. Bahkan ia berpikir jika saat ini percuma mengetahui perasaan sang istri jika tidak bisa menyentuhnya sama sekali.
Apalagi merasa bahwa libidonya sudah naik hingga sampai ke ubun-ubun. "Astaga, Ma! Keterlaluan sekali bicara tentang sesuatu yang bersifat privasi seperti itu. Malu didengar ibu."
Alesha hanya diam saja karena tidak tahu harus berbuat apa. Sebenarnya ia merasa kasihan pada sang suami yang mendapatkan hukuman saat belum bisa menyalurkan gairah dan harus menahan entah sampai kapan.
'Kasihan sekali suamiku. Aku benar-benar tidak tega melihatnya mendapatkan hukuman dari mama. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Apa yang harus kulakukan?' gumam Alesha yang masih merasa sangat iba pada nasib malang sang suami yang dianggap mendapatkan karma.
__ADS_1
Namun, jika membayangkan karma, ia saat ini malah tertawa karena mengingat wajah penuh kekecewaan yang tadi ditunjukkan oleh sang suami ketika tidak jadi melakukannya karena kedatangan ibu dan mertuanya.
Sementara itu, Lia Nuraini kini mencoba untuk melerai dan bersikap bijak agar tidak ada keributan di antara ibu dan anak itu. "Sudah, Jeng. Jangan menghukum nak Rafael. Lagipula ia pasti mengetahui apa yang terbaik untuk istrinya dan tidak akan membahayakan calon anaknya."
Namun, Tiana saat ini belum menemukan jawaban dari pertanyaannya dan ingin memastikannya sendiri.
"Cepat jawab jujur pertanyaan Mama. Kamu tadi sudah melakukannya apa belum?" Kemudian beralih menatap ke arah Alesha. "Sayang, tadi Rafael berbuat macam-macam padamu atau belum?"
Alesha seketika bersitatap dengan Rafael begitu mendapatkan pertanyaan bernada vulgar yang berhubungan dengan hal-hal intim antara pasangan suami istri.
Hingga keduanya seolah memberikan kode mata untuk memberikan jawaban yang sesungguhnya. Bahkan terlihat seolah menghitung dan langsung mengungkapkan jawabannya masing-masing.
"Belum, Ma," sahut Rafael yang membulatkan mata begitu mendengar jawaban dari Alesha.
"Sudah, Ma," ucap Alesha yang berbicara jujur dengan wajah memerah karena sangat malu harus mengungkapkan hal yang berhubungan dengan sesuatu yang sangat intim dengan sang suami.
Sementara itu, Tiana dan Lia Nuraini seketika saling bersitatap karena jawaban dari Putra dan menantu mereka berbeda dan saling memijat pelipis karena merasa pusing.
To be continued...
To be continued...
__ADS_1