I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Tidak begitu baik


__ADS_3

Sudah lama sekali sejak keheningan tak dapat membuat Alesha merasa nyaman. Lalu lalang koridor rumah sakit semakin malam akan semakin lengang. Alesha selalu suka pada kondisi di mana sekarang ini tidak ada yang perlu melihatnya terluka.


Tidak ada yang perlu melihatnya merasa putus asa. Tidak ada yang perlu melihatnya lemah.


Namun, lelaki itu tiba-tiba datang di hadapannya. Alesha tentu saja terkejut luar biasa. Ia merasa seperti seorang buronan yang tertangkap basah oleh polisi dari persembunyiannya.


Sesaat ia panik, tetapi tetap memasang wajah datarnya, bersikap seolah tak ada yang sedang mengusik kepalanya.


Alesha masih terdiam seribu bahasa. Rautnya menunjukkan ekspresi tak terbaca. Entah marah, entah kesal, entah takut atau yang lainnya.


Sementara itu, Rafael hanya bisa menebak-nebak. Semakin ditebak, semakin sulit.


Memutus segala getar melankolis yang bersitemu dalam atmosfer yang dramatis,


Alesha langsung membawa Rafael pergi.


"Jangan bicara di sini," ucapnya, tegas dengan tersirat menyuruh Rafael mengikuti langkahnya.


Mereka berdua kemudian pergi ke taman yang ada di bagian belakang rumah sakit. Beberapa kursi kini diduduki beberapa orang. Lampu-lampu taman yang berbentuk bulat sempurna menyala dengan terang.


Kursi-kursi panjang berwarna putih itu terpajang di sisi-sisi jalan menunggu siapa saja yang berniat mengisi.


"Berhenti berbicara hal-hal yang menjijikkan."


Wanita itu kini mengempaskan tubuhnya menyandar pada kursi taman itu. "Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di sini?" Ia lantas menatap Rafael dengan tatapan datar, membuat pria itu semakin sulit menebak emosi wanita itu.


Lelaki itu lalu perlahan ikut duduk di kursi sebelah Alesha yang memberikan jarak satu meter. "Aku tidak sengaja."


Kemudian lelaki itu mengembuskan napasnya perlahan, sangat pelan, hingga jika ada nyamuk lewat di depannya pun tak akan terganggu.


"Pakaian-pakaian yang kubelikan untukmu, kamu meninggalkannya. Aku ingin mengembalikannya saat itu. Lalu aku memutuskan untuk mengikutimu. Namun, tidak disangka .…"


Alesha lantas menatapnya dari samping, dengan semburat senyum miring yang terpatri di wajahnya.


"Kau berbohong."

__ADS_1


"Hah?" Lelaki itu sontak bergerak menarik badannya, terkejut melihat Alesha yang kini sedang menatapnya dengan intens pada jarak yang kian dekat.


Alesha terkekeh sekali, kemudian kembali menegakkan tubuhnya. "Kenapa kamu terlihat sangat gugup?"


"Apakah kamu tidak marah?" lelaki itu bertanya skeptis.


Alesha tersenyum tipis. Ia tentu saja marah. Sangat marah, tetapi bukan pada lelaki ini. Ia marah pada dirinya sendiri. Entah karena alasan apa.


Ia terkadang hanya ingin marah untuk menutupi segalanya. Ketika panik, ia ingin marah. Ketika khawatir pun seperti itu. Ketika takut, ia juga ingin mengumpat. Seolah ingin meluapkan semua yang dirasakan.


Itu semua karena ia tidak suka terlihat lemah. Ia tidak suka memberi kesempatan kepada orang lain untuk melihat kelemahannya.


"Aku harusnya marah, sesuai ekspektasimu." Ia kemudian terdiam menatap Rafael lurus. "Namun, aku rasa sudah kehabisan tenaga. Aku ingin marah sekarang pun, nantinya juga akan marah lagi dan lagi. Itu akan sangat melelahkan."


Semburat senyum tipis terukir di wajah Rafael Bingung, tidak mengerti. Wanita itu sepertinya lebih senang membangga-banggakan tempramen buruknya daripada jujur pada dirinya sendiri.


"Namun, yang lebih penting dari itu, kamu sudah melanggar satu poin yang ada di dalam kontrak." Alesha mengalihkan pandangannya. "Kamu sudah mencampuri kehidupan pribadiku."


Ia menatap Rafael sekali lagi, dengan tatapan menelisik. "Kamu sengaja mengikutiku, bukan? Bukankah kamu begitu penasaran?"


"Aku memang berbohong. Ibuku sebenarnya sedang sakit. Semuanya berawal di hari itu dan saat aku menelponmu untuk pertama kali, ingin meminjam uang karena dokter bilang ibuku harus melakukan operasi jantung."


Wanita itu kini kembali menyenderkan punggungnya pada kursi. "Aku hanya tidak punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya."


"Kenapa?" Rafael kini menatapnya dalam.


"Karena aku akan terlihat menyedihkan." Alesha menarik napasnya. "Aku sangat tidak suka itu."


"Kalau kamu tidak menyukainya, aku benar-benar minta maaf. Aku sebenarnya ingin berpura-pura tidak tahu." Rafael menatapnya dengan sorot mata meyakinkan.


Dalam hati lelaki itu berharap Alesha tidak akan membencinya karena perbuatan lancangnya.


"Lalu kenapa kamu tidak membiarkanku terus berbohong dan malah datang ke sini?" Alesha tanpa sadar menaikkan nadanya satu oktaf.


"Aku tidak tahu apakah membicarakannya denganmu sekarang adalah sebuah pilihan yang tepat atau tidak." Lelaki itu berucap ragu. "Aku menemuimu karena ingin mengatakan sesuatu."

__ADS_1


"Katakan. Sudah aku bilang, tidak punya waktu untuk menanggapi keraguanmu padaku." Alesha langsung membalas dengan tegas.


Rafael kini menarik napasnya sejenak. Ia kini menatap kosong pada pepohonan yang samar-samar ditiup angin malam yang menggerakkan ujung-ujung daunnya dengan lembut.


"Mantan istriku menyuruhku untuk menikah."


Tentu saja mendengar hal yang tidak pernah disangka dan diduga, Alesha menoleh, kini melebarkan kelopak matanya dengan sorot menuntut penjelasan. Ia sama sekali tidak pernah menyangka jika pria yang duduk di sebelahnya tersebut ternyata pernah menikah.


Bahkan ia kini mengerjapkan mata karena tidak percaya. Ia tadinya berpikir bahwa Rafael adalah seorang pria yang belum pernah menikah. Hingga ia mengingat seseorang yang hampir mirip dengan pria di sebelahnya tersebut.


Namun, hanya memendamnya di dalam hati.


'Pria ia ini sangat mirip dengan orang itu,' gumam Alesha yang hanya bisa mengungkapkan perasaannya di dalam hati.


"Sebelumnya aku sudah bilang padamu tentang alasanku memintamu untuk melakukan pernikahan kontrak. Tentang rumor dan gosip yang menyebar di perusahaan, itu benar."


"Tentang ibuku yang mendesakku untuk segera menikah, itu juga benar, tetapi ada satu hal lagi yang belum kukatakan. Alasan utama dari semua itu adalah karena mantan istriku." Rafael mulai menjelaskan.


"Semua rumor miring yang mengatakan bahwa aku belum bisa melupakan mantan istriku, itu semua benar dan alasan ibuku mendesakku untuk menikah adalah karena hal yang sama."


Lelaki itu melanjutkan, kini tangannya terkepal di sisi kursi. Badannya membungkuk, kepalanya menunduk dengan surai-surai yang menjuntai di sisi-sisi dahinya.


"Lalu sekarang apa yang ingin kamu lakukan?" Alesha bertanya dengan intonasi memastikan.


"Menurutmu?" Rafael mengangkat wajahnya.


Pertanyaan bodoh, kalimat yang akan terucap kalau saja Alesha tidak bisa mengontrol mulutnya sekarang.


Melihat lelaki itu begitu terlihat berantakan, begitu putus asa, Alesha dapat melihatnya. Setidaknya, ia masih menjaga empatinya untuk tidak membodoh-bodohi lelaki itu.


Alesha hanya menghembuskan napasnya sembari meniup rambutnya sendiri yang saling menjuntai di depan.


Alih-alih merasa jengkel akan sikap Rafael, yang lagi-lagi penuh dengan keraguan, ia kini malah menebak-nebak isi kepala lelaki itu dengan menatap raut wajahnya dari samping.


"Kondisimu tidak begitu baik." Wanita itu bergumam kecil.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2