
Alesha menyuruh Rafael membersihkan bekas kenikmatan yang dibuang di perutnya. Ia bahkan tidak membuka mata tadi karena merasa mual melihat perbuatan pria yang menunjukkan padanya saat mencapai puncak.
Apalagi ini adalah pertama kalinya ia melihat seorang pria melakukannya dan karena merasa mual, refleks Alesha pun memejamkan mata dan tidak ingin melanjutkan menatap sang suami.
"Bersihkan sampai bersih," sahut Alesha masih pada posisi telentang dengan memejamkan mata.
Sementara Rafael yang kini merasa sangat lega dan rasa pusing di kepala seketika menghilang, sehingga ia sama sekali keberatan dengan perintah dari sang istri.
"Tenang saja, Sayang. Semua akan bersih seperti semula." Rafael kini mulai melaksanakan perintah dari sang istri dengan beberapa kali tersenyum menyeringai kala melihat wanitanya masih betah memejamkan mata.
"Nanti lagi, ya Sayang. Kita istirahat beberapa saat dulu." Benar apa yang dipikirkan oleh Rafael jika usahanya untuk mengerjai sang istri telah berhasil.
Hingga ia pun melihat sosok wanita yang dicintainya kini telah membuka mata sekaligus membulatkan mata. Seolah ingin menunjukkan rasa terkejut yang luar biasa padanya.
"Apa? Lagi? Kamu menyuruhku untuk melakukannya lagi?"
Alesha yang kini sangat terkejut atas apa yang dikatakan oleh sang suami, tidak terima dan tidak mau menuruti jika baru beberapa menit berlalu sudah berniat untuk memintanya lagi.
"Tidak! Tidak, aku tidak mau! Seperti tidak ada hari lain saja!" Alesha tadi benar-benar mau muntah saat melakukannya, tapi berusaha keras untuk menahannya agar tidak mengecewakan sang suami.
Apalagi terlupakan dengan perbuatan pria yang juga membuatnya mendesah sangat lirih. Nasib baik ia melakukannya tidak terlalu lama karena berpikir jika ia benar-benar akan muntah.
Apalagi posisinya yang tengah hamil muda membuatnya tidak seperti kebanyakan wanita normal yang mungkin akan biasa melakukannya.
Hingga ia merasa sangat lega sekaligus kesal pada sang suami yang malah tertawa terbahak-bahak karena mengerjainya.
"Astaga, Sayang. Aku hanya bercanda agar kamu membuka mata. Aku ingin kamu melihat wajah suamimu yang tampan dan seksi ini." Rafael mengedipkan mata begitu berhasil membuat bibir sensual yang menjadi candunya itu mengerucut.
__ADS_1
Kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah sang istri yang masih terlihat kesal padanya.
"Iisssh ... menyebalkan sekali!" sahut Alesha yang kini mengarahkan pukulan pada sosok pria yang membuang tisu di tempat sampah.
Hingga ia pun bisa melihat sang suami memakai kembali pakaian dan duduk di sebelahnya. Ia sebenarnya ingin ke kamar mandi, tapi karena di kamar tidak ada, harus keluar.
Namun, ia merasa malu jika keluar dari kamar karena sang ibu dan mamanya pasti akan melihatnya dengan tatapan yang dirasanya aneh. Jadi, ia hanya diam di kamar dan membersihkan seadanya dengan tisu.
Hingga sesuatu yang dipikirkannya pun kini diungkapkan oleh Rafael dan membuatnya merasa seperti sehati karena bisa satu pemikiran.
"Sayang, jangan lama-lama tinggal di sini, ya! Aku sebenarnya ingin membersihkan diri di kamar mandi, tapi kamar ini tidak ada. Jadi, harus keluar dari kamar setelah kita bercinta. Rasanya sangat aneh jika dilihat ibu dan mama."
Rafael yang tadi sempat memperhatikan kamar sang istri ketika pertama kali masuk, memang sudah bertanya-tanya bagaimana ia ke kamar mandi setelah bercinta dengan sang istri.
Ia tidak ingin mendapatkan tatapan penuh curiga dari sang mertua dan pasti akan terasa aneh. Hingga ia khawatir jika ternyata sang istri malah sangat lama tinggal di sana.
Tentu saja akan membuatnya repot jika harus bolak-balik ke kamar mandi jika bercinta selama beberapa ronde.
Namun, jika tinggal di sana, mana mungkin akan bisa bercinta sepuasnya seperti rencananya. Hingga ia merasa sangat lega karena mendapatkan jawaban sesuai dengan yang diharapkan.
"Tidak lama. Aku ingin di sini selama tiga hari saja. Kamu tidak keberatan, kan?" Meskipun terkesan ia lebih nyaman dengan rumah sang suami, tetap saja Alesha memikirkan keadaan sang ibu.
"Apa kamu bisa membayar pegawai untuk bekerja di sini sebagai pembantu yang merangkap sebagai penjaga toko untuk membantu ibu? Aku tidak ingin ibu terlalu capek. Tapi jika aku yang mengatakan ide itu, pasti akan ditolak mentah-mentah."
"Jadi, kamu saja yang mengatakannya karena ibu tidak akan menolaknya." Alesha merasa bahwa ia tidak tahu diri karena meninggalkan sang ibu sendirian di rumah dan kembali ke rumah suami.
Jadi, ingin meringankan pekerjaan sang ibu agar ada yang membantu dan menjaganya. Memang sebelumnya ia sudah mengatakan hal itu pada sang ibu, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
__ADS_1
Ia malah dimarahi sang ibu yang tidak ingin merasa bosan di rumah jika tidak melakukan apapun. Memang itu ada benarnya, tapi tetap saja Alesha merasa sangat khawatir jika ibunya kelelahan dan akhirnya kambuh.
Ada banyak orang tua yang tidak ingin hanya berpangku tangan saja dengan alasan bosan jika hanya diam saja. Padahal keinginan anak adalah tidak ingin melihat orang tua susah payah di masa tua.
Meskipun ia tahu bahwa kebahagiaan orang tua yang sudah berumur tidaklah muluk-muluk, yaitu tidak ingin merasa bosan karena tidak melakukan apapun. Tetap saja tidak bisa menghilangkan kekhawatiran pada sang ibu.
"Anggap saja semuanya beres, Sayang. Aku akan membuat ibu patuh pada menantu kesayangan. Jadi, bukan hanya kamu saja yang menjadi menantu kesayangan, tapi aku juga."
Refleks Alesha beranjak duduk dari posisinya yang telentang dan mulai mengarahkan sebuah ciuman pada pipi putih sang suami. "Terima kasih, Sayang. I love you."
"Ternyata seperti ini rasanya mempunyai istri yang sangat mencintaiku," ucap Rafael yang kini langsung memeluk erat tubuh Alesha.
Bahkan ia merasa sangat terharu atas kebahagiaan yang didapatkan setelah perjuangan untuk mengemis cinta Aealeasha dulu tidak berhasil sama sekali.
Ia dulu berpikir akan selamanya terpuruk dan tidak akan pernah menikah lagi, tapi ternyata semuanya berubah setelah menemukan sosok wanita yang ada di pelukannya tersebut.
"Kenapa aku tidak bertemu semenjak dulu saja, ya? Jadi, hidupku akan langsung berubah menjadi istri CEO hebat sepertimu." Alesha bahkan kini melingkarkan tangannya pada pinggang kokoh sang suami untuk meluapkan kebahagiaan yang dirasakan.
Hingga ia bisa merasakan dekapan hangat sang suami yang makin mengeratkan pelukannya. Ia saat ini hanya mendengar sesuatu yang seketika menghangatkan hatinya.
"I love you, Istriku. Aku akan selalu menjagamu dengan baik dan juga anak kita. Aku juga akan menjaga hati agar kamu tidak akan pernah menyesal menjadi istri dari Rafael Zafran.
Kemudian Rafael kini mengajak sang istri berbaring di atas ranjang dengan posisi saling berhadapan setelah menyelesaikan percintaan panas mereka.
Bahkan ia menyangga kepala dengan sebelah tangan dan memanjakan mata dengan menatap intens wajah cantik sang istri yang sangat patuh padanya. Ia pun merapikan anak rambut yang terlihat sangat berantakan itu sambil mendengarkan celotehan sang istri yang mengungkapkan kecemburuan.
"Aku percaya padamu, Sayang. Asalkan kamu tidak akan pernah lagi mengurusi mantan istrimu itu. Awas saja jika kamu berniat untuk menjadi pahlawan kesiangan lagi." Alesha masih belum lega posisinya aman jika saingannya ada di Jakarta.
__ADS_1
Sebenarnya bukan karena ia tidak percaya suami, tapi yang terjadi adalah tidak percaya diri jika dibandingkan dengan Aealeasha yang sangat cantik itu karena memang diakuinya jika mantan istri sang suami sangat cantik.
To be continued...