
Alesha lantas merutuk dalam hatinya. Ia bahkan kesulitan untuk mengatakannya dalam hati. Takut kalau ada orang lain yang ternyata memiliki kekuatan supranatural dan bisa membaca isi hatinya.
Setelah itu, pria itu akan menyebarkan identitasnya pada seluruh fakultas. Apalagi, Alex Claire bukanlah dosen biasa. Ia adalah dosen yang selalu saja berhasil menjadi perbincangan hangat.
Alesha menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir pikirannya yang kacau dan berlebihan. Ia kemudian melirik pria yang saat ini tengah duduk di balik kemudi tersebut.
Lelaki itu sudah mengetahui banyak hal tentangnya. Mungkin akan aman-aman saja jika Alesha mengeluarkan kekhawatirannya pada lelaki itu.
Wanita itu kemudian memejamkan matanya dengan kuat. Membuka lagi, ia kemudian meringis. "Sebenarnya yang tadi itu, mantan sugar daddy-ku."
Rafael seketika menoleh karena sangat terkejut dan tidak pernah menyangka bahwa Alesha pernah memiliki skandal dengan dosen.
"Apa?" tanya Rafael dengan membulatkan mata. "Dosenmu adalah mantan sugar daddy-mu? Astaga! Mau jadi seperti apa negara ini jika ada seorang dosen yang menyukai wanita muda. Apa yang dia katakan padamu tadi?"
Rafael kemudian sesaat sadar, kini mengalihkan pandangannya. Ia kemudian memijat pelipisnya sendiri. Mengapa ia begitu terkejut?
Mengapa ia jadi penasaran? Lelaki itu kini berdecih sendiri, seperti berada di puncak komedi. Mendengar jawaban Alesha barusan, tiba-tiba saja membuatnya merasa aneh.
"Tidak ada yang dia katakan. Sebenarnya aku sangat takut kalau dia akan membocorkan aibku di kampus."
"Namun, untungnya dia amnesia. Jadi dia tidak mengingatku sama sekali. Ah, maksudku bukan 'untungnya'."
'Tentu saja itu adalah kemalangan baginya,' gumam Alesha di dalam hati.
"Hanya saja, sedikit menguntungkan bagiku." Alesha menjelaskan dengan intonasi meracau sambil mengacak rambutnya sendiri.
Kini, Rafael kembali menoleh, mengamati pergerakan Alesha dengan seksama. "Bukankah itu bagus? Kenapa kamu sepanik itu?" tanyanya dengan sedikit ragu.
Wanita itu sontak menoleh dengan rambut berantakannya, menatap Rafael dengan wajah malas.
Sementara Rafael kini membalasnya dengan mengerutkan alis.
"Ada seseorang yang pernah bilang padaku, kalau tidak akan berakhir baik bagi siapa pun jika berurusan dengannya."
"Bahkan meskipun dia tidak mengingat segalanya adalah sesuatu yang bagus, semuanya tetap tidak bagus." Alesha kemudian menelungkupkan wajahnya pada tas mungilnya.
"Masalahnya adalah dia tetap mengakibatkan masalah untukku sekarang," racaunya tidak jelas.
Rafael hanya bisa menatap Alesha sambil menghela napas. Entah mengapa, ia jadi merasa gelisah.
Wanita itu kini mengangkat wajahnya kembali. "Kamu tahu? Lelaki itu sungguh menyebalkan. Sangat-sangat menyebalkan." Ia kemudian melirik Rafael. "Bahkan bisa dibilang lebih menyebalkan dari kamu.
Tentu saja mendengar kalimat bernada ejekan itu, kini Rafael menaikkan satu alisnya. "Apa katamu? Aku? Menyebalkan?" sungutnya dengan suara naik beberapa oktaf.
Lelaki itu terpancing emosi. Ya, memang mereka sering berdebat hebat dan beberapa kali terlibat perselisihan, tetapi ia tidak tahu kalau dirinya dianggap menyebalkan bagi Alesha.
__ADS_1
Bukankah itu keterlaluan? Padahal Rafael selalu mencoba untuk bersikap tenang menghadapi wanita itu.
Alesha hanya menghela napasnya. Kemudian mengibas-ibaskan telapak tangan pada pria yang duduk di sebelah kanannya.
"Ah, sudahlah. Itu tidak penting sekarang." Wanita itu kemudian menipiskan bibirnya.
"Menurutmu berapa menit toleransi keterlambatan itu?" Ia menoleh menatap Rafael, tetapi kemudian menjawab sendiri. "Bagi dia, itu tidak ada."
"Padahal aku sudah menghitung dengan cermat tentang ketepatan waktu tadi. Aku ingat sekali memiliki sisa waktu sepuluh menit menuju jam kelas ketika keluar dari toilet."
"Kemudian waktu tempuh yang dibutuhkan untuk menuju gedung fakultas adalah tujuh menit, tetapi sayangnya salah masuk ke kelas semester lima."
"Setelah itu, keluar dan mencari kelas. Waktunya hanya butuh satu menit dan setelah masuk kelas, ternyata sudah ada dosen itu di sana."
"Aku yakin sekali kalau dia pun baru datang. Para mahasiswa di sana juga baru membuka buku mereka. Apakah menurutmu, aku sangat terlambat? Tidak, kan?" Alesha mengeluh panjang lebar yang diakhiri meminta pembenaran.
"Akan tetapi, lelaki kejam itu malah seenaknya menghukumku sampai harus membuat sepuluh lembar surat permintaan maaf untuknya."
"Astaga, yang benar saja. Aku bahkan tidak pernah menulis surat cinta untuk seorang laki-laki ketika SMA, tetapi sekarang malah membuat surat hukuman."
Wanita itu melanjutkan. Wajahnya benar-benar masam. Dahinya berkerut dan matanya menunjukkan sorot nyalang.
"Apakah kamu tahu apa yang paling membuatku gelisah?" tanya Alesha, kini menghadap Rafael dengan wajah lesunya.
"Di sini." Alesha menepuk dadanya sendiri. "Jantungku memang benar-benar bodoh," ucapnya pelan, lantas mengalihkan pandangan.
Rafael yang mendengar keluhan panjang lebar dari wanita yang berada di sebelahnya, seketika merasa gelisah. Mencermati perkataan Alesha, pasti ada makna yang tersirat dari setiap ucapannya.
Sejenak Rafael melunakkan pandangannya, menyadari perkataan Alesha melalui praduganya. "Apakah kamu menyukai lelaki itu?" tanya Rafael skeptis yang saat ini masih menatap intens wajah Alesha.
Alesha sontak menoleh pada Rafael. Wanita itu tertegun sejenak. Sedetik kemudian, ia mengalihkan pandangannya.
"Benar," jawabnya pelan. "Lebih tepatnya, pernah."
Mendengar jawaban Alesha, entah mengapa, Rafael merasa ada sesuatu yang aneh yang merangsek hatinya. Ada rasa khawatir. Ada rasa cemas yang tak kentara. Sangat sulit untuk mendefinisikannya dengan pasti.
Tiba-tiba saja ia merasakan dejavu. Perasaan tidak validnya seakan berasal dari sesuatu yang pernah dirasakannya dulu sekali.
Tentu saja karena laki-laki itu tiba-tiba saja mengingat tentang mantan istrinya— Aeleasha Charlotte.
Ya, benar. Sesuatu pernah terjadi dengan situasi serupa. Dulu, Aeleasha—mantan istrinya pernah memiliki secret daddy. Wanita itu mencintai pria itu meskipun sudah menyakiti karena memperkosa hingga hamil dan pergi.
Hingga Aeleasha telah menjalin ikatan pernikahan dengan Rafael, rasa cinta wanita itu pada pria yang telah memperkosanya tak bisa dihindari.
Bahkan ketidakmampuan Rafael saat itu membuat Aeleasha harus pergi dari sisinya ketika pria yang tak lain bernama Arsenio memohon ampunan dan ingin kembali.
__ADS_1
Sejenak, ada rasa takut yang menghampiri Rafael. Ia takut segalanya terulang kembali.
Lelaki itu lantas menyalakan mesin mobilnya, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang melintas di kepala. Setelah keluar dari area kampus, Rafael semakin menaikkan kecepatan mobil hingga mencapai kecepatan tinggi.
Akan tetapi sayang, pikirannya semakin kacau.
Dalam otaknya, kini berputar-putar skenario bagaimana Aeleasha dulu meninggalkannya demi mantan sugar daddy yang dicintai.
Setiap bagian terpentingnya berulang dalam ingatan seperti reka adegan yang terekam dengan jelas dalam sinema.
Kini, satu persatu pertanyaan acak muncul di benak Rafael. Bagaimana kalau Alesha yang ini juga melakukan hal yang sama?
Rafael mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia lantas menancapkan gasnya dengan semakin cepat.
Sementara di sisinya, Alesha duduk tenang tanpa protes sama sekali. Seolah pikirannya juga sedang diculik oleh ingatan-ingatan masa lalunya.
Mereka melakukan perjalanan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut.
Alesha terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri tentang Alex dan memikirkan nasibnya.
Sementara Rafael sibuk dengan pikirannya tentang Aeleasha—mantan istrinya. Ingatan-ingatan buruk itu terus saja mengganggunya.
Karena Rafael mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu lama sampai.
Mobil kemudian berhenti di depan gedung rumah sakit. Rafael melepas seat belt-nya, lantas membuka kunci mobil, tetapi kemudian ia terdiam ketika melirik Alesha.
Wanita itu bergerak membuka mobilnya. Sampai ketika pintu menganga sedikit, Rafael sontak menahan pintu itu hingga kembali tertutup.
Ia memegang pembuka pintu itu hingga badannya condong ke arah Alesha, menciptakan jarak yang terkikis sampai tipis.
Sementara Alesha kini menatapnya aneh. Ia mengangkat sebelah alisnya. "Apa yang kau lakukan? Menyingkir dariku!"
"Alesha." Rafael menatap wanita itu dengan tajam. "Mari buat satu perjanjian lagi."
Alesha yang mengernyit, kini beralih mundur untuk memberi jarak pada Rafael yang kini terlalu dekat. Ia menatap lelaki itu dengan gugup.
"Apa?"
"Jangan berhubungan dengan pria lain." Lelaki itu berucap tegas. "Selama kita masih dalam masa kontrak, aku adalah satu-satunya lelakimu dan kamu adalah wanitaku. Itu adalah aturan."
Ucapan Rafael seketika membuat deru napas Alesha tertahan. Ia tak mengerti mengapa Rafael tiba-tiba bersikap seperti ini, tetapi seolah terhipnotis melihat raut tajam pria dengan jarak hanya beberapa senti dan sama sekali tidak bisa berkutik.
Akhirnya, ia yang merasa sangat gugup berada sangat intim dengan pria itu, hanya bisa mengangguk kecil menyetujuinya karena merasa tidak ada pilihan lain dan juga sama sekali tidak dekat dengan seorang pria mana pun.
To be continued...
__ADS_1