I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Apa kau mau menceraikanku?


__ADS_3

"Apa yang terjadi pada menantuku? Kenapa kamu tidak bilang pada Mama tadi?" Tiana yang tadi mengetahui kedatangan dokter pribadi dihubungi oleh putranya, segera mengantar ke kamar dan sangat khawatir pada keadaan Alesha.


Bahkan ia merasa sangat bersalah saat tadi tidak memeriksa keadaan Alesha setelah pulang dari rumah besan. Padahal ia tadi membeli beberapa barang untuk menantunya, tapi berniat memberikan saat keluar dari kamar.


Ia tidak ingin mengganggu kenyamanan menantu dan terkesan memeriksa apa yang dilakukan di dalam kamar, jadi tidak pernah melakukan itu demi membuat Alesha merasa betah tinggal bersamanya.


Apalagi ia sadar bahwa banyak menantu yang tidak mau tinggal dengan mertua dan ingin keluar dari rumah dengan alasan hidup mandiri. Padahal itu hanyalah sebuah alasan semata karena yang sebenarnya adalah menantu tidak betah tinggal bersama mertua.


Tiana tidak ingin hal seperti itu terjadi karena berharap menantunya bisa menganggapnya seperti ibu sendiri. Ia sangat menyayangi Alesha seperti putri sendiri.


Tiana mencoba untuk memposisikan diri sebagai menantu karena ia pernah berada pada posisi itu dan dulu juga merasakan tidak betah tinggal bersama mertua.


Hal itu dikarenakan orang tua suaminya tidak menyukainya karena hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan juga tidak punya gelar. Sementara sang suami dulu adalah sarjana dan mertuanya ingin memiliki menantu yang sepadan.


Namun, sang suami sangat mencintainya dan mementingkan kebahagiaan mereka. Hingga putranya lahir, mereka hidup bahagia.


Namun, kebahagiaan itu tidak selamanya karena sang suami meninggal dunia saat terkena serangan jantung dan mengharuskannya untuk menjadi single parent untuk Rafael.


Ia berjanji tidak akan menikah lagi dan fokus mencari uang untuk bisa menyekolahkan putranya hingga sarjana dengan menjadi asisten rumah tangga di rumah mantan menantunya.


Kini, Tiana memukul lengan putranya yang malah hanya diam saja dan tidak langsung menjawab pertanyaan darinya, sehingga kini menyuruh dokter mengikutinya masuk ke dalam.


"Cepat periksa keadaan putriku, Dokter. Aku benar-benar bersalah karena tidak memperhatikannya hari ini. Seharusnya tadi pagi langsung memanggilmu datang ke sini untuk memeriksa putriku yang tidak enak badan."


Sang dokter pun menganggukkan kepala dan bergerak untuk membuka tas. Setelah mengambil alat untuk memeriksa pasien wanita di atas ranjang tersebut, kini langsung memeriksa.


Tiana yang tadi melihat menantunya tengah tidur meringkuk seperti anak kecil di bawah selimut tebal dan membuatnya merasa sangat iba. Ia melirik ke arah putranya yang hanya diam saja dari tadi seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Kenapa hanya diam saja dari tadi ketika Mama bertanya padamu?" Tiana saat ini menatap tajam ke arah putranya yang belum berkunjung membuka suara untuk menjawabnya.


Rafael sebenarnya sedang menahan kekesalan karena menyesal telah memanggil dokter saat posisinya memeluk erat tubuh Alesha.


Ia merasa bahwa posisi itu sangat nyaman dan tidak mungkin bisa terulang kembali ketika wanita itu sadar. Jadi, ketika sang ibu mengomel kesana-kemari, pikirannya hanyalah mengingat tentang momen inti mereka yang jarang terjadi.


"Aku sedang memeluk erat untuk memberikan kehangatan pada menantu kesayangan Mama tadi, tapi suara ketukan pintu membuatku terkejut dan merasa kesal karena diganggu."


Akhirnya Rafael memilih mengatakan yang hal yang sebenarnya dirasakan agar tidak mendapatkan omelan untuk kesekian kali dari sang ibu yang kini sudah diduga akan tersenyum lebar begitu mengetahui alasannya.


Bahkan ia tersenyum sinis melihat wajah berbinar dari wanita paruh baya yang sangat disayanginya tersebut tampak sangat bahagia mendengarnya ketika membela diri.


Refleks Tiana berjalan menghampiri putranya dan kembali mengempaskan tangan untuk memukul ringan pada bahu Rafael.

__ADS_1


"Dasar pria tidak tahu malu! Ada dokter di sini, tapi kamu malah berbicara jujur seperti itu. Lain kali difilter perkataanmu itu."


Rafael kini hanya geleng-geleng kepala karena merasa bahwa perkataan sang ibu sangat konyol dan juga salah kaprah. "Yang seperti inilah kesalahan banyak orang."


Wanita yang saat ini memicingkan mata karena tidak paham dengan perkataan dari putranya, kini mengungkapkan pertanyaan. "Maksudmu, Mama salah?"


"Jelas salah lah karena aku berbicara hal yang sebenarnya dan tidak ada hal yang salah karena melakukan apapun pada istriku, bukan? Lalu, kenapa harus malu?"


"Sementara di zaman yang serba canggih ini mana banyak pasangan tidak tahu malu yang melakukan mesum. Saat pasangan suami istri yang sah malah dianggap tabu. Konyol sekali!"


Rafael selalu saja merasa emosi jika mengingat pemikiran dari banyak orang yang selalu berpikiran seperti itu dan menganggap dunia seperti terbalik.


"Benar juga apa katamu, Sayang." Akhirnya Tiana yang merasa malu karena menyadari bahwa semua yang dikatakan oleh putranya benar.


Apalagi ia tahu bahwa banyak anak muda yang hamil diluar nikah karena pergaulan bebas dan yang menjadi korban adalah orang tua serta keturunan yang mungkin tidak mendapatkan hal terbaik.


"Baiklah. Mama salah dan minta maaf karena telah mengganggumu, tapi ...." Tiana seketika mengarahkan tangan untuk menjewer telinga putranya sebelum melanjutkan perkataannya.


"Jika mama dan dokter tidak masuk agar tidak mengganggumu, bagaimana jika terjadi sesuatu hal-hal yang buruk pada putriku? Apa kamu mau bertanggungjawab?" sarkas Tiana yang ini hanya tergagah melihat putranya meringis kesakitan karena perbuatannya.


"Astaga! Apa-apaan sih, Ma! Sakit, tahu!" sarkas Rafael yang kini seketika mengusap telinganya karena terasa sangat panas.


Saat mengusap telinga yang dijewer oleh sang ibu, kini mendengar suara penjelasan dari dokter yang baru saja selesai memeriksa Alesha.


Kemudian sang dokter beralih menatap ke arah wanita yang masih tertidur di atas ranjang sambil merintih. "Istrimu demam tinggi. Itu bisa jadi karena efek kelelahan dan terlalu stres. Apa akhir-akhir ini ia banyak pikiran?"


Sang dokter lalu menuliskan resep untuk pasien dan menunggu jawaban dari sang suami karena ingin mengetahui penyebab wanita di atas ranjang itu stres.


Ia khawatir jika syaraf yang terlalu diforsir akan menyebabkan masalah di kemudian hari.


"Tebus obatnya di apotik terdekat." Lalu ia menyerahkan kertas kecil itu ke tangan Rafael.


Saat Rafael hendak menjawab, malah didahului oleh sang ibu dan membuatnya diam.


"Sepertinya putriku kelelahan karena mereka masih pengantin baru." Tiana kini melirik ke arah putranya untuk memulihkan sebuah ancaman.


"Jangan menyentuh putriku untuk sementara waktu karena kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah. Itu semua karena ulahmu yang membuatnya kelelahan."


"Bukannya Mama ingin segera menimang cucu? Jadi, wajarlah aku melakukannya tiap hari. Lagipula kamu sudah sah dan halal melakukan apapun, bukan?" Rafael sebenarnya ingin tertawa saat mengatakan sebuah kebohongan semata pada sang ibu.


Namun, mencoba untuk berakting layaknya pasangan suami istri yang normal agar wanita paruh baya tersebut merasa senang dan tidak kecewa padanya.

__ADS_1


'Bisa-bisanya aku mengarang sebuah kebohongan seperti ini. Padahal apa yang kukatakan adalah kenyataannya, tapi prakteknya nol karena tidak ada apapun di antara kami,' gumam Rafael yang saat ini tengah menatap intens sosok wanita yang mulai bergerak di atas ranjang.


Ia akan mendengar suara lirih Alesha dan langsung berjalan mendekat agar bisa lebih jelas.


"Air," lirih Alesha tanpa membuka mata karena merasa kepalanya sangat berat dan tangannya sudah meraba-raba untuk mencari sesuatu yang ingin diminumnya.


Ia yang tadi sempat tertidur, mendengar suara samar-samar dan membuatnya merasa terganggu. Hingga menyadari tenggorokannya sangat kering dan ingin membasahi dengan air putih, sehingga berusaha untuk mengambil di atas mereka karena terbiasa meletakkannya di sana.


Namun, ia merasakan tangannya digenggam erat dan sekaligus mendengar suara balita yang sangat dihafal, sehingga membuatnya pernah membuka mata untuk memastikan.


"Ini minumnya, Sayang," ucap Rafael yang berusaha untuk membangunkan Alesha saat hendak minum.


Hingga iris kecoklatan itu terlihat sangat jelas dipenuhi bulir air mata dan bersitatap dengannya. Ia bahkan seketika membantu Alesha untuk sedikit mengangkat tubuh agar bisa minum.


"Pelan-pelan," ucapnya saat sedikit demi sedikit gelas berisi air itu mulai berkurang karena diminum oleh Alesha.


Melihat pemandangan sangat menyejukkan hati kala putranya sangat perhatian pada menantunya, tentu saja membuat hati Tiana sangat bahagia.


Ia pun mengajak sang dokter untuk keluar dari ruangan kamar karena ingin membiarkan putranya merawat sang istri dengan baik. Namun, sebelum itu ia meminta resep yang tadi dituliskan oleh dokter karena akan menyuruh sopir untuk membeli di apotik.


"Cepat sembuh, Sayang." Mengusap lembut lengan menantunya yang terlihat pucat dengan mata berair.


"Terima kasih, Ma," sahut Alesha yang kini kembali berbaring setelah tenggorokannya tidak lagi kering.


Ia masih bisa melihat siluet mertua dan juga sang dokter keluar dari ruangan kamar. Kemudian kembali mendengar suara Rafael yang terdengar sangat mengkhawatirkannya.


"Ternyata aku tidak tega saat melihatmu sakit seperti ini." Rafael saat ini duduk di tepi ranjang sebelah kiri Alesha dan kembali mengarahkan telapak tangan pada kening wanita itu.


"Masih panas. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan hingga membuatmu bisa sakit seperti ini? Tadi kata dokter, kamu sakit karena kelelahan dan banyak pikiran hingga stres. Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan?"


Alesha sebenarnya ingin sekali berteriak untuk mengungkapkan jawabannya, tapi tidak bisa melakukan itu dan hanya mengumpat di dalam hati.


'Aku memikirkanmu, berengsek!'


Kemudian ia kembali memejamkan mata karena terasa pedih saat bulir air mata terus meluncur membasahi pipinya.


"Aku ingin tidur lagi." Alesha menjawab singkat karena seperti tidak punya tenaga dan suaranya juga sangat serak.


"Jawab dulu pertanyaanku! Apa kamu memikirkan Alex dan sangat merindukannya?" tanya Rafael yang saat ini mencoba untuk mencari tahu apa yang ada di otak wanita dengan mata terpejam itu.


Refleks Alesha membuka mata karena merasa sangat kesal pada pria yang sama sekali tidak bisa memahaminya.

__ADS_1


"Ya, kau benar. Apa yang akan kau lakukan? Apa kau ingin menceraikanku agar bisa kembali pada Alex?"


To be continued...


__ADS_2