
Tidak ada seorang anak yang bisa bersikap tenang saat wanita yang telah melahirkan membicarakan kematian ketika meminta cucu.
Meskipun Rafael tahu, jika itu adalah alasan klise dari para orang tua yang mendesak anak untuk segera menikah, agar memiliki keturunan.
Jadi, ia memilih untuk menikahi Alesha demi mengulur waktu. Berharap jika sang ibu tidak mendesak lagi untuk mencarikan jodoh. Jika dulu ia berencana untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Alesha selama satu tahun.
Namun, ia seketika berubah pikiran begitu melihat mantan istri mengalami masalah dengan sang suami.
Bahkan didukung dengan ulah dari wanita yang akan dinikahinya menginap di tempat pria lain yang disukai, membuatnya berubah pikiran dan hanya berniat untuk menikah selama satu bulan.
Kemudian ia berharap jika mantan istri yang baru saja kabur dari luar negeri, akan kembali padanya setelah bercerai dengan Arsenio.
Sementara itu, ibu Alesha kini sudah mengantarkan calon menantu ke depan bersama perawat yang menjaganya.
"Hati-hati di jalan. Aku akan menasehati Alesha yang saat ini masih mengunci diri di dalam kamar."
Rafael sama sekali tidak berpikir untuk berbicara dengan Alesha sampai menikah karena akan disibukkan oleh pekerjaan, serta restoran sang mantan istri.
Jadi, ia sama sekali tidak berharap ada pernikahannya karena akan lebih fokus pada usaha mantan istri, serta memimpin perusahaan.
Meskipun nanti berada dalam satu rumah setelah menikah, ia berencana untuk berbuat sesuka hati dan juga membiarkan wanita itu melakukan apapun karena ia sudah tidak peduli.
Setelah mengiyakan perkataan dari sang ibu mertua, Rafael saat ini langsung berjalan menuju ke arah mobil dan mengemudikan kendaraan miliknya meninggalkan area rumah sederhana tersebut.
Selama dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal di pikiran.
"Apakah tanggapan dari ibu jika aku mengatakan ingin kembali pada mantan istriku?"
"Apakah ibu akan merasa senang karena selama ini menyayangi Alesha seperti putri kandung sendiri? Ataukah merasa murka padaku karena mempermainkan pernikahan?"
__ADS_1
Rafael sebenarnya sudah mengetahui jawaban dari pertanyaannya. Akan tetapi, ia saat ini berpikir bahwa sang ibu mau mendukung jika kembali pada sang mantan istri yang masih belum bisa dilupakan olehnya.
"Bagaimana caranya menceritakan tentang Alesha yang berada di negara ini karena kabur dari sang suami? Apakah dengan aku mengatakannya, ibu akan menyuruh mantan istri dan putraku agar tinggal di rumah bersama?"
Rafael tidak ingin susah payah memikirkan hal yang membuatnya merasa. Jadi, ia saat ini memilih untuk diam dan merahasiakan jika Alesha berada di negara yang sama.
Setelah beberapa saat kemudian, Rate telah tiba di rumah dan langsung disambut oleh wanita paruh baya dengan wajah masam, seolah ingin mengungkapkan kekesalan padanya.
Ia tadinya langsung memeluk sang ibu karena satu hari tidak bertemu wanita yang sangat disayanginya tersebut, membuatnya ingin mengungkapkan kerinduan.
Namun, bukan sambutan hangat yang didapatkan olehnya karena saat ini ia meringis menahan rasa nyeri pada daun telinga yang malah dijewer oleh sang ibu.
"Dasar anak nakal!" Tiana tidak bisa menahan kemurkaan karena dari semalam menghubungi putranya tersebut karena sangat khawatir.
Semua itu karena putranya menonaktifkan ponsel, sehingga ia tidak bisa menghubungi. Bahkan tidak ada yang mengetahui ke mana perginya putranya tersebut. Hanya mengatakan ada rapat penting dengan klien di luar kota.
"Astaga, Ma. Sakit sekali ini!" Rafael masih meringis kesakitan karena merasakan panas pada daun telinga yang belum dilepaskan oleh wanita dengan raut wajah memerah tersebut.
Sebenarnya Rafael mengetahui tentang semua itu, tetapi melupakannya karena merindukan kebersamaan dengan wanita yang sangat dicintai. Ia tidak ingin terganggu dengan telepon dari sang ibu yang pastinya akan bertanya macam-macam.
"Maafkan aku, Ma. Ponselku mati dan tidak membawa charger. Saat sibuk dengan klien, hingga melupakan semuanya. Lain kali tidak akan terulang. Ini untuk pertama dan terakhir kali aku melakukannya. Jadi, maafkan aku, Ma."
Tadi Tiana sudah merenggangkan tangan yang dari tadi enggan melepaskan daun telinga putranya tersebut untuk memberikan sebuah hukuman.
Kemudian mengeluarkan jurus seperti biasa, yaitu mengomel panjang kali lebar kepada putranya, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Jika aku mengetahui keberadaanmu, aku langsung menarikmu untuk pulang. Jangan berbuat hal buruk dengan membuat hati seorang ibu was-was karena khawatir pada keadaan putranya."
"Iya, Ma. Aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama, tapi ada sesuatu yang ingin kusampaikan." Rafael yang tadinya terlihat meringis menahan rasa nyeri, kini mengarahkan tatapan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Ma, ada yang ingin kukatakan."
"Katakan saja. Memangnya tentang apa?"
"Tentang Alesha."
"Memangnya ada apa dengan menantuku?" Tiana mengerutkan kening dan beralih memicingkan mata, serta berakhir dengan menatap curiga pada putranya tersebut.
"Apa Alesha saat ini sedang hamil karena perbuatanmu?"
"Astaga!" Rafael yang tidak habis pikir dengan perkataan dari sang ibu yang bahkan telah mengetahui seperti apa ia luar dalam. "Aku putramu, tidakkah Mama mengerti aku seperti apa?"
"Bagaimana mungkin Mama menebak dengan perkataan yang sangat konyol. Aku bukan pria brengsek yang melakukan hubungan itu sebelum menikah. Jangan karena Mama berpikir ingin segera memiliki seorang cucu, sehingga berpikir aku akan langsung mengabulkannya dengan asal menyebarkan benihku yang sangat berharga."
Merasa jika perkataan putranya sangat lebay, Tiana saat ini hendak kembali menjewer telinga di hadapannya, tetapi tidak jadi melakukannya saat pria yang mempunyai postur lebih tinggi darinya tersebut berjalan menghindarinya.
"Kata-katamu malah membuat Mama mual. Lebih baik kamu segera membersihkan diri dan kita makan bersama karena satu hari berada di meja makan sendirian, rasanya sangat menyesakkan." Tiana memilih untuk mengibaskan tangan pada putranya agar segera pergi mandi.
Sementara Rafael saat ini langsung mengiyakan perintah sang ibu karena tidak ingin telinganya terasa nyeri lagi.
Ia langsung berjalan menaiki anak tangga dan hanya bisa mengungkapkan apa yang menjadi pusat kekhawatirannya.
'Mama salah karena berpikir aku membicarakan Alesha. Mama tidak akan pernah tahu jika aku tidak memberitahunya. Jika mengetahui nasib Aeleasha saat ini, ia pasti akan langsung menyuruhku membawa putri kesayangannya untuk pulang ke rumah ini. Mungkin besok pagi saja aku mengatakan pada Mama.'
'Siapa tahu jika aku langsung mendapatkan dukungan dari mama untuk menerima dan menikahinya.'
Harapan yang selalu dipupuk di hati Rafael sebenarnya seringkali menyakitinya, tetapi yang saat ini terjadi adalah tidak ingin menyerah pada cintanya yang masih bertahta di hati.
Berharap ia akan bisa menikahi Alesha dan kembali membina biduk rumah tangga sesungguhnya bersama wanita yang dicintai, serta Arza yang sudah dianggap seperti putra sendiri.
__ADS_1
To be continued...